<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433</id><updated>2012-01-27T07:28:25.725-08:00</updated><category term='Koloni Cina'/><category term='Pertanian'/><category term='tarakan'/><category term='Identitas'/><category term='Preman'/><category term='Konflik dan Pluralisme'/><category term='Madura'/><category term='Remaja'/><category term='Pendidikan'/><category term='Botani'/><category term='PNBK'/><category term='Primitif'/><category term='Menyuke'/><category term='Politik Identitas'/><category term='Demokrat'/><category term='Pilkada'/><category term='Cina'/><category term='Landak'/><category term='Inklusif'/><category term='Perladangan'/><category term='Lion Air'/><category term='Mandor'/><category term='Buku'/><category term='Indonesia'/><category term='Cerita Lucu'/><category term='Politik'/><category term='Jepang'/><category term='Monterado'/><category term='Profile'/><category term='Multikultutalisme'/><category term='LSM'/><category term='Humor'/><category term='Kaum Muda'/><category term='PPP'/><category term='Filsafat'/><category term='PDIP'/><category term='Hutan'/><category term='Dayak Kanayatn'/><category term='Oligarki'/><category term='Islam'/><category term='Sejarah'/><category term='Pemilu'/><category term='Singapura'/><category term='bandung'/><category term='Pemerintahan Lokal'/><category term='Refleksi'/><category term='Magis'/><category term='Antropolgi'/><category term='Rantau Panjang'/><category term='Pilpres'/><category term='Kisah Penting Dari Kampung'/><category term='Kenya'/><category term='Singkawang'/><category term='Dayak Selako'/><category term='Globalisasi'/><category term='Adat'/><category term='Jurnalisme'/><category term='Pluralisme'/><category term='Kearifan Tradisional'/><category term='Kristen'/><category term='Wanita'/><category term='Foto Perjalanan'/><category term='Selako'/><category term='Kepercayaan'/><category term='Gereja'/><category term='Kematian'/><category term='Kalimantan'/><category term='Dokter'/><category term='SFIC'/><category term='West Borneo'/><category term='Agriculture'/><category term='Jubata'/><category term='Tokoh Dayak'/><category term='Simpado'/><category term='Sosial Budaya'/><category term='Catatan Perjalanan'/><category term='Agama Asli'/><category term='Cerita Rakyat'/><category term='Pontianak'/><category term='Katolik'/><category term='Borneo'/><category term='Politik Lokal'/><category term='Inkulturasi'/><category term='RSU St Antonius'/><category term='Melayu'/><category term='paranormal'/><category term='Cerpen'/><category term='Salako'/><category term='Ekologi Kalimantan'/><category term='Dayak'/><category term='Kalbar'/><category term='Bambu'/><category term='Pemuda'/><category term='Kalimantan Barat'/><title type='text'>Akademi Dayak</title><subtitle type='html'>SEBUAH BLOG TENTANG KAJIAN FILSAFAT DAYAK BAGAIMANA DAYAK MEMANDANG HIDUP, KEHIDUPAN DIRINYA DAN ORANG LAINNYA DI KALIMANTAN</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>161</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-1766999549428119313</id><published>2011-02-21T17:57:00.001-08:00</published><updated>2011-02-21T17:57:42.213-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kematian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Salako'/><title type='text'>Adat Kematian Dayak Salako</title><content type='html'>Adat ka’ kamatiatn yang dimaksud disini ialah semua bentuk Adat yang berkaitan dengan hal-hal kematian seseorang dari sejak dia meninggal dunia hingga tiga tahun atau seribu ( 1000 ) hari ngalapasatn tahutn. Adt kakamatiatn itu meliputi antara lain yaitu :&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Penguburan. Apabila seseorng meninggal duni pertama sekali jenasah harus dimandikan, diberi pakayan biasanya serba putih dan unyuri’ ( dibaringkan ) diruang depan   ( sami’ ). Inilah yang dinamakan mangkorah. Sementara itu, beberapa orang diminta untuk memberitaukan kematian itu kepada ahli waris yang agak jauh tempatnya sambil ngango’nya. Pangago’ harus membawa paku pangkars dan setiap orang yang digago’ harus mengigit paku sebagai pangkaras, dan mereka mengucapkan kata-kata : “ Loe basi karas sumangat ” artinya sumangat mereka lebih keras dari pada besi, tidak bisa dibujuk atau dirayu ( tarere’ ) oleh roh orang yang telah mati. sebagian lagi dari orang-orang ditempat duka ada yang mengerjakan peti jenasah. Kalau tidak ada persediaan papan, merka menebang kayu dihutan untuk dijadikan papan.  Demikian pula semua perkakas yang dipinjam bahkan apa saja yang dipinjam dengan tetangga harus disertai dengan paku pengkaras dan orang yang meminjamkan harus menggigit paku sambil mengatakan “ loe basi karas sumangat jenasah tidak boleh dikuburkan sebelum ahli waris yang di gago’ datang, kecuali jika pangago’nya telah dititipi pesan bahwa jenasah aan dikuburkan pada hari dan jam yang telah ditentukan tidak terikat apakah yang digago’ sudah datang atau belum.  Setelah peti jenasah diusung keluar maka pihak keluarga biasanya mencuci muka ( basimuha ) dengan air dari solekng       ( tabung bambu ) dan solekng diempaskan hingga pecah sambil mereka mengatakan kata-kata yang artinya bahwa mimpi buruk mereka sudah lepas sudah berlalu, ame babadi agi’, badan sudah dibersihkan ( dengan basimuha ) segala mimpi buruk seperti gigi tanggal, mimpi melihat matahari, mimpi kehujanan dan sebagainya, semuanya sudah hanyut bersama air dan sudah hancur lebur seperti solekng ( tabung bambu ) yang dihempaskan, dan merekapun menghamburkan abu dan arang yang memang sudah disediakan disitu,seraya mereka mengatakan : segala mimpi buruk sudah terbang jadi abu, dan hangus jadi arang.  Prilaku ini mereka lakukan terlebih jikalau merekamemeng ada mimpi yang buruk itu. Setelah peti jenasah tiba ditempat pekuburan, masing-masing sibuk dengan pekerjaanya dan setelah selesai penimbusan liang lahat, diadakan upacara pangurukang sumangat, dengan melipat daun kemudian dibagikan kepada semua yang hadir dan dijepitkan di telinga, maksudnya agar sumangat tetap terkurung didalam badantidak lere’ ( tergoda ) dengan roh orang mati.  Salah seorang menigap ( menepuk ) tnah pada bagian kepala sambil mengatakan pesan, Asa’ … dua … talu … ampat … lima … anam … tuju, Ian aku nigapm kau sianu’a, aku masatna’ kao … dst ( lihat pesan orang mati pad halaman 5 ). Setelah pulang dari penguburan, disebelah tangga naik dipasang pula tangga hantu yang posisinya terbalik. Setelah orang-orang yang tadinya ikut menguburkan selesai mandi. Sumangat dipanggil dengan membunyikan ( nentekng ) beliung. Dan setelah selesai makan diadakan pula Adat bacece’ mati dengan mengeluarkan Adat sepuluh amas.&lt;br /&gt;2. Bacece’ Mati. Adat bacece’ mati ialah Adat yang harus dikeluarkan sebelum dimulainya pertanyaan mengenai hal ikwal kematian almarhum yang baru selesai dikuburkan. Bacece’ artinya barenceh yaitu membicarakan yang berkaitan dengan sesuatu dan dalam hal ini tentang kematian. Adat yang harus dikeluarkan adalah Adat sapuluh amas dan dua buah mangkok masing-masing disertai paku pangkaras.   Adat bacece’ mati dilaksanakan setelah selesai makan. Pengurus Adat mulai opembicaraan dengan mengatur penyerahan Adat sapuluh amas yaitu : &lt;br /&gt;1. Dua ( 2 ) mangkok diserahkan kepada sapat dinikng ( tetangga kiri dan kanan).&lt;br /&gt;2. Satu buah piring diserahkan kepada yang mangkorah ( memikul peti ).&lt;br /&gt;3. Satu buah piring diserahkan kepada yang bagago’atn.&lt;br /&gt;4. Satu buah piring diserahkan kepada yang bapapatn, yang membuat peti jenasah.&lt;br /&gt;5. Satu buah piring diserahkan kepada yang batandu ( memikul peti ).&lt;br /&gt;6. Satu buah piring diserahkan kepada yang batamukng dan badango.&lt;br /&gt;7. Satu buah piring diserahkan pepada yang natak bantal kaintonotn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya disertai dengan satu buah paku pangkaras dan masing-masing mereka mengigit pangkaras paku dan walaupun piring tidak diambil, tetapi dianggap sudah diterima.    Selesai penyerahan Adat sapuluh amas barulah diadakan pertanyaan oleh pengurus Adat : Pertanyaan tentang kematian, apakah mati karena jodohnya atau ada hal-hal yang patut dicurigakan asal jangan sambarang gule’ gilabut.&lt;br /&gt;1. Soal utang piutang almarhum.&lt;br /&gt;2. Jika suaminya yang meninggal patut ditanyakan keadaan badan si-istri, apakah dalam keadaan haid atau belum.&lt;br /&gt;3. Suami atau istri dri almarhum harus mengeluarkan Adat kalangkah tikar yaitu mata uang ketip ditaruh diatas piring kecil sebagai suatu syarat atau pengakuan bahwa manakala pada suatu ketika ia akan kawin lagi, maka ia harus bermusawarah dengan pihak ahli waris almarhum. &lt;br /&gt;4. Adat sapuluh amas diterima oleh waris dua madi’ ene’ almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ditanyakan apakah ngalapasatn tahutnnya akan ditentukan atau dilaksanakan, kalau tidak supaya diadakan Adat barapus agar rohnya tidak mengganggu pertahunan.&lt;br /&gt;3. Muang Ai’ balik. Ai’ balik terdiri dari pinggan putih berisi air, ditutup dengn sebuah pengayak    beras, dan sebuah sobokng, ( kulut pelepeah pinang ) berisi abu dapur, ditaruh kepelataratn atau pante masuk rumah. Jadi posisinya demikian : daritanah naik kerumah, ada pasang tanga’ antu, kemudian diatas pante diletakan sobokng abu, dankemudian barulah piring ang berisi air ditutup pengayak.  Apabila pidaranya ( rohnya ) mau naik kerumah melalui tanga’ hantu dia akan menginjak abu sehingga bekasnya keesokan harinya dapat dilihat, dan kemudian iapun bercermin kedalam air yang ditutup pengayak, sehingga sadarlah ia bahwa wajahnya sudah berubah karena nampak wajahnya tidak mulus lagi dipengaruhi oleh pengayak, baru ia sadar bahwa ia telahmeninggal bahwa ia telah berada di alam lain.&lt;br /&gt;4. Malahi’. Apabila almarhum meninggal pada tahutn kadapatatn atau ningalatatn tahutn artinya dia meninggal : sebelum panen padi, maka ia diberi bagian khusus supaya ia tidak menggangu sawah atau ladang milik keluarganya oleh karena ia tidak diberi bagian. Bagian atau balahatn diberikan disebelah pinggir sawah atau ladang dekat jalan keluar atau masuk sawah atau ladang. tempat belahan dipagar dengan belahan bambu. diatasnya digantungkan tudung terinak, topokng pamanih dan sebagainya.&lt;br /&gt;5. Muang Tikar Kubu’ . Upacara Adat ini dilaksanakan setelah tiga hari lamanya ia dikuburkan. Beberapa bekas pakayan, tikar dan perca lainya secara simbolis dapat dianggap sebagai tikar dan Kubu’ ( selimut ) dibuang disaka ( persimpangan ) kuburan sehinga hal ini disebut “ muangi’ tikar kubu’ ” Maksud supaya pidara ( roh ) almarhum tidak mencari-cari pakayannya lagi karena sudah diserahkan.&lt;br /&gt;6. Basuayak. Basuayak artinya berpisah bertolak belakang. Adat basuayak ialah Adat yang dilaksanakan setelah tujuh hari almaruhum dikuburkan. Menurut kepercayaan selama tujuh hari itu roh  almarhum masih keluar masuk di rumah keluarganya. Agar supaya angota keluarga tidak terrayu ( rohnya tidak ngalimatn,ngarere’ ) maka diadakan Adat basuayak untuk memisahkanya, dari kehidupan lingkungan keluarga.&lt;br /&gt;7. Ngalapasatn Tahutn. Ngalapastn tahutn adalah suatu uapacara Adat yang diadakan setelah tiga tahun almarhum meninggal dunia. Waktu tiga tahun ini biasanya dihitung tahun padi. Upacara Adat ini dimaksudkan untuk nipara atau mare’ ( memberi ) makan almarhum yang terakhir. kalau upacara Adat ini tidak dilaksanakan maka dikwatirkan rohnya akan gentayangngan mencari makan kesana kemari sehingga merusak panen sawah atau ladang, dan yang menjadi sasaran utama adalah pihak keluarganya (Berpaling kekeluarga ). Dengan demikian makna ngalapasatn tahutn itu dapat diartikan :&lt;br /&gt;1. Untuk paniparatn ( memberi makan ) terakhir, memberi ongko’ bagiatn kepadanya agar ia tidak menggangu atau merusak sawah -  ladang.&lt;br /&gt;2. Batas bela sungkawa dan hubungan batin dengan rohnya sudah dianggap selesai ( hubungan keterikatan ) sebab sebelum masa tiga tahun suami atau istri almarhum yang masih hidup dapat dikenakan sangsi Adat parangkat hantu atau pampalit ai’ mata ( Kaing lap air mata ) jika ia kawin lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikina bukan berarti hubungan batin itu akan terputus habis sama sekali, adakalnya roh seseorang itu akan tetap dihormati terutama kuburan orang tua yang dan dianggap sebagai biat atau pama sehinga kuburannya ditabo’ dan diremah setiap tahun seperti layaknya orang nabo’ panyugu.&lt;br /&gt;8. Sanukng. Jika seseorng kebetulan meninggal dan dikuburkan ditempat lain karena merantau dan sebagainya sehinga jenasahnya tidak dapat dikuburkan dikampungnya, maka dibuatlah sanukng ditempat atau kampung pakayan. Sanukng adalah merupakan duplikat kuburanya yang asli. pakayan bekas, dan tnah pekuburannya dibawa pulang untuk ditempatkan pada sanukng itu. Sanukng itu dibuat menyerupai kuburan diberi dango dan diberi tambak atau jongko :&lt;br /&gt;1. Jika ia seorang dukun dibuatkan bale gamakng yaitu dari papan dibuat persegi empat dan diukir serta dicat dengan ukiran khusus, yang merupakan tanda bahwa ia seorang dukun.&lt;br /&gt;2. Jika ia seorang pangalangok jongko’nya dilukis seperti kepala alo.&lt;br /&gt;3. Jika ia seorang pagalar ( Timanggong atau pengurus Adat ) maka ia dibuatkan bale’ gamakng.&lt;br /&gt;4. Jika ia seorang yang kaya, papadiatn maka jongko’nya dibuat diukir seperti papat dango padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanukng juga dapat diberlakukan seperti kuburan, dapat ditabo’ dan diremah tergantung pada pihak keluarganya.&lt;br /&gt;             &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-1766999549428119313?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/1766999549428119313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=1766999549428119313&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/1766999549428119313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/1766999549428119313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2011/02/adat-kematian-dayak-salako.html' title='Adat Kematian Dayak Salako'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-6733408696721304760</id><published>2011-02-21T17:56:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T17:56:16.114-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Salako'/><title type='text'>Adat Pertanian Dayak Salako</title><content type='html'>Adat pertanian ini sering disebut juga sebagai adat kauma katahutn atau Adat patahunan , yakni semua bentuk adat mengenai hal-hal yang menyangkut pertanian  (bersawah-berladang) diantaranya ialah : &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Nabo’ panyugu babatak ngawah . Panyugu tahutn ditabo’ ( diawasi ) dengan mengadakan remahan manok (ayam ), untuk meberi tau kepada orang tua, Pama Jubata bahwa akan dimulainya kegiatan pertanian sawah-ladang. Inti persembahan remahan agar diberkati petahunanya, diberikan rejeki dan keselamatan dalam mengerjakannya.  Hal ini juga dimaksutkan supaya mengerjakan ladang dengan serentak sesuai dengan perjanjian antara ne’ Jaek orang talino yang mula-mula menemukan bibit padi dengan tikus, limpango ( hama wereng ) dan pipit.  Menurut cerita mereka sepakat untuk memberikan biji padi itu kepada talino, tetapi dengan syarat menebur benih harus serentak, jika terlalu cepat kata pipit, itu bagian kami : Jika terlalu lambat itu bagian kami kata limpango ( hama wereng), jika tidak terrumput itu bagian kami kata tikus. Jadi keserentakan itu dimaksutkan untuk mengurangi srangan hama.&lt;br /&gt;2. Ngawah. Setelah dilaksanakan Adat babatak ngawah, tiga hari kemudian dapt diadakan ngawah yaitu untuk mencari dan nyongko’ pahuma. Acara dimulai dengan mato’ atau nyongko’ tanah dengas menebas seberapa luas lahan yang akan dijadikan ladang, sementara itu sambil menebas ia mendengarkan suara burung ( keto, buria’, kutuk dan lain-lain ) sebagai pertanda alam bahwa ia diperkenankan atau tidak berladang ditempat itu.  Selain itu banyak lagi pertanda lainya termasuk mimpi dsb. Jika pertanda baik berarti morokng maka penebasan diteruskan. Mula-mula sebelum menebas tanda ngawah, ia harus meninggalkan sirih masak/ sirih sekapur, untuk meminta kepada Jubata.&lt;br /&gt;3. Babatak Nabakng. Sebelum nabakng ( menebang kayu ) terlebih dahulu diadakan upacara Adat atau remahan yang diadakan ditengah uma dimaksutkan untuk memberi tau jika ada roh-roh halus ditempat itu supaya menyingkir pindah dan jangan menggangu orang yang menebang kayu supaya aman dan selamat.&lt;br /&gt;4. Nugal. Setelah ladang dibakar, maka tidak lama kemudian ladang boleh ditugal. Benih yang akan ditanam pagi-pagi sudah dibawa keladang dan ditaruh kepabanihan. Pabanihan dibuat ditengah ladang. Setelah diadakan remahan barulah aleatn ( tenaga gotong royong ) diperbolehkan nugal masing-masing mengambil bibit padi dipabanihan, dan dapat diambil lagi bilaman persiapan yang dibawa sudah habis. Jadi pabanihan seolah-olah pangkalan atau terminal.&lt;br /&gt;5. Ngarapat/ Ngamalo Lubakng Tugal. Ngarapat lubakng tugal ialah suatu upacara Adat yang diadakan setelah tiga hari atau beberapa hari setelah selesai nugal maksutnya supaya lobang bekas yang ditugal seoleh-olah trtutup tidak kelihatan oleh burung dan lain sebagainya sehinga padi yang ditugal tidak dimakan, maka padipun hidup semua tidak popor.&lt;br /&gt;6. Nabo’ Uma Ngiliratn Panyakit Padi. Ngiliratn panyakit padi telah ditetapkan oleh Dewan Adat pelaksanaanya pada tanggal 7 Nopember setiap tahun ialah adat untuk mengusir penyakit padi ( diiliratn atau diberangkatkan dengan kapal atau perahu yang terbuat dari pelepah sagu ) di sungai. Remahanya diadakan ditengah uma dengan ayam satu dan palantaratnnya ditaruh diatas kalangkakng pabayo. Segala baho’ padi seperti rate padi, ampe-ampe dan lain-lain diberangkatkan didalam perahu agar sawah atau ladang tidak tergangu oleh hama dan penyakit padi.&lt;br /&gt;7. Ngalajukatn. Ngalajuk adalah suatu upacara Adat baremah, ka’ uam dengan remahan macah talo’ pada saat padi masih hidup, maksud supaya padinya bertumbuh dengan baik dan subur.&lt;br /&gt;8. Nurutnni’. Nurutnni’ adalah suatu upacara Adat dengan rmahan talo’ ayng dilaksanaakan beberapa saat sebelum menuai padi baru, maksudnya supaya padi yang akan dituai jangan terkejut dan agar membawa baerkat.&lt;br /&gt;9. Ngabati’. Ngabati’ ialah suatu upacara Adat yang diadakan sebelum menuai padi atau sebelum padi dituai cukup dengan remahan talo’ yang diadakan didekat pabanihan. Sesuai dengan namanya Ngabati’ maka beberapa pohon padi diikat bersama biasanya disertai dengan peraga seperti pasir dan air, maksid supaya padi yang akan dituai tidak baginsit atau titik-titik atinya tuayannya tidak melaju, seperti menceduk air dan pasir.&lt;br /&gt;10. Ngiliratn Antu Apat. Ngiliratn Antu Apat adalah : Suatu upacara Adat yang diadakan. Ngiliratn antu apat ialah suatu upacara Adat pada saat sedang mulai panen di Ladang yang telah ditetapkan oleh Dewan Adat pada tanggal 17 Pbruari setiap tahun dengan remahan manok di pabarasatn. Dimaksudkan untuk memulangkan hantu apat sipembawa panceklik dia dihilirkan dengan kapal atau perahu dari pelepah sagu agar dia pulang kenegrinya jangan lagi menggangu pertahunan.&lt;br /&gt;11. Muung. Muung adalah suatu upacara Adat mengetam padi, muung bisa dilakukan karena pamolotatn atau sinsangi’, tapi bisa karena tidak direncanakan atau disinsangi’ an terlebih dahulu, misalnya seseorang mempunyai ladang yang cukup luas dan buah padinyapun cukup luas dan sehingga ia berkinginan minta bantu mengetam dengan penduduk kampung dengan acara muung. Jadi muung adalah sebenarnya bentuk gotong royong yang di Adatkan atau yang disertai dengan upacara Adat. Ada pula bentuk gotong royong yang mengerahkan penduduk kampung tampa harus disertai dengan Adat seperti nyurukng gare’ maranggi, nyurukng timako dll.&lt;br /&gt;12. Muat Langko. Supaya memudahkan penjemuran padi maka setiap musim panen dibuatlah langko. Semua hasil panen dimasukkan didalam langko setelah selesai panen dan diperkirakan padinya sudah cukup kering maka padi yang didalam langko itu dipindahkan kedalam dang. Pemindahan padi dari langko ke dango itu dilaksanakan dengan upacara Adat baremah dengan ayam satu didalam langko yang disebut muat langko atau muat padi ka’ langko.&lt;br /&gt;13. Niduratn padi. Perlakuan terhadap padi dimaksudkan perlakuan terhadap manusia, ramah, sopan, tidak ramong ( kasar ) dll. Jadi padi yang ada didalam dango itu seolah-olah seperti manusia yang ditidukan, tak boleh digangu, diusik dan sebagainya. Jadi dengan demikian maka hal ini disebut niduratn ( Nidurkan ) padi.&lt;br /&gt;14. Naik Dango. Dango padi ialah sebuah bangunan rumah kecil semacam gudang kecil tempat penyimpanan padi atau semacam lumbung padi.  Bangunan rumah dango itu memang biasanya lebih tinggi dari tanah sehingga bangunannya memerlukan tongkat, oelh karena itu timbullah istilah naik dango, karena setiap kali akan mengambil padi kita harus naik kedalam dango. Setelah padi ditidurkan beberapa lama, padi itu baru boleh diambil kalau sudah diadakan upacara Adat naik dango. Remahannya bisan dengan ayam dan bisa juga baremah dengan babi. Bersamaan dengan remahan ka’ dango, diadakan pula remahan ka’ tangah sami’, baremah ka’ tangah milik, baremah ka’ pabarasatn, baremah ka’ sado manok ( ayam ), Baremah ka’dulakng jalu ( babi ). Adapun maksud remahan tersebut ialah :&lt;br /&gt;1. Baremah ka’ dango, bersukur ka’ pama Jubata atas hasil panen yang diperoleh, dan berdoa agar panentahun depanya lebih meningkat lagi. &lt;br /&gt;2. Baremah ka’ sami’ ( ruang tamu ) mensyukuri rejeki yang dinikmati selama satu tahun yang lalu dan mohon untuk tahun depan kiranya mendapat rejeki melimpah lagi. &lt;br /&gt;3. Baremah ka’ tangah milik, bersyukur telah diberkati kesehatan dan mohon ditahun mendatang supaya diberkati lagi. &lt;br /&gt;4. Baremah ka’ pabarasatn, bersyukur atas rejeki yang didapat sehari-hari berupa makanan yang disantap itumenjadikan berkat. &lt;br /&gt;5. Baremah ka’ sado manok ( ayam ), bersyukur atas hasil ternak ayam dan berdoa kiranya ayamnya berkembang lebih banyak lagi, seperti yang dikatakan : bamanok sasige aur. &lt;br /&gt;6. Baremah ka’ padulangan atau dulakng jalu, bersyukur dapat memilhara jalu dan berdoaagar ternak babinya berkembang biak seperti yang dikatakan : Bajalu sakumakng jati’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Balala’. Disebut juga Lala’ nagari ialah suatu upacara Adat yang diadakan di panyugu nagari untuk memberi tau kepada Pama Jubat tentang akan dimulainya pantang lala’ selama tiaga ( 3 ) hari secara serentak dalam binua. Itulah sebabnya disebut lala’ nagari. Lala’ nagari itu dimaksutkan untuk mempersiapkan pisik dan mental guna menghadapi patahunan baru dan memohon berkat dari Jubata. Agar dapat mengerjakan sawah dan laang serta diberikan pula kesehatan.  Pelaksanaan lala’ nagari diserahkan sepenuhnya kepada imam pamangko’ roba dan pantang lala’nyapun berbeda-beda sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh imam pamangko’ roba.  Roba atau semacam pangkalan tempat balala’( berpantang ) adalah tempat terhimpunnya acara lala’ seperti bacalek dan lain sebagainya di rumah kediaman pamangko’ roba. Lala’nya bermacam-macam misalnya : Lala’ tamakng artinya tidak dapat menerima tamu hingga batas sore hari selama tiga ( 3 ) hari lamanya. Apabila tamunya kedapatan hingga sorehari bacalek, dia masih belum keluar meningalkan kampung, maka ia harus menginap atau ditamakng dan yang dipantangkan atau lala’ antara lain : Tidak boleh keladang atau ke ladang, tidak boleh membunyikan senapang, tembaga ( maksudnya gong, tetawak ) tidak boleh makan daging dan ikan segar, kecuali ikan asin, tidak boleh melayu’/ menebas, dan tidak boleh makan sayuran yang dipetik selama dalam masa balala’ ( termasuk melayu’ ) dan lain-lain menurut petunjuk imam. Lala’ nagari telah ditetapkan oleh Dewan Adat tanggal 28 Mei setiap tahun. setelah selesai lala’ nagari barulah diadakan upacara Adat nabo’ panyugu babatak ngawah sesuai dengan urutan siklus baremah ka’ uma ka’ tahutn selama satu tahun. Adat babatak ngawah telah kita bahas terlebih dahulu.&lt;br /&gt;           &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-6733408696721304760?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/6733408696721304760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=6733408696721304760&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/6733408696721304760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/6733408696721304760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2011/02/adat-pertanian-dayak-salako.html' title='Adat Pertanian Dayak Salako'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-5579965516412908315</id><published>2011-02-21T17:54:00.001-08:00</published><updated>2011-02-21T17:54:34.567-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adat'/><title type='text'>Adat Kepercayaan Dayak Salako</title><content type='html'>Dikenal juga dengan adat kehidupan sehari-hari, yaitu adat yang menyangkut hal kehidupan manusia dari sejak ia masih dalam kandungan hingga ia meninggal dunia. Pelaksanaan adat ini meliputi;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;1.1. Ngaladakng Buntikng. Adat ngaladakng buntikng biasanya dilakukan kehamilan pertama yang telah berumur sekitar tiga bulan, dimaksutkan untuk memilihara buntikng agar terhindar dari segala penyakit ataupun pengaruh atau ganguan roh-roh jahat sehingga ibunya dapat melahirkan dengan selamat.&lt;br /&gt;1.2. Batalah. Setelah ibunya melahirkan dengan selamat, sang bayi disuluh dengan api suluh dan dicicipi dengan nasi untuk menjemput tamu yang baru dan agar anak itu kelak menjadi anak yang cerdas dan pintar seperti api suluh menerangi muka atau wajahnya didepan rumah pada sebelah kiri atau kanan turun tangga dipasang tanda beranak dari bambu dibuat seperti tangga laut terdiri dari tiga tingkat anak tangga, digantungi daun longke daun mintawa’, daun limau dan daun kalimonteng. Jika bayinya laki-laki maka tanda beranak disebelah kanan dan jika bayinya perempuan, tandanya dipasang sebelah kiri.Kemudian tembuninya setelah dibereskan diberi nasi dan sedikit garam lalu dimasukan kedalam tempurung kelapa bertutup dan ditanam (dikuburkan) didekat tanda beranak. Tembuni itu namanya “ ore’ tamone’ ” adalah abang atau kakaknya sibayi yang siap menjaga adiknya. Dia akan menjaga adiknya dengan menaiki tangga yang tiga tingkat itu dan jika ada yang mengangu adiknya yaitu roh-roh jahat seperti kuntilanak dsb.  Akan dia usir dengan daun-daun yang telah tersedia tujuh hari setelah melahirkan atau saat-saat sebelum batalah, masa itu disebut masa barumukng. Sang ibu masih belum dibolehkan mandi keluar rumah. Setelah tujuh hari habis melahirkan diadakan upacara batalah yaitu upacara Adat untuk memberikan nama kepada sibayi. Sang ibu boleh mandi ditepian setelah upacaranya selesai dan ia harus memakai tarinak, copo’ nya diberi damak, agar ibu terhindar dari segala sesuatu yang tidak baik dan damak atau tantajuk atau damak yaitu sejenis peluru sumpit, telah siap untuk menghadangnya.&lt;br /&gt;1.3. Bapacar. Bapacar adalah suatu kebiasaan tampa harus disertai dengan upacara Adat yang dilakukan oleh anak perempuan pada saat mulai ia datang bulan yang pertama kali, sehingga hal ini dapat diartikan sebagai tanda bahwa ia sudah mulai dewasa. Kuku jarinya diberi tanda merah dengan mempergunakan daun pacar.&lt;br /&gt;1.4. Babalak. Anak laki-laki yang telah mulai menginjak usia dewasa, idealnya antara usia 10 hingga 15 tahun wajib untuk disunat, sebagai tanda ukuran bahwa ia sudah mulai dewasa. Roah balak disebut juga roah aya’ atau roah matahatn. Biasanya jika dalam keluarga itu ada sumpana tahun yang belum dilepaskan pesta sunat dapat digabungkan dengan pesta tahun, sehingga pemukulnya harus dua dan pabanihanyapun harus dua yaitu dengan sunat dan dengan pesta pertahunan. Jika dalam keluarga itu ada dua kakak beradik yang akan disunat, mereka harus didampingi/ dikasih batas ditengah-tengah mereka berdua ( antarai’ ) satu orang lagi diluar anggota keluarga itu.Waktu subuh mereka sudah mulai direndam kesungai dan sekitar pukul tujuh ( 7 ) mereka diambil dari sungai masing-masing menggigit paha ayam yang telah dipanggang untuk menahan gigil sewaktu akan disunat. Tiga hari lamanya mereka barumukng tampa makan sayur dan daging serta nasi kecuali hanya diberi makan bohol yaitu nasi yang dibungkus dengan daun dimasak dalam solekng ( bambu kecil ).   Setelah selesai barumukng mereka harus keluar dipersenjatai dengan tombak dan parang serta lidi untuk mencari linsode ( sejenis ikan kecil yang mulutnya panjang ) mereka mencari sasaran rebung untuk menombak. Jika sasaranya tepat sekali ditombak, pertanda bahwa ia akan sgera akan mendapatkan jodoh untuk dikawinkan. Orang yang tidak bersunat disebut kulup adalah merupakan sebutan yang sangat memalukan bagi yang tidak bersunat.&lt;br /&gt;1.5. Panganten. Panganten atau Balaki-babini terjadi antara laki-laki dan perempuan yang masih lajang atau yang sudah berstatus janda atau duda. Masa perkenalan sebelum penganten dimulai dengan cara nido yaitu pekenalan dengan cara tertutup, diam-diam tidak terbuka seperti sekarang ini, yang dikenal dengan istilah pacaran. Setelah pihak laki-laki merasa cukup yakin bahwa cintanya akan diterima ia mengutus seorang picara atau pak tone atau pasa’ rinyuakng, sebagai penghubung kepada pihak perempuan, untuk melamarnya, dihadapan orang tuanya serta disaksikan oleh ahli waris pihak perempuan.  Sebelum dipicarakan, picara terlebih dahulu harus menanyakan dua hal penting yaitu : Apakah diantara kedua belah pihak masih terdapat hubungan keluarga dekat ? Apakah salah satu atau kedua belah pihak masih terikat hubungan perkawinan dengan pihak lain ? Jika salah satu diantarnya msih terikat dengan hubungan keluarga dengan piak lain ataupun keduanya masih mempunyai hubungan keluarga, maka mereka tidak boleh dipicaraatn. Biasnya dalam menentukan jodoh anaknya terlebih dri pihak orang tua perempuan agak hati-hati untuk mengambil keputusan. Banyak hal yang dipertanyakan atu diselidiki, misalnya ditanyakan : Apakah calon suami anaknya itu berasal dari keturunan pembunuh, suka menghianati nyawa orang, keturunan perampok, pencuri, pemerkosa, pemabuk, dan keturunan jahat lainya seperti keturunan gila, dan berbagai penyakit lainya. Pertanyaan ini bertitik tolak pada kepercayaan Adat tentang adanya tulah, kisas dan terlebih lagi adanya sangar demikian pula tentang adanya penyakit keturunan. Setelah lamaran diterima, maka ditetapkanlah acara Adat pamaku kata untuk mengikat pertunangan. Acara pamaku kata yang pertama diadakan pada pihak laki-lakai dihadiri olehwaris sebelah ibu dan bapak dari silaki-laki, dan picara. setelah itu diadakan pula ditempat perempuan yang dihadiri oleh ahli waris dari ibu dan bapak dari pihak perempuan serta dihadiri pula oleh picara. Pada saat pamaku kata di rumah laki-laki, perempuan tidak perlu hadir dan demikian pula sebaliknya di rumah laki-laki, perempuan tidak boleh hadir. Dalam acara pamaku kata itu disepakati hari H-nya, serta dijelaskan pula sangsi-sangsinya apabila salah satu melangar ataupun membatalkan pertunangan. Setelah sampai waktu hari H-nya, maka pengantin laki-laki yang menjemut pengantin perempuan dengan dihantar atau diarak oleh sanak saudara serta penduduk kampung, keesokan harinya kedua pengantin dihantar atau diarak kembali ketempat laki-laki. Jika pengantin laki-laki atau pengantin perempuan kawin mendahului abang atau kakaknya, maka ia harus mengeluarkan Adat pansio kepada abang atau kakaknya, yaitu berupa satu lembar uang ketip ditaruh diatas piring kecil berisi air dan dicucikan pada bagian muka kakak atau abangnya. Tiga hari setelah penganten biasanya diadakan upacara Adat tampukng tawar. Selain pengantin ada lagi bentuk perkawinan yang disebut Pengantin Basorokng topokng namanya, kawin bataapi’. Bentuk perkawinan ini dianggap melanggar Adat karena tidak mengunakan picara, tidak ada mupakat waris oleh karena itu mereka dikenakan hukum Adat 2 buah siam 3 jalu yaitu satu buah siam ngago’ picara dan satu buah siam ngago’ pakat waris serta 1 ekor babi untuk tampukng tawar. Ada lagi bentuk perkawinan yang disebut panganten tama’ ( pengantin Masuk ) dengan nasi, yaitu salah satu bentuk pengantin untuk mengurangi biaya. Kedua belah pihak apabila telah sepakat dan disetujui oleh pihak ahli waris masing-masing, maka salah satu pihak laki-laki atau perempuan tergantung pihak mana yang akan ditarik atau lepas dri orang tuanya dan akan tinggal dan hidup bersama di rumah yang narik. Pihak yang ditarik diantar langsung oleh picara dan beserta dua atau tiga orang pengantar lainya kepada pihak yang narik, tampa harus diarak. Pengantin masuk dengan nasi ( panganten tama’ man nasi’ ), tidak ada hukuman Adatnya, namu paling lama tigga hari keudian mereka diwajibkan mengeluarkan tampukng Adat tawar untuk keselamatan perkawinan mereka. Tidak selamanya pihak yang ditarik yang harus berangkat kerumah yang narik, akan tetapi hal ini lebih didominasi oleh pihak laki-laki dengan alasan berbagai pertimbangan dan kewajiban dsb.&lt;br /&gt;1.6. Bagawe. Gawe hampir sama pengertianya dengan roah. Bahkan sering pengertiannya dicampur adukan. Perbedaan menjolok antara roah dan gawe antara lain adalah : (1) Roah biasanya dimulai 1 hari sebelumnya nabo’ panyugu maba (memberi tau dan mengajak ) urakng tuha (pama urakng tuha ) bapalantar dan langsung ditaruh diatas papangokng ka’ sami (ruang Tamu). Pada keesokan harinya pagi-pagi diadakan pajaji ka’ sami’ dan ka’ tangah milik ( ditengah bilik ). Isi pabanihan itu ialah : beras pulut, beras biasa ( beras sunguh ) masing-masing 1 pahar, telur, tengkawang, uang ketip, minyak makan, gula merah, kelapa, nasi, poe’ ( beras pulut ) yang dimasak, poe’ pangaretatn, tumpi’, bontokng dan lain-lain. Sedangkan gawe bisa langsung jadi, tampa harus nabo’ panyugu trlebih dahulu, dan tidak harus bapapangokng dan bapabanihan. Dengan demikian baroah lebih besar dari pada bagawe paringsnya ( alat-alat paraganya walaupun biasa bagawe lebih ramai dari pada baroah seperti gawe totokng, gawe pangka’, gawe naik dango, gawe muukng, gawe kalekng dll ). Roahpun ada dua ( 2 ) macam yaitu : Roah Matahatn, yaitu roah yang dimulai dari panyugu dan bapapangokng seperti yang dijelaskan diatas. Roah babah : Apabila salah satu dari anggota keluarga ( ramahnya ) meninggal dunia sebelum ladangnya dipanen ( tahutn kadapatn ) maka pada saat panen pertama.  Hasil panen disimpan selama tiga     ( 3 ) hari barulah boleh ngaleko tetapi tidak seperti ngaleko biasa parena ia harus membuat paremahan manok seko’ ka’ pabarasatn sekaligus pula karena kamaratn ia harus memberi makan sumpalah tahutn kepada roh almarhumharus diberi bagian. Jikalau tidak diberi maka panen ladang bisa rawa’ ( tidak berhasil karena digangu oleh roh almarhum ). Inilah yang desebut roah babah.  Ada lagi acara ngaleko yang dapat digongkan roah babah, misalnya walaupun tidak kamaratn, tetai ia terhalang oleh keadaan cuaca sehinga padi tidak terjemur, ataupun ada halangan lain, sehinga tidak dapat ngaleko pada pagi harinya atau subuh, tetapi tidak mencapai tiga hari, maka hal ini disebut batagakng atau batagakng sa’ari. Diapun harus baremah man manok ka’ pabarasatn. Jadi ngaleko kamaratn, ngaleko batagakng dan ngaleko nyangkodom emuanya disebut roah babah. Gawe dapat juga dibagi dalam dua ( 2 ) pengelompokan yaitu :  Gawe ngalapasatn molot atau gawe sinsagngi dan  Gawe ngangkat paridupatn atau gawe dua laki bini. Gawe ngalapasatn molot disebut juga gawe sinsagngi atau gawe mayar parutangan karena gawe ini bermula dari adanya sinsangngi pamolotatn yang harus dibayar atau dilapasatn. Jikalau tidak dilapasatn maka hal ini akan membawa sangar berketurunan, misalnya gawe totokng, gawe pangka’, gawe muukng, walaupun gawe ini tidak selamanya dilaksanakan karena pamolotatn atau sinsangngi, namun ada juga yang semata mendadak diperlukan karena padinya diperkirakan akan tidak tertuai, kecuali jika ia muung. dan banyak lagi jenis gawe pamolotatn lainnya. Gawe Ngangkat Paridup Dua Laki Bini : Sebenarnya semua jenis gawe dan roah pada dasarnya tujuanya adalah untuk menuju kepada kesejahteraan hidup atau ngago’ atau ngangkat paridup, namun yang dimaksutkan gawe ngangkat paridup disini ialah suatu upacara Adat khusus untuk ngangkat paridup, dengan doa persembahan kepada pama Jubata agar derajat kehidupanya terangkat, kaya raya dsb. Gawe ngangkat paridup dua laki bini yaitu : Gawe nyapat, gawe ngalajuk, gawe ngalama’, gawe najur, gawe kalekng yang terdiri dari kalekng bula’ hanya baremah dengan ayam. Kalekng sapet, kalekng sinopo dan kalekng tukukng, ketiganya ini remahnya dengan babi dan malahan kalekng tukukng babinya 2 sampai 4 ekor. Gawe dua laki bini pada saat ini sudah jarang sekali dilaksanakan, karena untuk menjadi imamnya kebanyakan orang sudah tidak mengetahuinya lagi karena harus membawa doa-doa khusus. Sehingga kebanyakan orang takut jika salah aturan pelaksanaannya bisa membawa sansa’ katungkaptn dalam paridupatnya.&lt;br /&gt;1.7. Batumuk. Adat batumuk atau Adat mendirikan rumah ialah Adat baremah man   manok seko’ sebelum mendirikan rumah, dimaksutkan agar rumah itu didirikan tampa mendapatkan ganguan dari roh halus dan semoga membawa rejeki dan aman bagi yang mempunyai. Jika ada roh-roh halus yang berdiam ditempat itu supaya pindah dari tempat itu. Selain itu dimintakan juga agar tukangnya yang mengerjakan dalam keadaan selamat.&lt;br /&gt;1.8. Ngangkat Arakng. Jika terjadi kebakaran rumah tempat tinggal, maka tiga hari kemudian diadakan upacara Adat ngangkat arakng ditempat kebakaran tersebut, maksutnya agar semua harta benda yang terbakar itu sumangatnya dipanggil dengan remahan yang diadakan diharapkan dapat kembali berlipat ganda. Jika ada setan yang menggangu atau minta makan maka melalui remahan itu mereka diberi makan agar tidak usah lagi mengganggu.  &lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-5579965516412908315?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/5579965516412908315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=5579965516412908315&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/5579965516412908315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/5579965516412908315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2011/02/adat-kepercayaan-dayak-salako.html' title='Adat Kepercayaan Dayak Salako'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-820648178167657982</id><published>2010-10-02T18:16:00.000-07:00</published><updated>2010-10-02T18:42:14.881-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>ASAL USUL KERAJAAN SINGAOK MENJADI KERAJAAN MEMPAWAH SEKARANG INI</title><content type='html'>Pada zaman dahulu kala, tersebutlah perempuan janda ia mempunyai seorang anak perempuan yang cukup cantik, ia tinggal di desa yang tidak jauh dari desa lain di Motont Bawang ( Gunung Bawang dekat Bengkayang ) Namanya Maniamas, Di rumahnya numpang dua orang bersaudara, satu bernama Ranto dan yang kedua bernama Gurete. Adapun ibu Gurete dan Ranto masih bersaudara sepupu satu kali dengan ibu Maniamas jadi masih satu nenek,- Ranto dan Gurete masih berasal dari daerah seberang laut,- keduanya laki-laki,- &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Ketika ada peristiwa di Motont Bawang, yaitu seorang laki-laki bernama Mamo, pendatang dari daerah lain,, melarikan seorang perempuan entah kemana perginya, jadi para pemuda di Motont Bawang bermupakat mencari Mamo, satu kampung berangkat Ngayo – Gurete adik Ranto ikut pergi dan abangnya, Ranto tidak mau ikut, katanya tidak sehat badan,- Sebenarnya Ranto beralasan, ia berpura-pura sakit, ia jatuh hati pada Maniamas.Rombongan ngayopun berangkat, Berbulan-bulan, malah sudah satu tahun, tidak ada kabar berita tentang Gurete apakah masih hidup ataupun mati, akhirnya Gurete pulang, dan dari jauh Gurete sudah berteriak, Nu’ Uda’ katanya, apa yang berbau busuk dirumah ini ! Jawab Udanya, &lt;br /&gt;“ Apalah mau dikata, adikmu hamil 3 bulan. Gurete pun marah dan bertanya, , , Siapa orangnya yang menganggu, Tanya Gurete,- Ranto !!! Jawab Udanya. Kemana dia mak Uda’ Keladang ! jawab mamanya.&lt;br /&gt;Gurete pun ngambil tangkitn dan langsung di asahnya, Akan aku cincang Ranto dan Maniamas, Ranto mengetahui bahwa  Gurete sudah pulang, ia pun lari entah kemana, Sedangkan Maniamas masuk hutan keluar hutan, lari kearah selatan Gunung Bawang, akhirnya sampai di daerah Sangking di Gunung Sadaniang. Di dalam hutan ia mencari tempat yang baik untuk duduk-duduk. Bukan manusia yang dilahirkan tetapi , , , Sebilah keris , , , Setelah melahirkan Maniamas hilang entah kemana . . . . . . &lt;br /&gt;Nek Sayu’ seorang kepala Desa Sangking yang tinggal di Dusun Galumakng. Nek Sayu’ berladang di pinggiran Gunung Sadaniang. Pada suatu hari nek Sayu’ pergi mencari rotan tidak jauh dari ladangnya. Tiba-tiba Nek Sayu’ mendengar tangisan seorang anak. Nek Sayu’ heran masa di hutan begini ada anak orang, apakah ini hantu pikir Nek Sayu’. Akhirnya Nek Sayu’ pun pergi mencari dari mana datangnya tangisan itu, di dengarnya di atas akhirnya dia pun naik ke pokok kayu heran tangis itun turun  kebawah, Nek Sayu turun dan tergantung, dibelit sebatang rotan, Nek Sayu’ duduk termenung.&lt;br /&gt;Barang yang bergantung itu pun berkata ; Hai Sayu’ kalau kamu ingin memiliki aku, kamu pinjam selendang Raja untuk menyambut dan menggendong aku. Nek Sayu’ pun tanpa berpikir panjang, langsung pergi keistana Raja Kudung di Singaok, sampai di Istana Raja Kudung di Singaok Nek Sayu’ pun berkata kepada Raja ; Ampun tuanku, adapun maksud kedatangan hamba ialah untuk meminjam selendang Tuanku untuk satu minggu sangat diperlukan.&lt;br /&gt;Ternyata Raja Kudung tidak keberatan meminjamkan selendangnya kepada Nek Sayu’, karena Nek Sayu seorang kepala Desa yang patuh kepada Raja.&lt;br /&gt;Nek Sayu’ pulang dengan senang hati, ia berjalan dengan tergesa-gesa ia ingin segera sampai ditempat yang dituju yaitu ditempat yang ada bunyi tangisan diatas pohon kayu.&lt;br /&gt;Setelah Nek Sayu’ datang dibawah bunyi tangisan itu, Nek Sayu pun berkata ; hai benda menangis, ini selendang Raja yang kamu minta !!! silakan !!! . . . . turunlah, !!!” Nek Sayu’ pun menadahkan selendang dibawah benda itu. Seketika benda itu terjun diatas selendang Nek Sayu’ dan Nek Sayu’ pun langsung mengendongnya, alangkah terkejutnya Nek Sayu’. . . bahwa yang menangis itu bukan anak orang atau anak hewan . . tetapi sebilah keris yang tidak bertangkai . . . &lt;br /&gt;Nek Sayu’ pun pulang kerumahnya membawa sebilah keris, begitulah keris di gendong terus, tidak boleh dilepaskan, diletakkan dilantai ia menangis, diganti dengan selendang lain ia menangis.&lt;br /&gt;Nek Sayu’ pun jadi susah . . . Selendang Raja pinjam janji satu minggu . . . ini sudah tiga bulan . . . Belum dapat dikembalikan. Raja Kudung di Singaok susah kemana Sayu’ . . . pajak sudah tiga bulan tidak bayar, kata Raja kudung di Singaok.&lt;br /&gt;Raja Kudung pun memerintah Panglimanya untuk pergi kerumah nek Sayu’, apa yang terjadi pada Sayu’. Berapa orang utusan berangkat  kerumah Nek Sayu’. Nek Sayu’ menceritakan kepada para utusan tadi apa yang terjadi sebenarnya. Ceritakan kepada Raja kata Nek Sayu’. Para utusan pulang ke Singaok, dan bercerita kepada Raja, tenang Nek Sayu’ kalau begitu kata Raja Kudung. Raja akan berangkat kesana.&lt;br /&gt;Satu minggu kemudian rombongan Raja berangkat dari Istana Singaok menuju daerah Sangking, di kampung Galumakng, disitulah rumah Nek Sayu’.&lt;br /&gt;Rombongan Raja Kudung sampai di rumah Nek Sayu’, setelah Raja Kudung melihat Nek Sayu’ betulah seperti yang diceritakan, Raja Kudung minta kepada Nek Sayu’ supaya keris tersebut diserahkan kepada Raja. Dengan ketentuan Nek Sayu’ tidak usah membayar pajak, Nek Sayu’ pun bersedia untuk menyerahkan keris tersebut kepada Raja. Daerah Nek Sayu’ bebas pajak, tetapi desa lain naik dua kali lipat. Begitulah dibawah pimpinan Nek Sapi dan Nek Jangkek. Kampung Satak dan Kampung Untang melarikan diri kedaerah Sarawak, Sajingan sekarang wilayah Malaysia, bahasanya masih bahasa kita.&lt;br /&gt;`Di Sajingan wilayah Malaysia, disana ada keluarga Pak Manggis bahwa ia adalah keturunan pelarian jaman Nek Sayu’ dari Desa Satak 60 KK. Sekarang bahasanya masih bahasa Satak. Kecamatan Sadaniang sekarang. Penulis pernah berbincang-bincang  pada tahun 1977 waktu gawe Adat Dayak Sarawak mengikuti abang sepupu penulis kawin di daerah ini.&lt;br /&gt;Keris digendong oleh Raja Kudung menuju Kerajaan Singaok. Di Istana Singaok keris ini sama juga halnya, diletakkan menangis jadi harus digendong terus. Raja Kudung mempunyai seorang Putri, Dara Rode’ namanya, diam diatas mahligai, dikawal oleh tujuh dayang-dayang, dijaga oleh para Panglima. Keris tadi oleh Raja Kudung diserahkan kepada Putrinya (Dara Rode’) untuk mengasuhnya.&lt;br /&gt;Sekian lama, beberapa bulan, mungkin mendekati satu tahun . . . Bahwa Dara Rode’ hamil tersiar dilingkungan Istana akhirnya masyarakat tahu, Raja Kudung terheran-heran.&lt;br /&gt;Raja Kudung memanggil seluruh rakyat/ masyarakat berkumpul diistana. Tepat pada hari yang sudah ditentukan, rakyatpun berkumpul di halaman istana Raja Kudung di Singaok. Beribu-ribu rakyat datang, penuh sesak halaman istana, rakyat bertanya satu sama lain, siap akan mendengarkan bahwa apa yang dibicarakan oleh Raja tepat jam yang sudah ditentukan.  &lt;br /&gt;Raja Kudung pun datang dan naik ditempat yang sudah disiapkan oleh panitia. Raja Kudung pun berkata : “ Hai Rakyatku, dengarkanlah baik-baik . . . . Para Panglima, Para Menteri, Hulu Balang, laki-laki atau perempuan, bahwa pada hari ini saya Raja di Singaok, pada hari ini mengumumkan pada rakyat ku semua bahwa tersiar  Putri Dara Rode’ diberitakan hamil tiga bulan, setelah diselidiki kebenarannya, ternyata benar adanya, dan setelah ditanya oleh para pengawal, oleh dayang-dayang dan ibunya (Ibunya bernama : Bakelem) Rode’ mengatakan tidak ada seorang laki-laki yang pernah menggaulinya, terkecuali keris yang ku asuh ini malam jadi laki-laki dan siang jadi keris kembali. Oleh sebab itu pada hari ini saya Raja Singaok mengumumkan seluruh rakyatku semua yang isinya sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Jika betul Putriku Dara Rode’ digauli/ disetubuhi oleh sebilah keris yang ia asuh, maka ia akan melahirkan seorang anak yang luar biasa, ia lahir tidak seperti manusia biasa, maka ia akan kuangkat menjadi Raja menggantikan aku. Baik laki-laki atau perempuan pada hari itu juga.&lt;br /&gt;2. Akan tetapi, bila mana Putri Dara Rode’ melahirkan anak seperti manusia biasa, maka Dara Rode’ akan dipacung dan dicincang didepan umum, &lt;br /&gt;3. Pengumuman selesai.&lt;br /&gt;Setelah sembilan bulan Dara Rode’ mengandung, para bidan yang ditunjuk, mempersiapkan alat-alat persalinan semua berpikir was-was bagaimana setelah anak ini lahir nanti. &lt;br /&gt;Cukup sudah waktu akan melahirkan yaitu sembilan bulan sepuluh hari. Dara Rode’ pun merasa perutnya sedikit sakit. Pengawal dan dayang-dayang memanggil bidan untuk memeriksa Dara Rode’. Pada siang hari kira-kira jam sepuluh Dara Rode’ melahirkan seorang anak laki-laki. Bidan mulai heran bahwa darah yang keluar bersama bayi tidak merah, melainkan putih. Dan keanehan lain lagi bahwa ini bayi tidak berpusat.&lt;br /&gt;Para pengawal memanggil Raja dan para Panglima seketika menjadi ramai menyaksikan bahwa bayi yang dilahirkan Dara Rode’ tidak seperti manusia biasa, jadi betullah bahwa yang menghamili Dara Rode’ adalah sebilah keris yang diasuhnya, siang jadi keris malam jadi manusia.&lt;br /&gt;Tiga hari kemudian. Raja Kudung mengumpulkan rakyatnya . . . untuk mendengarkan penngumuman. Rakyat berkumpul dihalaman Istana untuk mendengarkan pengumuman Raja . . . Raja berkata kepada rakyat : “Bahwa pada hari ini saya &lt;br /&gt;umumkan … bahwa kira-kira hampir satu yang lalu saya  berbicara tentang Putri ku Dara Rode’, tiga hari yang lalu telah melahirkan seorang anak laki-laki dan ternyata lain dari kelahiran anak manusia biasa, ia melahirkan bayi tidak berpusat, jadi betillah bahwa Dara Rode’ dihamili oleh keris, sesuai janji yang sudah saya ucapkan bahwa begitu ia lahir langsung saya angkat menjadi Raja Singaok mengantikan aku, dengan gelar : Panambahan tidak berpusat, Raja Kerajaan Singaok, sedangkan nama aslinya : Singkuwuk tahun ± 1603 M. &lt;br /&gt;Setelah  Panambahan Inak Bapusat dewasa, dikawinkan oleh datoknya Raja Kudung dengan seorang anak Raja Pagar Ruyung dari Pulau Sumatera bernama : Putri Cermin. Kerajaan Singaok dibawah pemerintahan Panambahan Inak Bapusat aman-aman saja tidak ada gangguan apa-apa.&lt;br /&gt;Setelah Putri Cermin mengandung tiga bulan, Panambahan Inak Bapusat hendak berlayar dengan waktu yang tidak ditentukan lamanya. Sebelum berangkat Panambahan Inak Bapusat memanggil ahli nujum untuk mengetahui keberadaan anak dalam kandungan ini. Ahli nujum pun datang, ia berkata kalau anak ini lahir seorang laki-laki, maka Kerajaan Singaok dibawah pemerintahan Tuanku akan kaya raya, akan tetapi bilamana lahir seorang perempuan maka kerajaan Tuan Inak Bapusat binasa. Dan kerajaan Tuan dikuasai musuh. Panambahan Inak bapusat tidak puas dengan pendapat nujum yang pertama, Panambahan Inak Bapusat memqanggil tujuh ahli nujum, tetapi pendapatnya sama. Kalau begitu adanya kata Panambahan Inak Bapusat, Panambahan Inak Bapusat berkata pada pengawal, kepada bidan yang ditunjuk dan kepada isterinya, kalau anak nanti lahir laki-laki pelihara baik-baik, akan tetapi bila lahir seorang perempuan, maka ia harus dibunuh, kuburkan dekat tangga depan istana, Panambahan Inak Bapusat bersiap-siap untuk berangkat.&lt;br /&gt;Panambahan Inak Bapusat berangkat, Putri Cermin pun risau, bagaimana nanti anak saya lahir laki-laki saya beruntung, tetapi bagaimana jadinya kalau perempuan, sanggupkah aku membunuhnya . . . Ya Tuhan . . . Jubata, janganlah anakku perempuan . . &lt;br /&gt;Akhirnya kandungan Putri Cermin cukup bulan, bidan dan para pengawal mempersiapkan alat bidan. Tidak berapa lama Putri Cermin melahirkan seorang anak perempuan. Aduh kata bidan anaknya perempuan, cantik parasnya, sehat lagi. Bagaimana kata seorang bidan, menurut perintah harus dibunuh, Putri Cermin dengan seorang bidan berbisik . . . akhirnya bidan memerintahkan kawannya membuat sebuah peti yang rapat jangan masuk air, anak ini tidak boleh dibunuh. Masa anak yang tidak berdosa harus dibunuh, anak Raja lagi Putri Cermin menyetujui pendapat bidan.&lt;br /&gt;Dibuatlah sebuah peti yang cukup baik, anak yang baru lahir tadi dimasukkan kedalam peti dan diberi ; 1. Cincin Kerajaan, 2. Selendang Raja, 3. Petunjuk tentang asal usul anak dan peta. Petipun dihanyutkan ke sungai Bangkule Rajakng (S. Mempawah), dibunuh seekor bapak kambing, dipenggal kepalanya dikuburkan dekat tangga depan istana, kalau Panambahan Inak Bapusat pulang nanti, dikabarkan kepada Raja, anak lahir perempuan dan sudah dibunuh dikuburkan dekat tangga depan istana sesuai perintah Raja. Beberapa bulan kemudian pun Panambahan Inak Bapusat pulang, begitu datang ke istana duduk sebentar ia pun memanggil Putri Cermin, isterinya “ ia pun bertanya . . . istriku ! anak yang dilahirkan laki-laki atau perempuan ? dijawab oleh Putri Cermin, permpuan Tuanku ! “. Apakah sudah dibunuh ? sudah dibunuh Tuanku ! itu kuburannya depan Istana dekat tangga, sesuai yang diperintahkan Tuanku. Panambahan Inak Bapusat tidak menjawab dan pergi berjalan melihat kuburan Putrinya. Raja memanggil istrinya Putri Cermin lalu duduk menghadap kuburan, keduanya menangis sambil berdoa. &lt;br /&gt;Kerajaan Singaok dibawah pemerintahan Panambahan Inak Bapusat nama aslinya SENGKUWUK bergelar Panambahan Inak Bapusat, karena beliau tidak mempunyai pusat.&lt;br /&gt;Sekian puluh tahun terakhir kerajaan Singaok tidak pernah ada gangguan apa-apa. Rakyat makmur, pajak lancar. Pokoknya aman segala bidang. Raja Kudung (Datoknya) sudah meninggal, Bakelem istri Raja Kudung juga sudah meninggal. Dara Rode’ Ibu Panambahan Inak Bapusat sudah meninggal juga, Panglima-Panglima yang sudah lanjut usia dipensiunkan, ganti dengan orang muda.&lt;br /&gt;Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun bergantui tahun. Manusia pun demikian, yang muda berpasang-pasangan, anak-anak menjadi dewasa dan menjadi orang tua dan setelah itu meninggal dunia. Begitulah seterusnya . . . dan . . . seterusnya . . . bumi berputar terus.&lt;br /&gt;Akhirnya kira-kira 30 tahun kemudian . . .&lt;br /&gt;Kedengaran bunyi letusan meriam sebanyak 7 ( tujuh ) kali berturut-turut dikuala sungai Bangkule Rajakng, Raja Singaok Panambahan Inak Bapusat kaget ada apa gerangan di kuala. Para Mentrei, para Hulu Balang semua mendengar bunyi letusan meriam tersebut, semua isi negeri rakyat kerajaan Singaok semua mendengar suara letusan meriam tersebut. Panambahan Inak Bapusat mengumpulkan para Panglima, Hulu Balang dan Pamancing-Pamancing ( Pamancing ialah mata-mata, intel, serse jaman sekarang ).&lt;br /&gt;Panambahan Inak Bapusat Raja Kerajaan Singaok memerintah dua orang pamancing ( intel ), apa yang ada dikuala sungai Bangkule Rajakng, dua orang pamancing pun berangkat pura-pura memancing ikan duduk-duduk dibawah pohon asam pauh. Dilihatnya ada empat puluh buah perahu layar perahu besar kecil dan tiga bendera putih dengan tiang yang tinggi yang ditancap disamping perahu. Pamancing tadi pun pulang dan langsung lapor kepada Raja Singaok. Panambahan Singaok memerintahkan Menteri dan Hulu Balang berangkat kekuala supaya mempersilahkan tamu tersebut masuk ke Istana Raja Singaok.&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian tamu itu pun tiba di Kerajaan Singaok. Tamu itu datang dengan tujuh ( 7 ) buah perahu kecil sedangkan 33 ( tiga puluh tiga ) masih menunggu di kuala. Tamu sudah datang dipangkalan Raja Singaok. Raja Singaok menyambut kedatangan tamu dan membawanya langsung keistana. Oleh karena rombongan tamu cukup banyak maka tidak masuk semua tetapi berjaga-jaga/ berkeliaran dihalaman istana.&lt;br /&gt;Raja Singaok Panambahan Inak Bapusat duduk bersama istrinya Putri Cermin, serta didampingi oleh Panglima-Panglima, para Menteri, dan tidak ketinggalan pengawal yang sangat terkenal yaitu Nek Cobe dari desa Saba’u Lumut ( ± 2 Km sebelah Timur kota Menjalin sekarang Kabupaten Landak ). Sedangkan tamu duduk bersama istri dan dikawali juga oleh kawan-kawannya.&lt;br /&gt;Sementara Panambahan Inak Bapusat memulai pembicaraannya :&lt;br /&gt;1. Siapakah kiranya Tuan Muda yang pada hari ini datang menghadap aku dan dari Negeri mana dan apa keperluannya&lt;br /&gt;2. Raja mengenalkan diri, Aku adalah Raja Kerajaan Singaok, bergelar Panambahan Inak Bapusat, bernama asli Sengkuwuk, dan kerajaan ini letaknya dihulu sungai Bangkule Rajakng, sekian sabda Raja&lt;br /&gt;Tamu berdiri sebentar bersama istrinya dan menundukan kepala tanda hormat dan ia pun berkata :&lt;br /&gt;1. Ampun Tuanku. Hamba ini bernama Daeng Manambon anak Raja Bugis dari kerajaan Bone. Sedangkan pulau ini jauh keseberang laut, kami datang kemari memakai 40 (empat puluh) buah perahu besar dan kecil serta anak buah 400 (empat ratus) orang&lt;br /&gt;2. Kedatangan kami kemari keperluan dagang, membeli rempah-rempah barang-barang makanan dan obat-obatan&lt;br /&gt;3. Keperluan yang lain yaitu keperluan yang paling penting adalah asal usul istri hamba ini. Istri hamba ini bernama : Ratu Kesumba, &lt;br /&gt;Menurut cerita ayah saya, bahwa istri saya ini ceritanya sebagai berikut :&lt;br /&gt;Beberapa puluh tahun yang lalu perahu-perahu bugis dibawah pimpinan ayah saya          berlayar ditengah laut. Melihat sebuah peti terapung-apung diatas laut. Ayah saya memerintahkan anak buahnya untuk mendekati dan mengambil peti itu. Setelah dekat peti itu diangkat kedalam kapal/ perahu. Seorang awak kapal diperintahkan membuka peti itu, awak perahu pada mendekat semua ingin mengetahui apa sebenarnya isi peti itu. Eh . . .  ternyata ada bunyi tangisan didalam peti itu, peti itu tidak ada kuncinya, bapak saya pun membuka peti itu . . . alangkah herannya bahwa didalam peti ini ada seorang bayi perempuan !. Bayi  ini kelihatannya sudah agak lemah dan segera dibersihkan dan diberi minum. Dalam peti ini masih ada barang kata anak buah perahu yang lain. Dalam peti ini ada cincin permata, ini cincin mahal, ada selendang, peta asal usul anak ini.&lt;br /&gt;Sebuah perahu diperintahkan pulang kenegeri kami dan diserahkan anak ini kepada ibu saya . . . ( sementara Panambahan Inak Bapusat dan istri, para Menteri, para Panglima dan Nek Cobe orang saba’u mendengarkan terus direkam cerita Daeng Manambon )&lt;br /&gt;Setelah dewasa anak tadi oleh bapak saya dikawinkan dengan saya, Daeng Manambon. Setelah kawin beberapa bulan, entah bagaimana ketika istri saya membersihkan sebuah lemari tua, dilihatnya sebuah kotak dan dibuka, dilihat ada satu cincin, selendang dan peta serta riwayat tentang dirinya. Ia pun duduk termenung-menung, dan ia memperlihatkannya kepada saya Daeng Manambon, satu bulan kemudian, istri saya mengusulkan untuk pergi berkunjung / mencari dimana asal usulnya saya, negeri saya. Kerajaan Singaok, Kerajaan Ayah Saya. Dan saya menyetujui usul ini, akhirnya saya dan istri saya meminta ijin kepada bapak saya. Tante Borong Daeng Rilike. Dan beliau pun mengijinkan.&lt;br /&gt;Daeng Manambon pun setelah mendapat persetujuan dari ayahnya iapun mempersiapkan segala macam perlengkapan, berapa orang awak yang harus dibawa, berapa buah perahu yang harus berangkat. Akhirnya tercatat dalam daftar hampir 400 (empat ratus) orang awak perahu, dan menyiapkan 40 (empat puluh) perahu, siap dengan layarnya.&lt;br /&gt;Pada laporan Daeng Manambon, asal usul kedatangannya, kata Daeng Manambon; kami berangkat menuju Pulau Bagawan Selo-Telo ( P. Borneo), menyisis sebelah selatan, berdasarkan petunjuk peta bahwa kuala sungai yang dicari ada sebatang pohon asam pauh besar dan rindang, itulah dia kuala sungai kerajaan ayahku. Maka dibawah pohon asam pauh itulah kami duduk dan berlabuh dihulu sungai inilah Kerajaan Singaok ayahku. Inilah petunjuk peta yang kami ikuti.&lt;br /&gt;Dan akhirnya pada hari ini kami sampai dihadapan Tuanku, Daeng Manambon mempersilahkan istrinya bicara !, Istrinya berkata : saya ini anak bapak, anak ibu, Panambahan Inak Bapusat, Raja Singaok pun berdiri dan berkata ; saya tidak pernah ada seorang anak permpuan !!! . . . Putri Cermin, istri Panambahan Inak Bapusat menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;Pengawal Raja Singaok, tercengang melihat kejadian ini serta cerita Daeng Manambon dan Istrinya diingat serta dipahami betul-betul.&lt;br /&gt;Istri Daeng Manambon pun berdiri serta memperlihatkan bukti bahwa dirinya betul anak dari Panambahan Inak Bapusat Raja Singaok. Ini bukti kata Putri Kasumba, istri Daeng Manambon sambil memperlihatkan sebatang cincin Kerajaan dan sehelai selendang Kerajaan . . . Singaok. Istri Daeng Manambon berkata lagi . . . Menurut cerita yang saya miliki bahwa Bapakku Raja Singaok mempunyai sebilah keris sakti itupun saya minta !!!. Kalau begitu kata Panambahan Inak Bapusat, Raja Singaok, Hancurlah Kerajaan Singaok ini.&lt;br /&gt;Istri Daeng Manambon tetap berkeras meminta keris, . . . Ayahanda, Ibunda, serahkan keris itu, karena aku ini adalah anak kandung dari Ayahanda  dan Ibunda. Bagaimanapun kata Raja, keris ini tidak bisa Ayahanda serahkan !!!. Kalau begitu kata anaknya terpaksa kita perang. Anak lawan Bapak, Raja Singaok lawan anak Raja Bugis.&lt;br /&gt;Putri Cermin menangis terus. Para pengawal, para Panglima dan para Menteri semua tidak bergeming untuk meninggalkan tempat malah masyarakat atau rakyat berdatangan. Apalagi istana hanya bersebrangan sungai dengan pusat kota. ( Desa Kuta Tengah sekarang masih ada ).&lt;br /&gt;Akhirnya Panambahan Inak Bapusat Raja Singaok siap mempertahankan kerajaan Singaok, dan pasukan Daeng Manambon siap untuk menyerang kerajaan Singaok. Diumumkan bahwa pasukan Daeng Manambon akan menyerang sepuluh hari yang akan datang. &lt;br /&gt;Pasukan Panambahan Inak Bapusat, Raja Singaok menghadang dikuala sungai Malinsapm, kiri kanan Sungai Bangkule Rajakng ( Sungai Mempawah ) tepatnya di Desa Pinang Sekayu ( Dalam bahasa Dayak Kanayatn artinya sebatang dan sampai sekarang ini lokasi itu masih bernama Pinang Sakayu).&lt;br /&gt;Sepuluh hari kemudian, pasukan Daeng Manambon menyerang melalui sungai Bangkule Rajankng menggunakan 40 buan perahu dengan jumlah anak buah sebanyak  400 orang. Sementara Raja Singaok dan pasukannya telah siap di Desa kecil yang bernama Pinang Sekayu. Tak lama kemudian para pemancing (mata-mata) datang menghadap dengan membawa kabar bahwa pasukan Daeng Manambon sudah tiba.&lt;br /&gt;Dari kejauhan sudah terlihat pasukan Daeng Manambon yang menggunakan 40 buah perahu dengan beranak buahkan 400 orang. Sungai Bengkule Rajakng penuh oleh pasukan Daeng Manambon yang melewatinya. Lama kelamaan pasukan Daeng Manambon semakin dekat, dan kira – kira lima puluh meter lagi pasukan Daeng Manambon mendekati Raja Singaok dan pasukannya, tiba – tiba Raja Singaok memberikan perintah kepada seluruh anggota pasukannya. Hai anak buahku semua !!! . . Janganlah kamu membunuh musuh, jangan mengeluarkan darah musuh . . . Hai para Panglimaku !!!.&lt;br /&gt;Kemudian Panambahan Inak Bapusatpun berdiri mencabut kerisnya yang kemudian ditancapkannya keatas sungai Bengkule Rajakng. Setelah itu iapun bangkit berdiri sambil mengangkat tangannya yang sedang memegang keris pusakanya (Bapaknya, ingat cerita Nek Sayu’ dan Raja Kudung).&lt;br /&gt;Raja melihat kearah musuh kemudian mununduk kearah sungai. Dari arah sungai kelihatan sungai tersebut mengeluarkan api. Panambahan Inak Bapusat berseru !!! “ Hai anak buahku, siap ditempat dan perhatikan apa yang sedang terjadi ! “ . . . Sungai Bengkule Rajakng menjadi api . . . dan apipun semakin membesar.&lt;br /&gt;Sementara pasukan Daeng manambon kucar kacir meninggalkan perahu dan terjun kesungai lalu naik kedaratan, namun kiri kanan sungai pasukan Panambahan Singaok sudah siap dengan tangkitnnya. Panambahan Singaok berseru lagi kepada anak buahnya . . . Hati-hati anak buahku, ingat pantang !!! membunuh didaratan, menetek didaratan !!!. Air jangan sungai tidak boleh terkena darah !. Awas, Air sungai tidak boleh terkena darah !!!.&lt;br /&gt;Tersebutlah Nek Cobe. Nek Cobe kelahiran Sabau’ Lumut kira-kira 3 km sebelum timur kota Menjalin Kabupaten Landak Sekarang. Beliau terkenal seorang Panglima perang yang paling setia kepada Raja.&lt;br /&gt;Salah satu anak buah Daeng Manambon terpeleset lari dan melintas didepan Nek Cobe. Nek Cobe meneteknya dan putus, kemudian mayat anak buah Daeng Manambon tersebut ditendang kedalam sungai dan darahnya menyentuh air sungai tersebut, seketika itu air menjadi merah terkena darah dan api yang tadinya berkobar diatas sungai seketika itu juga menjadi padam.&lt;br /&gt;Daeng Manambon melihat api disungai tersebut sudah padam maka iapun menyusun kekuatan armadanya kembali. Setelah pasukannya terkumpul, Daeng Manambon menyerang kembali. Tidak diketahui seberapa banyak anak buah Daeng Manambin yang gugur, dan yang diketahui hanya satu yang ditebas oleh Nek Cobe sedangkan anak buah Panambahan Inak Bapusat tidak seorang pun yang gugur saat pertempuran didarat. Serangan oleh pasukan yang baru disusun kembali oleh Daeng manambon semakin dekat.&lt;br /&gt;Melihat keadaan tersebut, Panambahan Inak Bapusat memberikan perintah kepada pasukannya “ Hai anak buahku sekalian !!! semuanya mundur, kekuatan tidak seimbang. Semuanya mundur menyelamatkan diri !!! demikianlah perintah Panambahan Inak Bapusat terakhir . . . “&lt;br /&gt;Panambahan Inak Bapusat lari mudik melalui sungai Malinsapm yang diikuti oleh para pengawalnya, dan Nek Cobe tidak kietinggalan ikut rombongan Raja Singaok atau Panambahan Inak Bapusat. Dihulu sungai Malinsapm rombongan singgah dan bermalam dirumah seorang Timanggong  bernama Nek Mantok atau biasa dipanggil dengan Nek Bilatok, didaerah Gado’ ( Sekarang Kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Landak ).&lt;br /&gt;Istana Raja Panambahan Inak Bapusat di Singaok yang jaraknya kira – kira 2 km dari daerah opertempuran Kuala Sungai Malinsapm dan Desa pinang Sekayu. Harta Kerajaan masih tersimpan disana beserta istri raja Panambahan Inak Bapusat yaitu Putri Cermin anak dari Raja Pagar Ruyung beserta para pengawalnya.&lt;br /&gt;Ketika pasukan Daeng Manambon sampai dipangkalan Singaok, Putri Cermin istri dari Raja Singaok yang melarikan diri akan dibawa lari oleh para pengawalnya. Tetapi ia menolak karena ia tahu yang datang itu adalah anak beserta menantunya (Putri Kesumba dan Daeng Manambon). &lt;br /&gt;Demikianlah Kerajaan Singaok diduduki oleh pasukan Daeng Manambon.&lt;br /&gt;Istri Daeng Manambon naik ke Istana, sementara Putri Cermin menunggu dihalaman Istana. Ibu dan anak berpeluk-pelukan, Daeng Manambon pun datang dan mencium ibu mertuanya. Daeng Manambon memerintahkan anak buahnya !!! . . . &lt;br /&gt;“ semua harta kekayaan Kerajaan Singaok, angkut dan masukkan kedalam perahu termasuk tikar, bantal, periuk, belanga, piring, mangkuk dan lain-lain kecuali yang tidak bias diangkut”. Setelah semua benda-benda tersebut masuk kedalam perahu, Daeng Manambon mengiring ibunya masuk perahu. Setelah semua siap, armada pasukan Daeng Manambon kembali pulang. Setibanya di Kuala Sungai Bengkule Rajakng para anak buahnya menambatkan perahu mereka dibawah pohon asam pauh yang besar dan rindang untuk berteduh. ( Dibawah pohon Asam Pauh atau Mampelam Pauh adalah asal dari kata Mempawah).                              &lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, Daeng Manambon mengadakan pesta di bawah pohon asam pauh dengan mengundang penduduk sekitar. Acara pesta besaar tersebut dulaksanakan selama 7 hari 7 malam. Dibawah pohon asam pauh penuh sesak oleh para tamu dan undangan sampai kepantai laut. Pesta atau makan-makan tersebut diadakan untuk memperingati kemenangan dalam perang di Singaok yang melawan Raja di Singaok atau Panambahan Inak Bapusat. (Acara tersebut masih diperingati atau dilaksanakan setiap tahunnya di Kuala Mempawah sampai saat ini yang dikenal dengan istilah Robo’-robo.)&lt;br /&gt;Panambahan Inak Bapusat yang kalah perang melawan Daeng Manambon dan lari mudik melalui Sungai Malinsapm bersama para pengawalnya dan tiba dirumah Nek Mantok orang Gado’, disanalah ia menceritakan asal usul peperangan. Seterusnya kekalahannya dan tidak lagi membayar pajak. Panambahan Inak Bapusat menjumpai seluruh rakyatnya dan seluruh Timanggong jajahannya, kemudian menceritakan seluruh cerita Daeng Manambon. Salah satu yang rajin bercerita adalah Nek Cobe orang Seba’u. dari sinilah asal-usulnya cerita ini diceritakan turun temurun oleh masyarakat Dayak Kanayatn berbahasa Ahe, malah diketahui juga oleh Dayak Bakati’ ( Banyuke ).&lt;br /&gt;Di atas diceritakan bahwa Panambahan Inak Bapusat lari mudik melewati sungai Malinsapm dan bermalam di rumah Nek Mantok. Ketika ia baru turun tangga Keris Raja hamper jatuh, sehingga istri Nek Mantok berteriak !!! “ Keris Tuanku Mau Jatuh ” Rajapun menoleh ke belakang, keris memang sudah jatuh. Rajapun berkata, “ Tujuh keturunan keluargamu murah rejeki hai keluarga Mantok “. Konon kabarnya keturunan Nek Mantok ini mudah dapat rejeki, berladang sedikit dapat padi banyak sampai sekarang.&lt;br /&gt;Keris Pusaka Panambahan Inak Bapusat tetap tersisip di pinggang Raja. Panambahan Inak Bapusat meneruskan perjalanannya dan akhirnya sampai di Meliau daerah Kapuas. Beliau bermalam di rumah seorang Timanggong. Sekian hari di Meliau, beliaupun mangkat atau meninggal dunia. Raja Panambahan Inak Bapusat dimakamkan oleh masyarakat Meliau dibawah rumpun pisang tidak jauh dari halaman rumah yang ditempati untuk bermalam.&lt;br /&gt;Tiga hari kemudian, beberapa orang kampung  pad bermimpi, bahwa Raja Singaok tidak mau diam di Meliau dan ia sudah berangkat. Untuk membuktikan dari mimpi tersebut, orang kampung meliaupun beramai-ramai datang untuk melihat kuburan Raja tersebut. Setelah sampai apa yang terjadi membuat masyarakat kampung meliau tercengang. Kuburan Raja sudah kosong seperti ada orang yang menggali, petinyapun tidak ada.&lt;br /&gt;Didesa Samap dan Desa Kuala Nyawan dua malam yang lalu kira-kira jam 2 dini hari ada bunyi orang ramai bahkan ada yang berteriak-teriak minta tolong. Orang kampong tidak menghiraukannya. Bertanya-tanya sekitar kampong tidak ada yang tahu.&lt;br /&gt;Orang-orang mudik kira-kira 200 meter dari kampung Samap, terlihat ada bekas orang ramai dilokasi itu. Orang yang melihat pada heran kemudian mereka kembali mudik, wah . . . Ada orang membikin titi penyebrangan untuk menyebrang sungai Bangkule Rajakng dilokasi yang agak becek terlihat bekas kaki banyak sekali sepertinya ratusan orang. Tempat membuat titi penyebrangan ini, tebingnya tinggi yang diperkirakan sekitar tiga meter. ( Sampai sekarang ini lokasi tersebut dinamai kampong Titi Antu yang berada di Desa Sepang Kecamatan Toho Kabupaten Pontianak).&lt;br /&gt;Di atas dikatakan bahwa orang meliau bermimpi, jasad Panambahan Inak Bapusat hilang dan pulang ke Istana Singaok.&lt;br /&gt;Satu rombongan Pemuka masyarakat Meliau berkunjung ke Singaok untuk membuktikan kebenaran dari mimpi tersebut. Walaupun ini sekedar mimpi, tapi orang Meliau sanggup datang berkunjung.&lt;br /&gt;Setelah sampai di Singaok, mereka bermalam dan menceritakan maksud kedatangan mereka. Keesokan harinya masyarakat Singaok bersama orang Meliau pergi kebekas Istana Kerajaan Singaok. Ketika tiba ditengah Istana ada sebuah kuburan baru yang ditandai dengan sebuah batu besar yang berukuran 30 x 30 x 60 cm (sampai sekarang masih dapat dilihat). Melihat ada kuburan disana, orang – orang bertanya, namun semua mengatakan tidak mengaetahuinya.&lt;br /&gt;Akhirnya Pemuka – Pemuka Adat, Orang-orang tua, ditambah lagi dengan Pemuka yang datang dari Meliau bersama – sama berkesimpulan bahwa itulah dia jawaban yang ada dimimpi masyarakat kampung  Meliau.&lt;br /&gt;Itulah kuburan Panambahan Inak Bapusat, yang wafat atau mangkat di Meliau dan dikuburkan disana tetapi dipindah oleh makhluk halus ( Antu ) kebekas Istana Singaok.&lt;br /&gt;Rombongan orang Meliau pulang kembali kekampung mereka. Selang beberapa hari kemudian, orang meliau datang lebih ramai lagi karena ingin melihat kenyataan ini serta kedatangan mereka disertai dengan membawa bibit – bibit Tengkawang, Langsat, Durian dan lain sebagainya ( Sampai saat ini, tengkawang dan langsat masih ada didaerah tersebut ). &lt;br /&gt;Pada tahun 1979 – 1980, kuburan Raja Singaok atau Panambahan Inak Bapusat direhap secara makam Islam oleh Bapak Camat Toho pada wakti itu yaitu Bapak Gusti Ibrani.&lt;br /&gt;Batu besar dibuang keluar pagar dan diganti dengan misan baru. Belum selesai pemborong yang mengerjakannya, meninggal mendadak seketika. Orang – orang kampung sekitar bermimpi. Dalam mimpi mereka datanglah seorang Orang Tua marah – marah, siape orangnye yang merusak rumah saya ini. Setelah apa yang dialami oleh masyarakat dalam bermimpi, maka masyarakat Desa Kuta Tengah yang letaknya diseberang sungai, datang beramai-ramai untuk mengangkat dan mengembalikan batu yang dipindahkan ketempat semula dengan disertai berdoa secara Adat Dayak Kanayatn memotong Sabungan ( Ayam Jago )  merah, yang kemudian disangahatn. ( Batu tersebut masih dapat dilihat dalam pagar dekat misan). Pada tahun 2004, oleh Bapak Bupati Pontianak (Drs. Cornelis Kimha, M.Si) dan Camat Toho ( Lidianto, S.IP ) makam ini direnofasi kembali dengan tambahan dibuatlah Tangga dari sungai naik kedarat, pintu gerbang dan rumah tempat istirahat. Menurut sumber dari seorang pegawai Kantor Camat Toho pada waktu itu, bahwa biaya pembanggunan kompleks makam tersebut menelan biaya sebesar Rp 15.000.000,- (lima Belas Juta)                                       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-820648178167657982?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/820648178167657982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=820648178167657982&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/820648178167657982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/820648178167657982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2010/10/asal-usul-kerajaan-singaok-menjadi.html' title='ASAL USUL KERAJAAN SINGAOK MENJADI KERAJAAN MEMPAWAH SEKARANG INI'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-7277287708437570358</id><published>2010-10-02T18:07:00.001-07:00</published><updated>2010-10-02T18:08:55.270-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tarakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konflik dan Pluralisme'/><title type='text'>REFLEKSI DARI KALBAR UNTUK TARAKAN....</title><content type='html'>Sudah puluhan kali kita menyaksikan konflik kekerasan antar kelompok etnik di Kalimantan, dari Ledo (1996 dan 1997) Sambas (1999), Pontianak (2000), Sampit (2001) dan terakhir Tarakan (2010)...Konflik terjadi umumnya antara penduduk asli (Dayak, Melayu) dengan pendatang (Madura, Bugis)...Konflik kekerasan tentu saja membuat kita sedih, kecewa,,,marah, mengapa karena persoalan sepele (senggolan dangdut/Ledo 1996), pencurian dan tidak membayar ongkos bis umum/Sambas 1999), tabrakan kendaraan bermotor, perampokan/Pontianak 2000, pembunuhan (Sampit dan Tarakan)...Ada apa dengan penduduk asli ? (Dayak), kenapa mereka begitu cepat marah dan beringas ? &lt;span class="fullpost"&gt; tanpa bermaksud membela kelompok ini, beberapa hasil riset, observasi dan pengalaman kami selama pendampingan/pemberdayaan pada kelompok ini di Kalbar sejak 2000 silam, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dulu, orang Dayak merasa bahwa mereka masih hidup dialam bebas, yang kaya makanan. Hutan, ibarat supermarket yang menyediakan segalanya bagi hidup mereka. Mereka hidup tanpa tekanan ekonomi, tanpa beban (soal visi hidup yg sejahtera), tanpa tekanan politik. Mereka hidup dialam budaya yang mengharuskan mereka saling menghormati, menghargai, toleran, tanpa tekanan...sekali lagi tanpa tekanan....tetapi, semua berubah pada tahun 1960-an..saat para pendatang secara massif datang dikampung mereka dengan bantuan PEMERINTAH melalui program transmigrasi, program HTI, HPH, perkebunan, pertambangan,dll...yang semuanya “mendatangkan” penduduk luar...mereka mulai merasa cemas dengan masa depan anak cucunya....mereka mulai hidup tidak aman lagi (karena hukum adat yang mereka terapkan seringkali tidak diakui dan dihormati oleh orang luar)...mereka mulai hidup penuh tekanan politik (karena mereka tidak pandai berpolitik)...mereka mulai hidup merasa susah (karena mereka tidak pandai berdagang)...dan mereka mulai hidup tidak ada artinya (sekolah tinggi tidak bisa menjadi PNS, postur tubuh baik/tangkas tidak bisa menjadi polisi atau tentara, otak pintar tidak bisa mendapat beasiswa sekolah dari pemerintah karena tidak ada koneksi, disandang gelar sarjana tidak bisa kerja diberbagai instansi pemerintah dan perusahaan karena tidak ada lobi dan koneksi), dapat ketrampilan kerja tidak bisa diterima diberbagai perusahaan karena tidak punya koneksi, dan umumnya perusahaan yang masuk dikampung mereka membawa tenaga terampil dari luar/asal pejabat perusahaan, dan lain-lain)....mereka prustasi, stress dengan berbagai keadaan itu....mereka kecewa...mereka sudah tidak berarti lagi hidupnya....dan itu telah berlangsung 40 tahun lalu....salah satu contoh di Bengkayang, dari 300 karyawan perusahaan kelapa sawit, 280 berasal dari orang luar/pendatang dari Jawa, dan hanya 20 orang lokal (Dayak)...padahal mereka yang punya lahan (yang kemudian dibeli perusahaan dengan harga 140 ribu/hektar, dengan alasan disewa 30 tahun)...saat lahan dibuka untuk kebun sawit, mereka sudah tidak lagi punya lahan pertanian (untuk menghasilkan padi), tidak bisa lagi menoreh karet untuk belanja sehari-hari, tidak bisa lagi berburu binatang hutan untuk pemenuhan protein,,,,tidak bisa lagi sembarangan masuk hutan untuk ambil kayu (untuk kayu bakar)....tidak ada lagi uang tabungan untuk menyekolahkan anak (biaya tinggi karena sekolah umumnya jauh dikota)...dan kalaulah selesai sekolah/sekolah tinggi, tidak bisa masuk sebagai karyawan perusahaan dikampungnya....itulah gambaran singkat dimana orang Dayak hidup saat ini....siapa yang peduli ?&lt;br /&gt;2. Program transmigrasi juga sangat berpengaruh pada tingginya angka stress dikalangan orang Dayak....dulu, kampung mereka hanya dihuni oleh mereka sekeluarga (satu rumpun)....tetapi dengan program ini, mereka mulai cemas....perbedaan budaya....disatu sisi, orang luar tetap mempertahankan budaya aslinya dengan dukungan pemerintah, tetapi disisi lain, mereka sendiri tidak berdaya dalam melestarikan budayanya....tidak ada lagi alat kesenian tradisional (karena mereka tidak mampu beli, yang lama sudah rusak dimakan usia)....tidak ada lagi yang bisa menjadi instruktur seni (karena yang tua sudah pada mati tanpa membekali yang muda dengna buku panduan,dampak tradisi lisan)....tidak ada lagi pengakuan adat istiadat (karena pendatang lebih banyak dari penduduk asli)....tidak ada lagi pengakuan hukum adat (karena pendatang lebih mengutamakan hukum negara/positif)....dari segi fisik, dikomplek transmigrasi, sarana dan prasarana sangat lengkap (air besih, rumah ibadah, jalan raya beraspal, listrik PLN, tanah 2 hektar disertifikasi, diberi kredit modal,dll), dan untuk penduduk asli disekitar komplek transmgrasi ? TIDAK ADA......ketika Pilkada langsung maupun pemilu legislatif (suara tertinggi/terbesar), penduduk asli yang umumnya tidak pandai berpolitik selalu kalah, bukan kalah karena salah, tetapi kalah jumlah....pendatang umumnya bersatu dalam suara.....tak heran, kini, banyak pendatang yang menjadi “wakil rakyat”  dan mendominasi di gedung parlemen di pedalaman Kalbar, mereka minoritas dikampung, tetapi mayoritas di gedung DPRD....celakanya, orang Dayak yang tampil dalam Pemilukada selalu terpengaruh dengan “konsultan” politik dari luar (jakarta) yang mengatakan untuk MENANG harus ada kombinasi etnisitas dan agama....jadilah, kandidat yang muncul dalam Pemilukada selalu kombinasi asli-pendatang, atau sebaliknya...ketika dudukpun (sebagai bupati/gubernur), orang Dayak yang terpilih juga mau tak mau harus mengakomodir penduduk pendatang yang umumnya menguasai BIROKRASI......tak heran lagi, walaupun kepalanya Dayak, badan, tangan, dan ekor tetap pendatang !!!!.....akibatnya, ketika sang Dayak mau membuat kebijakan yang berpihak kepada Dayak, selalu disangkal dengan isu NASIONALISME, kita ini hidup dialam Indonesia....!!!!    .......sekali lagi mereka (Dayak) stress dipolitik&lt;br /&gt;3. Ketika Dayak mau belajar jadi pengusaha, mereka juga selalu kalah karena UANG dan KONEKSI.....tidak ada konglomerat orang Dayak.....tidak ada koneksi usaha internasional bagi orang Dayak....lembaga-lembaga keuangan (baik negara maupun swasta) dikuasai penuh oleh pendatang.....karena itu, orang Dayak sulit untuk mengajukan kredit ke bank....mereka sulit mendapatkan uang dalam jumlah banyak untuk modal usaha....bahkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digulirkan pemerintahpun, orang Dayak tak sampai 2 % yang mampu mengaksesnya....di perusahaan negara (PTPN,dll) orang Dayak juga tidak ada, dari pejabat hingga tukang sapu orang Dayak tak ada....apalagi diperusahaan swasta, tak ada peluang bagi orang Dayak.....mau berusaha sendiri sulit (akses), mau kerja dengan orang lain sulit...dan mereka stresss......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi bagi Indonesia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Batasi ekspansi investasi, kalaupun sudah terlanjur ada, tenaga kerja dari luar di stopp !!!!....rekrut orang Dayak sebagai tenaga kerja, baik sebagai pejabat (iini untuk orang Dayak yang berpendidikan tinggi dan profesional) maupun sebagai karyawan (ini untuk orang Dayak yang berpendidikan tinggi, terampil), termasuk tenaga harian lepas (ini untuk orang Dayak yang tidak berpendidikan)...atau....rekrut orang Dayak dan latih sebagai tenaga terampil dengan mendirikan Balai Latihan Kerja dipedalaman (selama ini terpusat dikota dan sulit diakses oleh pemuda Dayak)....&lt;br /&gt;2. Buat kebijakan yang berpihak kepada Dayak dalam hal investasi (membeli tanah Dayak dengan harga yang pantas !!!), politik (batasi pendatang dalam politik praktis), ekonomi (permodalan dan akses nya), pendidikan (beasiswa bagi pemuda dayak yang cerdas tetapi tidak mampu), kesehatan (beasiswa bagi pemuda dayak yang cerdas untuk disiapkan sebagai tenaga dokter,dll),TNI, Polri (rekrut pemuda dayak untuk ditempatkan didaerahnya sendiri, batasi tentara/polisi dari pendatang),dll.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi bagi Dayak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagi pejabat Dayak, segera menyiapkan kaderisasi kepemimpinan (jangan tamak/feodal,selama ini banyak pejabat Dayak yang menyiapkan putra-putrinya, keluarganya/suami/istri/ipar sebagai pemimpin politik.....siapkanlah kader dari kelompok Dayak lain yang berpotensi walaupun secara UANG tak mampu....&lt;br /&gt;2. Bagi pejabat Dayak, membuat kebijakan khusus yang berpihak pada Dayak....kalau ada perusahaan yang masuk dikampung Dayak, panggil “bos”nya agar mengakomodir dayak diperusahaannya, agar membeli tanah Dayak dengan harga standar, agar menyiapkan tenaga ahli orang Dayak dengna memberi beasiswa kepada anak Dayak dikampung itu sesuai kebutuhan perusahaan....agar memprogramkan pemenuhan kebutuhan dasar Dayak dikampung (jalan, jembatan, listrik, air bersih, sekolah, puskesmas,usaha ekonomi,dll)...bagi perusahaan (bos) yang tidak mau, jangan DIBERI IZIN USAHA....&lt;br /&gt;3. Bagi orang Dayak yang punya modal UANG, beri beasiswa kepada anggota keluarga dikampung untuk sekolah tinggi dikota....&lt;br /&gt;4. Bagi orang Dayak yang sekolah tinggi, jangan lupa kampung halaman, ketika selesai, mari kita bangun kampung kita sendiri...jangan bermimpi untuk membangun Dayak kalau dikampung sendiri tak diperdulikan....!!!!&lt;br /&gt;5. Mari kita sekolah....belajar....berjuang....dan KITA AKAN MENANG, BERSATU KITA MENANG !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi bagi kita semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Borneo sudah membara....bara konflik kekerasan antara Dayak dengan pendatang sudah menyebar diseluruh penjuru Borneo....Tarakan adalah fakta terakhir, bahwa investasi di kawasan Borneo yang begitu massif dan superbesar terbukti tidak mensejahterakan Rakyat Dayak, karena itu, TARAKAN adalah SINYAL DINI bahwa Dayak di Borneo masih menyimpan kekuatan untuk PERANG MELAWAN KETIDAKADILAN NEGARA...TARAKAN adalah bagian dari GERAKAN Dayak di Borneo untuk melawan siapapun yang mengebiri Dayak....Dayak sudah bersatu diseluruh Daratan Borneo...tinggal menunggu hari...tinggal menunggu pemantik...tungku sudah hangat...kayu sudah tersedia....bahan bakar sudah ada....dan Dayak siap melawan siapapun.......&lt;br /&gt;2. Segera dilakukan KONGRES DAYAK SE-BORNEO, untuk memantapkan langkah perjuangan Dayak selanjutnya..... Kalbar siap menjadi TUAN RUMAH !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinyal dini Konflik di Borneo:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ada 5 penguasa besar Indonesia sejak zaman kolonial hingga saat ini yang menguasai Borneo (Jawa, Bugis, Batak, Madura, Cina)....dari lima penguasa ini, Dayak sudah “terlibat” perang dengan Madura (Kalbar, Kalteng), Cina (Kalbar), Bugis (Kaltim)....masih ada 2 penguasa lagi yang tersisa...siapakah yang menyusul ?             &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-7277287708437570358?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/7277287708437570358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=7277287708437570358&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/7277287708437570358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/7277287708437570358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2010/10/refleksi-dari-kalbar-untuk-tarakan.html' title='REFLEKSI DARI KALBAR UNTUK TARAKAN....'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-8933786663177814917</id><published>2010-05-26T21:39:00.000-07:00</published><updated>2010-07-31T00:46:27.233-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adat'/><title type='text'>MEMAHAMI ADAT DAYAK (bag.1)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/TFPTa6DEvNI/AAAAAAAAA7M/fliKdv46JRo/s1600/Baremah+Ka+Dait.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/TFPTa6DEvNI/AAAAAAAAA7M/fliKdv46JRo/s320/Baremah+Ka+Dait.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Oleh Yohanes Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas fenomena komunitas adat lebih lanjut, saya ingin menegaskan bahwa kekuasaanlah yang akhirnya menetukan arah perkembangan sosial manusia. Sejak kapan kekuasaan menjadi simbol eksistensi manusia ?&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; menurut Karl Marx, eksistensi manusia dapat dilihat dari kekayaan materi yang dimilikinya. Semakin kaya seseorang semakin mendapat penghargaan, penghormatan dan ditinggikan derajatnya.&lt;br /&gt;Materi inilah yang menyebabkan manusia membangun stratifikasi, antara yang kaya dan miskin. Rene Descartes, filsuf perancis mengatakan cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada). Sampai sekarang, pendapat Rene ini dipakai manusia untuk mengatakan dirinya ada. Deddy Mulayan, merujuk Thomas M Scheidel, menyebutkan bahwa aktivotas komunikasi juga menjadi instrumen untuk menyatakan eksistensi diri, sehingga berlaku pameo “ saya berbicara, maka saya ada”. Bila kita berdiam diri, orang lain akan memperlakukan kita seolah-olah kita tidak eksis. Namun ketika kita berbicara, orang lain akan memperlakukan kita seolah-olah kita ada.    &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Penguasaan atas akses dan aset sumber eksistensi ini dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa sumber-sumber yang diperebutkan relatif statis, sementara manusia yang memperebutkannya semakin banyak, tensu saja juga sama dengan kebutuhannya. Hal ini membuat manusia masuk dalam aktivitas kopetisi yang sangat ketat. Barangsiapa yang menguasai aset sumber daya tersbeut, ia akan tampil menjadi ”pemimpin” yang mempunyai kekuasaan mengatur, mengendalikan dan mendistribusi. Cara kerja kekuasaan dalam proses sosial inilah yang kemudian melahirkan praktek hegemoni.  Kekuasaan lebih lanjut berarti kemampuan atau kesematan untuk menjalankan dan mengatur interaksi masyarakat. Secara politik, kekuasaan identik dengan sistem pemerintahan negara. Namun, dalam kehidupan konkrit, kekuatan terjelma dalam pelbagai macam lembaga dan kegiatan. Kepala desa mempunyai tangan-tangan yang mengatur jalannya pemerintahan berdasarkan perintah birokrat ”diatasnya”, para pemuka agama mempunyai kekuasaan dalam menggerakkan umat untuk bertindak menurut pola agama, dan para tetua adat mempunyai kekuasaan untuk menggerakkan umatnya untuk bertindak menurut adat dan taat pada hukum adat serta melindungi wilayah adat, sesuai ajaran leluhur. Persaingan dalam memperebutkan pengaruh itulah indikasi cara kerja kekuasaan, karena kekuasaan selalu ingin memperbesar pengaruhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pergulatan identitas; menuju unifikasi etnik  &lt;br /&gt;Pasca hancurnya kekuatan pemerintah Orde Baru, komunitas adat di Kalimantan Barat merasakan betapa pentingnya adat dalam mengawal ”proses” kehidupan selanjutnya. Sungguhpun sempat terjatuh dalam aksi kekerasan rasial selama kurang lebih 100 tahun, komunitas adat dengan dukungan para intelektualnya di partai politik dan LSM, mulai menapak hari-harinya dengan penuh keyakinan, bahwa bagaimanapun juga adat tetap menjadi pilihan terbaik ditengah terpuruknya moralitas bangsa diabad modern saat ini. Namun, membangun gerakan ini ternyata tidaklah mudah. Selain kurang solidnya pemimpin mereka, juga telah hancurnya kelembagaan lokal, yang telah menjadi acuan selama ini melalui  politik unifikasi hukum atas nama desa. &lt;br /&gt;Secara kasat mata, gerakan kembali ke adat dimulai pada pertengahan tahun 1985. dimana, pada tahun ini, identitas suku-suku kecil sebagai komunitas adat yang bertebaran pada 4 kabupaten di Kalimantan Barat muncul. Dulu, suku-suku kecil ini menamakan dirinya beradarkan nama tempat tinggal atau persekutuan hukum yang dibangun nenek moyang mereka. Namun, ditahun ini pula, identitas itu mulai diangkat kembali. Mereka bertanya-tanya, siapakah kami sebenarnya ? Siapakah suku Dayak Kanayatn itu ?  untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan ini, kembali saya membolak-balik berbagai literatur. Saya menemukan sebenarnya tidak banyak literatur yang menunjukan secara detail keberadaan suku Kanayatn di Kalimantan, bahkan dibeberapa hasil penelitian “orang Barat“ tidak ada satupun yang menunjukan dengan tegas “ Kanayatn”. Kata Kanayatn secara jelas terdapat dari tulisan Pastor Donatus Dunselman OFM.Cap  tahun 1949 dengan judul “Bijdrage Tot De Kennis Van Detaal En Adat Der Kendajan-Dajaks van West Kalimantan“. Ia melakukan penelitian di Desa Tiang Tanjung Mempawah Hulu yang dekat dengan desa-desa orang Bakati’ ( Jirak, Sebangki, Timpurukng ) dan desa-desa orang Banyadu’ (Pentek, Semade, Parigi). Menarik bahwa dikemudian hari, hasil penelitian Dunselman ini diadobsi secara menyeluruh oleh kalangan elit politik Dayak yang mengidentifikasikan dirinya sebagai “Kanayatn“ pada tahun 1980-an. Mungkin ini bagian dari kepentingan untuk memperluas basis politik dan kekuasaan ( politik unifikasi) mereka, yang kalau dilacak merupakan politik khas Orde Baru. Para elite Dayak ini menyepakati bahwa orang-Dayak yang tinggal dipedalaman bagian utara dan selatan Kalimantan Barat sebagai Dayak Kanayatn, sebuah identitas baru pada suku ini. &lt;br /&gt;Dalam kacamata sejarah bangsa ini,  Stanley Karnow, seperti dikutip Simon Takdir, 2003, membuat peta perjalanan migrasi bangsa Austronesia dari daratan Asia menuju pulau Kalimantan melalui Semenanjung Malaya. Mereka memasuki muara sungai Sambas dan Salako (Selakau, menurut ejaan Melayu). Kelompok yang memasuki sungai Sambas kemungkinan besar bermukim dikaki bukti senujuh, dikawasan sungai Sambas Besar. Dikawasan ini dikemudian hari pernah berdiri kerajaan Sambas sekitar tahun 1291 dengan rajanya Ratu Sepudak, seorang yang telah beragama Hindu. Rakyatnya masih mengant agama tradisional. Apakah mereka iini merupakan keturunan dari kelompok yang bermigrasi itu ? untuk menjawab ini, seorang antropologi, Wonojwasito, 1957 menjelaskan bahwa jauh sebelum bangsa Austronesia bermigrasi diseluruh kepulauan Indoensia, kepulauan Indinesia termasuk Kalimantan telah ada penduduknya, yaitu bangsa Weddoide dan bangsa Negrito. Mereka mendiami lkepulauan ini sejarh zaman prasejarah dan kebudayaan mereka dinamakan kebudayaan Paleolitikum (Loebis, 1972), kebudayaan batu tua, karena mereka belum mengenal pemakaian alat dari logam. Namun begitu, penduduk lama ini telah lenyap sama sekali di Indonesia (Wojowasito, 1957). Kelompok Asutronesia yang bermukim dikaki bukit Senujuh ini, karena julahnya kecil, akhirnya hilang karena ditaklukan dan berbaur dengan penduduk yang lebih dulu datang kedaerah itu. Pembauran ini melahirkan nenek moyang suku yang disebut suku Kanayatn atau Rara dengan ragam-ragam bahasa mereka yaitu bakati’, ba nyam, dan ba nyadu’. Para penurut tiga bahasa ini masih mengerti bila mereka berkomunikasi dalam ragam mereka masing-masing. Menurut informan saya, kanayatn itu berada disebelah sana sungai atau jalan. Maksudnya yaitu suku Kanayatn berada disebelah utara sungai Salako/Selakau, didaerah Kinane, Subah dan sebagainya atau disebelah utara jalan raya. Barangkali ini sejalan dengan kata sanskerta/kawi yaitu Kanayatn berasal dari kata : Kana + Yana, atau Kana + Yani. Yang berarti Kana : sana, Yana : jalan, yani : sungai ( Prawiroadmojo, 1981 ). Jika benar, apakah secara etimologis nama Kanayatn berasal dari kata tersebut diatas, yaitu suku yang tinggal disebelah sana jalan atau sungai ? &lt;br /&gt;Ditopang oleh kaburnya literatur yang menjelaskan secara detail keberadaan suku Kanayatn saat ini, maka saya mengamati sebuah organisasi yang mengatasnamakan Dayak Kanayatn, dibentuk pada tanggal 23 Maret 1985 yang bernama Dewan Adat Dayak Kanayatn. Walaupun masih terdapat simpang siur disana-sini tentang sejarah pembentukan organisasi ini, saya kemudian mengkaitkannya dengan kepiawaian para tokoh politik orang “Dayak”, pada awal Orde Baru. Mereka telah  melihat peluang yang besar untuk menyatukan Dayak melalui satu kekuatan politik di Golkar, sebuah partai pemerintah. Konsekuensinya harus ada ikatan pemersatu, istilah 'Kanayatn' atau 'Kendayan'. Kemudian dimanfaatkan sebagai sarana pemersatu sub-suku Dayak di Kabupaten Pontianak dan Sambas. Misalnya diadakan Musyawarah Adat Dayak Kanayatn di Anjungan tahun 1985, yang melahirkan Gawai Naik Dango setiap tahun di Kabupaten Pontianak. Para politisi Dayak dari Golkar menggunakan istilah 'Kanayatn atau 'Kendayan' untuk mengumpulkan suara orang Banana'-Ahe dan varian sejenisnya yang mayoritas di Kabupaten Pontianak kala itu. &lt;br /&gt;Untuk membuktikannya, ditemukan sebuah dokumen penting yang menyebutkan Kanayatn mulai “dipakai “ pada tanggal 23-25 Maret 1985, melalui Musyawarah Adat se-Kabupaten Pontianak di Anjungan. Pada akhir musyawarah, peserta sepekat untuk membentuk  Dewan Adat Dayak Kanayatn Kabupaten Pontianak. Selama musyawarah, banyak peserta yang pro dan kontra atas istilah Dayak Kanayatn, untuk menyebut diri mereka. Seorang bekas peserta mengatakan kepada saya, bahwa ia tidak setuju ada pengelompokan suku Dayak. Menurutnya, Dayak akan kuat bila identitasnya tetap dipertahankan. Namun argumen itu tidak sama sekali muncul dimusyawarah, karena dilihatnya semua peserta orang-orang Golkar, yang ia kenal. Ia sendiri berterus-terang simpatisan sebuah partai non Golkar, yakni PDI. Pada akhir musyawarah ini, peserta memilih F. Bahaudin Kay, sebagai ketua umum DADK Kab. Pontianak. Ia adalah seorang Timanggong dari Binua Temila Ilir I –Pahauman. Inilah organisasi dayak pertama pada era Orde Baru dan secara resmi Kanayatn mulai diperkenalkan sebagai identitas baru bagi Dayak yang ada di Kabupaten Pontianak dengan motto “ Adil Ka Talino, Ba Curamin Ka saruga Ba Sengat Ka Jubata”. Lambang organisasi ini adalah pemipis dan gantang. Dengan prestasinya ini, F. Bahaudin Kay, yang juga wakil bendahara DPD Golkar Kab. Pontianak periDayake 1983-1988 pada PEMILU tahun 1992, terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Pontianak untuk periDayake 1992-1997 dari GOLKAR.  Setelah musyawarah adat itu, istilah Dayak Kanayatn kemudian dipopulerkan  berbagai kalangan melalui tulisan dimedia massa, buku-buku serta program-program radio.  Misalnya tulisan mengenai Dayak Kanayatn di Buletin Mimbar Untan; sejak tanggal 1 April 1992,  ada siaran radio berbahasa Dayak Kanayatn di RRI Pontianak, yang adalah bahasa Banana' yang menyebar di Kabupaten Pontianak dan Sambas. Peran siaran radio ini sangat besar dalam mensosialisasikan identitas Kanayatn untuk orang-orang yang berbahasa Banana'-Ahe, dan varian sejenisnya. Istilah ini menjadi berurat berakar pada Dayak di Kabupaten Pontianak (sekarang Pontianak dan Landak) dan Sambas (sekarang Sambas dan Bengkayang). Demikian juga berbagai tulisan yang dimuat dalam Majalah Kalimantan Review dan buku-buku terbitan Institut Dayakologi. Tanpa sadar, peran banyak pihak telah mempopulerkan identitas baru ini yang berdampak sangat besar pada perubahan-perubahan berikutnya. &lt;br /&gt;Sejak itu, tidak pernah lagi terdengar perdebatan istilah ini secara signifikan. Baru, pada akhir tahun 1999, istilah ini muncul kembali. Adalah Institute Dayakologi, sebuah LSM Dayak yang kembali membuka perdebatan seputar istilah Kanayatn. Dimuali dengan musyawarah adat di wilayah Binua Temila, Maniamas Miden SoDayak, bersama ratusan penduduk dibinua ini pada akhir tahun 2001 mendeklarasikan komunitasnya sebagai komunitas Dayak Bukit. Perdebatan istilah Kanayatn mulai menghangat kembali ketika di seminar Naik Dango XVIII se-Kabupaten Landak dan Kabupaten Pontianak di Menjalin, seorang antropolog Dayak Salako, Simon Takdir, membahas seputar Dayak Salako. Ia secara rinci menjelaskan kepada peserta, betapa Dayak Salako adalah induk dari berbagai suku-suku yang berdialek banana, ahe, bajare. Menurutnya, suku Kanayatn sebenarnya adalah orang-orang yang berbahasa non ba ahe dan non bajare, yakni orang-orang yang berbahasa nganayatn ( ucapan yang tidak tepat seperti penutur asli ) dan itu berarti Kanayatn adalah orang-orang Bakati, Banyadu’, Bainyam dan isoleknya yang lain.  Simon membeberkan sejumlah fakta bahwa di Kabupaten Bengkayang, ditemukan beberapa subsuku Dayak Bakati', yang secara kolektif menyebut dirinya Dayak Kanayatn atau Kanayat. Dalam kenyataannya, istilah 'Kanayatn' populer di kalangan orang yang berbahasa Banana' dan varian sejenisnya, terutama yang bermukim di aliran Sungai Mampawah dan anak-anak sungainya. Oleh aktivis Dayak, pergulatan mengenai istilah kanayatn ini mulai diangkat kepermukaan dalam berbagai diskusi, atau forum seminar ( lihat Bulletin Simpado, Edisi I Jan-Maret 2004, yang ditulis Kristianus Atok ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perdebatan Yang tak Henti di Sekitar Pelaksanaan Hukum Adat&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini kita sering membaca di koran bahwa suatu kasus/tindak pidana diselesaikan dengan "hukum adat". Bahkan kadang sudah menjurus dikomersilkan, sehingga cukup memberatkan bagi pelanggar. Tidak jarang untuk memberlakukan hukum adat menggunakan/mengarakan kekuatan massa. Padahal sejak berlaku hokum positif yang mengejawantah dalam KUHP bagi seluruh rakyat Indonesia pada tahun 1848 (ulangi tahun 1848 Kodifikasi Hukum Positif Indonesia) maka Hukum Adat diseluruh Indonesia dinyatakan tidak berlaku lagi, namun tetap dihormati.  Arti dihormati disini adalah bahwa bila ada suatu suku bangsa yang ingin menerapkan Hukum Adat hanya berlaku untuk suku bangsa itu sendiri secara intern, tidak berlaku untuk suku bangsa  lainnya.  Suku bangsa yang diberlakukan hokum adat berarti si pelanggar tersebut mengandung 2 (dua) resiko: 1. Menerima penjatuhan Hukum Adat berdasarkan adat setempat. 2. Menerima penjatuhan hukum positif/Pidana (karena hukum adat tidak dihapuskan hukum pidana, hanya dapat digunakan untuk bahan pertimbangan yang meringankan).  Beberapa pihak menyatakan keberatannya dengan pemberlakukan hukum adat ini. Menurut mereka, seharusnya hukum adat cukup berlaku dikomunitas adat, dan bukan ditempat lain. &lt;br /&gt;Bagi suku bangsa yang memberlakukan hukum adat, misalnya suku Dayak di Kalimantan Barat di Daerah Kabupaten Landak, maka hanya berlaku untuk daerah intern saja, bahkan jika suku Dayak Kabupaten Sintang/Kapuas Hukum melanggar suatu kasus di daerah Landak, tidak bisa diterapkan hukum adat. Untuk menjembatani ini, maka tetap Hukum Positif (KHUP), karena penerapan Hukum Adat suatu daerah kemungkinan tidak sama dengan daerah tempat terjadinya pelanggaran/kasus tersebut. Demikian juga pelaksanaan Hukum Adat tidak boleh bertentangan dengan Hukum Positif (KUHP), misalnya melakukan penyenderaan/penyitaan .  &lt;br /&gt;Penerapan hukum adat, juga mulai dipertanyakan warga berbagai acara pertemuan masyarakat.  “Saya hanya ingin mempertanyakan, batasan wilayah mana hukum adat itu berlaku, karena sekarang banyak orang mengatasnamakan forum, atau pemuka adat,bahwa sesuatu telah melanggar hukum adat," tanya warga . Lebih lanjut dikatakanya, tak adanya batasan yang jelas dilaksanakanya hukum adat itu, dapat menimbulkan ekses negatif dalam kehidupan bermasyarakat. Hal itu juga dapat mendorong konflik dalam kemajemukan kehidupan warga. Memang sampai saat sekarang masih belum ada pembakuan hukum adat secara universal. Dalam salah satu acara pelantikan pengurus adat, seorang Ketua Dewan Pemangku Adat MABM Ketapang, menyerahkan buku "Adat Istiadat dan Hukum Adat Melayu Kayung" kepada pengurus ranting MABM Sandai Kanan. Buku yang diterbitkan MABM Kabupaten Ketapang itu menjelaskan jati diri Melayu serta hukum adat Melayu Kayung.  Yang disebut puak Melayu itu adalah orang yang beragama Islam, berbahasa Melayu dan menggunakan adat istiadat Melayu. Puak Melayu itu adalah non genealogis,". Menurutnya, hukum adat Melayu merujuk pada syariat Islam. Sebagai rakyat Indonesia, maka seharusnya kita tunduk pada hukum positif . Jadi kalau etnis lain boleh melaksanakan hukum adatnya kepada publik di luar wilayah adatnya. Dardi menerangkan sebagai orang Melayu berharap pemerintah RI mengakui hukum syariat Islam. Ini juga sudah tertuang dalam piagam Jakarta. Dia juga mengingatkan MABM ranting Sandai Kanan agar jangan melaksanakan hukum adat di luar syariat Islam. Dicontohkannya seperti denda atau membayar adat sebagai ganti hukuman terhadap pelanggar tindak kriminal. "Kalau jelas pelanggaran kriminal seperti perzinahan, hendaklah diserahkan kepada pihak penegak hukum, bukan dihukum adat," tegasnya .  Penegasan itu, ketika dilakukannya pembentukan pengurus ranting Sandai Kanan pada 25 Maret 2005.&lt;br /&gt;Senada dengan tokoh ”Melayu” diatas, pelanggaran hukum terutama tindakan kriminal, juga seharusnya tetap dibawa hukum positif dan jangan dilarikan ke hukum adat. Hukum positif harus lebih ditegakkan, ungkap Kapolres Sintang melalui Kapolsek Nanga Pinoh IPTU M Surbakti . Menurutnya, permasalahan ini perlu perhatian dari semua kalangan serta warga dan juga tokoh adat, karena tindakan yang melanggar hukum bahkan sudah mengarah kepada tindakan kriminal memang harus dibawa ke hukum positif, karena di dalamnya sudah ada mengaturnya serta undang-undangnya. Jadi pada intinya, apabila ada kasus yang menyangkut masalah kriminal dan sejenisnya, jangan di larikan ke hukum adat. Permasalahan yang sering terjadi, ada masalah yang terkadang di selesaikan dengan acara adat, meski tindakan itu memang kriminal. Jadi masalah ini ke depannya perlu menjadi perhatian serta untuk dipahami oleh semua elemen yang ada. Kemudian di sisi lain Sino S Sos, pemerhati pembangunan Melawi menambahkan bahwa apa yang dikatakan olek Kapolsek Nanga Pinoh perlu dukungan dan perhatian masyarakat, karena hukum positif merupakan barometer penegakan hukum. "Jangan masalah pencurian dan sebagainya lalu diselesaikan dengan cara hukum adat lalu selesai," ujarnya.  Disisi lain ada juga tindakan kekerasan terhadap wanita, terkadang diselesaikan dengan cara adat, padahal tindakan yang dilakukan itu cukup berat, karena menyangkut kelangsungan hidup si korban.  Bahkan Kapolsek minta kepada warga jangan takut serta engan melaporkan tindakan kekerasan terhadap wanita, sebab dibiarkan maka pelaku akan tidak jera serta merajalela.  Namun, seorang pejabat pemerintah mengatakan bahwa jangan salahkan hukum adat. Menurutnya, hukum adat yang berlaku adalah merupakan warisan leluhur yang memang harus dilestarikan dan silaksanakan sesuai dengan ketentuan adat setempat. Tetapi dibalik itu, ia juga mengingatkan agar masalah adat ini benar-benar diperhatikan dengan baik. Mengingat sekarang ini, Pemerintah sedang giat-giatnya menarik para investor untuk dapat menanamkan modalnya sehingga diharapkan Adat tersebut tidak menghambat dan membuat investor merasa takut datang .&lt;br /&gt;Perdebatan diatas kemudian semakin meruncing dengan suara sumbang yang hadir di Harian Pontianak Post hari Jum'at (5/3/2004) tentang "Tegakkan Hukum Positif, Tolak Hukum Adat" yang dikeluarkan oleh Ir. Ikdar Salim dan Zulkarnaen Bujang selaku tokoh masyarakat Melayu dan sebagai Ketua Forum dan Ketua Tim Sebelas FKPM Singkawang. Pernyataan ini kemudian menimbulkan rekasi keras dari kalangan Dayak. Seorang pemuda Dayak, yang juga duduk sebagai ketua III dalam kepengurusan Kelembagaan Dewan Adat Dayak Kota Singkawang, sangat tidak sependapat dengan pernyataan kedua orang ”melayu” yang berani-beraninya ngomong lancang terhadap Dewan Adat Dayak, sebagai penyelesaian kasus Kn .  Tokoh ini meminta keduanya untuk jangan mencampuri dan adat budaya orang lain dan harus meminta maaf kepada seluruh masyarakat dan suku Dayak yang ada di kalimantan (Borneo) dan khususnya masyarakat Dayak Kota Singkawang. Sebab menurutnya, Adat dan kelembagaan Dayak lebih dulu lahir dari Forum yang mereka pimpin. &lt;br /&gt;Apa yang melatarbelakangi ”perang” sikap atas pemberlakukan hukum adat diatas ? Mengenai fenomena Hukum Adat sekarang ini diterapkan pada masyarakat kota (misalnya: Singkawang dan Pontianak), saya menyatakan bahwa hal itu adalah "Kebablasan". Saya berani menyatakan hal itu sebagai suatu kebablasan, karena penerapan sanksi adat tersebut sudah menyimpang dari hukum adat yang sebenarnya.  Sanki Hukum Adat hanya dapat dijalankan pada lingkungan masyarakat adat yang secara "de facto" kehidupan warganya masih berpegang pada Hukum Adat.  Jadi, hukum adat berlaku mutlak di kampung-kampung pedalaman Kalimantan Barat karena realitas sosial masyarakatnya yang secara de facto masih berpegang pada adat istiadat tersebut. Sanski hukum adat itu berlaku bagi siapa saja yang melanggar, termasuk warga dari suku/daerah lain yang melakukan perbuatan "sumbang" di wilayah Hukum Adat. Penulis surat pembaca tadi keliru jika mengatakan hukum adat hanya berlaku intern bagi anggota suku Dayak saja. Jadi yang penting adalah "locus delicti". Kota, menurut saya bukan wilayah Hukum Adat, khususnya yang menyangkut aspek pidana.  Penerapan sanksi hukum adat di perkotaan juga saya anggap sudah kebablasan karena terkesan sudah dikomersialisasikan. Tujuan sanksi hukum adat yang asli di kampung-kampung adalah untuk mengembalikan keseimbangan alam yang terganggu akibat terjadinya perbuatan "sumbang" yang dilakukan oleh pelaku. Saknsi tersebut lebih bersifat magis-religius sesuai dengan kepercayaan masyarakat adat. Sedangkan sanksi adat yang dijatuhkan oleh orang-orang Dewan Adat di kota bisa mencapai jutaan rupiah, yang sepertinya dibuat-buat, terlalu di "dramatisir". Sebagai orang Dayak asli, saya malah sedih melihat Hukum Adat Dayak dipermainkan oleh oknum-oknum yang mengaku "Pengurus Adat" di perkotaan!  Sebagai orang Dayak, saya sendiri tidak tahu bagaimana mekanisme penunjukan Dewan adat di kota-kota. Yang jelas mereka tidak dipilih langsung oleh warga masyarakat adat Dayak. Dan saya tahu, bahwa di kota Singkawang dan Pontianak, realitas sosial kehidupan masyarakatnya pasti secara "de facto" tidak lagi berpegang pada Hukum Adat, khususnya yang menyangkut tindak pidana.  Sanksi hukum adat dapat saja dijatuhkan pada si pelaku sebagai hukuman tambahan atas perintah Hakim, bukan oleh Dewan Adat yang sebetulnya bukan pengurus adat asli menurut Hukum Adat Dayak. Dewan adat di kota menurut pendapat saya lebih sebagai "organisasi sosial" untuk mengembangkan nilai-nilai budaya Dayak serta melakukan advokasi terhadap hak-hak masyarakat adat di tengah-tengah modernisasi saat ini. Dewan Adat biasanya diisi oleh kaum intelektual Dayak di kota yang mungkin tidak dikenal oleh masyarakat adat Dayak di kampung-kampung!!!  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-8933786663177814917?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/8933786663177814917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=8933786663177814917&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/8933786663177814917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/8933786663177814917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2010/05/memahami-adat-dayak-bag1.html' title='MEMAHAMI ADAT DAYAK (bag.1)'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/TFPTa6DEvNI/AAAAAAAAA7M/fliKdv46JRo/s72-c/Baremah+Ka+Dait.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-2842062789249088989</id><published>2010-05-26T21:25:00.000-07:00</published><updated>2010-07-31T00:47:37.309-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Dayak'/><title type='text'>Penjual Pelita menjadi Gubernur</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/TFPUdM-GL8I/AAAAAAAAA7U/5y2ZIQPKJBk/s1600/img23022009152361.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="156" src="http://4.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/TFPUdM-GL8I/AAAAAAAAA7U/5y2ZIQPKJBk/s200/img23022009152361.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Oleh Yohanes Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, MH sejak dilantik pada 15 Januari 2008 lalu dikenal sebagai sosok pemimpin yang ”dianggap” fundamentalis-sektarian. Ia terlahir memang sebagai orang Dayak dari keluarga Katolik taat. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dayak dan Katolik sepertinya menjadi “amunisi” bagi orang-orang, tepatnya lawan-lawan politik untuk menyudutkannya sebagai seorang sektarian. &lt;br /&gt;Pada setiap peresmian misalnya, Cornelis selalu membuka dengan melakukan tanda salib seperti kebanyakan pemain sepakbola Italia jika mau masuk lapangan.        &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Padahal yang dilakukan Cornelis adalah sebuah kejujuran. Bagaimanapun ia tidak bisa mengubah perangainya menjadi orang Jawa misalnya. Di dalam tubuhnya mengalir deras darah Dayak. Tentang tanda salib itu, Cornelis tak ubahnya seperti pemimpin yang beragama lain, Islam misalnya yang selalu membuka sambutannya dengan salam berbahasa Arab. Jadi sesungguhnya tidak ada hal aneh apa yang ditampilkan Cornelis sebagai pemimpin, sebagai seorang bupati.&lt;br /&gt;Tulisan tentang seorang bernama Drs. Cornelis, MH ini mencoba untuk menampilkan kakek 3 cucu ini lebih utuh sebagai pribadi, tidak hanya tampak luarnya saja, tapi juga kedalaman hatinya. Bagaimana impian-impiannya sebagai seorang pemimpin, juga sebagai kepala keluarga dengan satu isteri dan dua puteri. Tak ketinggalan perjalanan hidupnya sejak masa kanak-kanak hingga menjadi seorang gubernur. &lt;br /&gt;Tulisan dalam buku ini sejak awal harus saya katakan bukanlah buku biografi. Tulisan ini diibaratkan seperti “seorang kawan lama datang bercerita”. Maka, sebuah kesengajaan bila terdapat sejumlah narasumber yang identitas aslinya dikaburkan. Karena fokusnya memang pada “seorang sahabat” yang sedang diceritakan. Sahabat itu  bernama Cornelis, anak tangsi, putra kedua dari pasangan suami isteri (pasutri) Sersan Mayor (Pol) J.R. Djamin Indjah dan Maria Christina Uko yang kini menjadi Gubernur Kalimantan Barat itu.&lt;br /&gt;Sebagaimana seorang sahabat, ia akan mencoba melakukan “pembelaan” terhadap sahabatnya jika ada orang yang menjelek-jelekkannya. Begitu pula sebagai sahabat tidak akan membiarkan sahabatnya jatuh ke dalam kelemahannya. Mengritik sahabat tidaklah berdosa, bahkan harus dilakukan demi kebaikan sahabatnya. Begitu pula semangat dalam penulisan buku ini.  &lt;br /&gt;Dengan dasar pemikiran seperti itu, saya mencurahkan seluruh daya dan ide untuk menghadirkan tulisan  ini. Harapannya, tulisan ini dapat membantu siapa saja yang ingin mengenal Bang Cornelis lebih jauh, tidak sekadar sebagai gubernur, terlebih sebagai seorang pribadi yang bisa dijadikan salah satu teladan hidup.&lt;br /&gt;Karena keterbatasan-keterbatasan yang saya miliki, tentu ada sisi-sisi kekurangan dari tulisan ini. Bila hal itu yang terjadi, mungkin saja datang dari saya, bukan  dari Bang Cornelis. Sebab, tulisan ini disusun ibarat lukisan adalah sebuah sketsa yang masih membutuhkan penyelesaian untuk penyempurnaan. Karena itu masukan-masukan lain tetap dinantikan demi penyempurnaan buku ini dalam penerbitan berikutnya. &lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bocah, Cornelis memiliki tubuh yang sedemikian ramping, dan sedikit ceking. Posturnya pendek, berbeda dengan rekan-rekan sebayanya. Cornelis lahir di Sanggau, 27 Juli 1953 lalu, tepat ketika Daerah Istimewa Kalimantan Barat sedang berlangsung. Situasi politik sangat tidka menentu ketika itu.  Cornelis terlahir dari pasangan Serma (Sersan Mayor) J.R. Djamin Indjah dengan Maria Christina Uko.  Ia merupakan putera kedua dari delapan bersaudara. Mereka adalah Cyrillus, Cornelis, Redempta, Amandus, Eutropia, Yulia, Agustina, dan Rosalia. &lt;br /&gt;Masa kecil Cornelis, ia biasa dipanggil Ulis. Ketika berusia 5 tahun, Cornelis harus ikut sang ayah yang ditugaskan di Sukadana, Ketapang. Mereka tinggal di perumahan polisi. Tidak lama di Sukadana, Djamin pindah lagi ke Senakin. Di Senakin, Cornelis bersekolah dan menamatkan pendidikannya di Sekolah Rakjat (SR) tahun 1960-1966. Ketika Cornelis duduk di Sekolah Rakyat, Djamin, sang ayah yang polisi berangkat perang membela negara Indonesia yang sedang berkonflik dengan malaysia. &lt;br /&gt;Kesukaan Cornelis semasa kecilnya adalah memancing ikan dan berburu belalang. Setamatnya  SR tahun 1966, ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Gotong Royong  di Senakin tamat tahun 1969.  Ia  pindah ke Pontianak ikut saudaranya. Di Pontianak, inilah Cornelis menyelesaikan sekolahnya di SMA Kapuas Pontianak pada tahun 1972. &lt;br /&gt;Ditahun 1973 cornelis melanjutkan sekolah di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Pontianak dan selesai tahun 1978.  Saat itu kuliah di APDN tidak mengeluarkan biaya. Seluruh kebutuhan berkaitan dengan perkuliahan ditanggung negara. Di samping itu lulus kuliah langsung memperoleh pekerjaan sebagai pegawai negeri. Di APDN, Cornelis mulai mengenal dunia politik, termasuk tata pemerintahan Indonesia. Tamat APDN tahun 1978, Cornelis langsung diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri dan ditempatkan sebagai Staf Biro Kepegawaian Kantor Gubernur Propinsi Kalbar.  &lt;br /&gt;Pada awal Maret 1979, Cornelis ditugaskan sebagai Mantri Polisi di Kecamatan Mandor, Kabupaten Pontianak. Cornelis menikmati gaji pertamanya dengan kepangkatan Gol II/b status Calon Pegawai Negeri per 1 Maret  1979. Bersama dengan perjalanan waktu, karirnya pun ikut merangkak. Setelah mendapat pengukuhan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), 1 Juni 1980,  Cornelis kemudian mendapat tugas sebagai Kepala Urusan Bangdes Kecamatan Mandor dan PU Kabag Pemda Kantor Bupati Pontianak di Mempawah. Ketika di Mandor, Cornelis bersedia memimpin Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) dan aktif di Forum Komunikasi Putra-Putri ABRI (FKPPI) di Menjalin, Menyuke, dan Ngabang sejak tahun 1979. AMPI dan FKPPI, keduanya merupakan organisasi kepemudaan yang menyalurkan aspirasi politiknya ke Golkar. Setelah menjabat camat, Cornelis secara otomatis menjadi Ketua Banwanhat Golkar yang bertugas untuk memenangkan Pemilu di kecamatan yang dipimpinnya. Untuk upayanya ini, ia mendapatkan surat penghargaan dan ucapan terima kasih dari Golkar Tingkat I Kalbar kerena telah ikut memenangkan Golkar dalam Pemilu 1982-1998.&lt;br /&gt;Pada tahun 1984, pemerintah menawarkan Cornelis untuk melanjutkan pendidikan. Cornelis memilih ke Universitas Brawijaya (Unibra) Malang, Jawa Timur untuk menyelesaikan S-1 di Fakultas Ilmu Administrasidan lulus diwisuda pada tangal 8 November 1986. Sejak itu Cornelis  bergelar doktorandus (Drs).  &lt;br /&gt;Menginjak usianya yang ke-27, Cornelis menikah dengan Frederika pada 20 April 1980. Imam yang memberikan sakramen perkawinan mereka adalah Pastor Sarinus OFM.Cap  di Gereja Katolik Mempawah. Setelah menikah, karier Cornelis makin mantap. Ia mendapat kepercayaan menjadi camat di Kecamatan Menjalin (1989-1995) dan Kecamatan Menyuke (1995-1999). &lt;br /&gt;Kebahagiaan Cornelis semakin lengkap tatkala Tuhan mengaruniai seorang putra,  John Travolta Nang Niam Sidi Edo , namun umurnya hanya 41 hari saja. John meninggal dunia, terserang penyakit demam berdarah, yang ketika itu sedang mewabah. John di makamkan di Mandor. Untuk mengurangi rasa stress, isterinya diperkenankan bekerja sebagai guru Sekolah Dasar. Paling tidak dengan kesibukan mengajar, Frederika dapat mengurangi atau bisa sedikit melupakan rasa dukanya.  &lt;br /&gt;Keluarga bahagia ini tak lama bersedih, beberapa tahun kemudian, lahir seorang putri cantik  yakni Karolin Margareth Natasa dan disusul kemudian kelahiran Angelina Fremalco.  Setelah kehadiran Karolin dan Angelina, Cornelis dan isterinya dapat menghilangkan rasa dukanya. Meskipun demikian, mereka selalu mengenang John Travolta, putra sulungnya.&lt;br /&gt;“Dia datang lagi Pa,  lewat mimpiku semalam,” &lt;br /&gt;“Ya sudah, Ma. Mama tak perlu terlalu memikirkan si John. Dia datang ke dunia baru berumur 41 hari, belum mengenal dosa, sudah kembali dipanggil Tuhan”&lt;br /&gt;”Kita yakin si John sekarang berada di surga”&lt;br /&gt;”Mungkin saja, ia mendampingi kita, ikut memohonkan doa-doa kita langsung kepada Tuhan”&lt;br /&gt;”Bukankah dia sudah berada di sisi Tuhan seperti santo-santa itu?” &lt;br /&gt;Dalam konsep sejarah keselamatan manusia seperti yang diimani Cornelis sebagai seorang Kristiani mempercayai akan kehidupan kekal. Manusia tidak mati. Yang meninggal hanya tubuhnya, jiwanya kekal. Menurut ajaran Gereja Katolik, setiap manusia yang meninggal dunia akan bersatu dengan Allah di surga.  Atas dasar keyakinan Kristen, Cornelis percaya anak sulungnya, John Travolta Nang Niam Sidi Edo kini sudah berada di surga bersama Allah Bapa dan para kudus lainnya. John memang bukan santo. Namun, semasa hidupnya, John belum sempat berbuat dosa. Maka, ia meninggal tanpa dosa dan pasti masuk surga. Dengan begitu Cornelis menjadi lebih tenang untuk menjalani kehidupan bersama isteri dan kedua putrinya (bersambung).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-2842062789249088989?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/2842062789249088989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=2842062789249088989&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/2842062789249088989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/2842062789249088989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2010/05/penjual-pelita-menjadi-gubernur.html' title='Penjual Pelita menjadi Gubernur'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/TFPUdM-GL8I/AAAAAAAAA7U/5y2ZIQPKJBk/s72-c/img23022009152361.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-3617300994849931760</id><published>2010-05-26T21:21:00.000-07:00</published><updated>2010-07-31T00:52:32.291-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Rakyat'/><title type='text'>Burung Keto dengan Burung Pipit</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/TFPVxm8wrzI/AAAAAAAAA7c/jconX_O7SQg/s1600/pipit.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/TFPVxm8wrzI/AAAAAAAAA7c/jconX_O7SQg/s200/pipit.jpg" width="193" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pada suatu hari burung pipit berjalan menjari makanan untuk keluarganya. Dan ketika ia melihat di depannya ada sebuah ladang penduduk, sambil berjalan menuju ladang itu burung Pipit ini kegirangan sanbil bersiul dan bernyanyi. Tiba-tiba burung Pipit ini terkejut ketika ia melihat di dekat ladang itu ada sosok bayangan burung lain, dan burung itu menyapanya dengan keras, mau kemana kamu Pipit?&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Burung Pipit makin kaget, dan sambil bertanya-tanya di dalam benaknya, siapa dia ini, kok dia tau nama ku, kata pipit dalam hati. &lt;br /&gt;Lalu Pipit menjawab: saya mau mencari makanan untuk keluarga saya, eh... kamu siapa kok tahu namaku? Lalu Keto ini mendekati pipit. Saya Keto dan saya di tugaskan untuk menjaga semua ladang yang ada di sini jadi jangan kamu gangu gugat. O kata pipit, jadi kamu yang namanya Keto?    Keto ia, emangnya kena apa? Pipit ngak si, dan sekarang aku baru tahu tampangnya kamu, rupaya kamu itu sangat kecil, ku kira badang kamu itu sangat besar dari kami, ha...ha..ha..!!! Keto, eh kamu jangan ngejek saya ya, hati-hati kalau bicara, apa kamu tidak menyadari bahwa badan kamu itu sam kecilnya dengan saya, dan pokoknya jangan sekali-kali kamu gangu ladang-ladang itu. Pipit eh.. enak aja ngelarang orang, dan ladang itu bukan punya kamu, dan saya rasa tidak ada salahnya saya mengambilnya. Keto; enak aja kamu, popoknya jangan kamu ambil, dan kalau kamu mengambilnya, kamu akan berhadapan dengan saya dan pemilik ladang ini. Pipt; oke kalau begitu, tapi kamu yang harus memberi saya makan. Keto; bodoh benar kamu ini, cari sendirilah makanan, asalkan jangan mengambil makanan yang ada di ladang itu, karena dulu kalian sudah di kasih dan sekarang kalian sudah tidak ada hak lagi. Pipit; kalau begitu saya minta maaf, dan saya berjanji tidak akan mengangu ladang itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-3617300994849931760?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/3617300994849931760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=3617300994849931760&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/3617300994849931760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/3617300994849931760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2010/05/burung-keto-dengan-burung-pipit.html' title='Burung Keto dengan Burung Pipit'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/TFPVxm8wrzI/AAAAAAAAA7c/jconX_O7SQg/s72-c/pipit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-9112078284650745950</id><published>2010-05-26T21:15:00.000-07:00</published><updated>2010-05-26T21:19:49.094-07:00</updated><title type='text'>MEMBAYANGKAN DAYAK KANAYATN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S_3ysZ3HbkI/AAAAAAAAA6U/gZkekbT-WKk/s1600/peta+Kanayatb.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 317px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S_3ysZ3HbkI/AAAAAAAAA6U/gZkekbT-WKk/s400/peta+Kanayatb.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475799566622617154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Yohanes Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kalimantan Barat, Dayak Kanayatn sudah sangat terkenal, baik maupun buruk. Baiknya, kelompok suku ini dikenal sebagai adaftor yang ulung termasuk negosiator dan tidak baik, suku ini dikenal sebagai aggressor bagi suku-suku bangsa lainnya. Disebut adaftor, karena suku ini tinggal disebuah kawasan “bumper”, kawasan pembatas antara pesisir yang dikenal sebagai teritori Melayu-Islam dan kawasan pedalaman yang dikenal sebagai teritori Dayak-Kristen. Sedangkan di sebut aggressor, karena suku ini termasuk suku “pengembara”, yang menjelajah diseluruh bagian provinsi ini. Selain itu, dari sejarah konflik antar etnik di Kalbar, kelompok suku ini terlibat secara dominan dan langsung.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan saudara-saudaranya di kawasan timur-barat, tidak ada cirri khas kebudayaan yang amat menonjol dari suku ini. Dalam batas tertentu, peradaban suku ini tergolong rendah dibandingkan dengan suku-suku Dayak lainnya. Yang paling menonjol, misalnya; dari persenjataan perang, suku ini tidak mengenal Mandau, mereka menggunakan “tangkitn”, yang tidak menggunakan sarung. Memakainya cukup di tenteng dengan cara di panggung. Tangkitn ini tidak ada hulu, hanya dililit dengan kain merah dan putih, yang dikenal sebagai tangkulas. Suku ini juga tidak mengenal perisai atau gunapm sebagai pasangan dari Mandau, sebagaimana suku Dayak lainnya.  Factor kesamaan hanya terlihat pada  rumah tinggal, menurut informan saya, nenek moyang mereka memang pernah  tinggal dirumah panjang, yang dikenal sebagai rentetn.  &lt;br /&gt;Menurut beberapa sumber, kelompok suku ini merupakan bagian terbesar dari seluruh kelompok etnik Dayak di Kalimantan, dengan menyumbang sekitar 600.000 jiwa, yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. Informan saya menyebutkan angka ini relative pasti, karena faktanya ada dua kabupaten di Kalimantan Barat yang hamper 90% penduduknya di kategorikan sebagai Dayak Kanayatn, yakni Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Landak. Kedua kabupaten ini, sebelum pemekaran tahun 1999 merupakan bagian dari Kabupaten Sambas dan Kabupaten Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekonstruksi Identitas Dayak Kanayatn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya merekonstruksi identitas bukanlah perkara yang mudah. Namun, dalam kerangka pengkajian sejarah asal usul suatu bangsa, yang dalam perkembangannya seringkali salah kaprah, dan penuh dialektika, penelusuran amat kita diperlukan. Pada bagian pertama, saya sudah menulis tentang pasang surut identitas pada Orang Dayak secara umum di Kalbar.  &lt;br /&gt;Pada bagian ini, saya akan mencoba merekonstruksi identitas Orang Dayak sub-Kanayatn yang sangat kesohor di Kalbar. Sebagaimana identitas Dayak yang pernah mengalami pasang surutnya di Kalbar, pada orang Dayak Kanayatn, justru identitas mereka tidak jelas. Beberapa klaim terjadi antara orang-orang Dayak yang berbahasa Bakati, Banyadu’ yang kini mendiami wilayah Kabupaten Bengkayang dengan orang-orang Dayak yang berbahasa Baahe, Bajanya, Banana’, Badamea, ataupun yang berbahasa Bajare yang kini mendiami beberapa wilayah di Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Landak, sebagian Kabupaten Bengkayang, sebagian Kota Singkawang dan sebagian Kabupaten Sambas. Saling klaim ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang keliru dalam menafsirkan identitas mereka oleh orang luar dan teranjur tersosialisasi sejak lama. &lt;br /&gt;Dari berbagai catatan para pelancong Eropa, dikatakan bahwa ketika pertama kali dating di Kalimantan, mereka telah menemukan cukup banyak orang Dayak yang tinggal dikaki-kaki gunung dan hutan belantara. Petualangan Earld, seorang Nahkoda Kapal Stamford Inggris yang berlayar dari Singapura untuk melakukan transaksi dagang dengan Kesultanan Sambas pada tahun 1834 di sepanjang pantai Sambas membuktikan pendapat itu. Earld, misalnya pernah bertemu dengan beberapa orang Dayak yang menggunakan perahu kecil yang terbuat dari kayu bulat dalam perjalanannya mencari sebuah lokasi koloni Cina di Singkawang. &lt;br /&gt;Saya menduga, bahwa orang Dayak yang dimaksud Earld itu adalah orang Dayak Kanayatn. Dugaan ini mungkin sesuai dengan hasil penelitian seorang antropolog Dayak Salako, Simon Takdir, (2003). Dikemukakannya bahwa Orang Dayak Kanayatn dulunya tinggal dan menetap di kawasan pesisir pantai, tak jauh dari bukit Senujuh, kawasan sungai sambas. Oleh Dunselman (dalam Cence and Uhlenbeck, 1958;15) orang-orang yang ini disebutnya sebagai ‘Old Kendayan’ atau Kendayan Tua.&lt;br /&gt;Jika kita merujuk pada temuan mirasi bangsa Austronesia menurut Kern dan Von Heine (Soekmono, 1990) bangsa Indonesia demikian juga Suku Dayak termasuk keturunan bangsa Austronesia ini .  Dan sangat mungkin, maka orang-orang Dayak sebagaimana ditemui Earld di sepanjang sungai Selakau dan sungai Sambas pada waktu itu, termasuk keturunan bangsa ini (lihat Simon Takdir;2003). &lt;br /&gt;Menurut Collins (1989) yang meringkaskan pendapat Bellwood (1985), sekurang-kurangnya 7.000 tahun lalu, perintis Austronesia dari daratan Cina (mungkin Zheijang dan Fujian) mendiami Pulau Taiwan dan tinggal disitu sekitar seribu tahun. Dari Taiwan, mereka bermigrasi lagi kea rah selatan melalui Filipina kearah barat Borneo. &lt;br /&gt;Menurut Stanley Karnow (1964) peta perjalanan migrasi bangsa Austronesia dari daratan Asia menuju pulau Kalimantan dan kepulauan Indonesia lainnya melalui Semenanjung Malaka. Mereka yang menuju Kalimantan Barat bagian utara ada yang memasuki muara –muara sungai besar yang menjorok ke perhuluan/perbukitan (mungkin saja sungai Sambas atau sungai Selakau). Beberapa kelompok kecil sempat menetap dikawasan ini dan berbaur dengan penduduk yang sudah ada sebelumnya (Takdir;2003;6). Oleh Wonojwasito, (1957) penduduk asli ini di sebutnya sebagai bangsa  Weddoide dan Negrito. &lt;br /&gt;Wonojwasito menjelaskan bahwa kelompok Weddoide dan Negrito telah mendiami kepulauan Borneo sejak zaman prasejarah dan kebudayaan mereka dinamakan kebudayaan Paleolitikum, kebudayaan batu tua, karena mereka belum mengenal pemakaian alat dari logam. Namun begitu, penduduk lama ini telah lenyap sama sekali di Kalimantan (Loebis, 1972).&lt;br /&gt;Dari teori Collins, Stanley, Simon dan Wonojwasito diatas, saya menduga ada terjadi perkawinan silang antara kelompok Weddoide dan Negrito dengan kelompok migrant yang baru tiba dari Taiwan ini. Hasil perkawinan silang ini, kemudian dikenal sebagai bangsa Austronesia, yang bercirikan mata terlihat sipit, agak pendek, kulit kuning langsat, dan sangat terampil memainkan pedang (Takdir;2003).&lt;br /&gt;Kita juga dapat melihat cukup banyak sisa warisan budaya bangsa Weddoide yang masih bertahan dan dapat dilihat pada bangsa Austronesia (termasuk Dayak Kanayatn) ini, antara lain adalah menjadikan hewan anjing sebagai hewan sembelih dan kurban pada jubata (dewa). Prosesi menjadikan hewan anjing sebagai bentuk persembahan ini, dengan mudah kita lihat pada ritual adat perang pada orang Dayak Kanayatn sekarang ini. Binatang ini menjadi hewan buruan, mungkin karena mudah ditangkap bangsa  Weddoide yang masih memiliki peralatan dari batu.  &lt;br /&gt;Merujuk kamus bahasa sanskerta/kawi, istilah ‘Kanayatn’ berasal dari kata kana + yani. Kana : sana, yana : jalan, yani : sungai (Prawiroadmojo, 1981). Menurut informan saya, mungkin saja ketika melakukan perjalanan, para pelancong, peneliti dari Eropa, Cina ataupun penulis Hindu telah menemukan sebuah komunitas manusia disepanjang aliran sungai Selakau dan sungai Sambas menetap dan membentuk pemukiman yang berada di sebelah sana sungai atau jalan. Maksudnya yaitu suku Kanayatn berada disebelah utara sungai selakau, atau disebelah utara jalan raya, atau di sebelah utara dari wilayah kelompok Austronesia (lihat Simon;2003)&lt;br /&gt;Selain ciri-ciri tersebut di atas, ciri lain dari  warisan budaya nenek moyang bangsa Autronesia adalah mengkremasikan jenasah orang yang sudah meninggal, yakni dengan membakarnya. Hal ini dinyatakan oleh King (1993),&lt;br /&gt;“Praktek pembakaran jenazah oleh orang Kalimantan umumnya dianggap untuk menunjukan pengaruh Hindu-India, padahal sekarang kita tahu bahwa pembakaran itu adalah bentuk budaya Austronesia yang sangat awal di Kalimantan, dan bentuk yang sangat belakangan di India”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Dayak Kanayatn, lahan atau tempat pembakaran jenasah itu disebut patunuan.   Walaupun sekarang ini jenasah tidak dikremasi lagi, tempat mengubur jenasah (kuburan) tetap disebut patunuan, bukan pasuburatn.  Bukti patunuan ini masih ditemukan di hutan Lago’, Menjalin, Kalbar. Prosesi pemakaman ini, tentu saja mirip dengan budaya Hindu, sebuah agama besar di Nusantara yang masuk pada pertengahan abad 4 SM sampai awal kedatangan Islam pada abad 16 SM sebagaimana ditulis oleh Ahmad dan Zaini (1989).  &lt;br /&gt;Ahmad dan Zaini menemukan bahwa di sekitar kawasan bukit Sarinakng, Selakau sekarang ini, pernah ditemukan sebuah kerajaan Hindu yang berdiri tahun 1291, dengan rajanya yang bergelar Ratu Sepudak. Namun, kerajaan ini menjadi hilang, ketika Islam masuk ke Sambas dan mendirikan Kerajaan Islam Sambas. Rakyat dari kerajaan Hindu ini, yang tidak mau masuk Islam kemudian bermigrasi ke hulu melalui sungai Selakau, dan kemungkinan mendirikan pemukiman dan menetap dikawasan itu. &lt;br /&gt; Pada bulan September 2008 lalu, saya berkunjung ke Selakau. Tepat ditep jembatan, pasar selakau, terdapat plang nama yang tertulis;”Selakau, 6 Km”.  Dengan beberapa teman, saya berinisiatif menyusuri sungai Selakau, yang disebut-sebut sebagai salah satu jalan migrasi antar bangsa masa itu. Tak jauh dari sungai Selakau, menjulang tinggi sebuah bukit yang bernama bukit sarinakng (bhs.Melayu; bukit selindung).  &lt;br /&gt;Menurut informan saya, pada waktu itu dibukit Sarinakng ini adalah pantai.  Namun adanya proses alam maka timbul daratan baru yaitu kota Selakau sekarang. Sarinakng yang dulu berada di pantai kini berada jauh dari pantai. Sarinakng ini selanjutnya disebut Salako Tuha (Selakau Tua)  dan baru disebut Salako Muda’ (Selakau Muda) atau pasar Selakau sekarang ini. Kenapa di sebut Salako ?  &lt;br /&gt;Menurut informan saya, nama Salako itu berasal dari Salak Ako. Ako di sana dikenal sebagai nama salah satu jenis anjing hutan. Orang-orang diperkampungan, menurut informan ini sering mendengar salak anjing Ako, siang maupun malam. Karena anjing Ako ini mengganggu, binatang ini dimusnahkan begitu saja oleh mereka. Berbeda dengan leluhurnya bangsa Weddoide, Orang-orang ini tidak mau makan daging anjing. Bagi mereka, anjing adalah binatang sial. Alam supranatural tidak mau berteman dan memberikan kekuatan magis pada orang yang makan anjing sebab badannya sudah kotor. Karena itu keturunan dari orang-orang ini, yang kemudian dikenal sebagai Dayak Kanayatn ‘amali’’ (dilarang) memakan daging anjing. Orang Kanayatn yang memakan daging anjing sekarang ini telah mereka kontak dengan suku-suku Indonesia lainnya.  &lt;br /&gt;Ketika saya berkunjung disalah satu kampong dikawasan Salak Ako, saya menemukan sebuah kampong lama, namanya kampong Baron. Kampong ini hanya dihuni sekitar 14 keluarga Dayak, yang telah menikah dengan orang-orang Cina, bekas penambang emas di Buduk.  Beberapa peninggalan yang menjadi cirri khas Dayak Kanayatn seperti timawakng, kompokng, padagi, patunuan dan sebagainya masih ada.  Saya juga masih menemukan disekitar kampong ini masih ditemukan pohon buah-buahan yang sudah tua, misalnya pohon durian, cempedak, asam kalimantan, dan lain-lain serta tempat pemujaan (tempat keramat) yang disebut Padagi/Panyugu  yang sudah tidak terurus, pecah-pecahan keramik yang tersebar dilokasi bekas bantang, tepian mandi dan tempat keramat lainnya.  Menurut informan saya, di lokasi bukit Sarinakng ini pernah  ditemukan sebuah Nekara  pada bulan Mei 1991, yang kini di simpan di Museum Negeri Pontianak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(peta Kecamatan Selakau) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Migran Dari Sarinakng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menelusuri identitas ini, kita dapat merujuk pada beberapa teori. Misalnya Nothofer dalam Sari 14 (1996;34) sebagaimana dikutif Aloy (2008;12). Menurut Nothofer, tanah asal usul suatu keluarga dapat dibaca dari keragaman bahasa dan isolek yang mengurainya. Hipotesisnya adalah bahwa  makin lama suatu daerah didiami oleh penutur isolek-isolek yang berasal dari suatu bahasa purba makin tinggi tingkat keragaman isoleknya. Sebaliknya, kalau penutur suatu isolek yang timbul beberapa abad sesusah terpisahnya suatu bahasa pura yang meninggalkan tanah asal usulnya untuk mendiami daerah yang baru, maka waktu ntuk timbulnya isolek yang beranekaragam ditempat yang baru itu sangat berkurang. Selanjutnya ia menyimpulkan bahwa dengan menganalisis keragaman bahasa, kita dapat menelusurinya dari asal usul penutur (manusia) yang mewarisi, membawa dan menyebarkan bahasa tersebut. (Aloy;2008;13).&lt;br /&gt;Penyebaran manusia purba dapat ditelusuri melalui aliran sungai. Hal ini dimungkinkan, karena jaman dahulu, transportasi utama masyarakat adalah sungai. Earld, pedagang dari Singapura yang berkunjung pada sebuah koloni Cina di pantai barat Borneo tahun 1834 mengatakan, untuk masuk kepedalaman, mereka harus melalui sungai yang membentang luas dan dalam. Sungai-sungai tersebut bercabang-cabang (J.B.Wolters;1918;3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(peta aliran sungai Sambas dan sungai Selakau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan aliran sungai yang berhulu di bukit Bawakng dan bukit-bukit kecil lainnya, saya menduga bahwa migrasi orang-orang dari Sarinakng kemungkinan dilakukan secara berkelompok dan bergelombang. Alasan migrasi, umumnya karena arus migrasi yang massif dari orang-orang yang tidak mereka kenal yang mengancam keamanan dan penghidupan religi serta bercocok tanam (Supriyadi;2005;69). &lt;br /&gt;Paling tidak ada lima kelompok kecil. Kelompok pertama menyusuri sungai Sebangkau dan menetap di Paranyo (bhs. Melayu; pelanjau), sebagian kecil meneruskan perjalanan hingga dimuara sungai, Pemangkat. Kelompok kedua melakukan perjalanan dengan menyusuri sungai Bantanan, dan menetap di Tabing Daya (17 Km dari Sekura sekarang), kemudian menyebar lagi di Kuta Lama (dekat pasar Galing sekarang). Dari Kuta Lama, ada dua kelompok kecil yang memisahkan diri lagi dengan menyusuri Sungai Enau dan menetap di Jaranang (desa Sungai Enau sekarang). Sebuah kelompok lagi terus menyusuri sungai ke hulu dna menetap di Bapantang Batu Itapm (Batu Itapm sekarang).  Di  Batu Itapm inilah mereka lama menetap bahkan sampai sekarang.  Generasi dari Batu Itapm ini kemudian menyebar sampai kedaerah distrik Lundu Malaysia.  Di Malaysia sekarang mereka menempati 24 kampung dengan populasi 9.558 jiwa, antara lain kampong Rukapm, Biawak, Paon, dan lain-lain.  &lt;br /&gt;Penulis juga memiliki keyakinan bahwa generasi yang bertahan di Sarinakng, Tabing Daya dan Kuta Lama telah memeluk agama Islam dan menyebut dirinya Melayu. Keyakinan penulis ini berasal dari temuan bahwa sejumlah informan tua (70an tahun) didaerah ini walaupun sudah beragama Islam tetap menyebut bahwa kakek dan nenek mereka dulu adalah orang Darat (Dayak red), bahkan ada yang mengatakan Ayah dan Ibu mereka adalah orang Darat (Dayak red). &lt;br /&gt;Kelompok lain yang bermigrasi dengan menyusuri hulu sungai selakau melalui sungai sangokng dan menetap dibeberapa kampong yang terebar di kawasan Kota Singkawang sekarang ini. Selanjutnya, ada yang terus mudik dan naik di Timawakng Abo’ dan pindah ke Puaje (jembatan dekat simpang Monterado). Mereka ini kemudian mengembangkan bahasa yang dikenal sebagai bahasa ba damea/ba dameo. &lt;br /&gt;Dari Sarinakng, sekelompok besar menyusuri hulu sungai selakau hingga di daerah Lao, daerah Serukam sekarang ini. Dari Lao, sekelompok kecil lagi bermigrasi ke daerah Sawak dan Gajekng serta Pakana dan sekitarnya. Mereka inilah yang kemudian mengembangan orang Dayak yang berbahasa Baahe dan Banana’. &lt;br /&gt;Sebagaimana di tempat asalnya, Sarinakng, Tabing Daya, Batu Itapm, Kuta Lama, Jaranang, yang telah memeluk Islam, orang-orang di Pakana ini juga telah memeluk Islam. Penelitian Owat (2005) di Pakana, menyatakan bahwa pada masa lalu, Pakana merupakan pusat penyebaran Islam ditanah Dayak. Bukti-bukti ada infiltrasi Islam ditempat ini masih nyata. Dari Pakana, orang-orang yang tidak mau memeluk Islam bermigrasi lagi, menyusuri Sungai Mempawah hingga ke Karangan, Menjalin, Takong, Toho dan Sangkikng. &lt;br /&gt;Berdasarkan peta migrasi diatas, di tinjau dari bahasa yang dikembangkannya, ada tujuh kelompok sub suku Dayak di daerah ini: (1) Baahe logat Karimawatn Sakayu (Dayak Mampawah), (2) Baahe logat Sangah (Dayak Bukit), (3) Bajare (Dayak Gado), (4) Banana’, Banyadu’(Dayak Banyuke), (5) Balangin, Bampape (Dayak Landak), (6) Badamea/Badameo (Dayak Salako) dan (7) Bakati (Dayak Rara dan Dayak Bakati;) (lihat Atok;2008;8) &lt;br /&gt;Dalam analisisnya, Atok menjelaskan bahwa (1 dan 2) bisa berkomunikasi dengan baik karena 90% perbendaharaan bahasanya relative sama, walaupun ada perbedaan fonemiknya (bunyi bahasanya). (1 dan 3) bisa berkomunikasi dengan mencampur bahasa masing-masing tapi saling mengerti apa yang dimaksud. (1,2, dan 4)  sebagian besar bisa berkomunikasi dengan baik  menggunakan bahasa Baahe kedua logat yang ada.  (5 dan 6) bisa berkomunikasi karena masih cukup banyak perbendaharaan kata yang sama dan umumnya komunikasi dengan lancar dengan bahasa Badameo. Sedangkan (1,2,3,4,5,6, dan 7) bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa campuran Baahe – Badameo -Bajare.  &lt;br /&gt;Kondisi inilah yang menurut Atok dapat menjelaskan bahwa rumpun subsuku ini berasal dari moyang yang sama, bangsa Austronesia di daerah Sarinakng.  Saat ini mereka mengidentifikasi diri kedalam 3 kelompok  yaitu Dayak Kanayatn (1-5), Dayak Salako (6) dan (7) Dayak Banyadu’/Bakati’. Untuk mempertegas kelompok ini dapat dilihat dari penyelenggaraan adat pesta padi, orang Kanayatn dan orang Salako menyelenggarakan Naik Dango sedangkan orang Bakati’/Banyadu’ menyelenggarakan Maka’dio. Kedua acara adat ini sesungguhnya memiliki  prosesi, makna dan nilai-nilai religius yang sama. Penyebutan yang banyak ini menurut penulis karena pada masa lalu komunikasi belum berjalan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Dayak Kanayatn ?&lt;br /&gt;Timbul pertanyaan, siapakah Dayak Kanayatn itu ?  Istilah  ‘Kanayatn’ dikalangan suku Dayak yang berbahasa Bakati’/Banyadu’, Bajare, Banana’, Baahe, Badamea/Badameo masih diperdebatkan hingga hari ini. Bagi orang Bakati’, istilah Kanayatn ini berasal dari nama salah satu jenis rotan untuk menjemur pakaian serta nama sebuah sungai di wilayah Ledo sekarang ini. Sedangkan pada orang Banana’, Baahe, Badamea, Bajare, istilah Kanayatn diperoleh dari kata Nganayatn (persembahan kepada Jubata karena pekerjaan telah selesai). &lt;br /&gt;Jika kita melihat dua versi istilah ini, maka pada orang Bakati, istilah tersebut merujuk pada nama tempat, sedangkan pada orang Banana’, Baahe, Bajare, Badamea merujuk pada budaya khususnya religi dan sastra lisan. Namun, dalam sastra lisannya, semua suku, baik Bakati’/Banyadu’ maupun Banana’, Baahe, Bajare, Bampape dan Badamea masih mengarahkan tempat persembahan kepada Jubata di sebuah tempat bernama Bukit Bawakng, Kecamatan Lembah Bawang Kabupaten Bengkayang sekarang ini. Saya pernah dua kali berkunjung di salah satu kampong dikawasan lembah bawang ini, yakni kampong Jaruk Param. Di kawasan ini, semua penduduk berbahasa Bakati’.&lt;br /&gt;Jadi, wajar saja kalau klaim atas identitas Kanayatn tetap terjadi, sepanjang belum ada rekonsiliasi diantara penutur bahasa-bahasa tersebut. Kesulitan menganalisis klaim identitas ini, dikarenakan tidak adanya referensi ilmiah ataupun laporan perjalanan yang ditulis para pelancong, misionaris ataupun aparatur pemerintah colonial ketika itu. Beberapa laporan yang ada, tidak ada yang secara tegas menunjukan istilah “Dayak Kanayatn”. &lt;br /&gt;Istilah Dayak Kanayatn secara jelas hanya tergambar dari tulisan Pastor Donatus Dunselman OFM.Cap  tahun 1949 dengan judul “Bijdrage Tot De Kennis Van Detaal En Adat Der Kendajan-Dajaks van West Kalimantan“. Menarik bahwa dikemudian hari, hasil penelitian Dunselman ini diadobsi secara menyeluruh oleh kalangan elit politik Dayak yang mengidentifikasikan dan mengunifikasikan dirinya sebagai “Kanayatn“ pada tahun 1980-an. Secara sistematis, sosialisasi identitas “politik” ini mewarnai sejarah Kalbar dengan actor utama para politisi, akademisi dan praktisi LSM. &lt;br /&gt;Ada dua periode kemunculan identitas ini, yang memiliki argumentasi tersendiri. Periode pertama di wakili oleh adopsi dari hasil penelitian Pastor Donatus Dunselman diatas. Periode ini berjalan kira-kira sejak tahun 1980-an hingga tahun 2000. Periode lainnya adalah sebuah periode kritikal identitas yang ditandai dengan upaya untuk mengembalikan identitas Dayak Kanayatn kepada mereka yang paling berhak, yakni Dayak yang berbahasa ba nyadu’ dan ba kati’. &lt;br /&gt;Periode pertama, saya sebut periode politik identitas. Sebagaimana disebutkan diatas, tulisan Pastor Donatus mungkin dengan cepat menyebar dikalangan misionaris Katolik diberbagai kawasan. Sosialisasi identitas baru ini menjadi lebih tersalurkan dengan dukungan dari petugas-petugas paroki, yang setiap minggu berkunjung ke kampong-kampung Dayak. Hasilnya, identifikasi sebagai Dayak Kanayatn muncul dikalangan Dayak yang sebelumnya belum begitu mengenal identitas ini. &lt;br /&gt;Identitas baru ini kemudian dibaca sebagai sebuah kekuatan yang hebat dalam hal populasi. Ini penting untuk proyeksi kekuatan politik.  Dalam politik, besaran populasi dan persatuan para elit Dayak di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Pontianak ketika itu  menjadi sangat penting sebagai bagian dari strategi politik yang dikembangkan pemerintah Indonesia untuk mengkooptasi dan sekaligus merangkul kekuatan politik Dayak. &lt;br /&gt;Pada bagian pertama buku ini, saya juga menjelaskan mengenai sejarah perpolitikan di Kalbar yang berubah ketika perubahan rezim, dari Orde Lama ke Orde Baru, awal tahun 1970-an. Perubahan rezim ini disatu sisi mengecilkan peran politik Orang Dayak, namun disisi lain mempererat persatuan mereka dengan strategi baru.  &lt;br /&gt;Ditopang oleh kaburnya literatur yang menjelaskan secara detail periode ini, dalam perspektif politik identitas yang terjadi pada Dayak Kanayatn, saya mengamati sebuah organisasi yang mengatasnamakan Dayak Kanayatn, dibentuk pada tanggal 23 Maret 1985 yang bernama Dewan Adat Dayak Kanayatn. &lt;br /&gt;Walaupun masih terdapat simpang siur disana-sini tentang sejarah pembentukan organisasi ini, saya kemudian mengkaitkannya secara positif dengan kepiawaian para tokoh politik orang “Dayak”, memanfaatkan politik pada era Orde Baru. &lt;br /&gt;Menurut statistic tahun 1980, populasi orang-orang Dayak yang berbahasa ba ahe, ba nana’, ba inyam, ba nyadu’, ba kati’, ba dameo, ba langin cukup besar. Mereka hamper menguasai 20% dari seluruh populasi Dayak di Kalbar, dengan penyebaran yang dominan di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Pontianak. Karena itu, kelompok etnik ini merupakan pemilih potensial untuk memenangkan Golkar, sebuah partai pendukung pemerintah.  &lt;br /&gt;Bubarnya Partai Persatuan Dayak (PD) pada tahun 1960, memaksa serangkaian perpecahan dikalangan internal politisi Dayak Kalbar. Mempersiapkan diri menyongsong Pemilu 1971, bekas pengurus PD memisahkan diri. Kelompok pertama menyatakan bergabung di Partindo. Kelompok ini dimotori oleh J.C. Oevaang Oeray, Gubernur Kalbar. Beberapa aktivis politik lainnya menyatakan bergabung di Partai Katolik, kelompok ini dipimpin oleh F.C. Palaoensoeka, anggota DPR RI. Namun perpecahan ini menjadi kentara ketika, perubahan politik nasional berlangsung sedemikian cepat. &lt;br /&gt;Di masa pemerintahan Golkar, pemenang Pemilu 1971, partai-partai politik berupaya di sederhanakan. Partai Katolik dan beberapa partai nasionalis lainnya berfusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan beberapa partai Islam berfusi kedalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sebagai partai pemerintah, Golkar mengkonsolidasikan tiga elemen penting; ABRI, Birokrat dan Golkar sendiri, atau dikenal dengan istilah ABG. &lt;br /&gt;Membaca kencendrungan politik kelompok etnis Dayak yang beragam di Kalbar, ada enam  kelompok sub-etnik Dayak yang menarik perhatian Golkar. Dengan beragam cara, elit Golkar meminta para elit-elit Dayak agar bergabung ke dalam Golkar untuk ‘mewakili’ masyarakat Dayak.  Beberapa ‘Dayak Golkar’ ini diberikan tempat dalam berbagai upacara-upacara kenegaraan, dan daerah. Beberapa diantaranya menduduki posisi dalam bidang pemerintahan, namun tidak ada lebih dari pada pemerintah kecamatan. &lt;br /&gt;Bagi rezim yang memerintah, tentu saja elit-elit Dayak ini berfungsi untuk mengamankan suara Golkar dalam pemilu yang telah diatur. Mengingat kemenangan Golkar telah ditetapkan sebelumnya, jumlah perbedaan suaranya dapat dipertanyakan.  Pada pemilu 1977,  J.C. Oevaang Oeray berkampanye untuk Golkar. Kemudian, Oeray diberikan jabatan anggota DPR RI di Jakarta. Pada pemilu 1977, Oeray dan Aloysius Aloi ditunjuk sebagai anggota DPR; G.P Djaoeng dan Moses Nyawath duduk di DPRD I; Rahmad Sahudin di Kabupaten Pontianak. dan Willem Amat duduk di DPRD II Sangga. &lt;br /&gt;Kemenangan Golkar di kelompok pemilih Dayak memunculkan keinginan kuat untuk melembagakan orang-orang Dayak untuk bergabung di Golkar, sebagaimana kebiasaan Golkar yang membentuk organisasi-organisasi sayap partai. Di dorong keberhasilan mobilisasi Dayak dengan menggunakan “adat” sebagai bumper pemersatu pada peristiwa demonstrasi Cina tahun 1967 diseluruh wilayah Kabupaten Pontianak, adat dibidik Golkar sebagai prioritas. Lembaga-lembaga adat yang tersebar di level kewilayahan local berusaha di strukturisasi. &lt;br /&gt;Keinginan ini ditangkap dengan cerdas oleh seorang Temenggung di Pahauman, Kabupaten Pontianak.  Harapannya, para politisi Dayak dari Golkar menggunakan istilah 'Kanayatn atau 'Kendayan' untuk mengumpulkan suara orang Banana'-Ahe dan varian sejenisnya yang mayoritas, khususnya di Kabupaten Pontianak kala itu.&lt;br /&gt;Tangan dingin F. Bahaudin Kay, Temenggung Binua Temila Ilir I Pahauman mewujudkan ambisi itu. Kay dengan cekatan melaksanakan musyawarah adat se-Kecamatan Sengah Temila pada tanggal 23-24 Mei 1978 di Gedung Serba Guna Pahauman. Meski sebagian biaya musyawarah ini didukung Golkar, menurut Kay, biaya musyawarah tersebut juga ditanggung oleh masyarakat adat yang dimobilisasi oleh pengurus adat disetiap tingkatan, mulai dari Timanggong, Pasirah dan Paraga.  Oleh Kay, seluruh kepala keluarga diwajibkan mengumpulkan sumbangan satu kaleng beras dan satu kaleng beras  ketan serta uang  Rp.100,-.  &lt;br /&gt;Awalnya, musyawarah dibungkus dengan upaya menyeragamkan  hukum adat (unifikasi) dan mencatat / membukukan (kondefikasi) hukum adat di Kecamatan Sengah Temila, namun sesi akhir dari musyawarah itu memutuskan untuk  membentuk wadah adat ditingkat kecamatan yang diberi nama Badan Koordinator Adat (BKA) Kecamatan Sengah Temila. Sebagai organisasi adat, simbol/ lambang adat juga ditetapkan. Simbol tersebut terdiri dari gantang dan pamipis dalam lingkaran segi lima dan dasarnya terdiri dari sebuah balok yang  bertulisan motto adat “ADIL KA ‘ TALINO BACURAMIN KA’ SARUGA BASENGAT KA’ JUBATA ”. Musyawarah juga menetapkan F. Bahaudin Kay sebagai koordinator BKA yang baru saja terbentuk untuk masa bhakti 1979-1983.&lt;br /&gt;Sukses pelaksanaan MUSDAT se-Kecamatan Sengah Temila di Pahauman, beberapa tahun kemudian, Kay dan teman-temannya menginisiasi pelaksanaan MUSDAT di level kabupaten. Ini bersamaan dengan pindahnya Kay di Mempawah sebagai salah sebagai Kepala Unit Produksi (KUP) Asuransi Jiwasraya Mempawah.  Di Mempawah, dengan tekad dan kemauan yang kuat, Kay yang terpilih sebagai salah satu pengurus GOLKAR di Kabupaten Pontianak menginisiasi pembentukan panitia MUSDAT level kabupaten. Melalui rapat, Kay terpilih sebagai ketua dengan sekretaris Thomas Mekan. SH. Rapat-rapat kegiatan panitia di kantor lurah Anjungan.  &lt;br /&gt;MUSDAT I ini berhasil terlaksana pada tanggal 23-25 Maret 1985, bertempat digedung SMP Negeri I Anjungan. MUSDAT dibuka oleh Bupati Kabupaten Pontianak, Drs. H. Muchali Taufik, dihadiri oleh para tokoh dan pemuka masyarakat adat, serta utusan /peserta dari 10 kecamatan dalam Kabupaten Pontianak.  Musyawarah ini di rekam oleh Drs.Tarsisius Uryang selaku notulis.  &lt;br /&gt;Selama MUSDAT I, banyak peserta yang pro dan kontra atas istilah Dayak Kanayatn, untuk menyebut diri mereka.  Seorang bekas peserta mengatakan kepada saya, bahwa ia tidak setuju ada pengelompokan suku Dayak. Menurutnya, Dayak akan kuat bila identitasnya sebagai Dayak yang satu tetap dipertahankan. Namun argumen itu tidak sama sekali muncul dimusyawarah, karena dilihatnya semua peserta orang-orang Golkar, yang ia kenal. Ia sendiri berterus-terang simpatisan sebuah partai non Golkar, yakni PDI. &lt;br /&gt;Sebagaimana tradisinya, hasil pada sesi akhir dapat kita tebak. Secara aklamasi peserta mengesahkan hasil MUSDAT, antara lain; mengesahkan pembentukan wadah adat ditingkat kabupaten yang diberi nama “DEWAN ADAT DAYAK KANAYATN KABUPATEN PONTIANAK”, menetapkan pengurus Dewan Adat Dayak Kanayatn Kabupaten Pontianak masa Bhakti 1985-1990 dengan ketua umum F. Bahaudin Kay dan sekretaris umum adalah Thomas Mekan SH, sedangkan R.A. Racmad Sahudin Bsc dan Drs. M. Ikot Rinding masing – masing sebagai ketua dan sekretaris penasehat. &lt;br /&gt;Dari informan saya, DAD dilengkapi pula dengan seksi – seksi. Menurutnya, yang sangat strategi adalah bahwa DAD ini berkedudukan di Mempawah ibu kota Kabupaten Pontianak. Yang unik, hampir seluruh keputusan MUSDAT level kabupaten ini, mengadopsi hasil MUSDAT se-Kecamatan Sengah Temila pada tahun 1983 lalu. Menurut penulis, ini bagian tak terpisahkan dari strategi politik Kay yang sangat ahli dalam berorganisasi. Sebagai Ketua Umum DADK Kabupaten, Kay juga mampu melakukan strategi ini dengan baik. Buktinya, hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari 6 (enam) bulan setelah selesai MUSDAT ini, ia berhasil membentuk Dewan Adat Dayak Kanayatn di 10 kecamatan dalam Kabupaten Pontianak.&lt;br /&gt;Ketika seluruh kecamatan sudah memiliki DAD Kecamatan, pengurus DAD Kabupaten Pontianak segera melakukan konsolidasi. Kepada saya, Kay menceritakan, pada rapat yang diadakan di rumah Y. Jampari Lacon di Anjungan pada tanggal 12 Juni 1985, pengurus DADK menuangkan bahwa program pertama yang diselenggarakan adalah mengadopsi upacara adat naik dango yang sebelumnya hanya diadakan ditingkat kampong setelah panen padi usai, menjadi naik dango level kabupaten. Selanjutnya Kay menulis;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”untuk menjaga agar organisasi itu tetap eksis, biasanya harus ada kegiatan – kegiatan dan pertemuan – pertemuan periodik yang dilaksanakan oleh pengurus organisasi, ibarat bunga yang sering disiram supaya tidak layu dan tetap  segar” (Kay;2005;7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kay tidak ingin organisasi besar yang dipimpinnya tanpa kegiatan. Ia berkeinginan agar masyarakat Dayak tahu, bahwa mereka ini Kanayatn. Bahwa mereka ini telah punya wadah persatuan, yakni DAD. Gaung ini secara jelas ditulis Kay;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naik Dango ini merupakan kegiatan rutinitas agar wadah ini tetap eksis tidak statis dan mandek senantiasa mempunyai kegiatan dan dapat memberikan gaung   bagi dewan adat agar dikenal baik diluar maupun diluar masyarakat kanayatn” (Kay;2005;11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah organisasi Dayak pertama pada era Orde Baru dan secara resmi Kanayatn mulai diperkenalkan sebagai identitas baru bagi Dayak yang ada di Kabupaten Pontianak dengan motto “ Adil Ka Talino, Ba Curamin Ka saruga Ba Sengat Ka Jubata”.  Dengan prestasinya ini, F. Bahaudin Kay, yang juga wakil bendahara DPD Golkar Kab. Pontianak periode 1983-1988 pada PEMILU tahun 1992, terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Pontianak untuk periode 1992-1997 dari GOLKAR. &lt;br /&gt;(foto; logo DADK)&lt;br /&gt;Setelah pembentukan DAD Kanayatn dilevel kabupaten, istilah Dayak Kanayatn kemudian dipopulerkan  berbagai kalangan melalui tulisan dimedia massa, buku-buku serta program-program radio pada tahun-tahun sesudahnya. Misalnya tulisan mengenai Dayak Kanayatn di Buletin Mimbar Untan yang ditulis oleh Martinus Ekok (Albert;2008;36). &lt;br /&gt;Sejak tanggal 1 April 1992,  beberapa orang Dayak di Pontianak juga mengadakan siaran radio berbahasa Dayak Kanayatn di RRI Pontianak, yang adalah bahasa baa he, ba nana' yang menyebar di Kabupaten Pontianak dan Sambas. Peran siaran radio ini sangat besar dalam mensosialisasikan identitas Kanayatn untuk orang-orang yang berbahasa Banana'-Ahe, dan varian sejenisnya.&lt;br /&gt;Beberapa akademisi Universitas Tanjungpura juga segera melakukan penelitian dan mempublikasikannya dengan dukungan Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia. Mereka diantaranya; Donatus Lansau, Yoseph Thomas Lay dan Yohanes Yan Pius, dkk dengan menerbitkan buku Struktur Bahasa Kendayan (1981), morfologi dan Sintaksis Bahasa Kendayan (1984), dan Morfologi Kata Kerja bahasa Kendayan (1985). Ironisnya, sebagai peneliti, mereka tidak pernah menyatakan kembali nama Kanayatn sebagai suku Dayak yang berbahasa ba ahe/ba nana’/ba dameo/ba jare.&lt;br /&gt;Selain Dewan Adat Dayak Kanayatn yang prestisius itu, saya juga mempelajari sebuah organisasi social kemasyarakatan, dikenal sebagai LSM. Pada tahun 1981, sekelompok intelektual Dayak yang dipimpin oleh A.R. Mecer di Kota Pontianak mendirikan sebuah LSM, namanya Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih. Selain mengelola persekolahan, LSM ini juga mendirikan lembaga penelitian yang dikenal dengan Institute Dayakologi Research and Development (IDRD). Melalui penelitiannya dan kemudian di publikasikan, IDRD semakin mengentalkan identitas baru ini, melalui Majalah Kalimantan Review (KR) serta buku-buku terbitannya. Tanpa sadar, peran banyak pihak telah mempopulerkan identitas baru ini yang berdampak sangat besar pada perubahan-perubahan berikutnya, hingga hari ini.&lt;br /&gt;Kritik atas siapa yang berhak mengunakan identitas ‘Kanayatn’ ini semakin meluas dikalangan intelektual Dayak sendiri pada akhir tahun 2002. Beberapa intelektual Dayak mulai sadar bahwa ada kekeliruan dalam penamaan istilah Dayak Kanayatn yang terlanjur sangat popular di Kalbar ini. Salah satunya, Simon Takdir, alumnus Ateneo de Manila University, Philippnes, Departement of Sociology &amp; Anthropology, major: Cultural Anthropology. &lt;br /&gt;Melalui penelitiannya, Simon mengkritik dari awal penamaan istilah “Kanayatn/Kendayan” yang ditulis Pastor Donatus Dunselman diatas. Lebih lanjut Simon menjelaskan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika saya mengecek dilapangan, para informan (emik) memberikan keterangan yang berbeda dengan apa yang didapat dan ditulis oleh Dunselman (etik)” (Simon; 2003;15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Simon, mungkin kesalahan Dunselman karena ia bukan berprofesi sebagai antropolog. Selanjutnya ia menulis;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai seorang social scientist saya menyangsikan artikel Dunselman di atas. Tentu berbeda dengan hasil karya yang bukan antropolog. Bagaimanapun juga, dalam bidang ilmiah tidak ada sesuatu pun yang dianggap pasti; semuanya dapat dipersoalkan dan pada kenyataanny memang dipersoalkan” (Simon; 2003;15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik Simon sebagai antropolog mungkin saja cukup beralasan, sebab ia melakukan penelitian berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah, ilmu social yang berbeda dengan sekedar tulisan harian. Selanjutnya ia menulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penelitian Dunselman banyak dilakukan di kampung Tiakng Tanyukng (hal.21) Mempawah Hulu. Saya tahu bahwa Daerah Tiang Tanyukng dekat dengan desa-desa orang bakati’ (Jirak, Sebangki, Ti,purukng) dan desa-desa orang banyadu’ (pentek, semade, perigi). Kontak antar komunitas dalam hal bahasa, pertukaran barang, perkawinan dan sebagainya sangat tinggi di Tiang Tanjung. Barangkali Dunselman bertanya seperti ini,” Urakng ahe ba kita’ nian?” Informan itu menjawab, “Aku nian urakng Kanayatn.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dugaan Simon, mungkin saja Dunselman menyimpulkan informasi yang didapatnya tanpa mengorek dari informan yang lain lagi. Simon menduga bahwa informan yang diwawancarai pastor ini mungkin dulunya orang Kanayatn yang berbahasa Ba Nyadu dan Ba Kati’, tapi ketika itu sudah menikah dan menetap di Tiang Tanjung sehingga ia mengidentifikasikan dirinya sebagai warga Tiang Tanjung yang berbahasa baa he/ba nana’. &lt;br /&gt;Menurut Simon, disinilah letak kekeliruan itu sehingga terjadi pengadopsian nama yang salah bagi sebuah suku dimasa lalu.  Dalam teorinya, Simon memaparkan kepada saya bahwa sebenarnya yang paling berhak menggunakan istilah Dayak Kanayatn itu adalah mereka-mereka yang berbahasa ba nyadu’ dan ba kati’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dasarnya adalah ada Binua Kanayatn. Binua kanayatn ini meliputi Kinande, Papan Gersik, Papan Tembawang, Papan Uduk, Sejaruk Param, Sejaruk Tembawang, Bekuan, Bombai dan Pacong di Kecamatan Samalantan Kabupaten Sambas (sekarang Kecamatan Lembah Bawang Kabupaten Bengkayang). Kepala binua mereka yang masih diingat antara lain Daeng (almarhum), Kuyu (almarhum) dan Loge” (Takdir;2003;17)&lt;br /&gt;Argumentasi Simon ini juga didukung oleh sebuah penelitian ilmiah oleh intelektual Dayak tahun 1997.  Vincent Julivin dan Nico Andas, misalnya. Mereka menulis;&lt;br /&gt;“….. menurut beberapa sumber, pada tahun 1984 orang-orang yang berdialek ba kati’ dan ba nyadu’ yang sekolah di Nyarungkop masih disebut orang kanayatn  oleh orang-orang dari Samalantan dan Pahauman. Menurut orang Dayak Bukit Talaga orang Kanayatn itu adalah orang-orang yang tidak pasih berbicara dialek ahe/ba nana’. Mereka misalnya tidak mampu mengucapkan kata-kata yang berakhiran dengan: -utn, -ant, -ikng, - ukng, -ekng, secara baik dan benar. Dan yang tidak pasih berbahasa ahe/ba nana’ itu adalah orang-orang Dayak (Kanayatn) Banyuke yang berdialek mpape, banyadu’, dan balangin” (V. Julivin dan Nico Andas (1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai peneliti social, Simon menyimpulkan bahwa mereka yang tidak pasih berbahasa ba ahe/ba nana’ adalah mereka yang non-ba ahe/non-ba nana’, yaitu orang yang Nganayatn (ucapan yang tidak tepat seperti penutur asli) dalam ucapan (lapal) ba ahe/ba nana’-nya. Jadi mereka yang non-ba ahe/non-ba nana’ adalah Kanayatn. Dengan demikian, menurut Simon, yang fasih berarti bukan Kanayatn (kandayan). Lalu Dayak apa mereka yang ba ahe/ba nana’ ini? (Takdir;2003;17).&lt;br /&gt;Kritik-kritik atas identitas Dayak Kanayatn ini mulai masuk dikalangan masyarakat Dayak sendiri diperkampungan. Pada tahun 2001, misalnya, sekelompok pemuka Adat Dayak di wilayah Binua Temila yang dipimpin oleh Timanggong Maniamas Miden Sood melakukan musyawarah adat. Seluruh peserta musyawarah, sepakat untuk mengembalikan identitas aslinya, Dayak Bukit. &lt;br /&gt;Namun, menurut Simon, istilah Dayak Bukit pun tidak tepat untuk nama Dayak dikawasan Temila itu. Simon menulis;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada umumnya, suku Dayak Salako dulunya lebih senang tinggal di bukit, termasuk juga suku lain termasuk suku Kanayatn sendiri. Jadi tidak tepat kalau ada penggolongan Dayak Bukit atau Dayak bukan Bukit. Orang Bukit juga terdapat di pegunungan Meratus, di Thailand, di Taiwan (suku Alisan), di Panatubo (Pilipina) dan sebagainya”   (Simon;2003;17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh aktivis Dayak, pergulatan mengenai istilah kanayatn ini mulai diangkat kepermukaan dalam berbagai diskusi, atau forum seminar (lihat Bulletin Simpado, Edisi I Jan-Maret 2004, yang ditulis Kristianus Atok ). Beberapa buku, salah satunya berjudul; Dayak Kanayatn Menggugat (Atok;2003) juga merupakan bagian dari kritisme atas pengentalan identitas tersebut diatas. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-9112078284650745950?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/9112078284650745950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=9112078284650745950&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/9112078284650745950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/9112078284650745950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2010/05/membayangkan-dayak-kanayatn.html' title='MEMBAYANGKAN DAYAK KANAYATN'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S_3ysZ3HbkI/AAAAAAAAA6U/gZkekbT-WKk/s72-c/peta+Kanayatb.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-34668436958685535</id><published>2010-05-17T22:04:00.000-07:00</published><updated>2010-05-17T22:12:33.105-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gereja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kristen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selako'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katolik'/><title type='text'>Gerakan Bala Saribu di Borneo Barat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S_IhEB3ZOlI/AAAAAAAAA6M/gdygM39mT9c/s1600/IMG_0127.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S_IhEB3ZOlI/AAAAAAAAA6M/gdygM39mT9c/s400/IMG_0127.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472472850312542802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Bala Saribu adalah aksi partisipatif untuk pembangunan gerja Katolik di Desa Nangka, Kabupaten Landak. Sejarah gereja Katolik di Kalbar tak lepas dari kampung ini, karena sebelum pusat Paroki Menjalin Kabupaten Landak berdiri 1935, justru warga DesaNangka lah pertama kali dibaptis menjadi Katolik tahun 1932 silam.&lt;span class="fullpost"&gt;Kini sejumlah generasi Katolik Pertama di Desa Nangka telah menjadi misionaris dan pelayan Tuhan hingga ke Kenya (Sr. Xaveria, SFIC), Canada (Sr. Norina, Cp), Roma (Broder Suparmo, CP), Timor leste (Sr. Maria SND), dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Ironisnya hingga saat ini di Desa itu belum satu pun gereja Katolik berdiri. Sedangkan Kapel yang dirikan sejak tahun 1980 pun sudah rusak berat.&lt;br /&gt;Kerinduan ini mendorong gerakan public yang disebut Bala Seribu mengumpulkan dana dari berbagai kalangan yang merasa tergerak hatinya untuk membantu pelayanan kasih Tuhan Yesus.&lt;br /&gt;Cukup dengan menyumbang Rp 1000 saja anda sudah beramal dan membantu pembangunan gereja Santo Yohanes Pemandi yang sangat didambakan umat.&lt;br /&gt;Bagi anda yang ingin menyumbang silahkan hubungi kami di email: balasaribu@gmail.com, atau YM: balasaribu@yahoo.com, serta facebook balasaribu. Tlp 081345009189 (Yohanes Supriyadi) atau 08125758789 (admin/Alexander mering)&lt;br /&gt;Dana dapat disalurkan ke Rekening: Yohanes Supriyadi di Bank Mandiri 1460005411124, BNI 0075733032, BRI 347201000917506&lt;br /&gt;Sumbangan yang masuk akan kami laporkan setiap minggu di blog Bala Saribu www.balasaribu.blogspot.com) dan di Koran Borneo Tribune serta Tabloit Simpado.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-34668436958685535?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/34668436958685535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=34668436958685535&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/34668436958685535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/34668436958685535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2010/05/gerakan-bala-saribu-di-borneo-barat.html' title='Gerakan Bala Saribu di Borneo Barat'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S_IhEB3ZOlI/AAAAAAAAA6M/gdygM39mT9c/s72-c/IMG_0127.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-5591689115140233406</id><published>2010-05-13T05:04:00.001-07:00</published><updated>2010-05-13T05:26:30.056-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paranormal'/><title type='text'>Paranormal Dayak Rambah Tanah Pasundan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S-vrgHhxU2I/AAAAAAAAA58/juPTRjr30_g/s1600/nasan.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S-vrgHhxU2I/AAAAAAAAA58/juPTRjr30_g/s400/nasan.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470725109380633442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Yohanes Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya “menguasai” tanah Borneo dengan ilmu magicnya, ternyata ada orang Dayak yang menjadi “penguasa” tanah Pasundan. Dengan bekal “ilmu Sapangko”, ia sukses menjadi paranormal, dan bahkan menjadi tokoh utama dalam berbagai perguruan silat ditanah Pasundan-Jawa Barat. Sebelumnya, ia hanya anak kampung Nek Maih, 24 Km dari Kota Karangan, ibukota Kecamatan Mempawah Hulu. Oleh A. Misah, ayahnya dan juga seorang guru di SDN Nek Maih, anak ketiga dari sepuluh bersaudara ini diberi nama Alexis Nasan Pamera. Pamera, dalam bahasa Dayak artinya pemarah. Siapakah anak yang bernama pamera (pemarah, red) ini ? Berikut adalah salah satu tulisan saya dalam Buku KAMI JUGA BISA: 100 Pribadi Dayak Penuh Inspirasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Menurut Klara Seilan, ibunya, Alex lahir pada tanggal 5 Mei 1975.  Sejak kecil, tuturnya, Alex sangat rajin dan tekun untuk mencapai keinginannya, termasuk belajar ilmu “sapangko” dan ilmu silat. Ia rajin belajar dikelas, namun temperamentnya sangat keras. Ia mengakui, semasa kecil, seluruh keinginannya harus dapat dicapai. Dan pengalaman hidup kemudian menempanya, di kampung yang jauh dari akses informasi dan kemajuan zaman. Ketika ia remaja, Ayahnya, A.Misah, meninggal dunia. ia begitu terpukul, karena ia amat dekat dengan ayahnya ini. menurut cerita warga, ayahnya meninggal karena serangan ilmu hitam khas Dayak; Pagayont, Polong, Dawak. Ia sedih, dan marah besar. Dalam hatinya, ia bertanya, kenapa sesama Dayak saling bunuh ?. Suatu kali, ia berniat menuntut balas terhadap pelaku ilmu hitam tersebut. Namun, keinginan kuatnya ini mendapat tentangan dari sang Ibu. “jangan kamu lawan, biarlah Tuhan yang membalasnya” ujar ibu menenangkan jiwanya yang masih muda. &lt;br /&gt;Bertahun-tahun kemudian, keadaan hidup yang miskin dikampung memaksanya harus “keluar” kampung. Ia ingin sukses diperantauan.....dan tanah Jawa menjadi tujuan utamanya. &lt;br /&gt;“Alex sejak kecil bercita-cita aneh, ia ingin menjadi pendekar silat seperti yang ditontonnya di televisi dan didengarnya di sandiwara radio” ujar Klara.&lt;br /&gt;Sejak sekolah dasar, Alex mulai menempa ilmu silatnya. Ia berguru pada beberapa ahli silat di berbagai kampung sekitar Nek Maih.  Ia menekuni beberapa ilmu silat sekaligus: Buah Lima, Silat Mawink. Suatu kali, ia mulai juga menyimpan beberapa jenis jimat dari saudara-saudara bapaknya. Dan setahun kemudian, setamat SMP, Alex memberanikan diri merantau ke tanah jawa. &lt;br /&gt;Dengan sebuah kapal laut, ia mengarungi samudera, yang kala itu ditakuti. Mula-mula ia ke Jakarta, namun pada tahun 1991, ia pindah ke Bandung.  Di Bandung, Alex mulai belajar ilmu silat aliran luar negeri; Kempo, Tinju, Ju-Jitsu, Kateda, PSTD, Kindo, Silat Usik, Intikai, dll. Hampir semua ilmu silat terenal dunia dipelajarinya. &lt;br /&gt;Setelah merasa cocok dengan cita-cita awalnya, pada tahun 1995, bersama teman-temannya, ia mendirikan Intikai (Inti Karate Pernafasan Indonesia) tepatnya di Armed Cimahi Bandung. Setahun kemudian, Alex sudah diangkat menjadi dewan pelatih Coach Councll Keindo (Kekuatan Inti Pernafasan Indonesia) di GMM, Jl, Merdeka Bandung. Pada tahun yang sama, tepatnya 27 Januari 1997, ia mendirikan Perguruan Silat Ragajati Pamera, yang kemudian menjadi anggota tetap Ikatan Pencak Silat Indonesia Cabang Bandung.  Kini, selain mengajar silat di perguruannya, ia juga menjadi konsultan spiritual dan psikologi, menulis buku, dan beragam kegiatan sosial. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-5591689115140233406?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/5591689115140233406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=5591689115140233406&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/5591689115140233406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/5591689115140233406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2010/05/paranormal-dayak-rambah-tanah-pasundan.html' title='Paranormal Dayak Rambah Tanah Pasundan'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S-vrgHhxU2I/AAAAAAAAA58/juPTRjr30_g/s72-c/nasan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-4777814894462319575</id><published>2010-05-13T04:45:00.000-07:00</published><updated>2010-05-13T05:01:48.956-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dokter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RSU St Antonius'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><title type='text'>Anak Penjual Botol Menjadi Dokter</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S-vohQ3e5mI/AAAAAAAAA50/XCVUnyIth7I/s1600/dr+dami.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 145px; height: 167px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S-vohQ3e5mI/AAAAAAAAA50/XCVUnyIth7I/s400/dr+dami.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470721830532605538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Yohanes Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak sopir angkot bisa menjadi pilot”, demikian sebuah iklan sekolah gratis di TV akhir-akhir ini. Di Kabupaten Landak-Kalimantan Barat, anak seorang penjual botol bisa menjadi dokter. Dan ini bukan iklan, “saya menjadi dokter karena berjuang keras” ujar dr. Damianus Hipolitus, Wakil Direktur RSU St Antonius Pontianak. Siapakah dokter anak penjual botol ini ? Selama 9 bulan, sejak Juni 2009 lalu, saya berusaha menulis sebuah buku berjudul "KAMI JUGA BISA: 100 Pribadi Dayak Penuh Inspirasi".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Di RS St Antonius, tak ada orang yang tak mengenal dokter muda ini. dr. Damianus Hipolitus, sejak 2006 lalu merupakan salah satu pemimpin di rumah sakit swasta yang telah berumur hampir seabad ini. dr Dami, demikian akrab ia dipanggil setelah jadi dokter, berasal dari kampung Saledok, salah satu kampung di Desa Lamoanak Kecamatan Menjalin. Ia lahir 21 Nopember 1975, anak pertama dari 6 bersaudara pasangan Yohanes Natalis Sinton dan Herkulana Nai.  “saya pernah mendengar cerita perjuangan hidup dokter ini, luar biasa untuk ukuran anak kampung” sahut Jiman.  Jiman adalah karyawan RS St Antonius, bagian UGD. &lt;br /&gt;Menurut Nai, ibunya, sang dokter lahir tepat pada hari Jumat, jam 5 pagi.  Dikisahkannya, ketika akan lahir, warga kampung berjaga-jaga, sebab selama 4 hari 3 malam, jabang bayi tak kunjung lahir. Selain anak pertama, ketika itu sedang musim lapar dikampung. “syukurlah, dengan bantuan Jain, atau dikenal dengan We Salamah, akhirnya bayi yang dinanti lahir dalam keadaan selamat” kenangnya. Menurut Nai, hampir semua keluarga di kampung Saledok mengkonsumsi nasi tamora’ (nasi campur ubi kayu) ketika anak pertamanya ini lahir. “Di kampung, masa kecil dokter ini dipanggil Itus, kependekatan dari nama baptis Katolik; Damianus Hipolitus” ujar nenek dari 3 cucu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditempa Senaning&lt;br /&gt;Menjadi dokter di daerah terpencil di Senaning Sintang, menempa hidup pria penyuka minum air putih ini. Ia semakin yakin dan percaya bahwa tenaganya sangat diperlukan untuk pembangunan bangsa. Ia tak membeda-bedakan pasiennya berdasarkan suku ataupun agama. Semuanya sama. “kan, manusia lahir tidak bisa memilih harus menjadi suku apa, agama apa” ujarnya. Setelah diwisuda menjadi dokter, ada tawaran dari Bupati Landak ketika itu, (sekarang gubernur Kalbar). Bupati ingin, dr Dami tugas sebagai dokter PTT di Kecamatan Air Besar-Landak. “saya menolak, soalnya dari informasi yang saya dapat, di kawasan perhuluan Kalbar, sangat banyak daerah yang belum ada dokter” ujarnya. Ditemani sang istri, ia kemudian memilih tugas Dokter PTT di Senaning-Sintang. Ia bertugas selama 2 tahun sebagai Pj. Kepala Puskesmas.   &lt;br /&gt;Dari kawasan pedalaman, tahun 2004, ayah dari Celine Eunika Dayanara ini mendapat panggilan tugas dari RS St Antonius. Ia menyanggupi. Ia mendapat tugas sebagai kepala IGD. “di IGD, kemanusiaan saya semakin ditempa. Setiap hari, ada saja manusia terkena musibah dan penyakit. Sebagai dokter, saya wajib membantu dan melayani dengan sungguh” ujarnya. Sambil bertugas sebagai dokter jaga di IGD, dua tahun kemudian diangkat menjadi Pj. Kepala Administrasi. “tugas saya semakin berat, tapi semangat membangun dan melayani juga semakin menyala” katanya. Prestasi demi prestasi berhasil diraih, ia bahkan pernah dikirim keluar negeri untuk belajar tentang manajemen rumah sakit berbasis mutu. Ia pernah di kirim ke Thailand, dll. Tak hanya itu, berbagai pelatihan, seminar dan kursus di dalam negeripun diikuti dengan cermat. Aktivitasnya kian hari kian bertambah, ia juga mengampu beberapa mata kuliah di Akademi Keperawatan Dharma Insan. Berbagai profesi dan prestasi inilah, enam bulan kemudian, ia diangkat menjadi Wakil Direktur RS St Antonius sampai sekarang.  Kini, dokter anak penjual botol ini melanjutkan kuliah spesialisasi bedah umum di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peduli dan Melayani&lt;br /&gt;Sebagai Wakil Direktur rumah sakit swasta terbesar di Kalbar, suami dr. Ferawaty Ginting ini tetaplah anak kampung. Ia memiliki kepedulian yang tinggi dan terus mengabdi dengan tulus. Ia tak ingin larut dengan perkembangan, karena ia sadar bahwa sejarah hidupnya tak terlepas dari kepedulian orang lain. “ayah saya dulu menjual botol untuk membiayai hidup dan sekolah saya” kenangnya. Matanya berkaca-kaca. Tetapi, kreativitas sang ayah inilah yang melekat kuat dibenaknya. Ia ingin mewarisi kreativitas sang ayah ketika menjadi dokter.  Y.N.Sinton, ayahnya, bercerita, ketika anak tertuanya ini masih kecil, ia tak memiliki pekerjaan tetap. Hampir semua pekerjaan dilakukannya. “pokoknya, anak saya bisa sekolah dan keluarga saya bisa makan” ujarnya. Ia sadar, kalau tak kreatif mencari pekerjaan, ia akan menenggelamkan masa depan anak-anaknya. “anak adalah utama dan terutama dalam hidup saya” lanjutnya. Matanya merah, ia teringat masa-masa sulit ketika itu.  “syukurlah, Jubata na munuh (Tuhan tidak menghukum). Ketika itu, hidup sangat sulit. Saya berpikir, kreativitas menjadi penting. Ya...mengalir sajalah, layaknya air” terang kakek dari 3 cucu ini. &lt;br /&gt;Pria asal Menyuke ini, menuturkan, dalam sehari ia mampu mengumpulkan 100-150 buah botol dari warga kampung terdekat. “banyak yang saya beli botol bekas kecap dan botol bekas jamu cap air mancur” ujarnya tersenyum. Dengan sepeda motor Yamaha RXS produksi tahun 1981, setiap hari Sinton berkeliling kampung, mengumpulkan botol-botol bekas. Botol-botol ini kemudian dijual ke Pak Teman, seorang pedagang pengumpul botol di pasar Tae Tukong, Mandor, 6 Km dari Saledok. Pak Teman, dianggapnya toke (tauke), karena pernah memberinya modal 100 ribu untuk membeli botol.  “saya pernah mengumpulkan 10.000 buah botol” kenangnya. Ketika membeli botol, ia membayar antara Rp.25 sampai Rp 50, dan menjualnya Rp.100. Selain menjual botol ini ke Pak Teman, kadang-kadang ia juga menjualnya langsung di Pasar Sei Pinyuh, terlebih ketika ada keperluan belanja keluarga yang tidak ada barangnya di kampung. Dengan berdagang botol ini juga, Sinton mampu menyekolahkan anak-anaknya, bahkan mampu membelikan baju baru terbaik setiap kenaikan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita sejak bocah&lt;br /&gt;Di kampung, lelaki murah senyum ini sama dengan bocah kebanyakan. Setiap hari, ia bermain dengan bekas alat-alat suntik ayahnya.  “beberapa batang pisang sampai hancur disuntik” ujar Nai, ibunya. Ia tertawa mengingat kejadian lucu tersebut. Banyaknya alat bekas jarum suntik ini, karena ayahnya juga berprofesi sebagai “mantri”  yang seringkali dipanggil warga yang sakit. Sinton, mengaku pernah belajar khusus tentang penanggulangan penyakit keluarga di Salatiga Jawa Tengah dan kursus kehewanan di Pontianak.  Pada usia 2 tahun, anak cerdas ini pernah di tes ibunya ketika perayaan ulang tahun. Selain kue-kue, disiapkan juga sebuah pen, sebuah buku tulis dan sebutir telur ayam rebus. Ternyata, ketika diminta anak lelakinya ini memilih mengambil pen dan buku. Demikian juga ketika berusia 4 tahun, atau baru belajar bicara. Ketika ditanya, kalau sudah besar mau menjadi apa, sang anak menjawab polos “mau jadi dokter”. Nai menangis. Ia tak sanggup bicara. Ia tak yakin cita-cita anaknya tercapai kelak. &lt;br /&gt;Hanya sampai kelas 3 di Saledok, karena tidak ada kelas 4, 5 dan 6, oleh ayahnya, ia terpaksa dititip dengan Nek Aem atau Pak Akek di Kampung Paluntatn, Tembawang Bale-Menyuke. Di kampung ini, ia melanjutkan sekolah di kelas 4 hingga tamat dengan NEM tertinggi se-Kecamatan Menyuke. Tamat SD, ditemani sang ayah,  ia mendaftar di SMP Timonong (SMP St Aloysius Gonzaga,sekarang) Nyarumkop-Singkawang. Bersama ratusan anak seusianya dari berbagai penjuru Kalbar, ia tinggal di asrama Timonong. “2 minggu pertama, saya sempat sakit perut” kenangnya. Maklum, ia baru mengenal makanan yang baru, Bulgur. Bulgur adalah makanan dari jagung tua yang digiling, dan dicampur sedikit dengan beras. Di asrama, ia akrab dipanggil (Hipo) &lt;br /&gt;Menurut Drs. Adrianto Alio, mantan gurunya di Nyarumkop, ketika sekolah disana, Hipo terkenal anak yang sangat cerdas. Setiap kenaikan kelas, ia selalu juara. Tak heran, teman-temanya mengangkatnya menjadi ketua kelas. Selain jago dipelajaran Fisika dan Matematika, bahasa inggris juga selalu diraihnya dengan nilai tertinggi. Di asrama, Hipo mengaku sering tak ada waktu untuk  pulang kampung. Selama liburan, ia memilih tetap di asrama. Karena itu, Pastor Heliodorus Herman, OFM.Cap memintanya bekerja dengan upah Rp.250/jam. Setiap hari, ia dijatah kerja 7 jam. Dengan kerja ini, ia mendapat upah Rp.1.750 sehari, nilai yang lumayan besar ketika itu. Tamat SMA St Paulus Nyarumkop dengan NEM tertinggi, atas bantuan Drs. Adrianto Alio, Hipo ditawari 3 beasiswa sekaligus. Dari sekolah ia ditawari menjadi guru fisika, dari Rumah Sakit St Vincentius Singkawang ia ditawari untuk kuliah di bagian Teknik Rongsen dan dari RS Dharma Insan Pontianak ia ditawari untuk sekolah kedokteran umum di Universitas Atmajaya Jakarta. “sebelumnya, saya memang pernah mengirim data ke Universitas Atmajaya, setelah mendapatkan informasi dari bapak Uskup Agung Pontianak” ujar bapak satu putri ini. &lt;br /&gt;Hipo memang bertekad untuk berjuang dan menimba ilmu di luar Kalbar, karena itu ia memilih untuk menerima tawaran dari RS Dharma Insan. Namun, tawaran untuk sekolah kedokteran tak semulus yang dibayangkan. Ayahnya bingung mengumpulkan uang. Dari brosur yang ditawarkan Universitas Atmajaya, ia harus mengirim 10 juta uang pendaftaran. “padahal, uang saya hanya 2,5 juta” kenangnya. Untuk mengumpulkan uang sebanyak itu, ayah  merelakan 2 ekor sapinya yang baru beranak untuk dijual. Setelah dapat uang, ayahnya menemui Suster Jeanne Marry di Pontianak, suster bersedia meminjamkan uang untuk menutupi biaya pendaftaran Dami di Universitas Atmajaya, dengan syarat nanti dibayar cicilan. Demi masa depan anak, syarat ini disanggupi. Untuk memohon doa restu keluarga dan warga sekampung, sekaligus memberitahukan Dami akan sekolah di Jakarta, ayah menyelenggarakan adat baulakng. Adat baulakng adalah adat syukuran atas keharmonisan dan rejeki pasangan suami istri menurut adat Dayak.  Bermodalkan tekad dan semangat untuk maju, menjadikan Dami memberanikan diri berangkat ke Jakarta. Ia menumpang KM Lawit.  “ketika berangkat ke Jakarta, saya hanya membawa beberapa helai pakaian, ijazah, uang 450 ribu dan selembar peta jakarta terbitan tahun 1970-an yang diberi Pastor Willy” ujar Hipo. Pastor Willy adalah Sekretaris Uskup Agung Pontianak. “masak orang Indonesia tersesat di Jakarta” sindir Pastor Willy ketika Hipo terlihat agak ragu untuk berangkat sendiri. Tiba di Jakarta, dengan menumpang angkot, ia langsung menuju Pastoran Tebet, tempat tinggal Pastor Fidelis. Namun, Pastor Fidelis sedang di Jogja untuk beberapa hari. Ia hanya ditemui Pastor Roland, orang Belanda. Sementara menunggu waktu tes, ia diberi pekerjaan. “kamu bantu saya di sekretariat Paroki” pinta sang Pastor. Dikantor, Hipo setiap hari mengetik kartu keluarga, dll. Pekerjaan ini dilakoninya selama sebulan lebih. Tak lama, hasil tes diumumkan. Ia dinyatakan lulus, dan langsung  mendapat beasiswa pendidikan dari Universitas Atmajaya. “ternyata, beasiswa ini tidak menanggung biaya hidup. syukurlah, tak lama ada berita dari RS Dharma Insan Pontianak, saya mendapat bantuan biaya hidup 300 ribu setiap bulan” ujarnya. &lt;br /&gt;Namun, hidup di Jakarta mahal. Untuk menambah biaya hidup, Hipo kreatif. Ia berusaha menciptkana kerja sampingan. Bersama Paulus, rekan sekampusnya dari Jawai Sambas, mereka menjual baju kaos yang disablon tertentu, kodok, dll.  “pokoknya, beberapa kebutuhan praktek mahasiswa kami yang penuhi” ujarnya. Paulus kini menjadi Dokter Polisi di Lampung. Selama kuliah, Hipo ngekost dikawasan Semanggi Karet Kuningan Jakarta Selatan. “sederhana saja, biaya kost kami 50 ribu sebulan” ujarnya. Untuk menghemat biaya, tak jarang ia berjalan kaki menuju kampus.  Perjuangan berat ini tak sia-sia. &lt;br /&gt;Hipo hanya 4 tahun menyelesaikan kuliahnya, ia memperoleh IPK tertinggi dan merupakan wisudawan terbaik dan tercepat dari 170-an wisudawan di Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya. Sebagai calon dokter, ia pernah diangkat menjadi asisten forensik RS dr.Karyadi Semarang. Disinilah ia bertemu Ferawaty Ginting, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang juga menjadi Co.Asisten forensik di rumah sakit itu. “kami bertemu pada sebuah acara rohani” ujarnya.  Sementara menunggu panggilan sebagai dokter PTT, lelaki murah senyum ini sempat bekerja di RS Denta Tama, Sragen Jawa Tengah selama 6 bulan. Setelah ada panggilan, ia memutuskan untuk kembali ke Kalbar dan bertugas di Senaning.  Tepat 1 tahun bertugas di Senaning, keduanya menikah di Jakarta, April 2003. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-4777814894462319575?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/4777814894462319575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=4777814894462319575&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/4777814894462319575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/4777814894462319575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2010/05/kami-juga-bisa-100-pribadi-dayak-penuh.html' title='Anak Penjual Botol Menjadi Dokter'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/S-vohQ3e5mI/AAAAAAAAA50/XCVUnyIth7I/s72-c/dr+dami.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-6996424084051354425</id><published>2009-07-28T23:39:00.000-07:00</published><updated>2009-07-28T23:44:08.612-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Rakyat'/><title type='text'>LEGENDA BUJAKNG NYANGKO (2)</title><content type='html'>Setelah menjadi manusia biasa, dan tiba didunia ini dari Subayatn Sapangko, Bujakng Nyangko berkunjung ke Kampung Pakana (sekarang wilayah Mempawah Hulu-Landak). Di kampung ini hidup sepasang suami istri, yang tidak mempunyai anak. Suaminya  bernama Ne Ragen. Sehari-hari Ne Ragen, keluar masuk hutan untuk berburu. Suatu hari (Sore) Ne’ Ragen menunggu binatang  buruannya di bawah sebatang pohon beringin (kayu ara), tiba-tiba ia mendengar suara tangisan bayi di atas pohon tersebut.  Suara tangisan itu berasal dari bayi yang mati buyu’ (lahir prematur dan meninggal) .  Ne Ragen menjadi iba hatinya ketika mendengar tangisan itu. Lalu ia meletakan peralatan berburunya dan naik di atas pohon kayu ara tersebut dan mengambil anak itu, lalu dibawa pulang dan dipeliharanya hingga menjadi dewasa. Anak itu dinamaninya Doakng.&lt;br /&gt;Setelah cukup umur Doakng disunat ketika selesai disunat  &lt;span class="fullpost"&gt;Doak berpantang, selama tiga hari tiga malam, ia tidak boleh kemana-mana dan tidak boleh memakanan daging binatang sial seperti pelanduk,   kijang, rusa sapi dan kambing, serta beberapa jenis pakis tertentu.&lt;br /&gt;Secara kebetulan pada hari ketiga masa berpantang Doakng, datanglah seorang pemuda Laut Pakana, tetangganya (Melayu, saat ini), bertamu ke rumah Ne Ragen. Doakng kemudian berkata “ pamujakng, kade’ kalaparatn basuman ba ka’ dapur diri dikoa, tapi ame me kita’ nyuman kambing man sapi. Kade’ kita nyuman na’ jukut koa, baik kita suman maan ka’ dapur lain. Kade’ kita na’ ngasiatn kata ku nian awas me kita”(Pemuda, kalau kelaparan masaklah di dapur kita tetapi jangan masak sapi atau kambing. Kalu mau memasak barang (sapi/kambing)  itu, sebaiknya di dapur lain, Awas kalian kalau tidak menuruti kataku ini” Setelah berpesan demikian, Doakng tidur dengan  tangkitn (senjata khas Dayak Kanayatn) yang teransah tajam terselip dipinggangnya  dan disampingnya tergeletak sumpit dengan mata sumpit yang diolesi  getah ipuh . &lt;br /&gt; Pemuda Laut tadi ternyata tidak menuruti pesan Doakng, ia memasak daging kambing yang dibawanya dari rumah. Apa yang terjadi kemudian pemuda itu berubah menjadi seekor kambing, dan ketika itupula Doakng terjaga dari tidurnya.  Sejenak ia lupa diri lalu menghunus tangkitnnya dan memenggal kepala kambing itu, hingga putus. Ketika sadar Doakng terkejut lalu ia berkata “..koa dah putus unang tage’nyu kambingnya, tapi koa ihan Jubata a, buke’ munuh manusia, aku ga’ munuh laok. Ame ia madi mangka’, babangkawar ka’ aku, jukut ia dah mati dijanjinya, diuntukngnya” ( putuslah kini lehermu hai kambing…tetapi itulah wahai Jubata/Tuhan, aku bukan membunuh manusia tetapi binatang, semoga ia tidak menjadi penyakit, menyentuh dan menurunkan hal yang kotor dalam hidupku, karena ia mati sesuai dengan janji dan takdir hidupnya. Doakng kemudian  melaporkan kejadian ini kepada orang tua dan sanak-saudara pemuda tadi. “ mau bagaimana lagi, ia sudah meninggal sesuai dengan takdirnya, kuburlah..” demikian kata keluarga si pemuda malang tersebut.&lt;br /&gt; Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, Doakng minta belajar dan merantau, kepada orang tuanya. Ia kemudian minta dibuatkan kapoa’  bergambar, baju marote (baju tanpa kancing dengan model rompi), otot baukir (tato), jabakng (perisai) dan Tangkitnya. Semula  Ne Ragen ayahnya, tidak menyetujui niat anaknya ini, tetapi karena Doakng terus menerus memohon, akhirnya ia diijinkan pergi. &lt;br /&gt; Hari pertama menjelang keberangkatannya merantau Doakng mempersiapkan segala bekal dan perlengkapnnya. Hari kedua ia mato’ (melakukan upacara adat untuk memanggil roh halus/kamang, untuk menyertainya dalam peperangan)  minta penyertaan dari Bujang Nyangko, Kamang Lejak dan Kamang Nyado. Rasi (tanda-tanda alam) yang diterimanya setelah mato’ sangat baik, maka ia kemudian berangkat meninggalkan Pakana, subuh, pada hari ketiga. Ia berjalan dan terus berjalan, menuruti langkah kakinya,  tanpa tujuan yang pasti. Sesampainya sebuah hutan lebat (udas) ia beristirahat sejenak, lalu membuat jukut diampa’  dan menyampaikan maksud dan tujuannya kepada roh-roh halus penghuni tajur (lereng bukit) gantekng (pertemuan dua dataran tinggi/lembah), bukit yang tinggi, pohon yang besar, seperti ketika ia menyampaikan maksud dan tujuannya pada kamang. &lt;br /&gt;Tidak lama setelah  melakukan upacara tadi, disekitarnya terdengar suara krasaak-krusuk  yang berasal dari beberapa ekor muis (binatang). Doakng pun bersiul sebanyak tiga kali. Binatang-binatang tersebut kemudian  turun ke tanah mencari suara siulan tadi. Doakng kemudian membidikan sumpitnya ke arah seekor muis yang paling dekat dengannya, ia siap menyumpitnya. Tetapi kemudian muis ini tiba-tiba mati. Tidak lama kemudian muncul tiga orang, yang saling berdebat, masing-masing mengakui  bahwa dirinyalah  yang menyumpit muis tadi. Masing-masing tidak mau kalah “akulah yang menyumpitnya !”. Kata ketiga orang tersebut. Doakng bingung, melihat perdebatan ini. Tetapi akhirnya salah satu dari mereka bertiga, yang ternyata adalah Bujakng Nyangko’ (Kamang yang menjelma menjadi manusia) berkata : “baiklah kita serahkan pada Doakng saja hasil buruan ini, biar dia saja yang memilikinya”. &lt;br /&gt;Setelah mereka bertiga sepakat untuk menyerahkan muis tadi pada Doakng, mereka membuat perjanjian untuk bertemu kembali pada esok paginya di sebuah tempat yang bernama saka tumuk empat (perempatan).  “ kade ada nangar tariu tujuh kali, seok tujuh kali dan nguik tujuh kali, ganceh atakng, diri ngayo ka’ Timpurukng Pasuk ka’ Lama Bagenakng, ka’ Jongong, Tanuk Tangoekng,  Dapeh Marada’i” ( jika mendengar tariu (teriakan perang) tujuh kali, siluan tujuh kali dan nguik (tiuran suara elang) sebanyak tujuh kali, cepatlah kamu datang kita ngayau di Timpurukng Pasuk,  di Lama Bagenakng, di  Jongong, Tanuk Tangoekng,  Dapeh Marada’i” demikian pesan Bujakng Nyangko pada Doakng. &lt;br /&gt;Keesokan harinya, ketika Doakng mendengar kode yang dijanjikan, ia kemudian bergegas pergi ke tempat pertemuan mereka di Saka Tumuk Ampat.  Lalu berempat  mereka menuju daerah tempat pengayauan. Tiga hari tiga malam lamanya, akhirnya sampailah mereka di sebuah ladang,  musuhnya, secara kebetulan disitu ada banyak orang yang sedang  bekerja secara gotong royong (balale’).  Diantara orang-orang tersebut satu diantaranya adalah pamaliatn (dukun belian), yang mampu menghidupkan mayat. Kempatnya kemudian berperang melawan orang-orang tersebut dan menang.   Diantara seluruh korban, hanya satu yang kepalanya kemudian di bawa yaitu kepala si pamalitan tadi. &lt;br /&gt;Oleh ketiga kamang tadi, Doakng disuruh membawa kepala itu dan berpesan kepadanya, bahwa sebelum sampai di rumah,  ia harus tariu, bersiul dan nguik, sebanyak tujuh kali. Jangan masuk ke rumah melalui tangga pintu dapur, jangan menyeruak di bawah jemuran, dan tidak boleh langsung masuk ke ruang tamu. Doakng harus masuk melalui tangga depan, dan berhenti di pante  dan menari-nari . Kepala harus diletakan pada pahar tembaga,  (tempat khusus yang terbuat dari tembaga untuk meletakkan bahan persembahan), lantai dialas bide (tikar dari anyaman rotan dan kulit kayu), diletakan diatas tempayan jampa berukir (tempayan besar), lalu di pasangi pelita. &lt;br /&gt;Ketika sampai di rumah, Doakng menuruti pesan ini, tetapi lain halnya dengan Nyangko, ia lewat dari tepi Pante, dan menari-nari melewati bawah jemuran, seketika itu juga ia tewas. Jasadnya disemayamkan satu hari satu malam, lalu kemudian di kubur. Pada saat itulah Kamang mengajari Doakng (manusia) berpantak.  Pantak ditujukan untuk mengganti orang yang sudah meninggal. Arwah orang yang sudah meninggal itu kelak akan tinggal dalam pantak (patung kayu) yang dibuat. &lt;br /&gt;Kamang Nyado, kemudian mengajari Doakng membuat pantak Kamang Nyangko. Riti tujuh jengkal, kayu besi (belian) diukir dengan riti, didoakan dengan seekor ayam jantan berbulu merah, dibentuk (dipahat) dengan tidak dibolak-balik (posisi tetap), dipahat mulai dari kepala. Syarat (pangkaras) untuk membuat pantak adalah ayam jantan berbulu merah satu ekor, parang, beliung, pahat, besi untuk membuat lobang (bor), paha babi satu ekor (dimbil cuma pahanya, babi jantan yang sudah disepih/bantut), lalu dipersembahkan/disangahatn. Doakng melakukan semua perintah kamang Nyado. &lt;br /&gt;Setelah selesai menguburkan jasad Bujakng Nyangko, Doakng kemudian tariu sebanyak satu kali untuk mencari kayu belian sebagai bahan untuk membuat pantak. Setelah dapat ia membawanya ke rumah dan dipahat di pante selama tiga-tiga malam. Baru boleh dimasukan dalam rumah, menjelang senja.  Setelah pantak tersebut dimasukan ke dalam rumah, ia memperlakukannya seperti jasad manusia, dimandikan lalu mengurapinya dengan minyak dan kemudian memberinya makan. Setelah itu ia kemudian membunyikan tetabuhan dari agukng (gong) dan dau (bonang), lalu menari.  Pantak tadi tiba-tiba seperti bernyawa, lalu menari-nari bersama Doakng, semalam suntuk. &lt;br /&gt;Setelah semua ini selesai Doakng kemudian, mengajari orang tuanya untuk membuat pantak, dan ketika ayahnya  meninggal (Ne Ragen), ia membuat pantak seperti yang dulunya ia buat untuk Kamang Nyangko. Pada saat Doakng menari, dan Pantak itu ikut juga menari, ibunya tidak kuasa menahan sedihnya ketika ditinggalkan suaminya (Ne Ragen), dipeluknya Pantak Ne Ragen yang sedang menari tersebut, lalu diciumnya. Hal itu sesungguhnya tidak boleh dilakukan, tetapi semuanya sudah terlanjur. Pantak yang tadinya bisa menari-nari, kemudian diam dan kembali seperti patung kayu biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-6996424084051354425?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/6996424084051354425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=6996424084051354425&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/6996424084051354425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/6996424084051354425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/07/legenda-bujakng-nyangko-2.html' title='LEGENDA BUJAKNG NYANGKO (2)'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-6718575499125763134</id><published>2009-07-17T01:59:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T21:16:08.229-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koloni Cina'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Monterado'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Singapura'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Singkawang'/><title type='text'>THE ESTERN SEAS</title><content type='html'>Dua ratus tahun yang lalu, George Windsor Earl, melakukan perjalanan ke pulau Borneo. Ia Nahkoda Kapal Stamford pada Tahun 1834. Perjalanan yang cukup mengesankan tersebut dituliskan dalam bukunya yang berjudul “The Estern Seas.” Kapal Stamford yang dinahkodainya ini disewakan oleh pengusaha-pengusaha Cina di Singapura untuk ke Borneo, khususnya Monterado dan Sinkawang yang waktu itu dikuasa Cina dengan maksud untuk menjajaki kemungkinan diadakannya hubungan dagang bilateral dengan Singapura. G. W Earl pria Inggris yang lahir pada tahun 1805. Selain mahir dalam ilmu pelayaran dia juga banyak tahu tentang sejarah, hukum, dan politik. Karenanya tulisan yang berupa catatan perjalanan ini berisi pandangan dan catatan yang memiliki nilai lebih mengasyikkan. Pengalaman G. W Earl tahun 1834 tersebut diterbitkan pertama dalam bahasa Belanda tahun 1918 oleh J.B Wolters, Groningin tahun 1932 dialih bahasakan ke bahasa Inggris dan dicetak di tahun 1971 oleh Oxford University Press, kemudian dicetak di Hongkong oleh South China Photo Precess Printing Co.Ltd. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikisahkan dalam buku itu, G. W Earl mengawali catatan perjalanannya dengan judul Menuju ke Tempat Asing. Diawal bulan Februari 1834, suatu laporan masuk ke Singapura. Laporan itu berisikan bahwa penduduk dari sebuah koloni China di Pantai Barat Borneo menginginkan hubungan dagang dengan para pengusaha di Singapura terutama Cina. Karena itulah para pengusaha Cina dari Singapura memutuskan untuk mengirimkan ekspidisi dagang ke tempat tersebut dan mempercayakan kepada Earl untuk memimpinnya. Dan tentu saja hal tersebut tidak disia-siakan dan kemudian diterima dengan baik. Untuk melakukan hubungan dagang tersebut, sebuah papal layar inggris bernama Stamford disewa dan Earl ditunjuk sebagai nahkoda. Cargo yang dimuat dalam kapl itu antara lain, candu, teh dan barang-barang lain yang diharapkan kelak akan dapat ditukar dengan hasil tambang emas yang kononnya banyak terdapat di Borneo. 1 Maret 1834, jam tiga pagi stamford bertolak meninggalkan selat Singapura melalui jalan masuk sébelah timar di dekat pulau Karang Pedra Bianca dan disambut angin kencang dari utara yang memasuki Laut Cina Selatan. Bagi Earl, Borneo yang dituju merupakan pulau yang masih asing dan gelap. Saat berangkat G. W. Earl juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan tenaga perwira kapal yang berkebangsaan Eropa, mengingat kelak bila sampai di tempat tujuan harus meninggalkan kapal untuk ke daratan harus ada perwira kapal yang dapat dipercaya. Namun saat itu Earl hanya dipuaskan dengan perwira kapal seorang melayu keturunan Portugis. Selain itu, menurut Earl dalam kapalnya terdapat tiga puluh lima orang anak buah kapal dari suku Jawa, delapan Cina yang dua diantaranya adalah penterjemah, penjaga dan penimbang cargo merangkap peneliti emas yang kelak akan diterima. Dari keterangan sementara yang diperoleh G. W Earl, Belanda memiliki dua settlement yang kecil di pantai barat Borneo terpisah satu sama lain di pinggir dua sungai terpisah Kira-kira sembilan puluh mil, yaitu Pontianak dan Sambas. Koloni Cina terletak di antara dua tempat tersebut. Pernah sebuah kapal Inggris di tahun 1827 berkunjung ke tempat itu, namun tidak seorang pun yang dapat ditemui guna mendapatkan informasi. Lebih susah lagi nama Sinkawan yang merupakan pelabuhan penting bagi orang-orang cina tidak tercantum dalam peta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang hari pada tanggal tiga Maret G. W Earl sampai di pulau St. Julien. Dari kejauhan pulau tersebut telah terlihat. Kemudian keesokan harinya, Earl beserta rombongan melintasi ujung paling selatan dari gugusan kepulauan St. Esprit. Pulau-pulau yang terpencar di bagian laut Cina Selatan ini tertutup oleh hutan kayu dan umumnya tanpa penghuni. Kecuali kepulauan Tambelan yang sering kali dikunjungi oleh bajak-bajak laut sebagai tempat persinggahan dari Borneo ke Selat Malaka. Para perompak tersebut ada yang meninggalkan beberapa orang anggotanya guna mengawasi hasil-hasil rompakan dan tawanan-tawanan yang ditangkap. Menurut G.W Earl, dua orang Cina dalam rombongannya ada yang sudah berusia lanjut dan merupakan pengisap candu yang berat, meskipun sudah dilarang untuk menghisap dalam kapal. Selama dua hari mereka sangat sedih dan nampak sangat lemah bahkan hampir-hampir Earl ingin melarang dua orang cina tesebut untuk tidak menghisap madu. Namun di hari ke tiga, kedua orang tersebut nampak lebih segar dan Earl baru tahu bahwa cara menghisap candu mereka sudah diganti dengan mengunyah candu tersebut. Nampaknya kebiasaan menghisap candu tak dapat dihilangkan, apakah karena kebetulan mereka berdua Cina asli dan totok kelahiran Tiongkok, sedangkan kelima Cina lainnya kelahiran Malaka yang kebetulan dalam rombongan tersebut tak seorang pun punya kebiasaan menghisap candu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh Maret siang hari, Earl dan rombongannya melihat kepalauan Lamakutan. Kepulauan itulah yang mereka tuju. Tak lama kemudian pun mereka membuang jangkar dan hari pun sudah menjelang petang. Dari Lamakutan itulah Earl dan rombongan berharap, mudah-mudahan Sinkawan yang dituju semakin dekat. Keesokan harinya, disaat matahari mulai terbit, Earl beserta rombongan mulai turun ke darat menuju arah pantai dan teluk untuk memastikan apakah ada tanda-tanda kehidupan di pulau itu. Namun tak sedikitpun tanda-tanda kehidupan dan mahluk hidup, seperti manusia yang muncul. Tak ada pondok, perahu atau sesuatu yang menunjuk ke arah sana. Teluk yang didarati Earl tertutup hampir seluruhnya oleh gundukan tanah yang makin ke darat semakin meninggi. Waktu itu, Earl menggambarkan seolah olah mereka berada di sebuah danau di pedalaman dalam ketenangan air. Salah seorang Cina dan seorang tukang kayu Jawa yang katanya pernah berkunjung ke Sinkawan tak dapat memberikan informasi yang jelas di mana letak Sinkawan. Ketika rombongan Earl masuk ke muara dengan sekoci dan awak yang dipersenjatai, bersama dengan dua orang penterjemah untuk memastikan adanya kehidupan, namun tetap sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pendaratan yang dilakukan tidak ada hasil, keesokan harinya Earl beserta rombongannya kembali melanjutkan perjalanan kembali dan tetap menyusuri pantai untuk kemudian sampailah mereka pada sebuah muara sungai yang cukup besar. Earl memperkirakan jarak dari kapal berlabuh ke muara tersebut diperkirakan dekat, ternyata cukup jauh hampir dua mil. Ketika mereka memasuki muara dengan sekoci dan lengkap dengan anak buah kapal seperti pendaratan sebelumnya terasa sangat mengasyikkan. Tepian sungai yang dilalui tersebut terasa sangat sempit dengan dahan-dahan perpohonan di kanan kiri, seakan-akan saling berangkulan satu sama lainnya. Dua ekor buaya dengan panjang lebih kurang lima kaki yang sedang berbaring terkejut melewati sekoci mereka. Salah satu diantaranya langsung terjun ke sungai menerobos ke air dekat sekoci. Kira-kira seratus yard dari muara sungai, ketika Earl dam rombongan masuk dipasang barikade tonggak-tonggak kayu selebar sungai menahan perjalanan, namun di tengah-tengah terdapat ruang selebar hampir empat kaki memberikan ruang untuk dilalui. Merskipun demikian hampir diperlukan waktu setengah jam untuk lebih leluasa bagi sekoci untuk melewatinya. Tak berapa jauh, masih terlihat bekas-bekas brikade dengan tumpukan-tumpukan lumpur dan tanah menyerupai pertahanan di dalamnya. Dapat diduga bahwa di situlah tempat pertahanan untuk menghalangi masuknya orang atau pendatang asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, Ear berserta rombongan disambut beberapa ekor monyet berwarna sawo mateng. Monyet-monyet tersebut turun dari puncak pohon sambil berteriak memekakkan telinga. Semakin dicoba untuk dihalau, maka semakin lantang teriakan monyet tersebut. Setelah ke hulu sungai, kira-kira sejauh dua mil dijumpai sebuah pondok yang dihuni oleh dua orang Cina yang sedang memasak air laut untuk membuat garam. Mereka gempar kerena kemunculan Earl beserta rombongan yang tiba-tiba. Namun orang Cina tersebut kembali tenang setelah mendapatkan penjelasan penterjemah yang ikut serta. Dua Cina tersebut akhirnya menjelaskan bahwa sungai yang dilalui tersebut bernama Songy Ryah, dan Sinkawan yang dituju menurut mereka masih lima belas mil menyusuri pantai untuk kemudian masuk ke muara sungai serupa dengan Songy Ryah. Kata Cina tersebut, Sinkawan terletak di tepian sungai membelakangi gunung dan menghadap ke laut.Setelah mendapatkan penjelasan dua orang Cina pembuat garam di Sungy Ryah, G. W Earl kembali melanjutkan perjalanan. Saat kembali menghilir menuju pantai, monyet-monyet yang menyambut kedatangan mereka masih saja mengikuti sambil menjerit-menjerit. Karena tak dapat menahan kegeraman, Earl kemudian melepaskan tembakan dan mengenai salah satu dari gerombolan. Monyet itu jatuh terjerembab di atas tanah. Pengikut kera yang lainnya kemudian berhamburan meluncur dari atas dahan dan penuh tanda tanya akan peristiwa yang menimpa kawannya. Pekikan monyet itu akhirnya berhenti, sebagian kecil masih tetap mengikuti rombongan, meskipun dari jarak yang agak jauh dan lebih tinggi di atas pohon dengan lompatan dari dahan ke dahan dengan cekatan. Setibanya di atas kapal, Earl kembali mengangkat jangkar untuk berangkat menyusuri pantai ke utara. Rupanya, selama Earl melakukan penyelidikan pantai, para anak buahnya yang tinggal menghabiskan waktu untuk menangkap ikan. Walau hanya dengan menggunakan pancing, hasil tangkapan yang diperoleh begitu banyak. Ikan ikan tersebut bernama ikan Dori. Konon, jenis ikan tersebut berasal dari sebuah sungai yang disebut Sungy Dori yang terletak tidak jauh dari tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir petang, Earl beserta rombongan memasuki sebuah selat yang sempit antara Tanjung Batublatt dan sebuah pulau yang terdekat dengan pulau Lamakutan. Sebuah deretan batu-batuan berbentuk spiral yang tingginya antara sepuluh hingga dua puluh kaki berangkai sambung menyambung sepanjang pantai di kaki bukit. Earl mengatakan, sangatlah mustahil dan kurang tepat bila dilihat dari bentuknya yang sistematis dan indahnya batu itu disebabkan oleh benturan gelombang laut. Setelah melalui pantai, nampak menurun landai ke arah belantara yang seakan-akan menyelimutinya. Di sisi sebuah bukit yang kelihatan dari kejauhan seperti diurus dan diolah secara rapi dan bertingkat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang senja hari, Earl beserta rombongan mendekati sebuah muara sungai yang diperkirakan itulah sengai Sinkawan, seperti yang diceritakan dua Cina yang berada di Sungy Ryah. Earl kemudian memerintahkan anak buahnya membuang jangkar di pantai yang berjarak kira-kira empat mil dari muara. Pembuangan jangkar tersebut dilakukan karena kedangkalan air yang tidak memungkinkan kapal untuk merapat lagi. Keesokan harinya, Earl beserta rombongan baru memutuskan turun dengan sekoci. Saat itu fajar telah menampakkan diri dari ufuk timur. Perjalanan Earl bersama rombongan menuju sungai dihalangi kabut. Sementara semakin mendekat ke sungai, air pun semakin dangkal. Earl terpaksa berhenti mendayung sambil menunggu kabut yang sudah mulai menipis, sehingga memungkinkan muara sungai dapat dilihat dengan jelas.Berselang beberapa menit, dari kejauhan terdengar suara dari kelompok orang pada jarak kira-kira seratus yard. Salah seorang diantaranya melantunkan sebauh lagu Melayu berlirik pantun. Karenanya Earl menduga orang-orang tersebut merupakan orang Melayu yang menggemari pantu-pantun. Dan duagaan Earl tersebut terbukti dan benar. Begitu kabut menipis, jelas nampak dari kejauhan di muara sungai dua buh perahu perang besar. Dengan melihat perahu-perahu tersebut, rombongan Earl segera memukul gong secara bertalu-talu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula Earl mengaku merasa was-was dengan kedatangan dua kapal tersebut. Namun perasaan itu hilang karena pada saat itu perahu nampak mengibarkan bendera Belanda dan panji-panji yang menerangkan bahwa mereka adalah perahu-perahu penjelajah Belanda. Setelah berhadapan, Earl mengaku baru mengetahui bahwa dalam kapal sebesar itu tidak ada seorangpun yang berkebangsaan Eropa, namun sebagai komandannya adalah seorang keturunan Melayu. Menurut komandan perahu besar terebut, mereka diutus Residen Sambas untuk memberitahukan kepada romobongan Earl agar mau membatalkan kunjungannya. Dengan alasan, orang-orang Cina yang ada di Sinkawan sangat antipati terhadap orang asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun penjelasan utusan Residen Sambas tidak membuat niat Earl berubah. Earl tetap berkeras hati untuk tetap menjalin hubungan dagang. Dengan sikap Earl tersebut membuat utusan Residen melunak. Dan mereka menawarkan diri untuk ikut bersama Earl. Earl kemudian mempersilahkan para utusan tersebut duduk dalam sekoci. Sebuah perahu milik utusan mengikuti dari belangkang sekoci tersebut.Earl memperkirakan lebar sungai yang dilaluinya sekitar lima belas yard dengan kedua tepinya tertutup oleh hutan-hutan yang tebal serupa dengan Sungy Ryah. Pepohonan penuh dengan kera. Setelah mengarungi sungai kira-kira tiga mil, sampailah Earl di Sinkawan untuk segera menuju ke rumah pemimpin-pemimpin mereka yang disebut Kung Se. saat itu rumah Kung Se hanya ditunggui oleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Laki-laki itu kemudian segera pergi berangkat ke pusat kota untuk memberitahukan kepada Kung Se tentang kedatangan Earl dan rombongan. Tidak lama kemudian, datanglah tiga orang Kung Se diikuti oleh sebagian besar penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Earl beserta rombongan kemudian dipersilahkan masuk untuk mengambil tempat di sebuah kursi besar. Sedangkan Kung Se dan kedua penterjemah duduk dikursi berhadapan dengan Earl. Perbincangan itu disaksikan sebuah patung dewa yang menduduki tempat di ujung bagian atas dari ruangan. Earl kemudian langsung mengutarakan maksud kunjungan serta ingin mengetahui apakah ada keinginan di pihak mereka untuk membuka hubungan dagang. Selain Earl dan para Kung Se, pada ruangan besar tesebut juga dipenuhi orang-orang Cina yang masing-masing merasa berhak untuk berbicara dan mengutarakan pendapatnya dalam diskusi, serta berusaha untuk saling melebihi dalam memperdengarkan suara. Akhirnya Earl merasa pertanyaan yang diutarakannya tentang hubungan dagang menjadi semakin hiruk pikuk. Akhirnya, untuk menunggu jawaban dari para Kung Se, Earl memutuskan untuk bergembira melepaskan diri dengan alasan untuk melihat-lihat kota. Ketika keluar dari rumah Kung Se, Earl memperhatikan komandan dari perahu penjelajah beserta pengikutnya yang semula juga ikut hadir sudah mulai meninggalkan pertemuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pengamatan G. Earl, pada tahun 1834, Kota Sinkawan hanya terdiri dari sebuah jalan dengan rumah-rumah kayu yang rendah. Ruanga depan dipergunakan sebagai warung tempat berjualan gandum, daging, barang-barang makanan dan minuman, atau ruangan-ruangan yang disediakan untuk menghisap candu. Rumah Kung Se sendiri terpisah dari kota, terdiri dari sebuah ruangan yang luas untuk transaksi urusan umum dan perniagaan, serta beberapa ruangan yang lebih kecil untuk keluarga dan Kung Se sendiri. Kediaman Kung Se dilingkari oleh dinding tanah dengan halamn berumput yang bersih. Sebuah gerbang menghadap ke kota yang didekatnya ditempatkan meriam-meriam putar, yang masing-masing dapat memuntahkan peluru seberat satu pound.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduknya hampir keseluruhan China, terkecuali beberapa orang melayu. Saat itu kota hampir kosong dari laki-laki karena semua pergi ke kediaman Kung Se dan sementara itu toko atau warung hanya dijaga oleh perempuan yang sebagian besar orang China. Meskipun Dayak merupakan mayoritas penduduk asli pulau Borneo, namun kebanyakan bertempat tinggal di pedalaman. Perempuan-perempuan Dayak hanya satu dua yang tinggal di Kota Sinkawan dan nampak agak heran melihat orang-orang Eropa. Mungkin satu dua orang yang pernah melihat namun karena sifat pemalunya barangkali yang menyebabkan tak dapat menyembunyikan keheranan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa diantaranya tampak cantik dan manis serta penuh daya pikat, meskipun ditempatkan di Eropa sekalipun. Raut muka perempuan Dayak mirip dengan Melayu, namun kebanyakan lebih terang warna kulitnya, bahkan banyak yang lebih bersih dari perempuan-perempuan China. Sedang beberapa diantaranya dengan muka kemerahan diterpa matahari sehingga lebih manis. Earl mengaku belum pernah melihat suku-suku lain yang mempunyai perempuan secantik dan semanis Dayak. Hanya dua orang lelaki Dayak yang dijumpai Earl, dan salah seorang darinya dapat berbahasa Melayu. Ketika Earl mengajukan pertanyaan, Earl tidak berhasil medapatkan jawaban sepatah kata pun. &lt;br /&gt;Sebelum bertemua dengan Dayak, Earl hanya mendengar bahwa orang Dayak merupakan orang terasing, keras, serta kejam. Namun ketika berjumpa di Sinkawan, Earl sangat terkejut karena Dayak tersebut begitu sopan dan menarik dalam pembawaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan pengamatan. Earl kembali ke rumah Kung Se. Ia disambut dengan tembakan meriam tiga kali, sedangkan kemunculan Earl secara mendadak pertama kali tak memungkinkan mereka berbuat serupa. Masih juga terdengar pembicaraan mereka yang sangat bising tetapi segera berhenti dan terdiam ketika Earl memasuki ruangan. Kung Se kemudian mempersilahkan duduk di kursi besar di hadapannya. Kelihatan bagaimana sulitnya Kung Se memulai pembicaraan dan sekarang barulah jelas bahwa Belanda yang berkuasa penuh dilautan saat itu memblokade semua wilayah pantai dengan efisien. Belanda melarang semua hubungan niaga dengan dunia luar. Khususnya China dilarang untuk berhubungan dengan siapapun terkecuali bila melalui kedudukan mereka di Pontianak atau Sambas. Itu sebabnya Kung Se ragu-ragu untuk membuka pelabuhan karena takut dianggap melanggar peraturan tersebut. Sebenarnya mereka khawatir juga bila hubungan dagang tersebut tidak Aarl lanjutkan karena memang sudah lama didambakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kung Se mengharapkan dengan sangat agar Earl menunggu sampai mereka berhubungan dengan Gubernur China yang bermukim di Monterado sebagai ibu negeri. Letak ibu negeri tersebut terletak sejauh kira-kira tiga puluh lima mil perjalanan yang berakibat bagi Earl tertundanya masalah itu paling sedikit empat hari. Karena keinginan para Kung Se, Earl pun berketetapan untuk ke Sambas dan berusaha untuk membereskan persoalan itu dengan Residen Belanda yang ada di sana. Earl beserta rombongan meninggalkan rumah Kung Se. kepergian mereka diiringi banyak penduduk. Earl menuju sekoci dan ia diharapkan oleh penduduk agar dapat cepat kembali ke Sinkawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di muara, kedalaman air menginjinkan Earl beserta rombongan untuk meneruskan perjalanan ke kapal, dan terpaksa Earl menambatkan pada salah satu dari perahu jelajah sampai air pasang tiba. Salah satu dari perahu-perahu kecil tidak nampak, kemungkinan telah dikirim ke Sambas utuk melaporkan kedatangan Earl di pantai kepada Residen. Sore hari, Earl berserta rombongan tiba di kapal dan setelah sauh diangkat rombongan dengan kapal Stamford tersebut bertolak ke arah muara sungai Sambas yang terletak kurang lebih dua puluh lima mil sebelah utara Sinkawan. Kira-kira pukul tujuh malam, Earl melintasi sungai Slaku yang ditepinya berada kota Slaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun yang lalu, kota ini pernah mengalami kemajuan perniagaan yang cukup baik namun berakhir dengan adanya serangan malam mendadak oleh suku Dayak, dan hampir sebagian besar penduduknya tewas. Pada tengah malam, Earl tiba di muara sungai Sambas kurang lebih enam mil dari daratan, pada kedalaman lima depa sauh diturunkan. Dua belas Maret 1834 keesokan harinya, pada siang hari Earl turun ke Sekoci bersama dengan seorang kerani (juru tulis) China dan empat orang menuju Sambas dengan maksud untuk membereskan masalah tugas dengan residen Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran sungai Sambas luar biasa besar dan Earl yakin atas prospek negeri tersebut dengan perairan yang begitu bernilai. Sesudah memasuki sungai itu, suatu jangkauan yang lurus terbentang di hadapannya selebar tiga mil yang seakan merupakan suatu terusan antara daratan. Sedangkan panjangnya tak mungkin diukur dengan pandangan mata. Tepi-tepi sungai tertutup oleh batang-batang kayu yang rimbun dan tak satu pun rumah kelihatan. Tidak sejengkal tanah pun yang sudah diolah, bahkan tidak seekor hewan pun yang kelihatan dapat mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian. Suatu keheningan yang mencekam suasana, kecuali hanya bunyi dayung sekoci.Di kala senja, Earl terbangun dalam suasana yang terasa tidak menggembirakan. Malam mulai turun, sedangkan masih harus dicapai jarak sejauh dua puluh mil untuk sampai di kediaman penduduk, belum lagi mereka harus berbelok memasuki anak sungai sejauh empat belas mil dari muara. Ketika di Sinkawan hanya di beri petunjuk secara umum oleh penduduk Melayu tentang Rute yang harus di tempuh karena kemungkinan untuk tersesat dapat saja terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sepuluh malam, rombongan Earl memesuki sebatang anak sungai yang lebarnya lebih kurang seratus yard, dan diperkirakan Sambas terletak di tepi sungai tersebut. Belum sampai satu mil memasuki sungai, tiba-tiba mereka mendengar suara perahu yang mendekat. Dari suara dayung yang ramai, mereka yakin perahu itu berawak banyak. Sebagai lazimnya sungai-sungai besar seperti ini setiap orang yang di jumpai dianggap musuh. Mereka segera berhenti mendayung serta cepat meluncur dibawah bayangan di tepi sungai. Perahu yang tak dikenal itu tetap melaju ke hilir di tengah sungai yang deras. Selanjutnya Dalam perjalanan tak ada hal-hal yang istimewa yang mengganggu, selain binatang-binatang besar tatkala melintas di tepi sungai. Dari suara yg aneh dan khas, anak buah Earl menyimpulkan suara itu suara orang utan. Apapun ia yang pasti memiliki kekuatan yng besar dan tenaga lur biasa. Sebatang pohon di tepi sungai dengan mudah diobrak-abriknya sehingga porak poranda. Untuk saat itu masih tredengar suara dengusnya namun tidak mengikuti kepergian mereka. &lt;br /&gt;Esok harinya ketika fajar menyingsing Earl tiba di Sambas. Rasa senang,lega dan puas meliputi seluruh anggota rombongan. Meskipun secara non stop berdayung hampir selama tujuh belas jam namun tidak terasa lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di kota Sambas, Earl segera menjumpai tuan Rumswinkle, residen Belanda di kota itu. Dijelaskan olehnya bahwa peraturan dan ketentuan pemerintah Belanda di Batavia tak mengijinkan Earl untuk mengadakan hubungan dagang dengan Cina di wilayah Sinkawan. Namun menurut residen ia akan berusaha membantu sedapat mungkin asal kapal Stamford dibawa ke Sambas. Saat itu pelabuhan Sambas baru saja dibuka untuk semua kapal dengan bendera apapun. Untuk itulah maka Earl menugaskan kerani Cina untuk mengadakan survey dan penelitian yang mendalam tentang keadaan pasar. Ternyata sekembalinya ia memberikan laporan yang sangat positif dan prospek yang penuh harapan sehingga Earl memutuskan putuskan untuk membawa kapal Stamford ke Sambas.Jam enam petang, Earl meninggalkan Sambas dengan sebuah Yacht kecil milik tuan Rumswinkle. Tiba di muara sungai petang harinya tanggal 12 Maret. Baru keesokan harinya mereka menyusuri sungai Sambas dan bermalam di muara anak sungai. Keesokan harinya lagi, baru perjalanan di lanjutkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan nampak dedaunan di tepi sungai yang berjarak pandang kira-kira lima puluh yard bergerak-gerak secara teratus. Ternyata beberapa buah kano kecil dengan sejuamlah orang didalamnya mencoba menyembunyikan diri. Rupanya mereka adalah suku Dayak yang kadang-kdang turun ke hilir untuk menangkap ikan. Dua diantaranya berhasil diyakinkan dan dibujuk untuk naik ke papal. Dari gerak gerik mereka, Earl berkesimpulan mereka belum pernah bertemu dengan orang Barat tetapi sikap perilaku mereka sangat sopan dan tertib. Saat mereka akan kembali ke kano, Earl bekali masing-masing dengan tembakau yang sangat mereka gemari. Sepatah dua patah bahasa Melayu mereka ucapkan.Tatkala tuan Rumswinkil menyusul mereka dari Sambas, menyatakan bahwa Earl sangat beruntung dapat bertemu dengan mereka karena ia pun belum pernah bertemu dengan suku Dyak dalam jumlah kecil dan secara bebas jauh menghilir ke sungai dengan kano-kano mereka dalam ukuran panjang kurang lebih sepuluh kaki. Terbuat dari hanya satu batang kayu dan hanya digunakan untuk melintasi aliran sungai yang deras di pedalaman.(Bersambung....)       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-6718575499125763134?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/6718575499125763134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=6718575499125763134&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/6718575499125763134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/6718575499125763134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/07/estern-seas-catatan-perjalanan-george.html' title='THE ESTERN SEAS'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-2773107562540515372</id><published>2009-07-17T01:50:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T21:17:22.524-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Madura'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Landak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rantau Panjang'/><title type='text'>Risalah Generasi Pak Sakera di Rantau Panjang</title><content type='html'>Saat itu masih pagi buta. Ayam saja baru berkokok beberapa kali ketika warga Kampung Rantau Panjang dikejutkan suara tiang listrik dipukul bertalu-talu oleh warga Kampung Sei Layang,  kampung tetangga.Warga panik, terutama anak-anak dan wanita. Beberapa lari ke jalan. Ada juga yang menerabas semak-semak, masuk hutan karena mengira musuh telah menyerang.  Warga lainnya membalas isyarat tersebut dengan memukul tiang listrik juga. Tapi pak Haji Jasuli cuek saja. Ia mencangklong todi’ dan berangkat ke kebun karet untuk menoreh. Dalam bahasa Madura, todi berarti pisau untuk menyadap pohon karet. Jasuli adalah  migran gelombang kedua yang tiba di Rantau Panjang, tahun 1971 silam. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma warga Rantau Panjang dan Sei Layang yang geger, warga kampung sebelahnya yaitu Sei Pogok pun turut gemetar.  Di tengah kekacauan itu, seorang lelaki tergopoh-gopoh menyusul Supandi. ”Eh.., Bisa ndak? Kalau tidak, pengantinnya saja yang ikut ke sana,”  teriak lelaki itu. Namanya Sarmawi, utusan pengantin wanita dari Penepat. Dia juga adalah paman Samsiah, calon istri Supandi. Yang menjawab justru Haji Tiyap, ayah Supandi. “Bisa”. Mereka bicara dalam bahasa madura. &lt;br /&gt;Haji Tiyap adalah orang terpandang di Rantau Panjang, generasi gelombang migran pertama yang tiba 1951. Nama aslinya adalah Yusuf, kelahiran Jawa Timur tahun 1934. Tiyap ke Kalimantan Barat naik Kapal Barang milik orang Bugis, untuk mengadu nasib, meninggalkan anak dan istrinya di Madura. Tahun 1980 dia menjadi Kepala Desa Rantau Panjang, menggantikan Haji Usu’.  Haji Usu’ orang Bugis. Warga mengenalnya sebagai tokoh yang berilmu tinggi dan berjiwa sosial. Dia tak segan-segan merogoh koceknya sendiri untuk kepentingan warga. Tahun 1995, dia menjual 6 ekor sapinya untuk mendirikan Madrasah. Sekolah tersebut setingkat Sekolah Dasar. Hati Tiyap terenyuh kala melihat anak-anak Rantau Panjang tak mengecap pendidikan. &lt;br /&gt;Supandi adalah anak angkat Tiyap dengan Misrani. Sebab Tiyap memiliki 3 istri. Dengan Misrani ia memiliki 3 anak, yakni Suminten, Suhar dan Nasuha.  Suhar kini tinggal di Madura.  Meski Supandi cuma anak angkat, tapi Tiyap sangat menyayanginya. Barangkali karena Tiyap tak memiliki anak lelaki. Ayah kandung Supandi sebenarnya bernama Saleh, tetapi sudah meninggalkannya sejak masih dalam kandungan Asma, sang ibu.  Asma lantas menikah lagi dengan seorang pedang keliling asal Sambas yang juga bernama Saleh.  Tiyap menikahkan Asma dan Saleh dengan perjanjian setelah sang bocah dilahirkan akan diberikan kepadanya. Tepat saat berumur 7 bulan,  Supandi kecil resmi diangkat Tiyap sebagai anak.&lt;br /&gt;Meski cuma menamatkan sekolah sampai SMA di Madrasah Aliah Swasta (MAS) Tarbiyatul Islamiyah Rantau Panjang, lantaran nama besar ayahnya Supandi muda disenangi dan disegani warga. Ia hidup berkecukupan dan banyak kawan.  Kerjanya keluar-masuk kampung dengan speedboat ayahnya. Tiap-tiap kampung dalam kawasan Kuala Mandor B, hingga sepanjang sungai Landak ada saja kenalan dan teman supandi. Hari itu kerusuhan etnik Dayak-Madura pecah di sejumlah daerah di Kalimantan Barat. Tapi di hari yang sama Supandi harus segera menikah. Haji Tiyap yang menetapkan tanggalnya! Mak comblangnya adalah Sunah, sepupu Supandi. Samsiah adalah gadis cantik yang menurut Sunah cocok untuk Supandi.&lt;br /&gt;  Meski kepanikan melanda, Supandi harus berangkat ke Penepat, ke rumah pengantin wanita. Dari Pangkalan Parit Baru, dia diiringi 2 unit speedboat berkekuatan mesin 3 PK milik Haji Kholil. Rombongan berjumlah 20 orang. Para penumpang tegang, kuatir serangan benar-benar terjadi. Bukan orang madura jika tak punya sikap Bangalan (pemberani) dan tak takut addhu ada’ (beradu muka). Karenanya tiap-tiap orang hari itu menenteng senjata tajam, untuk berjaga-jaga. Paling banyak dibawa tentu saja celurit, senjata khas Madura. Tapi Supandi cuma sempat menyelipkan belati di punggungnya. Dari pangkalan, speedboat dipacu Besdi dan Supandi menuju Penepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIR Desember 1996 memang terjadi kerusuhan etnik dipicu peristiwa perkelahian antar pemuda di Sanggau Ledo.  Pada waktu itu Yakundus dan Akim ditusuk Bakri. Bakri beraksi bersama 4 orang kawannya. Akibat peristiwa tersebut terjadi kerusuhan antara etnis Dayak dengan Madura di Kabupaten Sambas. Yakundus dan Akim orang Dayak, sedangkan Bakri Madura.Kerusuhan Sanggau Ledo sebenarnya mulai mereda, tapi meledak lagi dalam skala yang lebih luas menyusul penyerangan terhadap kompleks persekolahan SLTP-SMU Asisi di Siantan, Pontianak Utara. Dalam peristiwa itu dua gadis Dayak asal Jangkang, Kabupaten Sanggau terluka. &lt;br /&gt;Hanya dalam jarak beberapa hari Nyangkot, warga Dayak dari Tebas, Kabupaten Sambas terbunuh di Peniraman Januari 1997. Setelah kedua peristiwa tersebut terjadi, pertikaian etnis  Dayak-Madura terus meluas. Terutama karena yang menjadi korban terdiri dari berbagai sub etnis Dayak yang ada di Kalimantan Barat. Kerusuhan terus meluas hingga ke Kotamadya Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sambas dan kabupaten Sanggau. Hanya Kabupaten Sintang, Ketapang dan Kapuas Hulu yang tidak terlibat konflik, karena memang di tiga Kabupaten tersebut jumlah orang Madura tidak begitu banyak.  Konflik pada tahun 1997 merupakan konflik yang terbesar dalam sejarah konflik antar etnis di Kalimantan Barat dengan korban kurang lebih 500 orang. Sebagian besar orang Madura.&lt;br /&gt; Secara administratif kala itu Rantau Panjang masih termasuk Kecamatan Sebangki, bersama 4 Desa lainnya. Tahun 2000 Kecamatan Penghubung Sambeh atau Sambih resmi menjadi kecamatan definitif dengan nama Kecamatan Sebangki bergabung dengan 9 kecamatan lainnya di Kabupaten Landak. Luas kecamatan ini adalah 885,60 Km2 atau sekitar 88.560 hektar. Ibukota Kecamatan terletak dipinggir Sungai Samih. Jarak kecamatan ini dengan ibukota kabupaten di Ngabang sekitar 80 Km dapat ditempuh dengan jalan darat menuju Simpang Aur Sampuk-Senakin. &lt;br /&gt;Sedangkan Penepat adalah wilayah Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Pontianak. Namun sejak pemekaran 2007 lalu, kawasan ini telah jadi bagian kabupaten Kubu Raya. Karena itu Rantau Panjang juga tak luput dari imbas kerusuhan etnik tersebut. Namun hingga sekarang kerusuhan etnik tidak pernah pecah di kampung itu.  Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, Supandi dan rombongan akhirnya tiba dengan selamat di Penepat. Perasaannya sudah tak karuan ketika itu. Di Pangkalan, mereka jemput 7 personil Tentara Indonesia (TNI) dari KODAM VI Tanjungpura Balikpapan yang sedang bertugas disana. Meruta Supandi yang meminta ke-7 tentara itu menjemput rombongan. &lt;br /&gt;Menurut Supandi, yang membuat warga tambah geger di kampungnya adalah informasi yang disampaikan juragan motor air jurusan Pontianak-Kumpang bernama (nama disamarkan) dari Kampung Kumpang. “Ada serangan Dayak” katanya menirukan ucapan sopir kepada para penumang motornya. Supandi hanya 15 hari di rumah keluarga Samsiah di Penepat. Ia pulang lantaran Tiyap sudah menyiapkan pesta penyambutan dan resepsi di Rantau Panjang. Lagi-lagi kata Supandi, sopir, menyebarkan isu kalau Tiyap selamatan besar untuk persiapan menyerang orang Dayak di Sebangki. Informasi itu membuat  warga Dayak Sebangki dan sekitarnya bersiap-siap bertempur. Tiga hari berikutnya Saujah (Saulan) dikawal 3 lelaki menjemput Supandi untuk dibawa ke Penepat. Saujah yang akrab dipanggil Saulan adalah bibi Supandi. “Hari itu, seluruh warga kampung berjaga-jaga. Perempuan dan anak-anak, menginap di rumah Tiyap. Sebagian lagi mengungsi ke Pontianak. &lt;br /&gt;Hanya Sarbit, salah seorang warga yang ogah ikut mengungsi. Ia percaya orang Dayak tidak akan menyerang dan membunuh warga kampungnya. “Kami sering bertemu orang Darat, mereka datang kesini untuk berburu babi di hutan. Teman saya banyak orang Darat,” katanya. Orang darat yang dimaksud Sarbit adalah orang Dayak. Supandi tak hanya berhasil menikah dengan selamat. Tahun 2001, dia terpilih sebagai Kepala Desa Rantau Panjang dan pada pemilihan Kepala Desa tahun 2008, ia terpilih kembali. Pemuda Madura ini masih menjabat hingga sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUPANDI bilang,  Rantau Panjang diambil dari nama tikungan atau tanjung sungai yang cukup panjang. Sebab tanjung itu melebihi tikungan yang ada di sungai Landak. Di sekitar Rantau Panjang terdapat beberapa kampung yang saling berbatasan lansung. Antara lain Kuala Mandor, Rantau Panjang Kecil, Sungai Gatal, Sungai Jawi, Sungai Pogok, Parit Baru, Kampung Tengah, Tanjung Kepala Dua, Setoket, Kuala Sambeh, Teluk Bakong, Menanik, Teluk Biong dan Krueng.  &lt;br /&gt;Kampung Rantau Panjang dikelilingi dua sungai, yaitu Sungai Landak dan Sungai Mandor. Dari dua sungai ini masih mempunyai  beberapa anak sungai lagi, yaitu Sungai Gatal, Sungai Jawi, Sungai Pogok dan Sungai Sambeh.  Sungai terbesar diantara anak-anak sungai ini adalah Sungai Sambih. Sungai ini menjadi satu-satunya jalur transportasi ke ibukota kecamatan Sebangki. Jarak pusat kampung dari tepi Sungai Mandor hanya sekitar 400 meter. Tapi jika dari pangkalan Siong Kim, jaraknya sekitar 2 Km. Di Pangkalan itu hanya ada dua rumah yang sekaligus berfungsi sebagai toko,  gudang sekaligus steigher motor air menuju Kubu Padi dan Retok. Terakhir kali direhab tahun 2005. &lt;br /&gt;Mula-mula jalan utama hanya terdiri dari timbunan tanah galian. Tapi sekitar 1 km sudah di semen warga kampung secara swadaya sejak sejak tahun 2003. Masing-masing menyumbang sesuai kemampuan. Lebarnya pas-pas untuk sepeda motor lewat, sekitar 50 cm saja. Bagi yang pertama kali lewat dengan sepeda motor, pasti rasanya seperti main akrobat. Jika Anda naik motor air dari Pontianak, untuk tiba di Rantau panjang bisa memakan waktu 7 jam. Tapi naik speedboat tentu saja lebih cepat, yaitu cuma butuh waktu satu jam 30 menit. Boleh juga lewat jalur darat, yaitu naik ojek dari Aur Sampuk Desa Senakin Kecamatan Sengah Temila. Dari Pontianak ke Simpang Aur Sampuk cuma dibutuhkan 3 jam perjalanan naik sepeda motor. Nah, Simpang Aur ke Sebangki tinggal 40 Km lagi.  &lt;br /&gt;Studi Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara (YPPN) tahun 2004 memetakan wilayah kecamatan Sebangki terdiri atas dataran rendah dan berbukit. Bukit yang terkenal di kecamatan ini adalah Bukit Cempaka. Tak jarang wilayah di sekitar terendam air saat banjir. Sebagian permukiman masyarakat kecamatan ini  terletak di dataran rendah seperti Desa Sungai Segak dan Desa Rantau Panjang.  Sedangkan Desa Agak, Desa Sebangki dan Desa Kumpang Tengah umumnya terletak didataran tinggi. &lt;br /&gt; Tahun 2006 lalu penduduk Kecamatan Sebangki mencapai 14.603 jiwa dengan luas wilayah kecamatan 885,60 Km2. Secara administratif kecamatan ini terdiri dari 5 buah desa dengan 27 Dusun. Penyebaran penduduk tidak merata. Penduduk terbesar ada di 3 desa, yaitu: Desa Kumpang Tengah, Desa Sei.Segak dan Desa Rantau Panjang. Sedangkan 2 desa lainnya yakni Desa Agak dan Desa Sebangki relatif sedikit penduduknya. Menariknya,  desa-desa disana tersegregasi oleh etnik. Rantau panjang berada di pesisir Kabupaten Landak yang berbatasan dengan Kabupaten Kubu Raya. ”Sepertinya ada pembagian kelompok etnik berdasarkan desa”  komentar Paulus suatu hari. Paulus adalah Aktivis Yayasan Pangingu Binua (YPB) yang kerab bolak balik ke Rantau Panjang sejak tahun 2004. Desa Sebangki terdiri dari 5 Dusun. 3 Dusun umumnya didominasi etnik Dayak  dan 2 dusun lainnya Melayu. Di Desa Agak, dari 8 dusun seluruhnya didominasi oleh etnik Dayak. Demikian pula halnya dengan Desa Kumpang Tengah, dari 5 buah dusun semuanya didominasi oleh etnik Dayak. Berbeda dengan 3 desa di atas, Desa Rantau Panjang dan Desa Sei Segak,  paling banyak etnik Madura.   &lt;br /&gt;Umar Noyo menceritakan beberapa tahun terakhir sungai sekiar sudah keruh tidak sehat. Ikan-ikan dan udang semakin sukar ditangkap.”Ini akibat penambangan emas di hulu Sungai Mandor,” ujarnya suatu hari dengan wajah murung. Umar adalah pernah menjadi penyiar Radio komunitas di kampung itu. Radio tersebut dibangun sejak 2005 berkat dukungan YPPN yang dibantu Yayasan Tifa Jakarta. &lt;br /&gt; Umar Noyo dan Supandi sama-sama alumni  Madrasah Ibtidaiyah Tabiyatul Islamiyah Rantau Panjang. Sekitar tahun 1962, Ustad Maksudi, datang memberi pendidikan dan mengajar ilmu agama di Rantau Panjang.  Empat tahun Dia menetap, tapi tahun 1968 sang ustad kembali ke Pontianak. Untunglah segera datang M. Zamachsyari, tokoh agama dari pulau Jawa mengisi kekosongan.  Zamachsyari menikah dengan anak Mbah Mahat. Sekitar tahun 1980-an menantu Mahat ini mendirikan yayasan Madrasah yang mengajarkan pendidikan agama. Tahun 1984 sekolah itu mulai mengajar pendidikan umum, setara dengan SD yang dibina langsung oleh Zamachsyari.   ”Waktu itu sedikit sekali yang berpendidikan umum,” kata Noyo. &lt;br /&gt;Kebanyakan teman-temannya menimba ilmu di pesantren. Ada yang dikirim orang tuanya ke pesantren di Pulau Madura. Kini generasi Rantau Panjang bahkan sudah menjadi mahasiswa di Universitas Sekolah Tinggi Ilmu Agama Negeri Pontianak dan Universitas Muhammadiyah Pontianak. Setelah  SD yang dibangun secara swadaya itu cukup maju, dibangun lagi sebuah  Madrasah Tsanawiyah (MTs), setara dengan SLTP.  Kemudian dibuka lagi Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS). Kini  MIS tersebut sudah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN). Sekolah ini satu-satunya Madrasyah Ibtidaiyah Negeri yang ada di Kabupaten Landak.  Noyo bersyukur sekarang banyak anak-anak dimapungnya mengecap bangku sekolah. Tapi hidup terjepit di antara parit bukanlah hal yang mudah. Sayur sawi, kacang, ikan libis, sambal ikan teri, telur, sebagian besar harus didatangkan dari Pontianak. Padahal ongkosnya sangat tinggi. Sekali berangkat Rp 100 ribu melayang dari kocek. ”Uang sebesar itu biasanya habis untuk ongkos tambang.”  Tambang adalah sejenis taxi air yang banyak mondar-mandir di sepanjang Sungai Mandor atau Sungai Landak. Tanah Rantau Panjang payah. Sukar untuk menanam sayur, karena tanahnya asam dan sebagian besar gambut. Tak heran bila Sekitar tahun  1984 generasi muda kampung mulai enggan bertani. Booming industri kayu di Kalimantan  Barat membuat mereka tergiur menjadi buruh dan meninggalkan kampung.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SARBIT adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Dia  lahir tahun 1938 di Kampung Tolang,  Sampang, Jawa Timur. Ayahnya bernama Saniman sedangkan ibu bernama Sabina. “Waktu itu masih jaman kolonial Belanda, penduduk kampung dipaksa untuk menanam jagung, padi dan ubi untuk keperluan perang,” kenang Sarbit. Di Rantau Panjang ia dikenal dengan nama Haji Jasuli. Sarbit adalah generasi gelombang kedua yang tiba di Rantau Panjang. Dia mengenang perjuangannya tiba di Rantau Panjang dengan air mata berlinang. “Setelah panen, semua hasil harus disetor ke tentara. Untuk makan, penduduk menyembunyikan padi dalam tahi sapi atau tahi kuda,” katanya membuka kisah. &lt;br /&gt;Kampung Tolang  dipimpin seorang Klebon bernama Satawi. Kelebon dalam bahasa Madura artinya Kepala Desa. Umumnya penduduk kampung beragama Islam. Mereka sangat miskin dan hidup dalam tekanan. Salah satu tempat yang terkenal di kampung itu adalah Puju’ Matal, makam seorang ulama yang bernama Matal. Tempat kemudian dijadikan tempat keramat warga kampung.  Makam tersebut terletak di tengah-tengah kampung. Ke tempat inilah warga sering mengadu dan berdoa minta keselamatan dan perlindungan. Keluarga Sarbit juga sering datang kesana. &lt;br /&gt;Karena kesulitan hidup, Saniman memutuskan pergi mengadu nasib ke Kalimantan Barat bersama beberapa sahabatnya. Mereka berlayar menumpang kapal kayu. Tak terbilang penderitaan sang ayah saat menempuh badai lautan selama 40 hari sebelum tiba di Kalimantan Barat. Rombongan itu akhirnya terdampar di Mempawah, Kabupaten Pontianak sekarang.  Saniman menjadi petani jagung dan padi di Parit Banjar. Mereka menyewa tanah milik orang Bugis bernama Haji Derahem. &lt;br /&gt;Setahun kemudian sang Saniman meminta agar istrinya, serta Sarbit dan saudara-saudaranya menyusul.  Umur sarbit ketika itu baru 14 tahun. Matanya cekung, kurang gizi. Kulitnya seperti kulit orang Madura rata-rata, coklat dan kurus. Tapi ia cukup tinggi untuk remaja seusianya. Embun masih menetes dinihari itu ketika Sarbit, meninggalkan kampung bersama Sati, Busiran dan Sabina, ibunya. Sati adalah sepupu sekali Sarbit, sedangkan Busiran adalah adiknya. Mereka nekad berjalan kaki sekitar 2 jam menuju pasar Bring Koning, padahal di celana hitam pendek yang dipakai Sarbit cuma ada uang Rp 5. &lt;br /&gt;Baju hitam lengan pendek dan topi sapu’ (topi khas madura), tak mampu menghalau udara dingin yang menghabur dari pasar. Dari sana mereka menumpang dokar  menuju Tepiruk. Dalam bahasa Jawa artinya telaga biru. Mereka harus menanti kapal yang akan berangkat ke Kalimantan. Wajah Sabina berbinar setelah 6 hari menanti. Terbayang ia akan berkumpul kembali dengan sang suami. Akhirnya Kapal Jaya Murni, bertolak juga ke Kalimantan Barat. Jaya Murni hanyalah kapal kecil pengangkut barang yang terbuat dari kayu. Warnanya sudah kusam-masam. Lebar kapal 3 meter dengan panjang 10 meter. Ada sekitar 20 penumpang berjejal di dalamnya. &lt;br /&gt;Tak seperti kapal-kapal modern jaman sekarang, Jaya Murni tak memiliki mesin. Agar dapat berlayar, sepenuhnya mengandalkan angin dengan layar yang cukup lebar dan dapat diputar-putar. Juragan kapal adalah lelaki muda yang tabah. “Namanya Ilyas,” kenang Sarbit. Sarbit adalah remaja yang percaya diri.  Dia ingat pesan ayahnya.  ”Di laut, kamu hanya bertetangga dengan air dan langit. Berdoalah kepada Allah, serahkan dirimu pada-Nya”. Dia mengucapkannya lagi kalimat itu, seperti sebuah penggalan doa sebelum kapal bertolak ke laut lepas. &lt;br /&gt;Dua hari dua malam berlayar, tiba-tiba badai mengamuk. Kapal oleng dibanting-banting ombak. Dunia seakan berputar-putar. Tiang layar tengah kapal patah. “Allahuakbar!”. “Allahuakbar!” Para penumpang berteriak panik. Ilyas meminta penumpang berdzikir, mohon keselamatan. Eeh, Sarbit malah cuma cengegesan.  “Saya takut salah melafal doa karena situasi sedang panik”. Penumpang muntah-muntah, mabuk laut. Seluruh isi perut kapal berantakan. Ruap masam aroma muntah memenuhi kapal bercampur asin laut. Tak bisa lagi dibersihkan. Akibatnya mereka tidur pun beralas muntah. Sarbit tidur sambil duduk, terkadang melengkung mengikuti tekstur kapal. &lt;br /&gt;Mata Sarbit berkaca-kaca ketika menceritakan pengalamannya itu. Tak lama kemudian ia menangis sesenggukan. Wajah tuanya semakin keruh, guratan dahinya seakan bertambah dalam.  “Selama di Kapal kami tidur beralas jerami padi dan jagung. Kencing pun dalam kapal”. Hari ketujuh, kapal merapat di Parit Wan Salim, Siantan Pontianak. Penumpang seakan menemukan surga ketika tingkap kapal dibuka. Sarbit bersaudara dan ibunya menginap di rumah Saino, salah seorang pamannya. Seminggu kemudian barulah sang ayah datang menjemput. Sarbit hanya 2 tahun tinggal di rumah mereka di Parit Banjar.  Saniman kemudian bekerja sebagai juragan angkutan motor air jurusan Pontianak-Retok. &lt;br /&gt;Sarbit ikut sang ayah, menjadi kondektur motor air sekaligus mencari tempat baru untuk bermukin. Suatu kali ia singgah di Kampung Sungai Samak,  Teluk Dalam, Kecamatan Sungai Ambawang. Rupanya banyak warga Madura bekerja dan menetap di sana. Sarbit memutuskan tinggal dan bekerja sebagai penoreh getah karet di kebun Haji Abu. Abu adalah orang Bugis. Tapi dia tak kerasan. Setahun kemudian Sarbit pindah ke Parit Mahidin. Lagi-lagi menjadi kuli pemotong karet. Tapi kali ini ia bekerja pada orang Tionghoa, yaitu  A Lo. Selain memiliki kebun karet yang cukup luas, A Lo juga punya toko penampung karet. Sarbit muda menikah dengan Masirah. Karena tak punya anak ia lantas bercerai lalu menikahi Masiyem. Lagi-lagi tak dapat anak. Ia menceraikan Masiyem dan menikah lagi dengan Satifah yang kini hidup bersamanya. Mereka memiliki 7 anak, 3 laki-laki dan 4 perempuan. Saat anak keduanya lahir Sarbit  pindah lagi ke kampung Rantau Panjang. Untuk mengepulkan asap dapur ia  bekerja menoreh karet pada Hasan. “Sistemnya  ngoli”.  Maksud Sarbit adalah bagi hasil dengan pemilik kebun, yaitu 50 persen untuk Hasan, 50 persen lagi jadi haknya. Rata-rata dia bisa mendapatkan lateks 20 Kg lateks karet. Harganya kala itu sekitar Rp.3 per kilogram. Karet tersebut dijual pada Atan, warga Tionghoa yang tinggal disana.&lt;br /&gt;Tahun 1980 Sarbit naik haji ke Mekkah. Ia mengganti namanya menjadi Haji Jasuli.  Walau sudah menjadi warga Kalbar, ia tak bisa melupakan kampung Tolang. Sudah 2 kali ia kembali ke Madura.  Yang pertama tahun 1980. Sendirian saja dan hanya sempat tinggal 12 hari di sana. Tahun 1999, dia pergi lagi, sekalian menjemput keponakannya. Tahun 2001 lalu Sarbit naik haji untuk kedua kalinya. Ia dianggap sebagai tokoh dan sepuh madura di kampung. Sekarang Sarbit tinggal di rumah anak bungsunya yang bernama Naji, persis di sebelah rumah Nakip, putra sulungnya.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;JIKA Sarbit, Tiyap adalah generasi yang lahir di pulau garam, Supandi adalah generasi yang dilahirkan di tanah Borneo. Tapi mereka tetaplah orang Madura. Emha Ainun Nadjib sebagaimana dikutip http://maduracenter.wordpress.com, pernah mengungkapkan bahwa manusia Madura merupakan the most favorable people yang watak dan kepribadiannya patut dipuji dan dikagumi dengan setulus hati. Belum lagi dari aspek cara berbicaranya, peribahasanya yang menggambarkan prinsip hidupnya, kegemarannya bermigrasi ke berbagai pelosok negeri dan lain-lain. “Tidak ada kelompok masyarakat di muka bumi ini yang dalam menjaga perilaku dan moral hidupnya begitu berhati-hati seperti diperlihatkan oleh orang Madura,” kata Emha. Panggilan akrabnya Cak Nun. Dia adalah salah satu dari sastrawan terkemuka di Indonesia, kelahiran Jombang, Jawa Timur.  &lt;br /&gt;Disertasi Hendro S Sudagung yang berjudul Migrasi Swakarsa Orang Madura ke Kalimantan Barat, menyebutkan kedatangan orang Madura ke daerah ini, dibagi dalam tiga periode. Pertama, 1902-1942 ketika Kalimantan dan Madura diperintah oleh Kerajaan Belanda. Migrasi ini berlangsung lambat dan terus-menerus. Kedua, migrasi yang terjadi pada zaman peralihan kekuasaan, saat Perang Dunia II, antara 1942 dan 1950. Saat itu Jepang menduduki Hindia Belanda, lalu terjadi kekosongan kekuasaan, sesudah Amerika mengalahkan Jepang pada Agustus 1945. Antara 1945-1950, terjadi diplomasi internasional guna menetapkan status Hindia Belanda, dimana pemenangnya sebuah negara baru bernama Republik Indonesia Serikat (RIS). Ketiga, migrasi yang terjadi pada zaman Republik Indonesia, 1950-1980. &lt;br /&gt;Perpindahan orang Madura ke Kalimantan Barat, juga dikarenakan faktor perdagangan. Orang Madura biasa mengarungi lautan, dan menjadi pedagang antar pulau. Selain mendarat di Ketapang dan Pontianak, para pedagang sapi sapi itu, juga mendarat di pelabuhan Pemangkat, di daerah kekuasaan Keraton Sambas. Buku yang berjudul Manusia Madura, yang ditulis  Mien A. Rifai, peneliti senior di LIPI yang juga berdarah asli Madura mengupas seluk-beluk sebenarnya akan kehidupan  manusia Madura. Mengupas secara verbal siapa sebenarnya mereka yang selama ini banyak distigmakan negatif. Sejarah membuktikan kelompok etnis ini adalah termasuk salah satu suku bangsa Indonesia yang tahan bantingan zaman. Terbukti dari kemampuannya beradaptasi dan sikap toleransi yang tinggi terhadap perubahan, keuletan kerja tak tertandingi, dan keteguhan berpegang pada asas falsafah hidup yang diyakininya. Walaupun kerap dipandang sinis, tapi diakui pula bahwa orang Madura memiliki keberanian, kepetualangan, kelurusan, kesetiaan, kerajinan, kehematan, keceriaan dan rasa humor yang khas. Sikap ini pula yang diwariskan kepada generasi Madura yang kini metap di Rantau panjang.&lt;br /&gt;Ketika pertama kali datang ke Rantau Panjang, Sarbit hanya menemukan hutan dan semak belukar serta beberapa petak ladang. Cuma enam keluarga saja yang hidup disana, yakni Siptina, Sarimah, Suyad, Timah, Puteh dan Longgi. Suyad menjadi pemimpin kampung.  “Pondok hanya ada di tengah-tengah ladang dan kabun karet.” &lt;br /&gt;Tidak ada jalan darat kala itu. Untuk datang atau pergi ke kampung itu, Sarbit hanya mengandalkan perahu kecil, karena jalur satu-satunya cuma via sungai. Sekitar tahun 1970 kata Sarbit, di tepian sungai, tinggal orang tiongha bernama Ago, Atang, Siongkim dan Atok.  Setahun setelah kedatangannya, Sarbit bertemu Haji Tiyap di arena sabung ayam, kawasan Sei Jawi Rantau Panjang.Dia pernah mendengar cerita orang tentang  lelaki itu. Di kalangan Madura di sana Tiyap nyaris seperti legenda. “Dia berilmu tinggi, bisa terbang dan memiliki 2 buah celurit pusaka. Jika dicabut, celurit tersebut mengeluarkan pijaran api.” Karena itu Tiyap sangat disegani kawan, ditakuti lawan, selain berjiwa sosial tinggi. &lt;br /&gt;Jika Mat Sudi memerintahkan warga kerja bakti membangun jalan, Tiyap seringkali menyumbang 2 slop rokok dan gula kopi. Mat Sudi adalah Klebon Rantau Panjang kala itu. Tapi jika Tiyap tahu ada warga yang malas, dia akan mendatangi rumah warga tersebut dan memaksanya ikut bekerja bakti. “Jika menolak, Tiyap tak segan-segan menampar dan menantangnya berkelahi.” Madura Rantau Panjang kata Supandi sebagian besar berasal dari Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Saat perang kemerdekaan di tanah Jawa, mereka berlayar untuk mencari penghidupan ke Kalimantan dengan perahu layar tanpa mesin, yaitu kapal pengangkut sapi. Akhirnya mereka terdampar di Kalimantan Barat. Kala itu masih banyak lahan kosong dalam penguasaan Kesultanan Pontianak. Atas perintah Sultan, mereka membuka hutan-hutan untuk bercocok tanam dan kebun ke arah hulu Sungai Landak.  Namun yang mula-mula membuka kawasan Rantau Panjang adalah orang Bugis. Orang Madura bekerja kepada mereka sebagai kuli. Nama orang-orang Bugis tersebut adalah Wak Lumpak, Wak Tepok, Wak Bampe’ dan Wak Becce’. Mereka adalah saudara sekandung. Selain itu ada juga ada  beberapa yang ikut bersama mereka, diantaranya Wak Remang, Wak Kunduk dan adiknya Wak Bundre. Mereka datang dari Sulawesi, membuka kawasan hutan  di Rantau Panjang.    &lt;br /&gt;Dengan reputasi orang Madura yang telah mereka kenal, para perantau Bugis ini lantas mepekerjakan  12 orang-orang Madura untuk membuka kawasan hutan. Mereka adalah Mbah Mahad, Mbah Uyar, Mbah Punadin, Mbah Tarsimah,  Mbah Longgik,  Pak Pacer, Pak Nek, Kejjeng, Madin, Mayar, Nawar, Pak Sukarti, Pak Munanti.  “Orang Madura  menyebut mereka toke,” kata Supandi.&lt;br /&gt;Orang-orang Bugis mengajak orang Madura membantunya membuka lahan dengan kesepakatan bahwa jika luas tanah yang dibersihkan 100 m, maka 25 m untuk pekerja. Sedangkan 75 sisanya untuk orang bugis. ”Selain berupa bagi tanah biasanya ada upah berupa uang,” terang Supandi. Mula-mula rombongan ini membuat pondok kecil dalam hutan. Karena melihat kawasannya cukup subur, mereka memilih  menetap.  Karena selain diberi upah oleh toke, mereka juga  diberi lokasi untuk membangun rumah. Merasa pekerjaannya membawa hasil atau keuntungan, maka mereka mengajak keluarganya yang lain untuk datang ke Rantau Panjang untuk berkerja.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di Rantau Panjang dominan suku madura, tentu saja beragama islam.  Jumlahnya mencapai 97 persen. Hanya sekitar  3 persen saja yang bukan, yaitu Tionghoa. Padahal dulunya cukup banyak orang Bugis. Tapi sejak tahun 1980-an, ketika jumlah orang Madura terus bertambah, jumlah suku ini terus menyusut dan akhirnya hilang sama sekali dari kampung itu. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Madura biasa selain bahasa Apesah. Sebenarnya kedua bahasa ini tak jauh berbeda. Namun untuk kalangan tua dan tokoh masyarakat kerab berbahasa apar pesan. Yaitu bahasa yang dianggap asli dari pulau Madura. Bahasa ini dianggap bahasa halus, karenanya baru dipakai ketika berbicara dengan tokoh ulama atau kiyai.  Tata krama atau aturan agama yang telah dianut dari zaman nenek moyang dijunjung tinggi. Terutama larangan dan perintah agama yang tertera dalam Alquran. Antara orang Madura dengan aturan agama ibarat garam dan laut. Tapi Supandi juga mencatat masih ada saja warganya bermain judi, mabuk-mabukan, sabung ayam, dan main lotre seperti togel atau toto gelap. Menurut  Wiyata, (2002:254) kelompok ini disebut blater. Blater adalah kelompok sosial orang-orang yang memiliki kecenderungan berperilaku kriminal. &lt;br /&gt;Tahun 1985 Polisi datang menggerebek. Warga yang sedang asyik mengadu ayam pucat-pasi melihat polisi tiba-tiba nongol.  Ayam dan sejumlah uang taruhan disita.  Kata Yusuf alias Haji Tiyap, Teteng yang melaporkannya. Dia guru sekolah dasar di kampung itu.   Mendengar warganya ditangkap Tiyap geram. Dia adalah Kelebon Rantau Panjang masa itu. Sambil menenteng dayung Tiyap menyatroni rumah Teteng. Tapi  Tetang  bekelit sehingga Tiyap makin berang. Dayung di tangan pun melayang menghantam Teteng.  Pak guru itu memar dan luka-luka. Dia  segera diamankan ke Pos Polisi terdekat. Belakangan Teteng angkat kaki dari Rantau Panjang.  Mei 2004, Paulus FS dan Yohanes Bosco dari YPB mewawancari Tiyap. Umurnya sudah 70 tahun.  “Selama ini setiap kasus-kasus kecil tidak ada yang tidak terselesaikan, mengapa harus datangkan polisi, apalagi caranya tidak benar, semua barang tangkapan bukannya dijadikan barang bukti tapi di bawa ke tempat Teteng,” katanya. Ada juga warga yang masih percaya pada hantu jarring dan hujan panas serta kepercayaan memelihara tuyul untuk mendapatkan harta dengan jalan pintas.“Saat hujan panas turun, mereka percaya ada makluk halus yang mengganggu manusia dan menyebabkan sakit,” kata Supandi. Kalangan ini sangat yakin jika kena gangguan hantu jarring dan hujan panas, jarang ada yang mampu bertahan hidup. Tapi bila sanggup bertahan selama 3 hari, maka niscaya korban bisa selamat. &lt;br /&gt;Ciri khas warga Rantau Panjang dalam kehidupan sosial adalah tradisi gotong royong membuat jalan umum, membangun tempat ibadah, tolong-menolong satu sama lain. Karena itu jarang sekali terjadi konflik antar sesama warga. Kalau pun ada menurut supandi biasanya disebabkan masuknya faktor eksternal. Buktinya kata Supandi dalam beberapa kali kerusuhan etnik, warga Rantau Panjang tidak terlibat. Sebelum tahun 1994 warga kampung sangat sulit mendapatkan layanan kesehatan. Baru sekitar 1994-1997 ada petugas bidan desa yang ditugaskan pemerintah ke sana.  “Itu pun datangnya hanya satu minggu satu kali, bahkan terkiadang satu bulan tidak nongol,” kenang Supandi. Alasannya, klasik, sulit transportasi dan jauh dari pontianak. Tahun 1999-2001 kembali ditugaskan Bidan Desa  Petugas Tidak Tetap (PTT) dari ibu kota provinsi. Bidan ini pun setali tiga uang dengan yang pertama.  Jika demam, flu dan penyakit ringan lainnya, warga datang ke dukun kampung atau menggunakan racikan obat trdisional.  &lt;br /&gt;Seperti Sarbit, sebagian besar warga mengandalkan pendapatannya dari  menoreh karet. Hampir sebagian besar wilayah kampung terdiri dari hamparan kebun karet. Tahun 1989 warga Rantau Panjang mendapat bantuan bibit karet unggul dari pemerintah. Namun gagal karena tak tahu cara menanamnya. Selain berkebun karet, untuk pangan mereka menanam padi dan jagung.  Hanya sedikit golongan yang tingkat ekonominya cukup baik. Kalangan ini misalnya para pedagang. Warga menyebutnya  toke. Pedagang karet disebut toke karet. Sekarang tak kurang dari 5 toke karet di kampung itu. &lt;br /&gt;Pekerjaan lainnya yang dilakukan warga adalah berladang. Untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga, mereka rajin mencari ikan. Semua pekerjaan dalam rumah sangat dominan dilakukan kaum perempuan, sedangkan di luar rumah dikerjakan para lelaki. Tapi  perempuan dikampung ini juga bekerja di luar rumah, seperti noreh karet dan berladang tadi.&lt;br /&gt;Pengambilan keputusan-keputusan penting dalam keluarga maupun masyarakat, dominan diambil oleh kaum pria. Remaja perempuan, sebatas membantu saja, sementara remaja laki-laki banyak yang menjadi buruh. Sebagian besar waktunya dihabiskan di luar kampung. Ada juga yang beternak ayam.  Para peternak bisa mendapat untung lumayan ketika  hari besar keagamaan. Seperti  idul fitri, idul adha, maulud nabi.  Ayam-ayam  dijual  murah dan kadang-kadang dapat memberi untung.  Sekitar 90 persen lebih lahan di kampung  adalah gambut. Karena itu jika hujan turun jalan menjadi mudah becek.  Kiri kanan jalan dibangun parit berukuran 1-1,5 m  yang dikelilingi pohon karet. Selain itu juga pohon buah-buahan seperti asam mangga, pinang, pisang, rambutan, pisang dan lain sebagainya. Selebihnya adalah semak belukar. &lt;br /&gt;Rata-rata bangunan rumah di Rantau Panjang nyaris sama. Tapi beberapa cukup bagus dan kokoh. Misalnya rumah Supandi, dibangun dengan ikat beton. Tapi rata-rata masih berdinding papan. Diantara 10 rumah, biasanya dibatasi parit kecil. Airnya coklat pekat, kehitam-hitaman. Di pekarangan nyaris tak ada tanaman. Pola pemukiman masih mengikuti kebiasaan mereka di pulau Madura yaitu taneyan lanjang. Yakni halaman panjang.”Deretan halaman rumah yang terbangun dalam kesatuan permukinan itu diperuntukkan kepada anak-anak perempuan” ujar Khotifah. Khotifah adalah seorang guru di kampung itu. Dia satu diantara sedikit kaum terpelajar di Rantau Panjang. Jilbabnya melambai-lambai saat mengajar di depan kelas.  &lt;br /&gt;Dia menerangkan kalau Pengnpuni rumah sangat terikat oleh hubungan kekerabatan. Jika anak perempuan menikah, suaminya akan menetap di rumah yang telah disediakan orang tua perempuan. Sebaliknya, anak laki-laki akan keluar rumah. Bagi orang Madura anak laki-laki tidak memiliki tempat khusus dalam keluarga intinya. Karena itu struktur pemukiman lebih memberikan tempat khusus dan perhatian penuh bagi perempuan dalam keluarganya. Pola ini  juga menunjukkan hubungan erat antara tanah dan kekerabatan. Bukan sembarangan orang yang tinggal di dalam tanean lajang. Penghuni biasanya adalah anak-anak perempuan dari sebuah keluarga inti bersama suami dan anak-anaknya. &lt;br /&gt;Di Pulau Madura, terutama didaerah pedesaan, walaupun tidak seratus persen sesuai pola berjajar ideal tanean lajang, pengelompokkan rumah tangga yang membentuk keluarga besar masih menonjol sekali. Letak rumah tidak sejajar, tetapi ada yang berhadap-hadapan karena pekarangannya tidak lagi memanjang. ”Ini menggambarkan system pewarisan tanah orang Madura dirantau masih sesuai dengan aturan adat yang berlaku dinegeri asalnya,” kata Khotifah. Diantara 10 rumah, umumnya dibatasi sebuah parit kecil. Air paritnya juga berwarna coklat, malah terkesan kehitam-hitaman. Dipekarangan tidak terlalu banyak yang ditanam warga. ”kampung kami setiap minggu selalu terkena banjir pasang sungai” ujar Khotifah membuka cerita. Di hari-hari senggang penduduk kampung menggelar kesenian  sandur.  Kesenian khas Madura berupa atraksi pencak silat. Penonton  dari luar kampung boleh masuk arena dan mempertontonkan keahliannya bermain silat. “Hal tesebut dapat mempererat hubungan kekerabatan dan rasa persatuan antar masyarakat,” kata Rusmidi. Dia dan teman sebanyanya selalu menyempatkan diri menonton sandur. Pemuda berusia 19 tahun ini adalah Cucu Sarbit, anak lelaki Mohamad Nakip. Ia masih sekolah di Madrasah Aliyah Swasta Tarbiyatul Islamiyah Rantau Panjang. 2001 lalu dia pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahuddinijah, Desa Telangoh Kecamatan Tanjung Bui Kabupaten Bangkalan.  Tahun 2004 Rusmidi dan kedua rekan sekampungnya, Rube’i, dan Jumad, pulang ke Rantau Panjang.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rantau Panjang termasuk kampung yang aman. Jarang terdengar drama kemanusian besar  di sana. Peneliti YPB hanya menemukan kasus pencurian, kawin lari dan penganiayaan. Yang paling berat cuma kasus rampok dan carok. Bagi orang Madura Carok adalah simbol perlawanan memperjuangkan kehormatan. Namun sebuah situs http://posmo.wordpress.com menulis kalau Carok baru muncul abad 18 M. Sebab zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, budaya ini belum dipraktikkan. Pertarungan masih dilakukan dengan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul zaman Pak Sakera, Mandor tebu dari Pasuruan. &lt;br /&gt;Studi tentang carok oleh Wiyata (2002:170-185) mengungkapkan, adalah pantangan bagi orang Madura menanggung malu. Ungkapan bahasa madura yang berbunyi “ango’an poteya tolang etembeng poteya mata”,  adalah referensi sekaligus manifestasi terjadinya carok. Artinya  lebih baik mati daripada hidup menanggung malu.  Mei 2004 lalu, Paulus dan Y Bosco menulis laporan tentang kasus-kasus yang pernah terjadi di kampung itu. Antara lain Kasus Pembunuhan Suba’i. Peristiwanya terjadi 1983. Bermula ketika Umi  berpacaran dengan Samsiar. Mereka pernah berfoto bersama saat pacaran. Hubungan itu tak langgeng, mereka pun putus di tengah jalan.  Setelah itu Umi pacaran lagi dengan Suba’i. Hubungan berlanjut hingga ke pelaminan. Suatu hari Suba’i menemukan foto mesra Umi dan Samsiar. Darah Suba’i  pun terbakar, mengira istrinya berselingkuh. Suba’i yang kalap mendatangi Samsiar dan memukulnya.       &lt;br /&gt;Bagi orang Madura menjaga nama baik keluarga adalah utama. Jika salah satu kerabatnya dipermalukan atau dianiaya, dianggap penghinaan yang melukai perasaan. Tumoi memang bukan Pak Sakera, tokoh legenda masyarakat Madura. Tapi darah maduranya terbakar mengetahui Samsiar, sepupunya itu dihina. Tanpa ragu-ragu dia menghunus celurit.  Hanya dalam beberapa tebasan, Suba’i pun roboh bersimbah darah tak bernyawa lagi.  Singkat cerita, Tumoi pun ditangkap polisi, Resort Mempawah.  Dia  dihukum 12 tahun penjara. Usai menjalani hukuman, Tumoi lantas pulang ke Madura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-2773107562540515372?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/2773107562540515372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=2773107562540515372&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/2773107562540515372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/2773107562540515372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/07/manusia-parit-risalah-generasi-pak.html' title='Risalah Generasi Pak Sakera di Rantau Panjang'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-3884573470918118917</id><published>2009-07-17T01:42:00.000-07:00</published><updated>2009-07-17T01:48:26.050-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pontianak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Multikultutalisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pluralisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Simpado'/><title type='text'>TANAMKAN SIKAP MENGHARGAI KEBERAGAMAN,  LSM YPPN GELAR SEMINAR PENDIDIKAN MULTIKULTURAL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SmA6j-nxt3I/AAAAAAAAA5s/C6-nGUh2HM0/s1600-h/Seminar+Multikulturalitas---OKe.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 428px; height: 288px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SmA6j-nxt3I/AAAAAAAAA5s/C6-nGUh2HM0/s400/Seminar+Multikulturalitas---OKe.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359347946350557042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di Kalimantan Barat. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan mindset (pemikiran) siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan pengembangan model pendidikan berbasis multikultural diharapkan mampu menjadi salah satu metode efektif meredam konflik. Selain itu, pendidikan multikultural bisa menanamkan sekaligus mengubah pemikiran peserta didik untuk benar-benar tulus menghargai keberagaman etnis, dan agama, " kata Ketua STKIP PGRI Pontianak, Prof.Dr.Samion, M.Pd, &lt;span class="fullpost"&gt;, di sela-sela seminar pendidikan multikultural, yang digelar Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara (YPPN) di Wisma Nusantara, Pontianak, Sabtu, (13/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Prof.Dr. Samion, M.Pd, tampil sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Dr. Herculanus Bahari Sindju, M.Pd, Yohanes Supriyadi, SE, Direktur Program Pendidikan LSM YPPN, dan Dr. M Rifaat, Dosen Universitas Tanjungpura. Samion menjelaskan, banyak kesalahan program pendidikan yang diterapkan dalam sekolah selama ini. "Dengan perintisan model pengajaran multikultural yang dikembangkan oleh LSM YPPN ini, diharapkan siswa akan lebih mengetahui pluralitas dan menghargai keberagaman," terang Samion. Dijelaskan, sekolah yang baik adalah sekolah yang belajar. Sekolah bukan saja tempat bagi siswa untuk belajar melainkan sekolah justru ikut berkembang, karena sekolah juga belajar. Sekolah adalah bagian dari masyarakat. Karena itu, sekolah perlu mengembangkan diri dan belajar tiada berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap menghargai keberagaman, juga harus ditanamkan di sekolah. Sebenarnya, sekolah adalah tempat menghapuskan berbagai jenis prasangka yang bertujuan membuat siswa terkotak-kotak. Sekolah harus bebas diskriminasi," kata Dr. Herculanus Bahari Sindju, seorang narasumber. Bahari menjelaskan, untuk menghindari konflik antar etnis seperti kasus yang pernah terjadi di beberapa daerah di Kalimantan Barat, sudah saatnya dicarikan solusi preventif yang tepat dan efektif. Salah satunya adalah melalui pendidikan multikultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada model pendidikan ini, jelasnya, pengenalan dan sosialisasi program pengembangan model pendidikan multikultural dapat dilakukan dengan menggunakan film semi dokumenter. "Mengapa? Karena pembelajaran ini menawarkan metodologi dan pendekatan yang berbeda dari model-model pembelajaran konvensional yang selama ini dicekoki ke siswa," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahari menerangkan, metodologi dan strategi pembelajaran multikultural dengan menggunakan sarana audio visual telah cukup menarik minat belajar anak serta sangat menyenangkan bagi siswa dan guru. Karena, siswa secara sekaligus dapat mendengar, melihat, dan melakukan praktik selama proses pembelajaran berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari serangkaian uji coba program pengembangan model pendidikan multikultural di 40 sekolah tingkat SMP dan SMA se-Kalbar yang dikembangkan LSM YPPN sejak tahun 2005, bisa diketahui beberapa pencapaian indikator pembelajaran. Di antaranya, adanya pemahaman dan afeksi siswa tentang nilai-nilai multikultural yang dikembangkan. Misalnya, toleransi, solidaritas, musyawarah, dan pengungkapan diri," kata salah satu konsultan pendidikan di LSM YPPN ini.  Bahari menambahkan, program pendidikan multikultural dalam penerapannya nanti bukanlah mata pelajaran yang berdiri sendiri, namun terintegrasi ke dalam mata-mata pelajaran, sehingga dalam implementasinya perlu dilakukan oleh guru-guru yang kreatif dan inovatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Guru-guru dituntut kreatif dan inovatif sehingga mampu mengolah dan menciptakan desain pembelajaran yang sesuai. Termasuk memberikan dan membangkitkan motivasi belajar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspan, S.Pd, guru SMPN 2 Menjalin yang hadir dalam seminar ini menjelaskan bahwa berbagai usaha untuk mencegah terjadinya aksi kekerasan dalam masyarakat Kalimantan Barat yang pluralis akan gagal dan sia-sia apabila tidak dimulai dengan pendidikan anti kekerasan saat anak-anak masih kecil. “Yang diharapkan dari pendidikan anti kekerasan pada anak adalah bila mereka sudah dididik untuk menyelesaikan masalah-masalaha nyata dan kecil secara efekif dan tanpa kekerasan, maka bila sudah dewasa mereka akan mampu menyelesaikan secara damai masalah-masalah yang lebih besar dan lebih abstrak yang terjadi dalam masyarakat luas” ujarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ir. Kristianus Atok, M.Si, Ketua LSM YPPN menjelaskan, melalui model pembelajaran berbasis multikultural, siswa diperkenalkan dan diajak megembangkan nilai-nilai dan sikap toleransi, solidaritas, empati, musyawarah, dan egaliter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan begini, siswa juga memahami kearifan lokal yang merupakan bagian dari budaya bangsa ini. Dan ini bisa menghambat terjadinya konflik," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menggagas model ini, Atok, memaparkan, LSM YPPN telah melakukan uji coba berbagai program pendidikan luar sekolah pada 40 SMP dan SMA di Sambas, Singkawang, Bengkayang, Pontianak, Landak dan Kubu Raya sejak tahun 2005 lalu. Dikatakan, model pembelajaran multikultural ini bisa berhasil, jika kepala sekolah mendukung program ini. Selain itu, para pengajar juga mau menerima pembaruan dan sekolah sudah terbiasa mengembangkan kurikulum sendiri di samping kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional. "Sementara, alat lain yang mendukung adalah adanya audio visual. Karena ini menjadi penting untuk menyaksikan film-film bertema multikultural," kata mahasiswa program Doktor University Kebangsaan Malaysia (UKM) di Kuala Lumpur asal Menjalin-Landak ini.. (Edisi cetak, Tabloid Simpado, edisi I/Juni-Labuh Singal/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-3884573470918118917?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/3884573470918118917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=3884573470918118917&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/3884573470918118917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/3884573470918118917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/07/tanamkan-sikap-menghargai-keberagaman.html' title='TANAMKAN SIKAP MENGHARGAI KEBERAGAMAN,  LSM YPPN GELAR SEMINAR PENDIDIKAN MULTIKULTURAL'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SmA6j-nxt3I/AAAAAAAAA5s/C6-nGUh2HM0/s72-c/Seminar+Multikulturalitas---OKe.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-3953101404406451161</id><published>2009-07-17T01:35:00.000-07:00</published><updated>2009-07-17T01:58:28.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wanita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SFIC'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenya'/><title type='text'>WANITA LANDAK JADI REKTOR DI KENYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SmA46mNMWyI/AAAAAAAAA5k/dZhl349wotQ/s1600-h/Suster+Xaveria+SFIC+-2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 212px; height: 197px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SmA46mNMWyI/AAAAAAAAA5k/dZhl349wotQ/s400/Suster+Xaveria+SFIC+-2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359346135910341410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sulit menjadi pejabat di perguruan tinggi dalam negeri, ternyata ada orang Landak yang dipercaya menjadi seorang Rektor sebuah perguruan tinggi diluar negeri. Adalah Sr. Xaveria, SFIC, biasa dipanggil Arpina. Sejak 2003, ia memimpin sebuah kampus bernama The Teresia van Miert Development Centre (TMDC), di Nairobi, Kenya, Afrika Timur. Siapakah Suster Xaveria ?  Bagaimana Suster ini bisa memimpin kampus diluar negeri ? beberapa bulan lalu, team Simpado berhasil mewawancarainya di Pontianak dan di Nangka-Menjalin. Berikut petikannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Orang Kenya memanggilnya muzunggu. Dalam bahasa Kiswahili, muzunggu artinya kulit putih.  Suster ini memang berkulit putih.Walau kini sudah mulai sepuh, tapi sisa kecantikannya belum pupus. Di biaranya di Kenya, ia biasa disapa Kak Save oleh para juniornya. Sejak tahun 2003 Arpina memimpin sebuah kampus bernama The Teresia van Miert Development Centre (TMDC), di Nairobi. Dia putri Dayak Kalbar pertama yang dipercaya menjadi Rektor sebuah collalge di negara kawasan Afrika Timur yang berpenduduk 38 jiwa itu. Kesetiannya membiara dan hidup untuk melayani sesama, terutama bagi orang miskin dan yang menderita telah membawanya melenting jauh hingga ke negeri yang hanya pernah dia kenalnya dalam peta, yaitu ke sebuah kota yang oleh suku Maasai dijuluki sebagai Ewaso Nai’beri, yang artinya negeri air dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1993 kongregasinya mencari siapa suster yang bersedia dikirim ke luar negeri, persyaratanya sangat berat. Ia sendiri tak yakin bisa lolos, tetapi bukan Arpina namanya jika tak berani mencoba. ”Walau sebenarnya saya tak tahu apa yang  harus dilakukan, atau dikerjakan disana?”  kenang Arpina. SFIC didirikan di Belanda pada tahun 1824. ”Suster itu seperti tentara,” artinya siap ditempatkan dimana saja. Ada yang melayani di dalam negara, ada yang di luar Negara” lanjutnya. Tahun 1993 orang Kalbar pertama yang ke Kenya adalah Sr Sabina, asal Kuala Dua, Jemungko, Kabupaten Sanggau. Kini, Arpina hanya bisa pulang tiap 3 tahun sekali. Tahun 1997, Arpina berangkat ke Fillifina, tinggal selama 1 bulan disana untuk mengurus visa. Lalu diberangkatkan ke Kenya, untuk bidang pendidikan. Mula-mula tinggal di Kenya, ada rasa rindu pada kampung halaman, tetapi lama kelamaan suster ini bisa mengatasinya.  “ apalagi kami selalu sibuk oleh pekerjaan” ujarnya.  Misi kongregasi SFIC memang melayani orang kecil dan orang yang menderita. Selama di Kenya suster terbiasa makan, makanan kenya. “makanan khas Kenya yaitu Pisang, Ubi Jalar di asrama, minggu minum susu segar, lalu Gideri (jagung tua dan kacang merah bumbu tomat dan bawang” lanjutnya. Menurut alumni SD Raba ini, bayi orang Kenya hanya diberi  ubi jalar. Capati,  makanan khas orang india, ini sama dengan roti canai di Indonesia. Ugali, jagung digiling. Yang boleh dimakan  hanya ayam, sapi domba, kambing, yang lain tak boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumya Arpina dikirim ke Tanzania, kos di Merinol lingguage Centre, biara SFIC, selama 4 bulan untuk belajar bahasa Kisumaluli. Awalnya mendampingi sekolah tersebut hingga 2003. Setelah itu baru dia dipercayakan menjadi pemimpin di kampus tersebut. Menurutnya, sistem pendidikan di Kenya mengadopsi sistem Eropa. Libur 3 x setahun. Yaitu Arpil, Agustus dan September. Tapi pada 26 Desember ada hari libur khusus yang disebut boxing day. Day School seperti di Indonesia tak laku di sana. TK masuk jam 7 pagi, pulang jam 4 sore. Siswa-siswi hari minggu pun tetap pakai seragam, walau tidak sekolah.  Anak kelas 7-8 wajib les. Untuk yang SMS, kelas 3-4 Wajib Les. Suku Masae adalah suku nomaden. Mereka biasanya sekolah di informal school. Jika sudah bisa menyesuaikan diri baru masuk ke sekolah formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Arpina diangkat menjadi Rektor di Collage The Teresia van Miert Development Centre (TMDC), Kenya. Kampus itu berdiri pada tahun 2000, dan lebih focus ke bidang budi pekerti, Di belakang kampus ini adalah Slam’s Kimbera, (kawasan kumuh terbesar kedua di dunia) setelah Soeto, Afrika Selatan.  Lebih dari sejuta orang tinggal di kawasan itu. Kawasan ini masih merupakan kawasan pemimpin oposisi Raila Odinga yang memberontak karena kalah dari Presiden Mwai Kibaki pada Pemilu 27 Desember 2007 lalu. Didirikannya collage TMDC ini karena di Kenya tenaga kerja praktis seperti tata boga, perhotelan dan lain-lain itu sangat dibutuhan dan tenaga kerjanya mudah terserap. Baru magang saja gajinya siswa-siswinya sekitar 15 Shilling, atau sekitar Rp 1, 5 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster yang terampil berorganisasi ini bercerita, 2,1 juta orang Kenya mengidap HIV/AID. Setiap bulan 700 orang meninggal, tapi menurut laporan para LSM di Kenya, bisa mencapai 1.000 orang.  “Faktor penyebab, adalah poligami (klan), single parent, dan anggapan, kalau kami mati kena malaria, mengapa tidak mati kena HIV saja” ujarnya.  LSM banyak dan diberi pengobatan gratis. Banyak valounteer (relawan) bekerja disana. Saat ini hanya yang berusia 60 tahun ke atas yang tidak terinfeksi HIV AIDS, ada kampong nenek. Yang hidup disana hanya nenek-nenek dan cucu-cucunya saja. Orang tuanya sudah meninggal semua. Sumur bor yang dipakai disusteran itu dalamnya 330 m, dibor selama setengah tahun. Kenya hanya satu pulau, merdeka tahun 1965 dari penjajahan Inggris. Keladang, penjual jagung baker di kaki lima kota pun pakai dasi. Demikian juga supir. Supir susteran, orang Kikuyu. Orangnya jorok, ada yang disebut flying Toilet. Jumlah suster Misionaris di sana : 17, dan 8 Junior, 1 novis. Cukup banyak suster Indonesia asal Kalbar di Kenya, mereka adalah Suster Sabina tahun 1993, Suster Yuliana Oyem  tahun 1996 dari pusat Damai (Bidan), Arpina 1997, Suster Silvi dari Pontianak 2000 dan Suster Ruth dari Kayu Tanam, Mandor 2007. Diseluruh dunia, jumlah Suster SFIC tidak kurang dari 2000. Kalau sudah 10 tahun bertugas, menurut statuta atau peraturan kongregasi, diperkenankan untuk pensiun dan kembali ke tanah air.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Satina, kakak Arpina bercerita, Arpina ini adik nomor 4 dari 9 bersaudara. Sejak melihat 6 orang suster belanda  dari menjalin datang ke Raba berjalan kaki, Arpina terpesona. ”Kade dah ayak anak, aku jadia suster ugak,” kata Arpina kecil.  Waktu itu dia masih duduk di kelas 1 Sekolah Rakyat. Sifat Arpina, agak pendiam tetapi keras hati. Tak jarang ia ribut dengan sang ayah, karena ia tak mau dibantah.  Satina dan Arpina berangkat dari rumah pukul 6.30 WITA, masuk jam sembilan lewat.  Dari kampung Nangka untuk sampai ke sekolah harus melewati 3 kampung yaitu Gonyel, Konyo, Kaca’ barulah Raba. Pulang sekolah pukul 2 siang, dengan perut keroncongan. Tak jarang di perjalanan singgah dulu mencari nanas hutan, buah Satol. Waktu itu Satina telah kelas 4, sedangkan Arpina masih kelas I. Arpina paling menonjol pelajaran agama. Tiap hari minggu ia tak pernah absen ke gereja walau jauh dari kampung. Padahal ketika itu ia belum dipermandikan sebagai seorang katolik. Saat itu yang bertugas di Raba pastor oktavianus, Fidolinus Heliolinus (Belanda). Arpina baru dipermandikan setelah Sekolah Kepandaian Putri (SKP) di Nyarungkop. ”Saya masih gadis, dia sudah menjadi suster” cerita Satina.  Ketika itu kira-kira tahun 1964. 6 tahun tak pulang ke kampung. Waktu dia pulang, pun hanya dapat izin 6 hari saja. Arpina kecil rajin mencari jinton (kulat karet). Kalau adiknya bermain-main saja, dia akan marah. Kalau datang libur seperti natal yang lalu, di rumah dia rajin memasak, masak ala Kenya.  Untuk menyekolahkan adik-adiknya Satina memotong getah. Karena untuk Arpina melanjutkan sekolah ke SKP, Bucen harus membayar Rp 25 per bulan. Waktu SMP meningkat Rp 75 perbulan. Waktu itu harga karet Rp 2 per kilogram. Harga Jinton setali. sehari Satina bisa mendapat 7 kg karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arpina adalah anak pasangan Bucen dan Maria Tukan. Keluarga Bucen adalah petani sederhana. Tetapi soal pendidikan bagi anak-anaknya adalah hal utama. Apalagi Bucen termasuk tokoh, karena memangku jabatan sebagai Kabayan untuk wilayah Nangka dan sekitarnya. Jabatan itu sebenarnya warisan dari Girok, ayahnya yang juga Kabayan. Jaman sekarang, Kabayan mungkin setara dengan jabatan Sekretaris Desa. Dalam keluarga, Arpina dipanggil We’ Dara. Hampir setiap hari Arpina dan Satina, kakaknya menempuh perjalanan yang sama. Sekolah bagi Arpina kecil bagaikan sebuah dongeng. Dia sudah tersihir dunia pendidikan sejak pertama kali masuk SR (sekolah rakyat) di Raba.  Untuk tiba di sekolah memang tidak mudah, anak-anak Nangka dan kampung sekitarnya harus melintasi kampung Gonyel, Konyo dan Pelades Kaca terlebih dahulu.  Tiap pagi Arpina dan Satina berangkat pukul 6.30 dari rumah, bersama anak-anak kampung lainnya. Mereka masuk pukul 09.00 lewat. Pulang pukul 2 siang, kala perut sudah ’keroncongan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satina kerap mengajak Arpina singgah di pinggir hutan, menyelusup ke semak-semak mencari nenas atau Buah Satol untuk mengganjal perut. Buah satol adalah sejenis manggis hutan. Mereka adalah anak petani yang terbiasa survival tanpa mengeluh.  Di kiri kanan jalan menuju sekolah, terhampar pemandangan indah, sungai-sungai kecil mengalir di antara sawah. Begitu pun kebun-kebun karet warga sebelah-menyebelah. Mayoritas penduduk kampung adalah etnik Dayak Kanayatn yang bergantung kepada getah karet dan sawah, termasuk Bucen ayah Arpina. Meski baru resmi menjadi suster sekitar tahun 1964, tapi Arpina kecil sudah tersihir oleh penampilan suster belanda yang datang ke Raba ketika itu. ”Saat 6 suster dari Belanda datang berjalan kaki ke Raba dari Menjalin, dia pun bilang ingin jadi suster juga jika sudah besar nanti,” kenang Satina. Padahal Arpina baru masuk kelas 1 SR ketika itu. Sejak itu Suster telah menjadi sebuah obsesi Arpina, dan ketika tumbuh dewasa, ia berkonsultasi kepada pastor yang bertugas di Raba kala itu. Antara lain Heliodorus dan Bos. Tamat SR, Arpina masuk Sekolah Kepandaian Putri (SKP) di Nyarungkop, setelah itu SMP Nyarongkop lalu SGA. Panggilan dalam jiwanya semakin kuat, maka dia pun memutuskan bergabung pada kongregasi SFIC. Mula-mula Maria Tukan agak kegeratan anak gadisnya yang cerdas ini menjadi suster. Dia tahu konsekuensi hidup menjadi suster dan tidak menikah untuk selama-lamanya. Tapi belakangan ibunya setuju, apalagi sang ayah juga memberikan dukungan. Enam tahun Arpina tak pulang kampung. ”Enam tahun kemudian, barulah dia boleh cuti. Itu pun hanya 6 hari, untuk melepas kangen kepada sanak saudara” ujarnya terbahak. Setelah itu ia masuk biara lagi, menjalani hidup yang ketat dan disiplin tinggi.Pendidikan suster menempanya sedemikian rupa. Karena prestasinya Arpina dipercayakan memimpin asrama putri di Nyerungkop, di Sekadau, Pusat Damai, Pahauman dan juga di Asrama Petrina Pontianak.(Edisi cetak, Tabloid Simpado, Edisi I/Juli-Labuh Singal/2009)&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-3953101404406451161?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/3953101404406451161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=3953101404406451161&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/3953101404406451161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/3953101404406451161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/07/wanita-landak-jadi-rektor-di-kenya.html' title='WANITA LANDAK JADI REKTOR DI KENYA'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SmA46mNMWyI/AAAAAAAAA5k/dZhl349wotQ/s72-c/Suster+Xaveria+SFIC+-2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-2841397536268939263</id><published>2009-07-17T01:33:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T21:18:50.347-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mandor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Landak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cina'/><title type='text'>MENELUSURI JEJAK-JEJAK EMAS DI MANDOR</title><content type='html'>Bagian (1)&lt;br /&gt;Sejarah adalah guru, dengan mengetahui sejarah, kita dapat berbuat sesuatu untuk masa depan. Dari catatan sejarah yang berserakan, ternyata penambangan emas, yang kini dikenal dengan nama PETI sudah sangat lama dikenal masyarakat Kalbar, bahkan ada sebagian kelompok masyarakat yang menjadikannya pekerjaan pokok. Pertengahan Mei dan awal Juni 2009, terusik razia PETI oleh aparat keamanan,  sekelompok penambang melakukan aksi demonstrasi hingga aksi anarkis di kantor aparat keamanan di Mandor, Kabupaten Landak. Bagaimana jejak-jejak emas tersebut ? apa pelajaran penting yang dapat kita ambil ? bagaimana menyelesaikan persoalan ini dengan “win-win solution” ?  Berikut laporannya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandor hanyalah kota kecil, tepatnya pasar yang terdiri dari deretan ratusan ruko (rumah toko) berbentuk segi empat.  Jaraknya hanya 88 Km dari Kota Pontianak. Jalannya  sangat lebar dan licin dengan status jalan internasional. Maklum, menuju Kuching-Sarawak, dari Pontianak, orang akan melewati Kota Mandor. Sebelumnya, Mandor  luput dari perhatian public.  Mandor dikenal dunia sejak abad ke-17. Saat itu, masa kejayaan sebuah republik tertua dunia, yang dikenal dengan Republik Lan Fang. Republik yang menggunakan nama presiden pertamanya ini di bentuk oleh orang orang Hakka dari Kwangtung pada akhir abad ke-18 dan berlangsung selama 107 tahun. &lt;br /&gt;Kedatangan kaum Cina di Mandor ditengarai atas undangan Sultan Mempawah, dengan membawa 10 orang pekerja tambang emas dari Brunei Darusalam. 10 orang ini dipekerjakan oleh Sultan untuk menambang emas di Mandor, yang kala itu dibawah kekuasaan Sultan. Atas keberhasilan tambang, pada tahun 1745, orang Cina didatangkan lagi secara besar-besaran. Sultan Mempawah menggunakan tenaga-tenaga orang Cina ini sebagai wajib rodi, dan dipekerjakan di tambang-tambang emas kerajaan.  Di Kalbar, tenaga kerja Cina ini terpusat di Monterado, Bodok dan Mandor. Disebutkan, pada permulaan tahun 1740, jumlah orang Cina ini hanya beberapa puluh saja disana, namun karena  perkawinan mereka dengan penduduk Dayak sekitar pertambangan, tahun 1770 orang Cina di Mandor sudah mencapai 20.000 orang. Jumlah mereka bertambah besar lagi dengan kedatangan pasukan Khubilai Khan di bawah pimpinan Ike Meso, Shih Pi dan Khau Sing dalam perjalanannya untuk menghukum Kertanegara, singgah di kepulauan Karimata yang terletak berhadapan dengan Kerajaan Tanjungpura hingga akhirnya menetap di Mandor. &lt;br /&gt;Orang Cina di Mandor, dibawa oleh Lo Fong Pak dengan membawa sekitar 100 orang. Lo Fong Pak merupakan guru di kampung Shak Shan Po, Kunyichu, Propinsi Kanton. Mendengar banyak emas di kepulauan Borneo, ia kemudian berlayar. Lo Fong Pak sempat menetap selama 7 bulan di Pontianak, tepatnya di  Siantan (Parit Pekong sekarang). Dari Siantan, Lo Fong mendengar sebuah “gunung emas” yang kini dikenal sebagai Gunung Samabue. Dengan perahu kecil, Lo Fong menyusuri sebuah sungai, yang kini dikenal sebagai sungai Dayak (anak sungai  Segedong di Peniti). Saat itu, Mandor, telah dihuni oleh suku Tio Ciu, terutama dari Tioyo dan Kityo. Daerah Mimbong (Benuang) didiami pekerja dari Kun-tsu dan Tai-pu. Seorang bernama Liu Kon Siong yang tinggal dengan lebih dari lima ratus keluarganya mengangkat dirinya sebagai Tai-Ko di sana. Di San King (Air Mati)  (Tengah-tengah Pegunungan) berdiam pekerja dari daerah Thai-Phu dan berada di bawah kekuasaan Tong A Tsoi sebagai Tai-Ko. Tiba di Mandor, Lo Fong menemukan pasar 220 pintu yang dimiliki oleh Mao Yien. Pasar 220 pintu ini terdiri dari 200 pintu pasar lama yang didiami masyarakat Tio Tjiu, Kti-Yo, Hai Fung dan Liuk Fung dengan Tai-Ko Ung Kui Peh dan 20 pintu pasar baru yang didiami masyarakat asal Kia Yin Tju dengan Tai-Ko Kong Mew Pak. Mao Yien juga mendirikan benteng Lan Fo (Anggrek Persatuan) dan mengangkat 4 pembantu dengan gelar Lo-Man. &lt;br /&gt;Mengetahui potensi  besar untuk merubah hidup kelompoknya, Lo Fong mendirikan kongsi yang dikenal sebagai Lo Fong Kongsi. Lo Fong berniat melakukan penyerangan terhadap kongsi-kongsi yang ada. Namun, cara diplomasi dikedepankan Lo Fong. Suatu hari, Lo Fong mengutus Liu Thoi Ni untuk membawa surat rahasia kepada Ung Kui Peh dan Kong Mew Pak. Kedua kelompok ini terpaksa menyerah dan menggabungkan diri di bawah kekuasaan Lo Fong Kongsi tanpa pertumpahan darah.  Takluknya berbagai kongsi oleh Lan Fong Kongsi, Lo Fong Pak kemudian mendirikan sebuah pemerintahan dengan menggunakan nama kongsinya, sehingga nama kongsinya menjadi nama republik, Republik Lan Fong, yang jika dihitung sejak tahun berdirinya, 1777, berarti sepuluh tahun lebih awal dari pembentukan negara Amerika Serikat (USA) oleh George Washington tahun 1787. &lt;br /&gt;Ketika Republik didirikan, warga kongsi ingin Lo Fong Pak menjadi Sultan (mengikuti sistem kesultanan Sambas dan Mempawah), namun ia menolak dan memilih kepemerintahan seperti sistem kepresidenan. Lo Fong Pak terpilih melalui pemilihan umum untuk menjabat sebagai presiden pertama, dan diberi gelar dalam bahasa Mandarin  Tang Chung Chang atau Presiden. Ibukota Republik ini adalah Tung Ban Lut (Mandor). Menurut konstitusi negara ini, baik Presiden maupun Wakil Presiden harus merupakan orang Hakka yang berasal dari daerah Ka Yin Chiu atau Thai Pu. Benderanya berbentuk persegi empat berwarna kuning, dengan tulisan dalam bahasa Mandarin Lan Fang Ta Tong Chi. Benderanya berwarna kuning berbentuk segitiga dengan tulisan huao (Jenderal). Para pejabat tingginya memakai pakaian tradisional bergaya China, sementara pejabat yang lebih rendah memakai pakaian gaya barat.  Pada masa pemerintahannya, Lo Fang Pak telah menjalankan system perpajakan, dan mempunyai kitab undang undang hukum, menyelenggarakan system pertanian dan pertambangan yang terarah, membangun jaringan transportasi, dan mengusahakan ketahan ekonomi berdikari lengkap dengan perbankannya. Sistem pendidikan tetap diperhatikan bahkan semakin dikembangkan.  &lt;br /&gt;Republik Lan Fang mencapai keberhasilan besar dalam ekonomi dan stabilitas politik selama 19 tahun pemerintahan Lo Fong Pak. Dalam tarikh negara samudera dari Dinasti Qing tercatat adanya sebuah tempat dimana orang Ka Yin (dari daerah Mei Hsien) bekerja sebagai penambang, membangun jalan, mendirikan negaranya sendiri, setiap tahun kapalnya mendarat di daerah Zhou dan Chao Zhou (Teo Chiu) untuk berdagang. Sementara dalam catatan sejarah Lan Fong Kongsi sendiri terungkap bahwa setiap tahun mereka membayar upeti kepada Dinasti Qing seperti Annan (Vietnam). Di negara baru yang dikelilingi rumah-rumah panjang orang Dayak ini, Lo Fong kemudian membangun rumah untuk rakyat, majelis umum (Thong) serta pasar. Lo Fang Pak berusaha menyatukan semua orang golongan Hakka di daerah yang dinamakan San Shin Cing Fu (danau gunung berhati emas).  Presiden Lan Fong merebut paksa kekuasaan Tai-Ko Liu Kon Siong di daerah Min Bong (Benuang) sampai ke San King (Air Mati). Sejak abad 18, Lo Fong kemudian menguasai seluruh wilayah pertambangan emas Liu Kon Siong dan pertambangan perak Pangeran Sita dari Ngabang.  Presiden Lo Fang Pak wafat pada tahun 1795, dimakamkan di Sak Dja Mandor. &lt;br /&gt;Berikut ini nama-nama Presiden Republik Lan Fang di Mandor:&lt;br /&gt;No  Nama Presiden  Masa Jabatan  Peristiwa penting&lt;br /&gt;1 Lo Fong Pak 1777-1795 Pendiri dan Presiden pertama &lt;br /&gt;2 Kong Meu Pak 1795-1799 Republik melakukan peperangan dengan Kerajaan Mempawah&lt;br /&gt;3 Jak Si Pak 1799-1803 Republik melakukan peperangan denga Orang Dayak di Lamoanak&lt;br /&gt;4 Kong Meu Pak 1803-1811 Tidak ada keterangan &lt;br /&gt;5 Sung Chiap Pak 1811-1823 Ekspansi tambang emas di Ngabang&lt;br /&gt;6 Liu Thoi Nyi  1823-1837 Belanda masuk dan mulai berpengaruh di Mandor&lt;br /&gt;7 Ku Lik Pak 1837-1842 Konflik dengan Panembahan Suta di Landak dan mulai berkurang hasil emas&lt;br /&gt;8 Chia Kui Fong 1842-1843 Meninggal karena pemberontakan ketua-ketua Kongsi&lt;br /&gt;9 Yap Thin Fui 1843-1845 Meninggal karena pemberontakan ketua-ketua Kongsi&lt;br /&gt;10 Liu Kon Sin 1845-1848 Republik melakukan lagi peperangan dengan orang Dayak di Binuang, Sangking, dll&lt;br /&gt;11 Liu A Sin 1848-1876 Ekspansi lagi ke kawasan Landak (Ngabang)&lt;br /&gt;12 Liu Liong Kon 1876-1880 Meninggal karena pemberontakan ketua kongsi di San King&lt;br /&gt;13 Liu A Sin 1880-1884 Republik di bubarkan oleh Belanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Presiden Liu Tai Er (Hakka: Liu Thoi Nyi), Belanda mulai aktif melakukan ekspansi di Indonesia dan menduduki wilayah tenggara Kalimantan. Liu Tai Er terbujuk oleh Belanda di Batavia (kini Jakarta) untuk menandatangani suatu pakta non-agresi timbal-balik. Penandatanganan pakta tersebut praktis berarti menyerahkan rezim Lan Fong ke dalam kekuasaan Belanda. Belanda berhasil menduduki Republik Lan Fang, walaupun kongsi tersebut terus mengadakan perlawanan selama 4 tahun, tetapi akhirnya dikalahkan, menyusul kematian Liu Asheng (Hakka: Liu A Sin), presidennya yang terakhir.  Selain itu, munculnya pemberontakan penduduk Dayak  semakin melemahkan pemerintahan Lan Fong. Di Lamoanak, seratusan Dayak menyerang pusat pemerintahan Lo Fong Pak di Mandor. Bersama warga lainnya dari Tiang Aji, Bangkawe, Saringkuyakng, dll, mereka secara membabi buta melakukan perlawanan. Perlawanan Dayak mereda setelah Republik Lan Fong meminta bantuan Belanda, dan memaksa kelompok Dayak ini melarikan diri hingga ke Sungai Ambawang dan mendirikan perkampungan disana, hingga hari ini. &lt;br /&gt;Pasca perlawanan kaum Dayak ini, secara perlahan, Republik Lan Fang juga kehilangan otonomi dan menjadi sebuah daerah protektorat Belanda pada tahun 1885 dan membuka perwakilannya di Mandor. Namun, sungguhpun demikian, Belanda tidak otomatis menguasai seluruh kekayaan republik, karena takut akan reaksi keras dari pemerintahan Ching di Tiongkok. Belandak tidak pernah menyatakan secara terbuka mengumumkan telah menguasai Republik Lan Fang, dan tetap membiarkan salah satu dari keturunan Lan Fang menjadi pemimpin di negara ini. Baru setelah terbentuknya Republik of China (Cung Hwa Ming Kuok) pada tahun 1911, pada tahun 1912 Belanda secara resmi menyatakan menguasai daerah itu (Republik Lan Fang).  &lt;br /&gt;Tak disangka, keturunan republik terus melakukan konsolidasi. Pada tahun 1914, bertepatan dengan Perang Dunia I, keturunan republik ini melakukan pemberontakan bersenjata, yang dikenal dengan Peran Sam Tiam (tiga mata, tiga kode, tiga cara) di Mandor Mempawah, Anjungan, Sei Pinyuh, Purun, Toho, Sanking, Binuang, dan Lamoanak. Mereka juga dibantu oleh masyarakat Melayu dan Dayak yang dipaksa untuk ikut. Pemberontakan ini baru berakhir tahun 1916 dengan kemenangan di pihak Belanda.  Mengenang prajuritnya yang gugur selama peperangan ini, Belanda mendirikan tugu peringatan di Mandor. &lt;br /&gt;Seiring dengan dikuasainya Republik Lan Fang oleh Belanda, orang-orang dari republik ini kemudian melarikan diri ke Sumatra. Orang orang Lan Fang yang lari ke Sumatra bergabung lagi di Medan. Dari sana mereka menyebar ke Kuala Lumpur dan Singapura.  Menurut catatan Rahman (2000:123), melalui Keputusannya 4 Januari 1857, Belanda memasukkan kembali distrik Cina di Mandor ke dalam wilayah Kesultanan Pontianak. Alasan formal dari penyerahan itu adalah sebagai imbalan atas “kebijaksanaan” Sultan Usman yang “tidak berpihak” atas kasus kekacauan kongsi cina di Mandor pada 1850. &lt;br /&gt;Motivasi penyerahan itu sebenarnya lebih disebabkan oleh kesulitan Pemerintah Kolonialisme Belanda menghadapi perlawanan anggota sub kelompok etnis Dayak, anggota komunitas dan kongsi Cina terhadap Belanda yang sewenang-wenang menanam kuku kolonialismenya dan  memonopoli dalam pengeksploitasian pertambangan emas di Mandor. Salah seorang dari keturunan langsung Republik Lan Fang di Mandor ini, adalah Lee Kuan Yew, yang pernah menjadi Perdana Menteri Singapura.  Ditangan Lee Kuan Yew, kelompok Hakka yang minoritas di Singapura, menjadi pemegang peranan penting dalam mendirikan Republik Lan Fang yang kedua di Singapura modern, hingga hari ini.(Edisi cetak, Tabloid Simpado, edisi I/Juni-Labuh Singal/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-2841397536268939263?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/2841397536268939263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=2841397536268939263&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/2841397536268939263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/2841397536268939263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/07/menelusuri-jejak-jejak-emas-di-mandor.html' title='MENELUSURI JEJAK-JEJAK EMAS DI MANDOR'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-1317960862982382264</id><published>2009-06-03T05:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-03T05:14:23.694-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo'/><title type='text'>DAYAK EKSPLORER</title><content type='html'>Selama kurang lebih 45 menit, saya menonton sebuah film dokumenter era 1930-an, disebuah perkampungan dayak dipedalaman Borneo.  Saya tidak tahu persis, siapa yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari Dayak ini, yang saya tahu hanyalah bahwa saya mendapatkan film ini dari kakak yang yang berprofesi sebagai suster dikongregasi SND, sekarang dia bertugas di perbatasan Flores-Timor Leste. &lt;br /&gt;Film ini diawali dengan perjuangan 9 orang Dayak, yang mudik sebuah sungai dengan tiga buah perahu besar dan sangat panjang, mungkin panjangnya sekitar 6-8 meter. Tubuh mereka kekar dan berotot. Rambutnya dipotong (mirip pendekar shaolin). Mereka berteriak-teriak, saling memberi semangat. Dengan beberapa batang tongkat bambu, mereka menerjang arus sungai yang sedemikian deras, berliku, terjal dan penuh bebatuan. Terkadang, air sungai masuk diperahu dan harus dibuang. Didalam perahu, tampak seorang nenek, yang mungkin menderita sakit. &lt;span class="fullpost"&gt;Perahu juga dipenuhi beragam peralatan; pakaian layak pakai, obat-obatan, senjata api larang panjang, peluru dan sejumlah roti. Disepanjang sungai, rombongan beberapa kali terhenti, karena harus turun dan menarik perahu. Saya menyaksikannya mirip dengan sebuah olahraga sungai; arung jeram, tetapi ini bukan permainan olahraga, ini kehidupan nyata Dayak. &lt;br /&gt;Slide berikutnya menceritakan pemandangan sebuah kampung Dayak. Tampak seorang lelaki sedang membuat batangan sumpit (alat tradisional) untuk menembak. 2 anak kecil asyik bermain dibatang-batang kayu yang tumbang dan lapuk. Mereka tidak berpakaian, perut mereka buncit. Seorang ibu, sedang membakar babi hutan, ia bertelanjang dada. Sesekali suara monyet memekakan telinga. Setelah batangan sumpit hampir selesai, seseorang yang sudah agak tua membidik dan mencobanya. Mungkin saja ia ahli dalam pembuatan sumpit. Prosesi pembuatan sumpit ini diiringi dengan permainan alat musik “genggong”, dimainkan seorang bocah dan ayahnya. Alat musik ini juga tradisional, karena terbuat dari kayu dan irisan bambu. &lt;br /&gt;Pada slide berikutnya, serombongan besar orang dewasa berjalan kaki mengangkut peralatan dari perahu tadi.  Mereka menuju kampung, yang dikelilingi pohon-pohon kelapa dan terletak dipinggir sungai. Dikampung, ibu-ibu dan anak-anak sedang memainkan musik; ada gong, dau, dll. Mereka bersuka cita.&lt;br /&gt;Slide berikutnya, warga kampung sedang melangsungkan prosesi upacara adat diperladangan. Mereka menggelar “baburukng”, yang bertujuan mohon petunjuk Jubata untuk membuka ladang dihutan terdekat. Seorang imam berdoa dengan melengking, beberapa orang menyiapkan peralatan. Di udara, seekor elang berputar-putar dengan gagahnya. Ia mendengar bunyi keras dari sebuah gong yang ditabuh warga. Yang unik, seekor anak ayam ditusuk hidup-hidup (mirip disate), ditempatkan disebuah pohon. Elang berputar-putar tepat dipohon ini. Sepulang dari lokasi upacara, mereka kembali menggelar tari-tarian diperkampungan. Lelaki dewasa menarikan tarian perang, dengan peralatan perang yang unik.alat musiknya hanyalah sebuah “sape’, yang dimainkan seorang pemuda, mirip shaolin kung fu. Malam harinya, mereka menggelar ritual lagi dirumah panjang. Mereka membersihkan tengkorak kepala hasil pengayauan (perburuan kepala/head hunter). &lt;br /&gt;Pada slide berikutnya, tampak seorang gadis memberi makan ternak, utamanya ayam.  Ia mengurung ayam disebuah “kurungan” keci dan dinaikan keatas (mirip memelihara burung). Di sungai, 6 orang anak bertelanjang bermain lanting. Dengan sebatang kayu lempung, mereka menerjang ombak, arus sungai yang deras. Mereka terjun dari bebatuan yang terjal dan besar. Mereka seakan tidak takut, bahaya.&lt;br /&gt;Diseberang, serombongan lelaki baru pulang dari ladang dan perburuan. Seorang kakek sedang memanggul seekor babi hutan, hasil buruan. Mereka melintasi “jembatan” gantung, yang terbuat dari anyaman bambu dan rotan. Beberapa ekor anjing mengiringi perjalanan kakek ini. Tak jauh dari rumah, seorang nenek sedang makan sirih (ngampa’) dan menganyam caping(tarinak). Beberapa lainya sedang menganyam tikar dari rotan (bide). Disudut kiri, seorang kakek dengan menggunakan sebatang bambu mengiris tembakau hutan, sebagai bahan dasar rokok. Disampingnya, 2 anak berusia sekitar 5 tahun sedang merokok dengan santainya. Dikejauhan, kakek menjemur tembakau yang sudah diiris, ia diatas batu, tepian sebuah sungai besar. &lt;br /&gt;Pada slide berikutnya, tampak warga kampung mengalami kesedihan. Seorang warga meninggal dunia. Lelaki dewasa menyiapkan segala keperluan upacara pemakaman. Anak-anak tak tampak, mereka dikurung diatas. Jenazah dipanggul dan dibawa disebuah sungai untuk dinaikan perahu. Jenazah sudah diberi pakaian lengkap, layaknya pendekar sakti. Setelah sampai disungai, jenazah ini dimasukan disebuah peti mati dan dinaikan disebuah perahu untuk diseberangkan. Tiba diseberang, peti mati dinaikan diatas para-para (pondok khusus) dan disimpan disitu. Beberapa lama kemudian, peti mati diturunkan. Tengkorak, dan tulang belulang dikumpulkan dan dimasukan di sebuah jare (pemanggul padi) untuk kemudian disemayamkan. Tulang-belulang ini kemudian dimasukan disebuah tempayan dan dipasang diatas ukiran kayu yang dibuat khusus untuk penyimpanan abu dan tulang belulang. Jadi, kuburan zaman dahulu tidak ditanam dalam tanah, tetapi dipohon kayu.&lt;br /&gt;Pada slide berikutnya, warga kampung sedang menuba ikan disungai, dengan menggunakan tanaman tuba. Mereka mencari ikan sungai. Tua muda, lelaki perempuan semua bekerja. Sebagian kecil memasak nasi di dalam bambu, dan memasak ikan, juga didalam bambu. Tidak ada piring zaman itu, termasuk sendok yang hanya terbuat dari bambu yang diukir sedemikian rupa. Tak jauh dari arena masak, seorang bocah menggigit batangan tebu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-1317960862982382264?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/1317960862982382264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=1317960862982382264&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/1317960862982382264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/1317960862982382264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/06/dayak-eksplorer.html' title='DAYAK EKSPLORER'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-1306898820422217434</id><published>2009-05-28T20:21:00.000-07:00</published><updated>2009-05-28T20:23:18.781-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pilpres'/><title type='text'>KEMANA SUARA DAYAK DALAM PEMILIHAN PRESIDEN INDONESIA 2009 ?</title><content type='html'>Dari pengalaman politiknya, Orang Dayak termasuk suku bangsa yang paling “manut” (taat dan patuh) terhadap pemerintah yang berkuasa di Indonesia, baik sejak Koloni Cina (Lan Fang dan Monterado), Kesultanan Islam, Kolonial Belanda, Jepang, Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, dan Soesilo Bambang Yudhoyono. Belum ada sejarah pemberontakan terhadap pemerintah yang berkuasa dikalangan Dayak. Dayak bukan tipikal suku bangsa yang suka memberontak, apalagi melepaskan diri dari negara. (bandingkan dengan Aceh, Maluku, Papua, Sulsel, DI TII, dll). Daya tekan kaum Dayak terhadap pemerintah rendah, karena memang budayanya memang begitu. Tidak heran, sejak kemerdekan hingga kini, tidak pernah satupun tokoh Dayak yang dipercaya sebagai pemimpin nasional Indonesia (baik Presiden, Wakil Presiden, Ketua DPR, Ketua MPR, maupun pejabat tinggi negara di Jakarta). Bahkan untuk diangkat sebagai Pahlawan Nasional saja, sepuluh juta &lt;span class="fullpost"&gt;Dayak di Kalimantan hanya seorang saja (Djilik Riwut, mantan Gubernur Kalimantan Tengah), padahal tak terhitung tokoh Dayak menjadi korban keganasan penjajah kolonial karena melakukan perlawanan (Bandingkan dengan Pahlawan Nasional asal pulau lain di Indonesia). Ada apa ? karena, Dayak tidak pernah menuntut, Dayak taat dengan pemimpin (walaupun mereka tahu pemimpin itu tidak berpihak pada mereka, membuat mereka marginal, membuat mereka miskin, dll). &lt;br /&gt;Pada Pemilu Presiden Langsung 2004, Kaum Dayak tampaknya lebih condong ke Megawati Soekarno Putri, terbukti perolehan suara Mega-Hasyim signifikan dikedua putaran Pilpres. Beberapa dasar yang disampaikan warga Dayak kepada figur Mega adalah bahwa Mega titisan Bapaknya, Alm. Soekarno, yang sangat dicintai Rakyat Dayak. Pada era Soekarno, Kaum Dayak berhasil mengangkat derajatnya dalam berbagai bidang, baik pendidikan, pemerintahan dan politik. Diera ini misalnya, Dayak mulai mengenal dan mengembangkan sekolah-sekolah dipedesaan, mereka juga mulai melirik pegawai negeri sipil. Beberapa jabatan politik juga berhasil diraih. “hutang” politik inilah yang dibayar Dayak kepada Megawati Soekarno Putri pada Pilpres 2004. Sebagaimana diketahui, pasca Soekarno, Dayak kembali tenggelam dalam kubangan lumpur. Masuk PNS, Militer, sulit. Masuk di BUMN sulit, bahkan tanah mereka habis dikapling. Pejabat pemerintahan apalagi. Pokoknya sulit dibayangkan. &lt;br /&gt;Minggu lalu, seorang warga Dayak dari pedalaman ketemu saya. &lt;br /&gt;“siapa Presiden yang akan dipilih  ?“&lt;br /&gt;“Megawati”&lt;br /&gt;“kenapa Mega ?”&lt;br /&gt;“pada masa Megawati Presiden, harga karet stabil. Petani karet mampu hidup, artinya, Mega mampu  menjaga pintu ekonomi rakyat miskin seperti kami”&lt;br /&gt;“.../jfhghgkgkhgkhhjh”&lt;br /&gt;Ya, itu alasan warga Dayak awam. Menarik sekali, kalau kita analisis. Dengan kesederhanaan, kemiskinannya, warga Dayak dapat melihat figur pemimpin Indonesia yang mampu menjaga taraf hidup mereka dikemudian hari. Dayak tidak menuntut lebih dari Presiden Indonesia, Dayak tidak menuntut lepas dari Negara Indonesia. Mereka hanya menuntut; kembalikan situasi ekonomi rakyat seperti masa Megawati, dimana harga karet tinggi sehingga para petani karet mampu berobat, mampu menyekolahkan anaknya dan mampu tersenyum bahagia !!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-1306898820422217434?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/1306898820422217434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=1306898820422217434&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/1306898820422217434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/1306898820422217434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/05/kemana-suara-dayak-dalam-pemilihan.html' title='KEMANA SUARA DAYAK DALAM PEMILIHAN PRESIDEN INDONESIA 2009 ?'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-8599852215238838362</id><published>2009-05-20T19:45:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T19:53:36.168-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>SEJARAH  PERPOLITIKAN DAYAK  DI KALIMANTAN BARAT</title><content type='html'>Pembaca yang terhormat,agar sejarah politik Dayak di Kalimantan Barat terdokumentasikan, saya mencoba untuk merangkainya dari berbagai sumber. mudah-mudahan dapat dilengkapi oleh kawan-kawan peminat sejarah dan politik Dayak. mohon kritik dan sarannya serta masukan datanya dikirim via email ke saya. terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Mei - 24 Juli 1894&lt;br /&gt;Musyawarah Besar Tumbang Anoi di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah. Para kepala adat se-kalimantan berkumpul dan sepakat untuk menghentikan “pengayauan” antar orang Dayak. Musyawarah ini disaksikan oleh pemerintah kolonial Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1919 &lt;br /&gt;Berdiri Sarikat Dayak di Kalimantan Tengah. Pendirinya M. Lampe, Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian L. Kamis, Tamanggung Toendan,  Achmad Anwar, Hausman Baboe dan Mohamad Norman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Agustus 1938&lt;br /&gt;Sarikat Dayak diubah menjadi Pakat Dayak. Kantor pusat dipindahkan ke Kalimantan Selatan. Ketua umumnya sdr Mahir Mahar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;13 Mei 1944&lt;br /&gt;Deklarasi Angkatan Perang Majang Desa. Dari  bulan April hingga Agustus 1944, terjadi Perang yang dikenal dengan Perang Madjang Desa di Embuan Kunyil, Kec. Meliau Kab. Sanggau. Pendirinya Temenggung Mandi/Pang Dandan, Menera alias Pang Suma, Agustinus Timbang,dkk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 Oktober 1945&lt;br /&gt;Berdiri Daya In Action (DIA) di Putussibau Kapuas Hulu Kalbar, didirikan oleh FC. Palaoensoeka,dkk dengan pastor moderator Pastor Adikarjana,SJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Nopember 1945 &lt;br /&gt;DIA diubah menjadi Partai Persatuan Daya (PD). Kantor pusat dipindahkan ke Pontianak. Tokoh-tokohnya antara lain Oevaang, AF Korak, Lim Bak Meng, Tio Kiang Sun, HM Sauk, FC Palaoensoeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 1946 &lt;br /&gt;NICA mendirikan sebuah Dewan Kalimantan Barat yang beranggotakan perwakilan dari 40 kelompok etnis, pegawai pemerintah dan seorang anggota dari masing-masing keswaprajaan yang baru dikukuhkan kembali. Letnan Gubernur Van Mook tampak menggunakan dewan ini sebagai batu loncatan untuk membuat negara sendiri di Kalimantan Barat seperti yang telah dilakukannya untuk negara Indonesia Timur di dalam kaitannya mendirikan Negera Indonesia Serikat (federasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Mei 1947 &lt;br /&gt;Karesidenan Kalbar diubah menjadi Daerah Istimewa Kalimantan Barat. Melalui DIKB ini, para pengurus PD (Oevaang, AF Korak, Lim Bak Meng, Tio Kiang Sun, HM Sauk) diangkat menjadi anggota badan pemerintah harian (Dagelijhk Bertuur) Daerah Istimewa Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13-15 Juli 1950&lt;br /&gt;Kongres Pertama PD Se-Kalimantan Barat di Sanggau. Ketua Umum pertama PD: FC Palaoensoeka. Dalam upayanya untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan colonial, PD mencanangkan program (dan kredo) pemberdayaan diri: “nasibmu terletak pada usahamu” (di usahamu letak nasibmu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 September 1955 &lt;br /&gt;PEMILU untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Persatuan Daya (PD) memperoleh 146.054 suara atau 0,39% dan berhak mendapat 1 kursi DPR-RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Desember 1955 &lt;br /&gt;PEMILU anggota Konstituante. Persatuan Daya (PD) memperoleh 169.222 suara atau 0,45% dan berhak mendapat 3 kursi di Konstituante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Maret 1956 &lt;br /&gt;Pengumuman Hasil Pemilu 1955. Berikut Hasil Pemilu 1955 di Kalbar: Persatuan Dayak 12 kursi, Masyumi 9 Kursi, PNI 4 kursi, NU 2 kursi, IPKI 1 kursi, PSI 1 kursi dan PKI 1 kursi. Total kursi yang tersedia 30 kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Januari 1957 &lt;br /&gt;Propinsi Kalimantan Barat terbentuk berdasarkan UU No 25 Tahun 1956. Gubernur Pertama adalah AP. Afllus, periode 1957-1958 menyusul DA Yudadibrata pada periode 1958-1959.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Nopember 1958 &lt;br /&gt;Sidang I DPRD Kalbar yang menetapkan 3 calon Kepala Daerah yakni YC Oevang Oeray (PD), Musani A.Rani (Masyumi) dan Lumban Tobing (PNI).  Melalui Keppres RI No 59 Tahun 1959, Oevang Oeray ditetapkan sebagai Kepala Daerah Swatantra Tingkat I Kalbar. Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dikeluarkanlah Penpres No.6/1959 tentang Bentuk, Susunan, Tugas dan Kekuasaan Pemerintah Daerah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Nopember 1959 &lt;br /&gt;Sidang DPRD Tk I Kalbar, Oevang Oeray berhasil terpilih sebagai Gubernur KDH Tk.I Kalbar yang disahkan oleh Keppres No.465/1959, tanggal 24 Desember 1959 untuk periode 1 Januari 1960-12 Juli 1966.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Juli 1959 &lt;br /&gt;Dekrit Presiden, yang menyatakan pembubaran Konstituante dan berlaku kembali UUD’45. Presiden Soekarno secara sepihak melalui Dekrit 5 Juli 1959 membentuk DPR-Gotong Royong (DPR-GR) dan MPR Sementara (MPRS) yang semua anggotanya diangkat presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Juni 1960&lt;br /&gt;Presiden membubarkan DPR-RI hasil Pemilu 1955 setelah sebelumnya dewan legislatif itu menolak RAPBN yang diajukan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1960-1966 &lt;br /&gt;Beraliansi dengan PNI, PD berhasil menempatkan orang-orangnya dipemerintahan, yakni:&lt;br /&gt;1. Anggota konstituante (JC Oevang Oeray, A. Djelani, Wilibrodus Hitam yang meninggal dan digantikan Daniel, wedana Bengkayang). &lt;br /&gt;2. DPR-RI  (FC Palaunsoeka), &lt;br /&gt;3. Gubernur (Oevang Oeray), dan &lt;br /&gt;4. Bupati (MTH Djaman/Sanggau, GP Djaoeng/Sintang, Amastasius Syahdan/Kapuas Hulu dan Agustinus Djelani/Pontianak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Juli 1966&lt;br /&gt;Gubernur Oevang Oeray, digulingkan dari kekuasaannya karena dituduh orang Soekarno, karena posisinya di Partindo, sebuah partai politik yang didirikan Soekarno. Selain tokoh politik PD dihabisi pemerintah, banyak PNS Dayak yang diberhentikan dengan tuduhan terlibat PKI, sebuah partai yang mencoba melakukan KUDETA tahun 1965 di Jakarta dan membunuh jendral-jendral TNI Angkatan Darat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tahun 1967&lt;br /&gt;Oleh rezim Orde Baru, 4 Bupati orang Dayak dari PD juga diganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Maret 1985&lt;br /&gt;Berdiri Dewan Adat Dayak Kab. Pontianak di SMP Anjungan Kab. Pontianak. Terpilih F. Bahaudin Kay sebagai Ketua Umum DAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Februari 1994&lt;br /&gt;Pemilihan Bupati Sintang, Drs. LH Kadir kalah karena dibohongi Golkar. Disepanjang lereng Gunung Seha’ Kab. Landak ratusan massa Dayak memblokir jalan dan menebang pohon karena kecewa dengan Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Agustus 1994&lt;br /&gt;Berdiri Majelis Adat Dayak Kalbar di Kota Pontianak. Terpilih sebagai ketua umum Yacobus F. Layang,SH, dan Sekretaris Umum DR. Piet Herman Abik M.App.Sc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1995 &lt;br /&gt;Pemilihan Bupati Kapuas Hulu, Yacobus F Layang,SH berhasil terpilih. Inilah Bupati pertama Orang Dayak pasca Persatuan Dayak (PD) atau selama pemerintah Orde Baru berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Maret 1995&lt;br /&gt;Dibentuk  Pengurus Daerah Paguyuban Salus Populi Kalbar, yang diketuai Drs SM Kaphat, sebuah organisasi pengkaderan umat katolik dalam bidang politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1996/1997&lt;br /&gt;Terjadi kerusuhan antar etnik Dayak dengan Madura di Sanggau Ledo Kabupaten Sambas (Sekarang Kabupaten Bengkayang), dan meluas di Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Sanggau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1998 &lt;br /&gt;Pemilihan Bupati Sanggau, Michael Anjioe terpilih sebagai Bupati Dayak ketiga di Kalbar. Terjadi aksi ribuan massa Dayak menolak Calon yang diusung Golkar (Drs Soemitro) dan menurunkan paksa ZA Baisuni (militer-madura) sebagai Bupati Sanggau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Februari 1999 &lt;br /&gt;Pemilihan Bupati Pontianak, Drs. Cornelius Kimha, M.Si menjadi Bupati Dayak kedua di Kalbar. Terjadi pembakaran Gedung DPRD Mempawah oleh ribuan massa yang kecewa karena calonnya (Drs. Cornelis, Camat Menyuke, sekarang Gubernur Kalbar) tidak terakomodir partai politik di DPRD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1999&lt;br /&gt;Terjadi kerusuhan antar etnik Melayu—Dayak dengan Madura di Kabupaten Sambas, meluas di Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5 Desember 1999 &lt;br /&gt;Musyawarah Besar Ikatan Keluarga Dayak Islam (IKDI) Kalbar di Auditorium Universitas Muhammadiyah Pontianak. Organisasi ini diketuai oleh Drs. Husni Amanullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1999 &lt;br /&gt;Pemilihan MPR-RI Utusan Daerah Kalbar, dalam pemilihan, Dayak menuntut perimbangan 2:2:1 (2 Dayak, 2 Melayu dan 1 Tionghoa), namun perjuangan ini kandas dan aksi ribuan massa Dayak dibalas dengan serangan fisik oleh TNI dan Polisi terhadap massa yang mencoba membakar Gedung DPRD Propinsi Kalbar. Beberapa orang massa luka-luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1999&lt;br /&gt;Drs. Yacobus Luna terpilih sebagai plt Bupati Bengkayang, Bupati Dayak keempat di Kalbar. Pemekaran Kabupaten Sambas. Dalam Pemilihan Bupati Bengkayang, Yacobus Luna berhasil terpilih untuk periode 2000-2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2001&lt;br /&gt;Gagal pada pemilihan Bupati Pontianak tahun 1998, Drs Cornelis, terpilih sebagai Bupati Landak, Bupati Dayak kelima di Kalbar. Pemekaran Kabupaten Pontianak tahun 2000. dalam pemilihan Bupati Landak, Drs Cornelis berhasil terpilih sebagai bu[ati periode 2001-2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2002&lt;br /&gt;Drs Elyakim Simon Djalil, terpilih sebagai Bupati Sintang, Bupati Dayak keenam di Kalbar. Ada aksi-aksi massa Dayak yang menuntut agar Bupati harus Dayak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2003&lt;br /&gt;Menghadapi Pemilihan Gubernur Kalbar tahun 2003, GP Djaoeng, Mantan Bupati Sintang dimasa Partai Persatuan Dayak mengajak elit politik Dayak untuk bersatu (baca: KR No.93/Th.XII/Mei 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 November 2003&lt;br /&gt;Blokade Bis disebadu sehubungan tidak adanya Calon Gubernur Dayak yang mandapat perahu partai politik di propinsi. Di Desa Sebadu dan Desa Garu Kab. Landak. Ribuan massa rakyat Dayak kecewa dan memblokir jalan serta menebang pohon. Aksi reda setelah Bupati Landak, Drs. Cornelis turun tangan dan mengajak massa untuk berhenti beraksi jalanan.  Pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, kelompok Dayak tidak terwakili (semua menjadi Calon Wakil Gubernur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 April 2004&lt;br /&gt;PEMILU Legislatif. Berikut perolehan kursi DPRD Propinsi Kalbar: Golkar 14 Kursi, PDIP   10 Kursi, PPP       8 Kursi, PD         7 Kursi, PAN      4 Kursi, PKS       2 Kursi, PDS       3 Kursi, PBR       2 Kursi, Merdeka, PDK, PKB,PNBK dan PKPB masing-masing 1 kursi. Total kursi di DPRD Propinsi 55 Kursi. 15 kursi diantaranya diisi oleh  anggota DPRD Propinsi Kalbar dari etnis Dayak yang tersebar pada 6 partai politik yakni: PDIP, Golkar, P. Demokrat, P. Merdeka, PDK dan PDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;Pasca Pemilu 2004, sistem Pemilihan Kepala Daerah berubah menjadi Pemilihan Langsung oleh Rakyat (PILKADA) berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 dan PP No 6 Tahun 2005. Syarat calon adalah diusung oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik dengan suara minimal 15%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 Juli 2005 &lt;br /&gt;Berdiri secara resmi Pergerakan Cendekiawan Dayak (PCD) Kalbar sebagai wadah alternatif  perjuangan politik orang Dayak. PCD bercita-cita mengumpulkan seluruh sumber daya lokal, nasional dan internasional untuk Kemajuan dan Perjuangan Politik Orang Dayak di Kalimantan. Tokoh-tokohnya Ir. Kristianus Atok, Ir. Dominikus Baen, Surianata S.Pd, Drs. Stevanus Buan, Yohanes Supriyadi, SE, Agustinus, S.Pd, Mikael, SH, Frans Ateng, SE, Lempeng, S.Pd, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005 &lt;br /&gt;Pilkada Sintang, terpilih Drs. Milton Crosby, M,Si. (Dayak) Sebagai bupati (Gabungan Partai Politik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt;Pilkada Bengkayang, terpilih Drs. Yacobus Luna M.Si (Dayak) sebagai Bupati (PDI Perjuangan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005 &lt;br /&gt;Pilkada Sekadau, terpilih Simon Petrus,S.Sos (Dayak) sebagai Bupati (Gabungan Partai Politik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005 &lt;br /&gt;Pilkada Melawi, terpilih Drs. Suman Kurik,MM (Dayak) sebagai Bupati  (Gabungan Partai Politik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2006&lt;br /&gt;Pilkada Landak, terpilih Drs. Cornelis,MH (Dayak) sebagai Bupati (PDI Perjuangan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007 &lt;br /&gt;Pilkada Gubernur Kalbar periode 2008-2013 yang  dilaksanakan pada bulan Nopember 2007. Dalam Pilkada ini, Golkar dan PDIP secara otomatis dapat mencalonkan kadernya sebagai Calon Gubernur Kalbar karena melewati 15% dari total suara hasil Pemilu 2004. Golkar mengajukan pasangan Usman Jafar dengan LH Kadir, Sedangkan  kandidat di PDIP adalah Drs. Cornelis,MH (Ketua DPD PDIP Kalbar yang juga Bupati Landak). Koalisi Partai Demokrat mengajukan Usman Sapta/ Ignatius Liong, dan partai non parlemen mengajukan Akil Mochtar/AR Mecer. Dari keempat  kandidat Gubernur Kalbar tersebut diatas, hanya satu (1) dari kalangan etnis Dayak yakni Drs. Cornelis,MH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;Tanggal 14 Januari 2008, telah dilantik Drs Cornelis MH dan Christiandy Sanjaya sebagai Gubernur Kalbar dan Wakil Gubernur Kalbar periode 2008-2013.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-8599852215238838362?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/8599852215238838362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=8599852215238838362&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/8599852215238838362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/8599852215238838362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/05/sejarah-perpolitikan-dayak-di.html' title='SEJARAH  PERPOLITIKAN DAYAK  DI KALIMANTAN BARAT'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-5364006129199908980</id><published>2009-04-02T19:38:00.000-07:00</published><updated>2009-04-02T19:43:42.500-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Penting Dari Kampung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cina'/><title type='text'>SENGATAN NYANDON TANAH SABIRIS</title><content type='html'>Oleh Yohanes Supriyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JARUM jam menunjukan pukul sebelas siang. Kalender mencatat hari kamis, September 1998. Dua sepeda motor berhenti, tepat di persimpangan antar kampung.  Perkampungan yang tenang, tiba-tiba menjadi riuh. Dari atas motor, seseorang berteriak…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“massa menjarah pasar pagi tadi”&lt;br /&gt;“mereka berikat kepala kuning”&lt;br /&gt;“orang pasar semua naik ke loteng (lantai 2), pasar diaduk-aduk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjarak sepuluh meter, seseorang menyahut dengan berteriak, ”semua anak-anak dan perempuan masuk rumah !!!!”&lt;br /&gt;. tentu saja anak-anak yang bermain berhamburan masuk ke dalam rumah.  Wajah-wajah mereka kecut. Rona gelisah memancar. Duapuluh lima meter dari simpang, seseorang berjalan cepat. Ia menenteng mandau berikat kain merah. Matanya merah, keringat mengucur dari dahinya, mengkilat. Ia melirik ke kanan kiri jalan, sepertinya waspada. Tak  lama, ia bergegas masuk rumah, ditengah kerumunan warga yang panik. Ada raut-raut wajah gelisah. Ada kebingungan, karena pasar yang menjadi bagian dari hidup mereka telah dikuasai penjarah. Itu berarti hidup mereka juga terancam. Tak lama, enam tetua dari enam kampong menggelar rapat mendadak. Rapat dipimpin Anam, tigapuluh menitan pertemuan itu.  Anam adalah Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan. Hasil keputusan rapat disampaikan Ajam Pantang, Ketua Adat Mandor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sepakat untuk menggelar adat “pamabakng” (adat pemberitahuan keadaan darurat kepada alam semesta dan manusia sekitar) di saka Manur” &lt;br /&gt;“saya minta saudara-saudara menyumbang, sesuai kemampuan masing-masing”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya tiga puluh delapan kilometer dari kampong, aksi penjarahan terus berlanjut. Dua hari pasar berhasil dikuasai penjarah. Malam di hari kedua,  hujan gerimis mengguyur tanah Sabiris. Lima buah sepeda motor dengan perlahan menembus, mereka tiga belas orang anggota. Anam pemimpin rombongan kecil ini. Mandau terikat erat dipinggang kirinya. Ada anggota menenteng tombak, dan bedil. Tanpa diketahui, rombongan berhasil menembus pasar yang di “jaga” para penjarah. Mereka menemui Awi Musa, Kepala Polisi setempat untuk berkoordinasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Polisi kewalahan mengalau penjarah” &lt;br /&gt;“syukurlah bapak hadir, sama-sama kita jaga pasar ini. Ini bagian dari kehidupan rakyat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anam memahami keluhan ini. Ia geram, dan ditengah situasi yang tidak terkendali, tiba-tiba….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“auuuuuuu………..auuuuuu…….aaauuuuuuu”&lt;br /&gt;“aaauuuuuu…aauuuuuu.”&lt;br /&gt;“iiiiihhaaaaaa…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara “nariu” (berteriak nyaring sambil menghentakkan tanah dengan tumit kaki kanan tiga kali) memecah ketakutan penghuni pasar, membahana menembus sudut-sudut kota. Tiga belas anggota menyerbu - merangsek pasar   – menembus terminal. Dikira serangan ribuan orang,  ratusan massa penjarah berkeliaran kocar kacir, lari menyelamatkan diri. Selang delapan jam, dua truk penuh massa menyusul dipagi buta. Pasar gegap gempita, memenuhi terminal, dan pertokoan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aaaaauuuuuu……..aaaauuuuuuuu”&lt;br /&gt;“iiiiihhaaaaaaaaaaa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Massa itu berteriak, &lt;span class="fullpost"&gt;emosi naik ke ubun-ubun. Balutan embun menghias wajah-wajah garang, tak kenal takut – tak kenal mati. Kain merah bertuliskan “kami anti penjarahan” terikat dikepala. Mandau telah terhunus, tombak berputar-putar, bedil lantak dikokang. Mereka siap perang terbuka dengan para penjarah. Situasi ini tentu sangat tidak menguntungkan bagi penjarah. Mereka sembunyi, mengendap dan sebagian besar melarikan diri. Mereka kembali ketempat asal, tak jauh dari pasar. Dalam tempo satu setengah jam kemudian, situasi pasar berangsur-angsur normal. Pemilik toko mulai berani keluar dan membuka toko, makanan ringan dan minuman dihidangkan kepada ahli waris para pengayau dari Sabiris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILA ANDA tiba dipasar Sei Duri, singgahlah di terminal. Anda akan melihat cukup banyak mobil-mobil type L300, pangkeng (sejenis pick up, dipasang atap). Namun, bila anda berniat akan meneruskan perjalanan ke Sabandut, anda naik saja pangkeng jurusan Sei Duri-Capkala. Ada lima mobil yang hilir-mudik; Edo’, Boy, Awan, Siputih, dan Dugem. Dipastikan anda akan sampai ke kampong tujuan. Jalan pun sudah aspal, namun lobang banyak menganga, menunggu mangsa yang bernasib sial. Disepanjang jalan, anda akan melintasi banyak pemukiman warga dari bermacam-macam kelompok etnik. Juga ada hamparan sawah-sawah yang luas, dan mengingatkan kita pada secarik sejarah peradaban, pertanian yang diperkenalkan Orang Cina kepada penduduk Kalimantan Barat. Tak jauh dari pemukiman, disebelah kiri, ada empat buah pabrik tanah liat, bahan baku pembuatan keramik.  &lt;br /&gt;Dulu, jalan menuju Mandor ini hanya tanah merah – merekah – lengket dan menjengkelkan. Tahun 1987, jalan berubah menjadi aspal setengah kasar. Pepohonan dulu menjulurkan dahannya melindungi jalanan dan perkampungan, kini telah raib. Pohon berganti tiang-tiang listrik Negara.  Itu situasi empat tahun lalu, ketika saya pertama kalinya menginjakkan kaki dikampung ini. &lt;br /&gt;Di pusat kampong Mandor, tepat disimpang sebuah jalan tanah, kalau perjalanan dilanjutkan, anda akan sampai di Sabandut. Orang Cina menyebutnya Ha Bandut, Manur  Ilir. Enam meter dari simpang Sabandut, berdiri sebuah bangunan rumah. Warnanya biru laut, agak kusam. Sebelah kiri rumah, berdiri menjulang  sebuah tiang besi. Didepan bangunan kokoh itu, ada sebuah warung kopi. Pemiliknya ibu Kacos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“itu rumah pak Anam, tokoh masyarakat disini” &lt;br /&gt;“itu antenna stasiun radio komunitas disini”&lt;br /&gt;“namanya Rakom Suara Marige, frekwensi 107,4 FM”&lt;br /&gt;“radio ini dibantu oleh LSM, namanya Yayasan Pangingu Binua”&lt;br /&gt;“kalau tidak salah, sudah ada sejak tiga tahun lalu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacos, ibu pemilik warung didepan stasiun rakom. Pendengar setia siaran radio ini. Hanya limapuluh centimeter dari studio radio, muncul seseorang. Ia berkaca mata, tingginya juga biasa-biasa saja, cukup untuk ukuran orang Indonesia.  “Saya Anam” ujarnya memperkenalkan diri, ia mengulurkan tangan. Bibirnya tersenyum. Sorot matanya lembut dan bersahabat. Kata Kacos, Anam adalah salah seorang tokoh aktivis komunitas, hasil dari migrasi karena perkawinan duapuluh delapan tahun silam. Sejak 2003, ia mulai terlibat aktiv bersama Yayasan Pangingu Binua sebagai CO (Community Organizer) diwilayah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUA puluh lima menit dari rumah Anam, rimbunan daun asam raksasa membuat sesak, berserakan tak terurus disepanjang perjalanan. Dikejauhan, jejeran pagar kayu binger  (sejenis kayu local yang sangat kuat) mengepung, tak jauh dari pemukiman padat penduduk. Jalannya berliku, mengikuti tekstur tanah persawahan di kanan-kiri jalan. Bila hari hujan, tanah menjadi semacam adonan lumpur yang menggelikan, melilit kaki.  Pagi itu, burung oncet  (bahasa ilmiahnya…..) menambah riang. Oncet seenaknya bertengger di dahan-dahan kayu kecil, persis depan sebuah bangunan tua, yang masih memancarkan sisa keagungannya dimasa lalu. Di teras, seorang kakek muncul. Ia tersenyum, matanya berkilat. Ia tersanjung, menyapa yang telah hadir. “saya Pak Ajung” jawabnya singkat, memperkenalkan diri. Ia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana benglon pendek (celana yang terbuat dari kain karung gandum) berwarna putih dan sudah mulai kusam. &lt;br /&gt;“Inilah kampong Sabandut” katanya membuka pembicaraan. Ia tertawa renyah, dibibir coklatnya terselip sebatang rokok longlat  yang menyala. (rokok ini yang terbuat dari daun nipah. Longlat singkatan; digulung, dijilat, gambaran pelakunya ketika akan merokok).  Dari data desa setempat, Sabandut hanyalah salah satu dari tiga belas kampong kecil yang tersebar disekitar pegunungan Batu Baya Komplek. Secara administrative, Desa Sabandut Kecamatan Mandor Capkala Kabupaten Bengkayang. Sebelum pemekaran dua tahun lalu, masih pemerintahan dusun, ada lima buah kampong tergabung. Setelah pemekaran, menjadi pemerintahan desa.  &lt;br /&gt;Bila anda mau pergi ke Sabandut, jaraknya sekitar 8 kilometer dari pusat kecamatan di Mandor. Dapat dilalui dengan jalan darat, khususnya berjalan kaki, sepeda engkol maupun sepeda motor.  “bila dipaksakan dapat pula menggunakan kendaraan roda empat” ujar Yeyen (27 tahun), pemuda Kampung Jagu’, kampong tetangga. Penduduk Sabandut berjumlah 275 keluarga, 800-an jiwa. Dari segi etnik, umumnya etnik Dayak, Melayu dan sedikit Batak, yang sudah menikah dengan penduduk setempat.  Warga Sabandut sehari-hari menyadap karet, sebagian besar bertani padi. Mereka membuka hutan untuk perladangan dan mengusahakan lahan basah untuk persawahan. Hanya ada 7 warga yang membuka toko, mereka menjual kebutuhan pokok. Toko juga menampung hasil karet.  Untuk berkomunikasi sehari-hari, digunakan bahasa bajare, berdialek Melayu Sambas. Dialek ini agak beda dengan dialek bajare lainnya seperti yang saya temukan di Mempawah Hulu bagian utara atau Samalantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua warga mengenal Pak Ajung dengan baik. &lt;br /&gt;“Ia tinggal disebuah pemukiman yang agak jauh dari kampong, istilah lokalnya Parokng”, kata Sahidin Cogok (51 tahun), warga Kampung Mototn Buliatn, 1 Km dari Sabandut. Tak jauh dari bangunan tua itu, sebuah bukit berdiri dengan gagahnya. “seperti diapit tiga bukit” gumam saya. Ya, mungkin cerita Anam ada benarnya. Menurutnya, kata Capkala berasal dari bahasa Cina, Hiap Kala, yang berarti “terjepit diketiak”. Pak Ajung berdiri. Telunjuk jari kanannya mengarah ke bukit itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya Bukit Gantekng Mare” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terdiam, mencoba mengingat sejarah nenek moyangnya. Matanya menerawang, keningnya berkerut. Bibirnya komat-kamit, ia marapal sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dibukit itu, dulu ada sebuah kampong bernama Sabiris. Warganya hidup dirumah bantang, 30 pintu, dipimpin oleh Ne Daem dan Ne Lebe”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita kakeknya, dimasa kepemimpinan Ne Daem dan Ne Lebe, warga hidup rukun dan damai. Untuk menjaga keamanan kampong, warga mengangkat 3 orang pangalangok (panglima perang) yakni Ne Takah, Ne Riukng, dan Ne Buliukng. Suatu ketika, warga Sabiris dikejutkan seseorang dihutan sedang mengendap-ngendap. Karena mencurigakan, ia ditangkap dan dibawa ke kampong. Pemuda itu bernama Nyapi, ia mengaku seorang anak kayo (salah satu rombongan pengayau/pemburu kepala) dari tanah Banyuke yang tersesat. Karena berperilaku baik dan mengesankan, Nyapi diajak tinggal oleh warga Sabiris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia tinggal sementara dengan Ne Daem, pemimpin Sabiris ketika itu” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat kampung Sabiris, dilembah Bukit Gantekng Mare, tinggal seorang gadis kayangan yang cantik jelita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia dikenal baik warga Sabiris, namanya Capala”&lt;br /&gt;“Ia sangat cantik, kulitnya putih”&lt;br /&gt;“Setiap hari, ia mandi disebuah riam, lembah bukit”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Nyapi pergi ke hutan, mencari damar dan burukng rangok (burung enggang). Tak dinyana, ia bertemu gadis itu. Nyapi terpana dengan kecantikan Capala yang amat sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keduanya berkenalan dan saling tertarik”&lt;br /&gt;“Namun Nyapi sadar, Capala bukan manusia biasa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan keduanya diketahui pemimpin bantang. Ne Daem berinisiatif untuk menikahkan keduanya. Beberapa tahun menikah, tiada seorangpun anak didapat. Nyapi sedih, padahal ia ingin keturunan yang berhak mewarisi kemampuannya kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia mencari akal, agar istrinya mau diajak ke tanah kelahirannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ajung terdiam. Matanya menerawang, mencoba mengingat sesuatu. Tangannya asyik memilih rokok longlat, beberapa batang disodorkan kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun,… Capala selalu menolak ajakan suaminya”&lt;br /&gt;“Ia takut asalnya sebagai orang kayangan terbongkar keluarga suaminya”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyapi tidak menyerah, ia terus membujuk istrinya. Dan suatu hari, istrinya bersedia. Sepanjang perjalanan, muncul akal jahat Nyapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat disebuah lokasi, di Kampung Parit Mas sekarang, Nyapi nekad membunuhnya”&lt;br /&gt;“Kepala sang istri kemudian hendak dibawanya ke Menyuke”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperjalanan, Nyapi singgah di Pakana, kepala sang istri diperlihatkannya dengan gagah kepada warga. Peristiwa pembunuhan Capala, terdengar warga Sabiris. Mereka sepakat mencari Nyapi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.  Beberapa pemuda sakti dikirim, mencarinya kehutan-hutan, menyeberangi sungai-sungai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun, pencarian ini sia-sia”&lt;br /&gt;“tak ada informasi apapun didapat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lelah mencari, warga Sabiris memilih bakayo (permusuhan) dengan orang Banyuke, daerah asal Nyapi. Bukan Nyapi namanya kalau tidak bisa bersilat lidah. Karena takut bersua dengan Orang Sabiris diperjalanannya kelak, di Pakana, Nyapi menceritakan bahwa di daerah Sabiris banyak sekali musuh yang berusaha membunuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karuan saja orang Pakana terpancing dengan siasat Nyapi ini” &lt;br /&gt;“mereka (warga Pakana) mengutus  orang-orang terkuatnya untuk meneliti kekuatan anak kayo di Sabiris”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ajung menyerubut kopi panas yang terhidang. Ia menyulut sebatang rokok merk Cakra, yang sengaja saya beli dua hari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penelitian diperlukan untuk mengatur strategi peperangan nantinya”&lt;br /&gt;“dari yang terbaik dari yang baik, terpilihlah Igak, Dume, Duan, Ote (perempuan), Kunda (perempuan) dan Nanju sebagai tim pangarentes (survey)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari lamanya keenam orang ini berjalan menuju Sabiris.Namun sesampainya di daerah yang dituju itu, keenam orang ini tidak mendapati seorangpun warga Sabiris sebagaimana cerita Nyapi. Tidak kembalinya tim pangarentes, dan tidak mau terlibat permusuhan yang berkelanjutan antara warga Sabiris dan Menyuke, warga Pakana menginisiasi sebuah upacara perdamaian di Kuala Mempawah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama adatnya “pasamean”. &lt;br /&gt;“Peraga yang harus disiapkan adalah 1 buah siam (tempayan)”&lt;br /&gt;“Sababak pingatn putih (sebuah piring berwarna putih)”&lt;br /&gt;“Seko’ manok calah (seekor ayam jantan berwarna merah)”&lt;br /&gt;“Seko’ asu’ itapm (seekor anjing hitam)”&lt;br /&gt;“Seko’ babotn itapm (seekor babi hitam)”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya setelah adat pasamean, disusul adat “nyimah tanah”. Maknanya agar ada perdamaian orang Menyuke dengan orang Sabiris serta membersihkan tanah bekas pembunuhan Capala ditanah Gantekng Mare. “karena sejarah ini, sampai sekarang kalau ada pemuda Sabandut yang menikah dengan pemudi Banyuke, sebelum pesta perkawinan, dilakukan adat pasamean dulu”, ujar Sirin Banding, Kepala Adat Mandor. Ia adalah salah seorang keturunan Menyuke, dan pertama kali menyelenggarakan adat pasamean ketika menikah di Mandor.&lt;br /&gt;Pada tahun 1740,  20 orang Cina didatangkan dari Brunei oleh Sultan Sambas untuk bekerja di pertambangan emas Monterado. Pedagang emas membuka pemukiman di Jam Tang (Singkawang), dan menyiapkan rumah-rumah bordil dan gudang candu. Hampir setiap akhir  minggu, para pekerja tambang beristirahat di Jam Tang. Beberapa diantaranya kemudian memilih untuk berdagang, dan membuka pemukiman baru di Sei Duri. Karena pedagang maupun penambang ini bujangan, mereka kawin dengan penduduk setempat. Jumlah mereka pun semakin bertambah. Pasar dibangun, rumah toko juga dibangun, mirip pemukiman di Tiongkok, tanah air mereka. Menghindari peperangan sesama penambang, termasuk ekspansi wilayah tambang, para pedagang dan pekerja tambang ini membentuk kongsi Tai Kong (Parit Besar) dan Samto Kiaw (Tiga Jembatan). Tahun 1770, anggota Kongsi Samto Kiaw dan Tai Kong di perkampungan sekitar Monterado diserang Orang Dayak Saribas. Pemicunya adalah ketidakpuasan seorang Dayak dari Saribas kepada majikannya. Disebuah toko, seorang pemuda asal Kampung Saribas bekerja sebagai karani (pembantu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia telah bekerja selama 5 bulan, namun gajinya tak pernah dibayar”&lt;br /&gt;“Setiap kali meminta gajinya, tak ada jawaban pasti dari majikan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia sangat kesal, dan memilih pulang kampong” lanjut Pak Ajung. Sekali lagi, ia menyerubut kopinya yang mulai dingin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“nah, di kampong, pemuda ini “menasehati” para orang tua” &lt;br /&gt;“Jangan lagi mengirim anak bekerja sebagai karani ditoko Cina”&lt;br /&gt;“saya sudah tertipu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saja warga kampong geger. Mereka marah. Beberapa pamarani (pemberani, bertemperamen keras dan kasar) bahkan mulai ada niat untuk menuntut balas dengan mengusir orang Cina.  Kesepakatan diperoleh. Orang Cina harus diberi pelajaran. Tak lama, beberapa orang menggelar ritual khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ritual Mato’,  namanya” &lt;br /&gt;“Mereka juga mengedarkan Bun Ka (mangkok merah)” &lt;br /&gt;“Ini bertujuan untuk memberitahu warga Dayak bahwa mereka berniat akan menyerang Orang Cina di sekitar kampong-kampung Dayak”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari, ratusan massa bergerak. Tangkitn terhunus, kepala dibalut dengan tali dari kulit tarap. Sebagian besar membawa tombak, tajam dan panjang. Rombongan merayap ditengah gelapnya malam dan rerimbunan hutan belantara. Mereka tiba tepat pagi hari buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aaauuuuuuu……aaaauuuuuuu….aaaauuuuuuuuu”&lt;br /&gt;“aaaauuuuuu…aaaauuuuu….auuuuuuu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya sesahutan, memecah keheningan pagi.  Kedatangan rombongan besar ini membuat warga Cina di Sabandut tidak mampu menahan serangan, mereka melarikan diri.  Serangan ini sangat keras  dan beringas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ratusan keluarga Cina meninggalkan Sabandut dan kampong-kampung sekitarnya” &lt;br /&gt;“Mereka melarikan diri kehutan-hutan terdekat”&lt;br /&gt;“sebagian memilih jalur sungai hingga tembus ke Sei Duri” &lt;br /&gt;“Sebagian kecil yang tetap bertahan tewas menggenaskan, kepala terpisah dari raga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan waktu singkat, Kampung Sabandut dan sekitarnya dikuasai. Sekelompok kecil dari massa yang dipimpin Ne Limo dan Ne Rimong, masuk kerumah-rumah penduduk. Mereka menemukan dua keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kalian orang Dayak ?”&lt;br /&gt;“ya..kami Orang Dayak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua keluarga luput dari pembantaian. Identitas sebagai Dayak telah menyelamatkannya. Mereka adalah keluarga Kunda, yang menikah dengan Orang Cina dan tinggal di Sinyaodakng, sekarang dikenal Pujung.  Tidak hanya Kunda yang selamat, keluarga Ote di Satanduk dan tinggal di Bukit Kinae juga. Ia menikah dengan seorang pemuda Cina, penambang emas Monterado.  Kunda dan Ote, adalah dua anggota dari enam anggota pangarentes (kegiatan survey/mematai-matai) dari Pakana, yang pernah ditugasi untuk “memata-matai” kekuatan Orang Sabiris, atas laporan Nyapi.  Rombongan kecil ini, takut dihukum warga yang mengutusnya karena tidak berhasil mendapatkan informasi yang cukup sesuai cerita Nyapi, memutuskan tidak kembali ke Pakana. Selain Ote dan Kunda, anggota lainnya adalah Igak, Dume. Keduanya kemudian menetap di Manur.  Beberapa lainnya memutuskan untuk bermigrasi kehulu. Duan bermigrasi hingga menetap ke Sajingan, sedangkan Nanju kemudian bermigrasi kehulu Sungai Sarangan dan menetap di Bukit Sangkikng/Sadaniang”.  Sepeninggal orang Cina, Ne’ Limo, Ne’ Rimong, Ote sekeluarga dan Kunda sekeluarga menetap dibekas pemukiman Cina ini. Mereka inilah leluhur warga kampong Sabandut hari ini.&lt;br /&gt;Puluhan tahun lalu, seorang gadis Sabandut hamil diluar nikah. Perbuatan tercela ini sangat memalukan keluarganya, dan juga warga kampong.  Atas kesepakatan bersama, gadis ini “diusir”.  Itulah hukuman terbaik bagi para pelanggar adat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gadis ini tidak lagi dianggap sebagai anak oleh orang tuanya” &lt;br /&gt;“Oleh orang sekampungnya dianggap sebagai Urakng Laut” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kepulauan, gadis ini kemudian angkat oleh warga. Ia dinikahkan dengan seorang pemuda setempat.  Ketika anaknya menjadi dewasa, ia kemudian bertanya kepada orangtuanya dari mana sebenarnya ia berasal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kamu asalnya Orang Darat”&lt;br /&gt;“masih banyak keluargamu tinggal disana”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu asal usulnya,  timbul keinginan sang anak untuk melihat dan kenal dengan keluarga besarnya di daratan. Tak sengaja, sebuah kampong teruju. Kampung yang biasanya sepi, hari itu menjadi ramai. Mereka menyambut ramah kedatangan seorang pemuda berkulit coklat, berbeda dengan warna kulit mereka yang kuning langsat.  Ia seorang pemuda  sederhana, tinggal di sebuah pulau, pinggiran Laut Cina Selatan, tak jauh dari Sei Duri sekarang. Pemuda ini ahli dalam pembuatan kinsaratn, sebuah alat penggolahan padi menjadi beras. Teknologi baru pertanian padi yang dibawa pemuda pulau ini, tentu saja menarik perhatian warga lainnya yang masih menggunakan “lasukng” (lesung) untuk menumbuk padi. Setiap tahun, menjelang musim panen padi, pemuda dipanggil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia selalu diminta membuatkan kinsaratn baru, maupun memperbaiki yang dibuat sebelumnya”&lt;br /&gt;“Namun, tetap saja keahliannya membuat kinsaratn tidak mampu ditiru” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, pemuda ini diminta untuk menetap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kamu kami beri sebuah kawasan hutan, untuk pemukiman baru” &lt;br /&gt;“nanti, kami bantu membukanya, balasannya, kamu ajari kami membuat kinsaratn”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu setuju, ia kemudian membawa serta keluarganya. Anaknya empat, semua perempuan. Mat Kurau, ternyata adalah anak pulau, ibunya pernah diusir dari Kampung Sabandut puluhan tahun itu.  Ia  kemudian mengembangkan pemukiman baru, tak jauh dari Sabandut. Kini, pemukiman itu dikenal dengan Pawangi. Warganya semua beragama islam, agama yang dibawa Mat Kurau, dari pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABANDUT MEMILIKi sejarah panjang dalam pembangunan bidang pendidikan. Sebelum kemerdekaan Indonesia, sudah ada sekolah dasar yang didirikan oleh misi Katolik dan orang-orang Cina di Singkawang, antara lain di Kampung Pak Nibatn dan Satanuk. Sekolah-sekolah ini menggunakan dua bahasa, bahasa Cina dan bahasa Melayu. Ketika Jepang menguasai perkampungan, anak-anak sekolah terpaksa berhenti. Guru-guru banyak ditangkap, termasuk pastor yang berkebangsaan Belanda.&lt;br /&gt;Ne Calek, salah seorang saksi sejarah.  Ia ketika itu masih sekolah, kelas 2 SR di Satanuk.  Ketika bercerita, tawanya tertahan. Matanya memerah. Ia teringat peristiwa yang menyedihkan kala itu. Bersama ayahnya, Ne Calek setiap hari dipaksa bekerja di persawahan milik Jepang yang sangat luas di daerah Malapis (sekarang daerah Sei Kunyit). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Komandan Jepang itu bernama tuan Kasumi, pekerja diawasi beberapa orang mandor”&lt;br /&gt;“Mandornya orang laut (melayu)”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama penduduk lainnya, ia membajak sawah hingga panen. Namun, padi tidak dibawa kerumah, semua diangkut tentara Jepang. Selama membajak, pekerja diberi makan ala kadarnya.&lt;br /&gt;“yang paling sering, ya, makan tamora’ (ubi kayu kering dicampur beras)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaianpun, terbuat dari balutan kulit tarap (kayu terap), lemnya dari karet (lateks). Karena itu, bila kena hujan, pakaian kamilepas-lepas hingga setengah telanjang. Tak lama, Jepang kemudian harus menyerah kepada tentara sekutu pimpinan Amerika Serikat. Sekolah-sekolah mulai berbenah lagi, murid-murid dipanggil untuk bersekolah.  Ne Calek memutuskan melanjutkan, kelas dua. Ia juga masih ingat guru-guru yang mengajarnya kala itu.&lt;br /&gt;“Saya diajar oleh Siden (Satanuk), Manurung (Orang Batak), Sundang (Sanggau Ledo), dan Dundang (Putusibau)”&lt;br /&gt;“Mereka adalah alumni sekolah guru di Nyarumkop”&lt;br /&gt;“Sekolah kami masih menggunakan rumah Tendek, dikenal dengan Pak Jimah sebagai ruang belajar”&lt;br /&gt;Menurut Ne Calek, kepala guru waktu itu Agustinus Sundang.&lt;br /&gt;“Ia berasal dari kampong Barimada, Ledo-Bengkayang” &lt;br /&gt;“Ia alumni sekolah guru Nyarumkop tahun 1948”. &lt;br /&gt;Dalam mengembangankan sekolah, Sundang tidak sendiri. Bersamanya ada 5 pastor yang datang dua kali setiap bulan.&lt;br /&gt;“Tetapi pastor khusus mengajar agama katolik”&lt;br /&gt;“Saya sendiri dibaptis oleh pastor Albrick di Nyarumkop pada tahun 1945”.&lt;br /&gt;Selain Ne Calek, cukup banyak saksi sejarah yang masih hidup. Salah satunya Mambah, warga Mandor. Ia mengaku pernah sekolah di Pak Nibatn, tak jauh dari Sabandut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“para guru dari Singkawang, mereka orang Cina”&lt;br /&gt;“Didepan kelas, ada foto Mao Tse Tung, dan bendera bintang lima”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Mambah tidak selesai sekolah, ia harus berhenti ditengah jalan, karena berkelahi dengan Lie Sin Sun, gurunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“saya terlambat, hujan sangat lebat”&lt;br /&gt;“saya sampaikan alasan itu, tapi dia (gurunya) justru memaki-maki”&lt;br /&gt;“saya terhina, dan tak sengaja, saya tinju saja mukanya hingga berdarah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RABAKNG hari itu sedang ramai. Nadin, warga setempat mengadakan pesta perkawinan anaknya. Seorang gadis Sabiris,  dengan tertatih-tatih mendaki sebuah bukit. Ia mengunjungi Iyok, saudaranya di Marinso, kampong tetangga. &lt;br /&gt;Kebetulan ada pesta, kamu jadi petugas solo. Solo dalam bahasa setempat berarti sumbangan warga yang hadir kepesta. Adat ini sudah dilakukan masyarakat dayak Kanyatn sejak turun temurun.&lt;br /&gt;” Gadis itu menyanggupi, walaupun masih setengah hati. Demi menghargai kepercayaan saudaranya.  Seorang guru muda ikut “ngoyokng” (berkunjung) kepesta itu, ia mengajar di Nyawan sejak tamat SPG di Singkawang tahun 1980. Nyawan adalah sebuah kampong tetangga, 2 jam perjalanan ke Rabakng. Ketika akan “nyolo” (mengisi buku tamu dan memasukan amplop), matanya nanar. Ia terkesima pada senyum manis sang petugas, gadis yang baru ia kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu awal kami kenal, setelah itu, yaaa….kami sering ketemuan”&lt;br /&gt;Ia tertawa mengingat peristiwa bersejarah dalam hidupnya itu.Tak dinyana, jodoh sudah tergariskan. Sang guru muda memutuskan untuk menikahi gadis itu. Pada 7 Maret 1981, pasangan ini diberkati secara katolik oleh Pastor Frans Jansen, Pr dari Singkawang, di gedung SDN 01 Mandor. Hari itu, ia resmi menjadi warga Sabiris. “Sejak menikah, saya mengajar di SDN 01 Mandor” katanya singkat. Ia tersenyum. Sebatang rokok LA light terselib dibibirnya, asap mengepul keudara. Sejak tahun 1980-an, ada delapan (8) sekolah dasar diseluruh Kecamatan Mandor-Capkala, yakni di Mandor, Capkala, Satanduk, Aris, Sarangan, Parit Mas, Sabandut dan Medang.  Sang guru muda itu, kini lebih dikenal Martinus Anam.&lt;br /&gt;Anam hanya empat tahun menjadi guru biasa, sejak tahun 1985, ia diangkat menjadi Kepala SDN 07 di Mototn Buliatn. Ketika menjabat kepala sekolah inilah, ia kemudian semakin aktiv memfasilitasi pendirian sekolah lanjutan, salah satunya sebuah SMP di Mandor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya SMP Purnama”&lt;br /&gt;“Karena tidak ada guru yang sarjana, guru di SMP ini juga guru SD terdekat”&lt;br /&gt;“Ada 6 guru yang mengajar”&lt;br /&gt; “Kala itu belum ada satupun SMP di Mandor, anak-anak harus berjalan kaki sejauh 15 Km untuk sekolah di SMP Purnama Sei Pangkalan atau 34 Km berjalan kaki untuk sekolah di SMP Dwi Dharma Sei Duri”&lt;br /&gt;Segala keterbatasan sarana, tenaga pengajar dan jumlah murid, tidak menyurutkan niat dan langkah Anam, ia tetap menekuni dan berusaha keras agar SMP ini diakui pemerintah dan berkembang. &lt;br /&gt;“Kami masih menggunakan gedung SDN 01 Mandor”&lt;br /&gt;“Syukurlah, pihak sekolah mengizinkan untuk pemakaian gedung”&lt;br /&gt;Kini usaha yang dirintis Anam berkembang pesat. Sejak awal 2008 lalu, gedung SMP sudah ada dua,  SMP Purnama telah dinegerikan menjadi SMPN 1 Capkala di Capkala dan SMPN 2 Capkala di Pawangi. &lt;br /&gt;“Tahun 2006, kami juga mendirikan sebuah SMA di Capkala”&lt;br /&gt;“Namanya SMA St Kristoforus”&lt;br /&gt;Namun sejak 2008, SMA ini kembali di negerikan oleh pemerintah menjadi SMA Negeri 1 Capkala. Menurut Dionisius Frans Namhin, warga Sarangan, pendirian sekolah-sekolah di Kecamatan Mandor Capkala sejak tahun 1990-an tak lepas dari peran Anam sebagai Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Sei Raya. Ia terpilih dalam Musyawarah Adat Dayak se-Kecamatan Sei Raya tahun 1997 lalu. Anam sadar dengan posisi politiknya ini. Ia tahu dari latar belakang sejarah, Orang Sabiris umumnya bertemperamen keras dan militant.&lt;br /&gt;“Syukurlah ada YPB, yang mau membantu” ujarnya, suatu ketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YPB adalah sebuah LSM yang bergerak pada bidang pembangunan perdamaian. Kantornya di Kampung Raba, Kabupaten Landak. Salah satu kampong yang didampinginya adalah Sabandut, termasuk Mandor. Kelompok sasarannya adalah komunitas multietnis.&lt;br /&gt;“Sasaran YPB tepat, karena Mandor Capkala sangat plural dari segi etnik”&lt;br /&gt;“YPB juga berperan menjembatani masyarakat yang berbeda suku dan agama disini (Mandor)”&lt;br /&gt;Salah satu peran penting YPB, menurut Anam adalah memfasilitasi sebuah Lokakarya Perencanaan Masyarakat Mutietnis tahun 2002 di SDN 01 Mandor. Dalam lokakarya ini, peserta sepakat untuk mendeklarasikan sebuah organisasi pemersatu. Berdirilah Forum Komunikasi Masyarakat Multietnis (FKME) Tingkat Kecamatan Mandor-Capkala.&lt;br /&gt;“Organisasi ini penting sebagai alat komunikasi antar etnis yang ada”&lt;br /&gt;“Selain sebagai jembatan, organisasi ini juga sebagai alat untuk pengembangan kapasitas diri pelakunya”&lt;br /&gt;Untuk menjaga roh perjuangan, peserta lokakarya menyepakati agar figure yang dipilih sebagai pemimpin adalah figure yang diakui semua kelompok etnik yang ada. &lt;br /&gt;“Nah, figure yang tepat itu adalah Pak Anam” ujar  Sirin Banding, tokoh masyarakat Mandor.&lt;br /&gt;Anam terpilih secara aklamasi sebagai Ketua FKME. Dalam sambutannya pertamanya, Anam menyampaikan kepada forum bahwa Orang Sabiris layak maju, sebab sejak lama Sabiris dikenal sebagai warga yang toleran.&lt;br /&gt;“Namun, sekarang Sabiris sudah multietnis, multiagama dan demikian juga multibudaya”&lt;br /&gt;“Kalau mengatasi permasalahan, mereka tidak segan-segan melakukan kekerasan bila jalan damai sulit ditempuh” &lt;br /&gt;Komentar Anam mungkin ada benarnya. Menurut Pontius, dalam bukunya “Sejarah Samalantan”, karakter orang Dayak yang keras ini merupakan turunan dari peperangan demi peperangan yang teramat lekat sejak masuknya Cina dikawasan pertambangan Monterado, ratusan tahun lalu. Mandor dan Capkala, termasuk salah satu kampong Dayak yang “terengut” dalam kekuasaan kongsi penambang yang berpusat di Monterado. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah sebabnya, Dewan Adat Dayak ini sangat strategis untuk mengakomodir dan mengakselerasi semua kepentingan dan permasalahan social-politik yang ada agar tidak merayap menjadi aksi kekerasan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Ketua tingkat kecamatan, Anam membawahi 2 wilayah adat yang dikenal sebagai Binua (sebuah bentuk pemerintahan local, seperti pemerintahan desa sekarang ini), yakni Binua Atas dan Binua Bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat buku pemerintahan binua; terutama sejarah binua, system pemerintahan dan kondisinya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepala Binua Atas sekarang dijabat Sucipto, ia tinggal di Kampong Kucipu”.&lt;br /&gt;“wilayah binua ini meliputi 3 desa; Desa Aris ketua adatnya Pak Olan, Desa Setanduk Kepala Adatnya Untek/Pak Orot dan Desa Capkala, Kepala Adatnya Sucipto sendiri, merangkap Kepala Binua”. &lt;br /&gt;“…sedangkan Kepal Binua Bawah dijabat oleh Sirin Banding, ia tinggal di Kampung Manur Dalapm”.&lt;br /&gt;“ wilayahnya terdiri dari Desa Mandor, ia sendiri merangkap Kepala Adatnya, Desa Sabandut dijabat oleh Besli Sihombing sebagai Kepala Adat dan Desa Pawangi, karena desa ini mayoritas Etnik Melayu, maka tidak diangkat Kepala Adatnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI SABANDUT, masyarakat yang terdiri dari kelompok etnik yang berbeda dapat bersatu. Tidak hanya Dayak dan Laut (Melayu) yang tinggal di Sabandut. Ditengah ratusan keluarga ini, ada 5 keluarga Batak yang telah menyatu didalamnya. Mereka dikenal sebagai Sihombing bersaudara.  Adalah Jansen Sihombing, bekas tentara, yang melarikan diri ketika terjadi Perang Jepang tahun 1942. Jansen berasal dari Pahae, Sumatera Utara. Ia pertama kali menetap di Kampung Nyong Seng, sekarang dikenal sebagai Kampung Pak Nibatn.  Ketika menjadi guru di SD Pak Nibatn, ia menikahi gadis Dayak asal Kampung Batas Rancang bernama Longkes. Dari perkawinannya ini, Jansen memiliki empat orang anak laki-laki,yakni Besli Sihombing, Beto Sigombing, Markus Sihombing dan Kimler Sihombing.  Pension jadi guru tahun 1970, Jansen terjun kedunia politik. Ia masuk pengurus partai politik yang baru berfusi, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga akhir hayatnya.  &lt;br /&gt;Garis politik Jansen diikuti anak-anaknya, sekarang mereka menjadi pengurus PDI Perjuangan ditingkat kecamatan. Karena berdarah politik, anak-anak Jansen sebagian  menjadi “orang penting” di Sabandut. Besli Sihombing, anak tertuanya pada pemilihan tanggal 5 Juli 2004 lalu, terpilih sebagai Kepala Adat Sabandut.  Besli mengalahkan Amet Sulang, pejabat lama, orang Dayak asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“selisih suara hanya 3 suara, dari 100 pemilih yang ada”&lt;br /&gt;“satu orang calon, Lamri, menyatakan mundur sebelum pemilihan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjadi Kepala Adat, Besli menjabat sebagai Ketua II Badan Perwakilan Desa Mandor (sebelum pemekaran). Dalam mengatur adat dan hokum adat, Besli memiliki buku berjudul “Simpado”, sebuah buku hasil rumusan tetua-tetua adat di Ngabang. Buku ini terbitan Dewan Adat Dayak Kanayatn Kabupaten Pontianak, 1987 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“buku inilah yang menjadi pegangan saya dalam memutus perkara”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyelesaikan perkara berat, Besli tak segan-segan berkoordinasi dengan Dewan Adat Dayak kecamatan.  Besli tidak bekerja sendiri, dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh dua orang pejabat yang diangkatnya, yakni Ahian Codak diangkatnya sebagai juru tulis (sekretaris) dan Sabet sebagai pangarah tahutn (urusan pertanian).  Namun, Besli mengaku, selama empat tahun menjabat, ia tidak pernah menemukan kendala dari warga yang mayoritas Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sabandut merupakan kampong yang aman, tidak pernah ada kasus-kasus atau pelanggaran social”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besli kini menjadi Mandor, disebuah perkebunan kelapa sawit di Sabandut yang baru berperasi Maret 2008 lalu. Ia membawahi 100-an pekerja. Berbeda dengan abangnya yang menjadi Kepala Adat, Beto Sihombing  sukses menjadi salah satu dari tujuh pedagang besar di Sabandut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beto gigih dalam berusaha, ia sangat ulet bekerja”&lt;br /&gt;“wajarlah, ia mampu memiliki dua buah truk sebagai alat pengangkut karet”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berdagang, Beto juga aktif diorganisasi. Ia dipilih anggota sebuah perkumpulan warga menjadi bendahara pada tanggal 1 April 2003 lalu. Perkumpulan ini mengelola sebuah group kesenian tradisional Dayak, Jonggan. Grup music ini diberi nama “Jonggan Pangingu Batu Baya”. Tidak hanya itu, Beto dan saudara-saudaranya juga aktif diorganisasi social lainnya, salah satunya kelompok arisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada empat kelompok arisan warga di Sabandut”&lt;br /&gt;“PEGA, Persatuan Gawe Adat”&lt;br /&gt;“BAPAKAT, PORSET dan TOGA PUNGUAN SIHOMBING, sebuah organisasi persatuan marga Sihombing yang sudah terbentuk se-Kalimantan Barat sejak tahun 1962”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pemekaran desa tahun 2007, terjadi pula pemilihan Kepala Desa Sabandut yang baru, menggantikan Kalvianus Malik.  Pemilihan diadakan pada bulan Mei 2007. Ada 4 calon yang bertarung; Anto Situhu Halawa, Alexius Laon, Yakobus dan Mahadi Jimat. Dalam pemilihan, Anto Situhu Halawa ditetapkan sebagai Kepala Desa Sabandut terpilih. Terkait kemenangan Anto, Beto Sihombing bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“saya termasuk tim sukses Anto. Saya menggunakan jalur keluarga”&lt;br /&gt;“SDM dikampung ini sangat rendah, jadi wajar saja kalau Anto terpilih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anto Situhu Halawa, sebelumnya adalah  seorang motivator agama dan penginjil dari Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Sabandut. Ia menikah dengan Tanggile’, seorang gadis Dayak dari Kampung Sabandut. Dari perkawinannya, Anto memiliki dua orang anak. Sejak 31 Maret 2008 lalu, Beto Sihombing menjadi pemasok belanja bagi sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Lestari Alam Raya (PT LAR). PT LAR mengusahakan lahan seluas 14.000 Ha, pimpinan perusahaannya, Sihombing dan Aritonang. David Darol, bekas Kepala Bappeda Bengkayang tercatat sebagai Kepala Hubungan Masyarakat (Humas).&lt;br /&gt;Sebagai aktivis pemberdayaan masyarakat, ketika PT LAR masuk dan beroperasi, Martinus Anam menginisiasi pembentukan sebuah forum warga yang diberinya nama “Tim Independen”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tugas anggota tim ini adalah memantau perkembangan situasi, agar perusahaan tidak merugikan masyarakat”&lt;br /&gt;“kami ingin menjadi mediator, bila nantinya ada konflik perusahaan dengan masyarakat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi ini dibentuk sejak bulan Mei 2008 lalu, beranggotakan 5 orang tokoh masyarakat, termasuk Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Kecamatan Mandor Capkala. Ketuanya Alexius Laon, bekas calon Kepala Desa Sabandut yang dikalahkan Anto Situhu Halawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU sore, dikejauhan seseorang tampak tergesa. Jalannya tertatih-tatih. Ia tidak memakai alat kaki, padahal jalanan beraspal. Kacamata hitam dipakainya. Didadanya melekat tulisan “Satukan Langkah, Lakukan Perubahan”, baju kaos bergambar HM.Akil Mochtar-AR.Mecer, pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Kalbar dalam pilkada 2007 lalu. “Aku Mambah, asal Samantakitn” sahutnya mengenalkan diri. Tangannya menjulur, ia mengajak bersalaman. Terasa tangannya kasar, pertanda pekerja keras. Senyum menghias, giginya kehitaman, beberapa sudah lepas. Ketika kacamata hitam dilepas, sorot matanya tajam. Otot tangannya masih terlihat kekar. Samantakitn adalah sebuah kampong diwilayah Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak sekarang. Ia biasa dipanggil Tangkulu’, usianya menginjak angka 67 tahun.  &lt;br /&gt;Mambah peranakan Cina-Dayak, ayahnya Nya Oku Lie Con, seorang Cina dan ibunya Anyuk, asal Caokng, Binua Gado’. Kedua orang tuanya menikah di Caokng, tetapi kemudian memilih tinggal di Samantakitn. Setelah menikah dengan gadis Sabiris, Mambah pindah ke Mandor. Dari perkawinannya, ia memiliki tujuh orang anak, tiga laki-laki dan empat perempuan. Ia kakek dari lima orang cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sejak muda, saya pandai membuat kun soi (peti mati Cina)”  &lt;br /&gt;“saya belajar membuat kun soi dari bapak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tinggal di Mandor, ia memutuskan untuk beralih profesi. Perubahan social di Mandor memaksanya untuk berhenti jadi tukang kun soi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sudah tidak ada lagi orang yang pesan kun soi, disini kebanyakan Orang Dayak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hampir dua puluh tahun, Mambah menjadi panyagahatn (profesi untuk memimpin upacara/ritual adat). Dalam ritual adat Dayak, panyangahatn berfungsi untuk nyangahatn, doa litani yang berisi permohonan kepada pencipta alam semesta, untuk tujuan tertentu. Selain menjadi panyangahatn, Mambah sekaligus berprofesi sebagai Nyandon (pembaca syair kematian). Profesi ini, hanya ia sendiri yang mampu. Tidak banyak orang yang mampu berprofesi ganda seperti Mambah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“banyak syarat yang harus terpenuhi, salah satunya sudah menikah adat secara lengkap”&lt;br /&gt;“juga berdasarkan keturunan”&lt;br /&gt;“atau bisa juga karena yang bersangkutan diangkat secara adat oleh warga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004 lalu, ia juga memutuskan untuk berhenti sebagai panyangahatn, ia kemudian digantikan Akun Bayang. Kini, Mambah hanya berprofesi sebagai Nyandon, sebuah profesi yang sudah sangat langka di Kecamatan Mandor Capkala.  Setiap kali dipanggil Nyandon, Mambah diberi jasa anam mata nyandon (uang Rp.66.000), sote’ lagor (sebuah piring), sote’ iso’ (sebuah parang), sote’ tapayatn (satu buah tempayan) dan sote’ raakng babotn (sebuah rahang babi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sekarang jadi Nyandon tidak ada guna lagi”&lt;br /&gt;“keluarga yang anggotanya meninggal lebih memilih doa secara agama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama modern yang umumnya dianut warga sekarang menyebabkan mereka menghindari dan bahkan cendrung menghilangkan tradisi yang bernuansa “mistis” ini, karena dianggap telah bertentangan dengan nilai-nilai iman mereka yang baru. Dibalik kaca mata hitamnya, beberapa butiran bening menetes. Kulit mukanya berkerut. Tangan kirinya memegangi kepala. Ia sedih, mungkin juga cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dia (Mambah) ingin minum (arak), makanya seperti itu” ujar Kacos.&lt;br /&gt;“wah, kalau gitu, tolong dikasi (arak) secangkir”&lt;br /&gt;“jangaaan,….dia kalau dikasi, akan lama disini” &lt;br /&gt;“Dia kalau minum pasti sampai mabuk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacos adalah ibu pemilik warung disimpang Sabandut. Menurutnya, setiap hari Mambah pasti datang di toko untuk membeli arak dan meminumnya hingga mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kadang-kadang, ia dijemput anak atau cucunya untuk pulang”&lt;br /&gt;“bahkan pernah tertidur dijalan raya, ia mabuk berat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mambah adalah potret kehidupan Orang Dayak masa kini. Barangkali, ia merupakan satu dari ratusan ribu penjaga tradisi local Dayak yang “hilang” keseimbangan diri karena perubahan zaman. Ia mungkin merasa telah asing dinegerinya sendiri, sebuah negeri yang katanya beradab, namun penghormatan terhadap sejarah dan kearifan leluhur memudar, bahkan meniadakannya. Dibenaknya, mungkin saja masih ada setitik harapan untuk berubah, memanusiakan manusia-manusia Dayak, yang terlena dengan kekuasaan dan kedudukan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-5364006129199908980?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/5364006129199908980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=5364006129199908980&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/5364006129199908980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/5364006129199908980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/04/sengatan-nyandon-tanah-sabiris.html' title='SENGATAN NYANDON TANAH SABIRIS'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-1547774502223889340</id><published>2009-03-27T23:23:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T23:25:18.738-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konflik dan Pluralisme'/><title type='text'>CURAHAN HATI SEORANG DAYAK</title><content type='html'>Sejak jam 7 pagi tadi, saya kedatangan 2 tamu dari kampung pedalaman. Mereka sengaja datang untuk berkeluh kesah tentang perkembangan dikawasan yang dihuni orang Dayak sana. Mereka risau, bahwa perhatian pemerintah tak muncul. Kebijaksanaan tak ada, seakan-akan, mereka kehilangan makna hidup dialam kemerdekaan. Sejenak saya tersentak, saya sedih. Sepulang mereka jam 1 tadi, seharian saya risau. Saya bingung harus mengungkapkan kepada siapa hal ini. Syukurlah, blog ini menjadi teman setia, saya ingin berbagi dengan saudara-saudaraku dimanapun anda berada. Dari penelusuran cerita, paling tidak ada 2 hal yang rumit dan sulit terpecahkan penyelesaiannya, yang terungkap dari bibir mereka ini. Pertama; politik. Di kalbar, politik masih bercirikan primordialisme. Masing-masing kelompok etnik menonjolkan ke-etnisannya untuk meraup dukungan politik. Tidak ada ruang bagi isu lain, selain isu keterwakilan kelompok etnik. Para elit dari masing-masing kelompok etnik menurut saya sebagai “penggagas” isu ini, sebagai strategi pemenangan mereka. Mereka seakan lupa, bahwa dengan tingkat pendidikan yang rendah, interaksi yang sulit terjadi karena letak geografis yang saling berjauhan antara kelompok etnis, dan sejarah konflik kekerasan bernuansa etnik seringkali terjadi diwilayah ini, bisa menjadi bom waktu untuk terjadinya konflik kekerasan etnik dikemudian hari.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Mainstream pluralisme sulit dilakukan oleh para elite, mereka seakan justru menjadikan bahwa pluralisme akan mempertajam kecendrungan konflik. Ciri homogenitas seakan diciptakan, mirip politik unifikasi orde baru. Otonomi daerah, dan pemekaran daerah terbukti persis memperkuat homogenitas etnis di kalbar. Ada semacam teritori etnik dimasing-masing daerah hasil pemekaran. Perbedaan agama, juga dipertajam. Hal ini menambah daftar panjang isu politik, apalagi menjelang Pemilu. Umum kita ketahui, dari 38 partai politik peserta pemilu, sebagian masih “bermodal” ciri agama sebagai penguat identitas untuk meraup suara. Ada PKS, PPP, PBR, PKNU, PKB, PAN, PMB, dll yang bernuansa Islam dan ada PDS, PKDI, dll yang bernuansa Kristen. Beberapa partai lainnya bersifat nasionalis-religius, tetapi dalam praktek politiknya justru bersifat agamais. Ini tentunya tak lepas dari “kadar” para elitnya. Pangsa pasar pemilih terfragmentasi berdasarkan agama yang dianutnya. Secara sederhana begini, Orang Islam tak mungkin memilih caleg dari partai Kristen, dan sebaliknya orang Kristen tak akan mungkin memilih caleg dari partai Islam. Pada partai “nasionalis”, caleg kristen tak mungkin dipilih oleh orang Islam, demikian juga caleg Islam tak mungkin dipilih oleh orang Kristen. Ada semacam “pemilahan” alami oleh rakyat yang menganut agama, dan ini sudah berlangsung 7 kali pemilu !!!&lt;br /&gt;Kedua, yang merisaukan saya adalah ekspansi perkebunan dan pertambangan atas nama pembangunan daerah, lebih-lebih katanya diprioritaskan di kawasan pedalaman dan perbatasan negara. Di dua kawasan dimaksud, penduduknya tak lain orang Dayak, sebuah kelompok etnik yang selama ini dianggap terbelakang. Saya takut, kejutan budaya “culture shok” akan terjadi pada kelompok etnik ini. Keadaan yang dulu tenang, aman dan nyaman, akan berubah menjadi hingar bingar oleh arus orang dan barang. Orang-orang dari berbagai penjuru bumi akan datang, dan menawarkan mimpi-mimpi indah, nikmatnya modernisasi. Pada saat isu pluralisme menjadi belum tersentuh dikawasan itu, bisa jadi mimpi indah akan berubah menjadi mimpi buruk. Banyak kasus kekerasan antar etnik terjadi karena culture shoc ini, masa lalu. Orang Dayak terkejut, dikampungnya tiba-tiba banyak sekali orang luar yang berbeda suku, agama dan kebudayaan. Penghargaan atas keberagaman melunak, berganti menjadi egosentrisme etnik, karena merasa sudah kuat – besar—banyak.  Nah, karena umumnya, orang luar ini menetap dikawasan “tepi jalan”, yang mudah untuk akses luar dengan ketersediaan transportasi, teknologi dan ekonomi, orang yang tinggal dikawasan hutan dan hulu sungai merasa aksesnya untuk dunia luar tertutup. Teritori yang dulunya menjadi teritori bebas ternyata sudah menjadi teritori orang luar, yang kemudian memunculkan rasa tertekan, takut yang teramat sangat. Hasil akhirnya, upaya “memindahkan” penduduk secara paksa dilakukan,dengan pertumpahan darah. Itulah yang terjadi tahun 1965, 1996, 1997, 1999 lalu.  Sudah menjadi rahasia umum di Kalbar, perusahaan (baik perkebunan maupun pertambangan) yang masuk membawa tenaga kerja dari luar daerah, luar pulau. Pemuda-pemuda setempat tidak terakomodir karena kurang pendidikan, keahlian, ketrampilan, pengalaman, termasuk kurang koneksi. Karena terdesak, bukan tidak mungkin, para pemuda ini akan merasa kembali terancam masa depannya. “percuma sekolah, toh mendapat pekerjaan sulit”. Dan kalau rasa frustasi ini terabaikan, “pengusiran” akan terjadi lagi, sekedar untuk menjelaskan pada pihak luar bahwa mereka juga butuh pekerjaan, butuh pengakuan hak, butuh infrastruktur, dan sebagainya. Ini menurut saya juga bom waktu di Kalbar dikemudian hari. &lt;br /&gt;Mencari jalan terbaik &lt;br /&gt;Tidak ada jalan lain, selain jalan kebijaksanaan bagi para pemimpin bangsa ini. Bahwa, diperlukan sungguh-sungguh untuk menjelaskan dan memerluas pemahaman akan pluralisme. Jelaskanlah kepada para elit politik, jual-lah program, bukan etnik dan agama. Jual-lah integritas moral, bukan hasutan. Jelaskanlah kepada rakyat Kalbar bahwa dunia telah berubah, ikatan etnik, agama dan daerah bukan lagi sebagai komiditi unggulan untuk menang di politik. Ikatan-ikatan itu hanyalah warna kehidupan yang tidak bisa dihilangkan. Jelaskanlah bahwa masuknya investasi dipedalaman dan perbatasan akan merangkul berbagai kelompok, untuk kesejahteraan bersama. Jelaskan bahwa bertambahnya kelompok etnik, agama, asal daerah, dll akan menambah karakter “kompetisi” yang sehat diantara berbagai kelompok itu, dan bukan sebagai ancaman. Dengan kompetisi kehidupan, orang akan kreatif dan memunculkan inisiatif untuk meningkatkan taraf kehidupan melalui karya yang profesional—mandiri – berdaya saing tinggi. Dan pasar masa depan hanya akan dikuasai orang berpendidikan tinggi, profesional, kreatif dan memiliki akses luas. Jelaskanlah itu pada masayarakat Dayak dipedalaman sana, doronglah mereka untuk maju dan bersekolah.  Munculkan jalan kebijaksanaan untuk membangun kelompok etnik yang “merasa” tertinggal dipedalaman dan perbatasan negara sana, jangan biarkan mereka, atau akan muncul lagi gerakan borneo raya, yang ingin melepaskan diri dari NKRI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-1547774502223889340?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/1547774502223889340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=1547774502223889340&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/1547774502223889340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/1547774502223889340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/03/curahan-hati-seorang-dayak.html' title='CURAHAN HATI SEORANG DAYAK'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-1921271971146991640</id><published>2009-03-25T20:56:00.000-07:00</published><updated>2009-03-25T21:01:07.851-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Preman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Lucu'/><title type='text'>Toss Bersama Preman</title><content type='html'>Suatu hari saya naik metromini menuju ke Mega Mall. Di tol landak, mobil kami dibajak oleh sejumlah preman, mereka berusaha untuk mengambil barang-barang berharga para penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ketakutan saya berusaha untuk menyembunyikan handphone dan dompet ke bawah mobil tapi ketika saya coba tengok ke belakang, salah seorang preman itu tersenyum pada saya, maka terjadilah percakapan antara saya dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preman : "Tenang Pak, Bapak ga akan kita jambret deh."&lt;br /&gt;Saya : "Benar yah Mas, saya ga akan dijambret."&lt;br /&gt;Preman : "Ya pokoknya Bapak tenang aja deh."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa kurang yakin, saya coba melihat preman yang di depan yang sedang mengancam penumpang lain dengan pisau. Tubuhnya yang penuh tato membuat saya takut. Saya merasa walau preman di belakang bilang tidak tapi kalo ia mengancam saya pasti saya kena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan mengerti kondisi saya, satu hal yang menakjubkan, preman yang seram ini menghampiri saya dan berkata, "Tenang Pak, Bapak ga akan saya copet, Bapak ngga percaya sama saya? Kalo gitu kita toss dulu deh. Lalu saya pun toss dengan preman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tersenyum saya berkata, "Terima kasih ya Mas, karena saya ga dicopet." Entah apa benar ucapan saya itu. Ketika turun hanya satu yang saya lakukan yaitu terbahak-bahak....&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-1921271971146991640?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/1921271971146991640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=1921271971146991640&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/1921271971146991640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/1921271971146991640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/03/toss-bersama-preman.html' title='Toss Bersama Preman'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-3902684647580819329</id><published>2009-03-24T22:55:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T23:24:19.170-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demokrat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PNBK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Oligarki'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PDIP'/><title type='text'>PEMILU 2009, KEMANA SUARA KAUM DAYAK ?</title><content type='html'>PEMILU 2009 di Kalbar diikuti oleh 36 partai politik, memperebutkan 2,4 juta pemilih dari 4,3 juta penduduk. ada 11.000-an calon legislatif dari berbagai tingkatan; DPR RI, DPRD PROPINSI DAN DPRD KABUPATEN/KOTA dan 26 orang calon DPD RI. di DPR RI, calon orang Dayak hampir 20 orang; dengan sebaran sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. PDIP : 4 orang dari 11 calon, yakni dr. Karolin (Putri Gubernur Kalbar), Lazarus S.Sos (Wakil Ketua DPD PDIP Kalbar), Drs. Agustinus Clarus, M.Si (DPR RI 2004-2009) dan Drs Stepanus Djuweng (Aktivis LSM Pancur Kasih)&lt;br /&gt;2. GOLKAR; 1 orang, Yohanes Nenes, SH (Advokat)&lt;br /&gt;3. PDS: 1 orang, Pdp Harri S Simin, STh. MH&lt;br /&gt;4. PNBK: 1 orang, Drs. AR.Mecer (LSM Pancur Kasih)&lt;br /&gt;dan diberbagai parpol kecil, dengan kisaran 1-2 orang/parpol&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;pesaing-pesaing "besar" politisi Dayak ini adalah PPP (H. Usman Djafar, mantan Gubernur Kalbar 2002-2008), H. Oesman Sapta (Mantan Calon Gubernur Kalbar, Ketua Umum PPD), H. Henri Usman (Ketua DPD Partai Demokrat Kalbar, mantan Sekda Propinsi Kalbar), dll. Di DPD RI, ada 18 orang Dayak yang mencalonkan diri; dari kalangan LSM (Erma S Ranik, SH (Perkumpulan Pena), Drs. Niko Andas Putra (LSM Pancur Kasih), dan lain-lain. bila dalam Pemilu 2004, orang Dayak hanya terwakili 1 orang; PDIP 1 orang dan Golkar 1 orang (dilantik sebagai PAW menggantikan Akil Mochtar, pada Januari 2009) dan 2 orang di DPD (DR. Piet Herman Abik, dan Maria Goreti). menariknya, Pemilu 2009 di Kalbar, mayoritas kontestannya yang terkenal dan berpotensi menang berasal dari Kalangan LSM, terutama LSM Pancur Kasih, selain dari mantan birokrat dan politisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oligarki politik Dayak di Kalbar juga terjadi, anak pejabat, saudara kandung (PDIP), bapak-anak, suami-istri (PNBK), dll. di PNBK misalnya, AR Mecer (caleg DPR RI) dan FX Trides (Caleg Propinsi) adalah ayah dan anak sulung, Drs. Marselinus Maran (caleg propinsi dapil Landak) dan Elisabet, BA (caleg propinsi dapil kota pontianak), adalah suami-istri. diatas hanyalah contoh yang muncul dipermukaan, banyak lagi diparpol lain, diberbagai daerah di Kalbar. Oligarki politik tampaknya melanda DAYAK, semua berebut di pusat kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-3902684647580819329?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/3902684647580819329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=3902684647580819329&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/3902684647580819329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/3902684647580819329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/03/pemilu-2009-kemana-suara-kaum-dayak.html' title='PEMILU 2009, KEMANA SUARA KAUM DAYAK ?'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-7426683508778690192</id><published>2009-03-20T20:14:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T20:20:02.320-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Inklusif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='West Borneo'/><title type='text'>INKLUSIF DAYAK</title><content type='html'>Hampir  5 jam, saya memberi ceramah kepada para pendeta, penginjil, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat dari belasan kampung asal Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang. Mereka 40-an orang. Mereka mayoritas orang Dayak, tetapi beberapa diantaranya non Dayak. Oleh panitia, saya diberi tugas untuk menjelaskan filosofi hidup Orang Dayak dalam kerangka membangun sikap inklusif ditengah-tengah perkembangan zaman sekarang ini. &lt;br /&gt;Awalnya, memang saya agak ragu untuk menjelaskan topik ini, maklumlah, para peserta umumnya para “ahli” teologi Kristen. Syukurlah, bersama saya, hadir juga seorang ahli Dayak Selako, dari Kota Singkawang, Simon Takdir, MA. Berdua Simon, saya mulai sesi dengan mengajak peserta nonton film dokumenter “Dayak Tempoe Doeloe” yang berhasil dibuat oleh seorang misionaris ditahun 1940-an. 45 menit waktu tersedia untuk menonton film yang luar biasa ini, sebuah film yang mengisahkan budaya, filosofi, kehidupan sehari-hari orang Dayak dimasa itu, masa dimana belum ada &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;ekspansi perkebunan, eksploitasi hutan, pengkaplingan tanah, perusakan sungai, transmigrasi dari pulau lain dan perdagangan antar negara. Mereka hidup dalam kedamaian, kerja keras, solidaritas sosial yang tinggi, tinggal dirumah panjang, bebas dan aman menyelenggarakan ritual tradisionalnya sebuah masa yang menurut saya penuh solidaritas, damai dan mandiri.&lt;br /&gt;Dari kejauhan, saya melihat decak kagum pada wajah-wajah peserta. Serius, terkadang tergelak. Mereka kagum dengan keindahan masa lalu. Kagum akan keagungan leluhur, kagum akan solidaritas sosial, kagum akan betapa mulianya hati mereka memandang dirinya, orang lain, sang pencipta dan alam semesta. Semuanya seakan telah membentuk sebuah sistem sosio-magis yang mampu menopang masa depan Kalimantan. Tetapi itu 60 tahun lalu, he....&lt;br /&gt;Pada sesi kedua, saya mengajak peserta untuk mengeksplorasi Orang Dayak dimasa kini. Sebuah bangsa di Kalimantan yang mengalami berbagai pengaruh global; dari pengaruh India, Islam, Kristen, Cina hingga Jawa. Peristiwanya terjadi sejak abad ke-1. Warisan-warisan dari berbagai pengaruh ini masih tampak; agama, ritual, situs-situs, bahasa hingga perilaku sosial. Dari abad pertama masehi, pengaruh Hindu demikian kuat dikalangan Dayak. Mereka mengenal kasta-kasta, terutama diperhuluan kapuas. Sifat egaliter pada Orang Dayak menjadi berkurang karena pengaruh ini. Kerajaan-kerajaan Hindu berdiri, dan memantapkan kekuasaan dikalangan Dayak yang masih tersisa kini; temenggung, patih, mangku, jubata/dewata, sesajian dalam ritual adat, dll. Banyak Orang Dayak menjadi Hinduis. &lt;br /&gt;Beberapa ratus tahun kemudian, pengaruh Islam masuk. Kerajaan Hindu berhasil terkonversi menjadi Kerajaan Islam, ini terutama dikawasan pesisir; Sukadana, Matan, Simpang, Kubu, Pontianak, Landak, Mempawah, Sambas. Perkawinan silang menjadi pola dalam konversi ini, termasuk melalui jasa perdagangan. Orang Dayak juga mulai masuk islam, sebagian besar menyingkir kepedalaman. Kesultanan Islam mengundang Cina dari Brunei untuk menambang emas, di Mandor (Kesultanan Mempawah) dan Monterado (Kesultanan Sambas), dari sepuluh orang menjadi ratusan orang, bahkan dalam kurun waktu 30 tahun, menjadi ratusan ribu orang. Populasi yang besar, menjaga hubungan keluarga/klan, keamanan dan sumber emas yang melimpah memotivasi Cina untuk bersekutu; mereka membentuk Kongsi. Ada 2 kongsi besar dan kuat, Mandor dan Monterado. Sistem pemerintahan Kongsi ini mirip “pemerintahan republik”, sehingga banyak penulis barat mengatakan seakan-akan ada republik di Borneo, kekuasaan kongsi ini cukup lama, ratusan tahun. Kekuasaan Kongsi Cina yang lama juga berimbas pada tatanan hidup orang Dayak. Terjadi inkulturasi adat, kebiasaan-kebiasaan baru. Salah satunya yang paling berpengaruh dan terasa hingga hari ini adalah; pesta-pesta, arak, judi. Bahkan dalam seorang Cina ditokohkan Dayak sebagai salah seorang dewa; Nek Bancina Tanyukng Bunga (Nek Bancina dari Tanjung Bunga, kawasan Pasir Panjang Kota Singkawang sekarang). &lt;br /&gt;Perkawinan silang juga terjadi antara Cina dan Dayak, banyak orang Dayak yang menjadi Cina dan sebaliknya, tergantung ia tinggal dikomunitas siapa. Kuatnya Kongsi menjadi ancaman baru bagi Kesultanan Islam, terutama di Sambas dan Mempawah. Peperangan demi peperangan terjadi, hasil akhirnya, Kesultanan mengundang Kolonial Belanda untuk datang membantu dengan beragam perjanjian. Beberapa Kesultanan terjebak dan akhirnya menundukan diri pada Kolonial. Awal abad 19, dua Kongsi (Mandor dan Monterado) berhasil ditaklukan Belanda dan dibubarkan secara resmi. Pembubaran Kongsi menghancurkan kekuatan Cina, sebagian lari kepedalaman dan bergabung dengan Dayak dan sebagian lari ke Singapura. &lt;br /&gt;Untuk kepentingan administrasi kependudukan, pemerintah Kolonial melakukan sensus penduduk. Hasilnya, penduduk non muslim dikategorikan sebagai suku Dayak dan penduduk muslim disebutnya sebagai suku Melayu. Sebuah rekayasa politik identitas dimulai, dan berhasil hingga hari ini. Melayu banyak yang menjadi pegawai pemerintah kolonial, Dayak tetap sebagai pembayar pajak berganda (balasteng). Dari segi pendidikan, Melayu lebih diutamakan karena relasi yang amat baik dan mudah. Pada taraf tertentu, demikian juga Cina. Untuk menghindarkan diri dari pajak berganda dan menaikan martabat dan derajat, Orang Dayak memilih menjadi Islam dan kemudian menyebut diri sebagai Melayu. Dikalangan Orang Dayak, mereka yang berkonversi ini disebutnya Senganan, Urakng Laut, dll. Tetapi, pan islamisme makin merebak di tanah air; Perang Aceh, Perang Padri di Minangkabau, dan sebagian besar tanah Jawa. Belanda terdesak oleh gerakan ini. &lt;br /&gt;Di Kalimantan Barat, gerakan ini juga meluas hingga dipedalaman, utamanya dikampung-kampung sepanjang sungai kapuas. Belanda kemudian mengizinkan Misionaris Katolik dan Zending Protestan masuk di Kalbar. Misi awalnya membangun gereja di Sejiram, Kapuas Hulu. Sebuah sekolah juga didirikan. Namun, gerakan pan islamisme semakin meluas di kawasan utara. Pihak misi mendirikan sekolah dan gereja tak jauh dari Singkawang, Nyarumkop. Rumah sakit juga didirikan, di Singkawang, dan Sei Jawi Pontianak. Para zending juga mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit di Serukam, Bengkayang. Hasilnya, Orang Dayak mulai memeluk Katolik dan Kristen dan bersekolah. Selang 30 tahun pasca pendirian sekolah-sekolah ini, orang Dayak berpendidikan mula sadar. Perjuangan bukan saja melalui pendidikan, tetapi juga ekonomi dan politik. Beberapa koperasi didirikan, sebuah partai politik dideklarasikan. Hasil akhirnya, orang Dayak mulai bisa menjadi pegawai pemerintah, kepala daerah dan legislatif. Inilah periode pertama kebangkitan Dayak, demikian Kristianus Atok mengungkap.    &lt;br /&gt;Kini, menurut Pak Teni, tokoh Katolik dari Samalantan, keadaan berubah drastis. Orang Dayak merasa tidak aman dirumah sendiri; takut dengan masa depan. Eksploitasi hutan begitu masif, pengkaplingan tanah untuk kawasan perkebunan, pertambangan, perumahan terjadi disetiap sudut kampung. Pemindahan penduduk dari luar pulau terjadi setiap hari, baik legal maupun ilegal. Hiburan malam terjadi setiap minggu, apalagi menjelang musim pesta padi dan ujian akhir nasional (UAN) yang berpengaruh pada kualitas, perilaku anak-anak dan remaja Dayak. Lain lagi dengan Pak Titus Tumba, asal Mandung Tarusan. Ia menyorot perkawinan campur yang terjadi pada gadis-gadis Dayak dikampung-kampung. Mereka menjadi “pindah suku” karena konversi agama. “saya takut, nanti Orang Dayak akan hilang” ujarnya setengah berbisik. Saya terkejut. Tak jauh dari Pak Titus, seorang pemuda Dayak juga bicara. Beberapa fakta terungkap, beberapa cerita menguap. Salah satunya, Dayak mulai kehilangan situs-situs asli sebagai simbol peradaban masa lalu. Pak Erdi, dari Serukam menjelaskan bahwa banyak tempat keramat Dayak menjadi hilang, rusak dan ditinggalkan masyarakat adat. “ini semua karena doktrin agama dan doktrin modernisasi, semua yang berbau tradisional dianggap tahyul, kuno, primitif dan ketinggalan zaman” katanya. Sorot matanya menyempit, ia sedih. &lt;br /&gt;Bukti-bukti diatas, kiranya dapat menggambarkan inklusifisme Dayak. Sebuah sikap yang mudah “beradaptasi” dengan perkembangan, pengaruh global. Sebuah sikap yang menjadi ancaman dimasa depan,sekaligus peluang dimasa kini. Kalau dikelola baik ia akan menjadi peluang masa depan, namun bila tak dikelola secara baik, ia hanya akan menjadi ancaman bagi eksistensi Dayak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-7426683508778690192?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/7426683508778690192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=7426683508778690192&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/7426683508778690192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/7426683508778690192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/03/inklusif-dayak.html' title='INKLUSIF DAYAK'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-7801619945655807354</id><published>2009-03-17T19:46:00.000-07:00</published><updated>2009-03-17T19:48:00.288-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo'/><title type='text'>MANUSIA PENGIKUT CELENG</title><content type='html'>Di negeri kilometer sepuluh sana, pernah ada orang yang melakukan tindakan ‘usil’, yakni mempelajari kembali asal muasal jalan yang menghubungkan Kota Sana dan Kota Sini. Menurut orang yang usil ini, jalan panjang yang membentang itu, ternyata dulunya dibuat dengan mengikuti jalan setapak yang dibuat babi hutan atau dikenal celeng. Semata-mata karena celeng sudah sering melewati jalan tersebut dan tanahnya sudah keras maka pembuatan jalan pun dilakukan hanya mengikuti kehendak sang celeng. Berabad-abad setelah jalan itu dibuat, masih menurut si usil tadi, ada ribuan manusia setiap harinya yang demikian bodohnya mengikuti kehendak sang celeng.&lt;br /&gt;Cerita diatas mengingatkan saya pada peta jalan bangsa ini. Sebuah peta yang dibuat tidak demokratis, tidak partisipatif dan tidak sesuai kebutuhan perubahan dan atau perkembangan manusia. Banyak peta yang dibuat karena mengikuti jalan celeng. Memang, tidak sedikit manusia yang terjebak sindroma celeng. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman saya yang terbiasa berangkat ke kantor dari rumah, suatu pagi—padahal  tujuannya ketempat lain—ia baru sadar kesalahannya setelah sampai dikantor. Demikian juga bangsa ini. ‘celeng’ pembuka jalan untuk bangsa ini menganggap perlu adanya “wakil rakyat” yang ‘merakyat dan humanis’, Sekarang, begitu dibuat jalan baru, maka terbingung-bingunglah kita. &lt;br /&gt;Belajar dari sini, cara otak manusia ternyata bekerja sangat potensial untuk menyabotase imajinasi dan inovasi. Kebiasaan, kenyamanan, kesuksesan, dan kemudian membuat format dalam otak. Betapa besar pun perubahan yang hadir didepan kepala anda, format terakhir akan tetap ngotot dengan status quo-nya. Coba perkatikan dua rangkaian kalimat berikut. Pertama ia berbunyi: Kalbar is the best. Kedua ia tertulis; Kalbar is the the best. Bagi kebanyakan orang, dan saya pernah mencobanya didepan puluhan orang berbeda, kedua kalimat diatas terbaca sama. Padahal, kalimat kedua memiliki dua kata the. Apa yang terjadi dalam kasus dua kalimat ini ?  disamping kita terjebak kebiasaan ala sindroma celeng akibat format otak yang tidak mau berubah, dalam melihatnya kemudian ternyata berlaku kaidah we see what we expect to see.&lt;br /&gt;Saya teringat sebuah iklan rokok di TV yang menyiratkan perlunya perubahan. Tetapi ia hanya sebatas iklan-kan. Di kehidupan nyata, perubahan memang pasti terjadi dan bukan iklan ! Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun, perubahan selalu hadir dihadapan kita. Tidak seorangpun manusia yang mampu melawan perubahan, bagi yang melawan, tentu saja ia akan tewas.  &lt;br /&gt;Ada saatnya nanti, menurut saya, perubahan akan terjadi mengikuti jalan celeng lagi. Jalan lurus, terkadang berlobang, terkadang dekat jurang.  Dan ada saatnya nanti, banyak manusia yang tak mau berubah, dan tak mau di ubah. Kalau dia mengikuti sebuah jalan, jalan itulah yang dipakainya meski menyakitkan. Itulah yang kemudian dikenal sebagai manusia celeng. Ia tidak sadar, bahwa masih ada jalan lain. &lt;br /&gt;Hari ini, terutama menjelang Pemilu,  semakin banyak manusia yang selalu mengikuti “gaya” celeng. Berjalan beriringan, teratur dan rapi, melongok kekiri dan kadang kekanan, kepala manggut-manggut, berteriak riuh rendah, dan tanpa kritis melihat bahwa yang terjadi didepan hanyalah jalan yang dibuat celeng. Dan hari ini, saya juga melihat masih banyak manusia yang terjebak dengan jalan “celeng”, maksud hati menyusuri jalan sukses karena mimpi dan harapan seseorang didunia politik, tetapi suatu ketika terjatuh dalam lubang besar, perangkap manusia lain. Ini mirip dagelan pemilu kita tahun ini. Mimpi-mimpi dan mimpi-mimpi. Tetapi, semoga saja tidak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-7801619945655807354?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/7801619945655807354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=7801619945655807354&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/7801619945655807354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/7801619945655807354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/03/manusia-pengikut-celeng.html' title='MANUSIA PENGIKUT CELENG'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-4842873677777047916</id><published>2009-03-17T19:45:00.000-07:00</published><updated>2009-03-17T19:46:46.073-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik Lokal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Borneo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bambu'/><title type='text'>BAMBU DAN PEMILU</title><content type='html'>Serumpun bambu begitu berperan dalam kehidupan. Baik binatang maupun manusia, dan bahkan hantu. Kata Gede Prama, kita harus belajar banyak dari bambu. Bambu sebatang mampu membuat kursi, bambu serumpun mampu membuat rumah. Akar bambu juga menyimpan banyak obat yang baik untuk penyembuhan. Daun bambu sangat baik untuk dijadikan abu, juga untuk pupuk. Bambu bisa hidup dalam kondisi tanah apapun. Dalam sejarahnya, bambu berperan sebagai senjata utama bangsa ini ketika melawan penjajahan. Kita mengenal isilah “bambu runcing”, bahkan di komplek UNTAN kita dengan mudah menemukan tugu bambu menjulang ke angkasa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Pemilu ? Pemilu katanya juga berperan dalam kehidupan, baik untuk binatang, manusia, tumbuhan dan bahkan hantu. Di Indonesia, Pemilu sudah berlangsung sejak 1955. Banyak pelajaran yang kita dapatkan dari Pemilu ke Pemilu. Pemilu juga menyimpan banyak obat, yang baik untuk penyembuhan. Dalam sejarahnya, Pemilu berperan sebagai alat demokrasi, tetapi seringkali Pemilu memperalat demokrasi. Kita juga mengenal istilah Caleg dalam Pemilu. Bahkan dibeberapa poster dan stiker caleg, tertulis “caleg DPR”, artinya kira-kira calon legislatif Dewan Perwakilan Rakyat. Calon legislatif dan DPR. Bukankah legislatif itu DPR ?  Diruas jalan 28 Oktober Pontianak terdapat sebuah baliho besar dengan gambar seekor orang utan dan seorang foto caleg dalam sebuah baliho. Seolah-olah orang utan dan manusia sama-sama jadi caleg. Pemilu memang menggiurkan bagi sebagian orang, tetapi juga mencemaskan bagi sebagian orang. Para politisi berebut jadi caleg dengan harapan menjadi legislatif yang mewakili rakyat pemilih. Harapannya tentu saja harapan pribadi dan kelompok kepentingan. Sudah rahasia umum, hasil pemilu tak jauh beda dengan hasil penerimaan CPNS. Siapa yang mampu melakukan “sesuatu” secara besar dan diam-diam, dialah yang terpilih. Bagi saya, dan mungkin sebagian orang, Pemilu begitu mencemaskan. Sebab, banyak caleg yang tak tahu untuk apa dia mencalonkan diri sebagai caleg, dan bahkan tak tahu apa yang harus dibuatnya ketika duduk dikursi legislatif. Sejak Nopember tahun lalu, saya sudah bertemu dan berdiskusi hampir dengan 30 orang caleg dari berbagai parpol diberbagai tingkatan legislatif. Hasilnya; sebagian besar coba-coba karena ada kesempatan untuk caleg, “yah, hitung-hitung untuk nambah pengalaman dan curriculum vitae” ujar seorang caleg yang baru lulus SMU tahun lalu. Sebagian kecil lainnya mengaku karena diajak teman dan dibantu pembiayaan ketika daftar di KPU, parpol dan pembuatan atribut. Caleg type ini biasanya caleg diurutan terbawah, dari nomor 2 dan seterusnya. Hasil berikutnya adalah beberapa juga diantaranya selalu jadi caleg pada setiap Pemilu. “Caleg menjadi pekerjaan”, gumam saya.  Tidak heran, jelang Pemilu ada-ada saja ulah caleg ini. Dari isu keterwakilan gender, kelompok etnik dan agama, hingga kampanye gratis di media dengan ulah-ulah yang menggelikan. Ini dilakukan terutama oleh caleg yang masih duduk di kursi legislatif. &lt;br /&gt;Sebagai rakyat, anda dan saya harus jeli. Pilihlah caleg yang benar-benar berkualitas, bukan saja berintelektual, tetapi juga bermoral dan beriman. Caleg type ini biasanya tidak muncul kepermukaan (media massa, sedikit atribut), tetapi kehadirannya terasa, tercium dan berwarna. Mereka adalah caleg-caleg yang mirip dengan kehidupan sebatang bambu, tidak banyak modal pupuk (finansial), tetapi kaya dengan nilai-nilai moral (sederhana, beriman dan bertakwa, jujur), kemanusiaan (memiliki empati sosial), dan intelektual. Caleg-caleg type inilah yang kita perlukan untuk mengawal perubahan di negeri ini.  Semoga &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-4842873677777047916?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/4842873677777047916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=4842873677777047916&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/4842873677777047916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/4842873677777047916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/03/bambu-dan-pemilu.html' title='BAMBU DAN PEMILU'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-2948061970099389958</id><published>2009-03-03T17:14:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T23:07:03.747-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><title type='text'>FILSAFAT DAYAK</title><content type='html'>Sesungguhnya berbicara tentang Dayak merupakan sesuatu yang misteri, perlu banyak waktu untuk mengenalinya dengan teliti sehingga paham secara benar. Istilah Dayak baru dikenal dunia setelah penemuan Dr. August Kanderland, seorang sosiolog Belanda ditahun 1803. Dalam penemuannya, August menjelaskan bahwa penduduk yang ia temui di pedalaman Borneo mengaku diri sebagai “orang daya”, koloni manusia yang tinggal dikawasan perhuluan dan non muslim. Tulisan-tulisan Dr. August ini memancing rasa ingin tahu banyak ahli dunia, khususnya tentang “The Head Hunter”. Katanya, orang Daya itu masih primitif, kanibal, sebagaimana koloni manusia yang banyak terdapat di hutan Amazon Amerika Latin. Umum dikatakan bahwa orang Dayak berasal dari Yunan, Cina Selatan, bagian hulu sungai Mekong. Namun, saya &lt;span class="fullpost"&gt;menyangsikan teori ini ! dalam berbagai analisis, saya lebih percaya bahwa Dayak adalah manusia asli Kalimantan, bukan migran dari dunia lain. Secara ilmiah, kita dapat membaca dari Wijowarsito;1957. Menurutnya jauh sebelum bangsa Austronesia (sebuah bangsa hasil perkawinan silang antar ras mongol dengan ras asli Kalimantan) datang di kepulauan Kalimantan, di kepulauan ini telah hidup dua bangsa besar, bangsa Weddoide  dan bangsa Negrito (Wijowarsito, 1957).  Pada konteks Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang, dalam batas tertentu, Dayak yang tersebar diwilayah ini merupakan klan besar dari apa yang dikenal sebagai Klemantan atau Land Dayak. Ada sekitar 4 rumpun Dayak diwilayah ini; Kanayatn, Salako, Bidayuh, dan Punan dengan beragam bahasa dan variannya. Di terminal Singkawang kita dengan mudah menemui orang-orang Dayak yang berdialek bajare, badameo/damea , bakati’, banyadu’ , bajanya, bainyam, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;World View dan Praktik Religius Dayak&lt;br /&gt;Orang Dayak adalah orang alam. Mereka hidup ditengah-tengah alam yang maha luas dan ganas. Oleh karena itu, untuk eksistensi diri, mereka selalu melakukan percobaan. Hasil percobaan-percobaan yang dianggap praktek terbaik akan diikuti, untuk warisan anak-cucu. Praktek terbaik inilah yang kini dikenal sebagai ADAT. Adat diyakini sebagai solusi menciptakan keseimbangan kehidupan, antar sesama manusia, antara mereka dengan alam sekitar dan antara mereka dengan sang penguasa alam semesta. Melanggar adat berarti mengancam kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Dayak mengenal Allah, zat tertinggi. Allah-lah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Untuk mengungkapkan apa yang disebut “Allah” , agar dapat dimengerti dan dipahami secara jelas bukanlah merpakan yang sederhana dan perlu waktu yang cukup banyak, karena tidak dapat dipisahkan dan sangat erat sekali kaitannya dengan adat, mithe-mithe tentang kejadian alam semesta dan manusia dan mithe-mithe lainya yang memperlihatkan keterkaitan-keterkaitan antara manusia dengan makhluk-makhluk lain serta alam lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas, Orang Dayak yakin bahwa ada dua ruang lingkup alam kehidupan, yaitu kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya. Yang berada di alam kehidupan nyata ialah makhluk tak hidup, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Sedangkan yang berada di alam kehidupan maya antara lain: Ibalis, bunyi’an, antu, sumangat urakng mati, dan Jubata (Tuhan Allah). Kedua alam kehidupan ini dpat saling pengaruh-mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Kekuatan supranatural yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu contoh dari akibat tersebut di atas. Untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan alam nyatan dan kehidupan alam maya, serta untuk menata seluruh aspek kehidupan warganya, hubungan timbal-balik sesama warganya, hubungan warganya dengan alam lingkungannya, serta penciptanya/Jubata agar tetap serasi dan harmonis, nenek moyang para leluhur mereka telah menyusun secara arif dan bijaksana ketentuan-ketentuan, aturan-aturan yang harus ditaati dan dijadikan pengangan hidup bagi seluruh warganya dan warga keturunannya dari generasi ke generasi sampai kini, yang terangkum dalam apa yang disebut ADAT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Dayak yang hidup berpencar-pencar di desa mereka masing-masing secara umum dikategorikan dalam masyarakat horticultural (Kottak : 1974). Sebuah masyarakat yang menanam tanaman pangan guna memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga dalam jangka waktu satu tahun. Bentuk subsistensi yang demikian itu bukan untuk mengkasilkan produk yang surplus (pasar oriented), namun hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja. Orang Dayak dalam menjalani rutinitas kehidupannya tidak lepas dari praktek religius tradisionalnya – Religi Neolitikum – yang diwarisi oleh para leluhurnya, terutama dala interaksinya dengan alam lingkungan hidupnya (Hofes: 1983).  mereka percaya bahwa dalam usaha mendapatkan rejeki, kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan ini tidak hanya bertumpu pada usaha kerja keras saja, tetapi juga pada harapan adanya campur tangan dari “apa” yang mereka yakini.  Dengan kata lain, religi tradisionalnya mengajarkan bahwa segala sesuatu yang mereka dapatkan dalam kehidupan mereka – baik dan jahat – selalu ada campur tangan dari unur-unsur lain di luar manusia.  Dunselman dalam artikelnya di tahun 1950-an pernah menggunakan istilah agama-agama Dayak untu menyebut praktek religius seperti ini. Istilah religi dalam konteks ini menyangkut pengertian yang menyangkut semua praktek religius yang masih hidup dan dilaksanakan namun sudah tidak sepenuhnya- oleh kelompok masyarakat hortikultur Dayak dalam kehidupannya. Karena religi ini merupakan kebiasaan yang diwariskan oleh para leluhur secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat non- literate ini, selanjutnya disebut Religi Tradisional yang dalam bahasa Dayak disebut adat. Hal ini dapat dilihat dari doa dalam setiap acara ritual yang disampaikan oleh penyangohotn (imam):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukotnnyo unang i-mantabok i-marompokng adat aturan anyian, io inurunan ampet i ne’ Unte’ i kaimantotn, ne’ ancino i Tanyukng Bungo, ne’ Sarukng i sampuro, ne’ Rapek i sampero’, ne’ Sai i sabako’, ne’ ramotn i saa’u, ne’ ranyoh i gantekng siokng. Angkowolah angkenyo kami anak parucu’e make io dah tingor-kamaningor, dah pahiyak dah goehotn kami ihane.” (terjeahan bebas: bukanlah adat dan aturan ini hasil rekayasa semata-mata, namun dia diturunkan oleh mereka (para leluhur) yang bernama Nek Unte’ yang tingggal di kaimantotn, Nek Bancino (leluhur dari etnis cina) di Tanyukng Bungo, Nek Sarukng di bukit sampuro, Nek Rapek di sungai Sapero’, Nek  Sai di bukit Sabako’, Nek Ramotn di bukit saba’u Nek Ranyoh di Gantekng  Siokng. Karena itu generasinya menggunakannya yang diwarisi dari generasi yang menjadi tuntutan kehidupan kami). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam adat (religi tradisional) ini terkandung segala aturan, norma dan etika yang mengatur korelasi manusia dengan manusia, manusia dengan unsur-unsur yang non-manusia (nature and supranature)  dalam sistem kehidupan ini. Religi tradisional ini merupakan suprastruktur dalam sistem sosiokultural masyarakat hortikultural Dayak Selako yang prakteknya selalu disesuaikan dengan lingkungan tempat tinggal mereka (Sanderson : 1981). Penyesuaian ini berimplikasi terhadap perbedaan kecil dalam bentuk-bentuk doa, kurban persembahan (bahasa Dayak Selako: buis bantotn) – misalnya posisi ayam kurban, jenis daun ritual – dan tempat-tempat mitis dari setiap desa. Sesuai dengan namanya, religi tradisional atau adat ini bersifat non proselytizing, artinya tidak mencari penganut di luar komunitas, hanya untuk kalangan sendiri (Spier : 1981). Ajaran tentang adat (etika) lingkungan hidup yang mengatur korelasi antara manusia dengan alam ini didasarkan pada pandangan dunia (world-view) masyarakt holtikultural Dayak Selako itu sendiri yang termuat dalam religi Tradisionalnya dan terpelihara dalam mitos-mitosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; World-view (pandangan dunia) Orang Dayak memahami alam semesta (kosmos) ini sebagai suatu bentuk kehidupan bersama antara manusia dan yang non-manusia, diluar alam para Jubato (dewa) dan Awo Pamo (arwah para leluhur) yang berada di Subayotn.  Bentuk kehidupan itu merupakan suatu sistem yang unsur-unsurnya terdiri dari unsur alam manusia dan alam non-manusia (organisme dan no-organisme) yang saling berkolerasi. Sistem kehidupan itu sendiri merupakan lingkungan hidup manusia dimana manusia hidup dan berkolerasi secara harmonis dan seimbang dengan para “tetangganya” unsur-unsur lain yang non- manusia. Hubungan yang harmonis dan seimbang dalam sistem khidupan ini harus dibangun oleh manusia melalui praktik-praktik religi mereka.&lt;br /&gt;  Manusia sebagai bagian dari alam memiliki unsur-unsur alam, misalnya, udara, air, dan zat lainnya dalam dirinya (Sudarminta : 2006). Manusia merupakan mikrokosmos (bagian dari dalam sistem kehidupan (kosmos) ini (Priyono : 1993). Setiap unsur dalam sistem itu masing-masing memiliki nilai dan fungsinya yang saling mendukung dalam satu kesatuan untuk mencapai suau tujuan,kehidupan yang harmonis dan seimbang. Sikap manusia dalam korelasinya bersama unsur-unsur lain dalam sistem kehidupan itu menentukan kehidupan manusia bersama lingkungannya, baik secara individu maupun komunitas. Sikap manusia yang mau menghargai, menghormati dan bersahabt dengan alam akan memberikan permusuhan dan kesengsaraan bagi manusia memisahkan diri dan beroposisi dengan alam.&lt;br /&gt;  Pemahaman masyarakat Dayak Salako terhadap manusia sebagai bagian dari alam didasarkan atas adanya korelasi tersebut. Korelasi ini dipahami sebagai bentuk komunikasi yang dijelaskan oleh mitos-mitos yang berkembang ditengah kehidupan masyarakat ini (van Baal : 1987).  Alam berkomunikasi dengan manusia antara lain melalui tanda-tanda yang diberikan. Sebaliknya bentuk komunikasi manusia dengan alam melalui praksis (tindakan nyata dan disadari) dan praktik religiusnya. Beberapa contoh bentuk pemahaman manusia sebagai bagian dari alam yangberkolerasi dalam sistem itu diuraikan disini. Pertama, kematian dipahami sebagai peristiwa kembalinya dan menyatunya jasad manusia dengan alam dunia (taino) serta sengat atau ayu (jiwa) dengan Subayotn. Saat manusia akan meninggalkan dunia, alam mengkomunikasikannya pada mnusia berupa tanda dalam bentuk suara dari sejenis mahluk alam yang disebut Tirantokng. Suara itu menyerupai bunyi sebuah parang besar beradu dengan alas kayu terjadi pada malam hari antara pukul 10.00 hingga 12.00.  Tanda ini diartikan bahwa hantu telah memotong-motong badan orang itu hingga meninggal. Orang segera tahu bahwa dalam beberapa hari akan ada yang meninggal dunia di desanya atau desa sekitarnya.&lt;br /&gt;  Saat orang itu akan menghembuskan nafasnya yang terakhir (ngooh), pada malam sebelumnya suara riuh rendah dari mahluk malam di rimba terdengar tidak seperti biasanya. Peristiwa ini bisa dialami oleh mereka yang menunggu durian atau berburu pada malam hari (nereng). Orang menafsirkannya bahwa alam bersorak-sorai menyambut kedatangan manusia yang akan menyatu kembali dengannya. Tidak ada kebiasaan membersihkan dan menyembahyangi dalam kehidupanmasyarakat Dayak. Pohon-pohon dan semak dibiarkan tumbuh lebat disekitar kuburan. Masyarakat takut untuk membersihkannya karena arwah manusia yang dikubur itu akan marah dan menyakitinya. Ketika jenasah itu dikubur atau dibakar (dikremasi), selanjutnya orang tidak pernah mengenali dimana letak kuburan manusia yang meninggal itu. Dia dikubur tanpa nisan. Rangkaian peristiwa kematian yang dialami dalam kehidupannya membuat masyarakat Dayak berkesimpulan bahwa manusia itu betul-betul telah kembali danmenyatu dengan alam karena dia sesungguhnya berasal dri alam. Religi tradisionalnya mengatakan manusia yang sudah momo’ (meninggal dunia) itu sesungguhnya telah kembali ke binuo (tempat) asalnya. Sejalan dengan itu, dalam tataran evolusi kehidupan, manusia secara bertahap berkembang dari bentuk-bentuk kehidupan yang lebih rendah (Darwin : 2002). Kedua, manusia dalam melaksanakan aktivitasnya akan terhindar dari marabahaya ketika suara mahluk tertentu (rasi) berbunyi pada situasi yang tidak biasa. Tanda ini dipahami sebagai “alam” (bhs. Dayak Salako: palangkahan) bagi manusia agar memilih waktu (jam, hari) yang tepat dalam melaksanakan kegiatan diluar rumah. Pemahaman ini dijelaskan dalam kasus Kulikng Langit, tokoh dalam mitos manusia mendapatkan pelangkahan dari para rasi akan nek Baruang kulup.  kasus lain sebagai contoh yaitu sebuah mitos maniamas yang melanggar suara rasi dari kijokng (kijang) – sebuah rasi keras, rasi orang mati berdarah.&lt;br /&gt;“Ketika maniamas hendak menebang pohon besar diladangnya, tiba-tiba terdengar suara kijang dari semak disekitar rumahnya. Walaupun dia tahu rasi itu, ia tidak perduli dan tetap melanggarnya. Dia keluar dari rumah dan pergi ke ladang. Begitu dia selesai menebang pohon itu, di sebelahnya telah menanti musuhnya, Leo Baja, dari kampung Barangan, Leo Baja langsung melemparkan boekng (tombak)-nya ke arah maniamas, Maniamas Nyingkubokng (melompat) tiga kali melengakannya. Begiru Maniamas berdiri kembali ketanah, Leo Baja langsung menyerangnya dengan tangkitn (sejenis parang khusus untuk menganyau). Maniamaspun langsung menghunus tangkitnnya. Mereka saling memyerang, memotong, menebas. Keduanya sama-sama kuat. Tiba-tiba kaki Maniamas terikat oleh kayu dan terjatuh. Saat itu juga tangkitn Leo Baja menyambar batang lehernya. Darah menyucur dan kepala terlepas. Leo Baja puas. Dia pulang dengan menintng kepala Manianas. Bagaimana cara kamang pulang bakayo, begitu juga adat yang diikutinya. Ini akibat melanggar rasi keras, rasi orang mati berdarah.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selanjutnya, kesuburan semua mahluk dalam kosmos ini tidak luput dari campur tangan burung Tingkakok dan burung Bungkikik. Kedua burung Jubato ini dengan suaranya yang khas menimang agar semua mahluk hidup timbuh subur, berbuah, berkembang biak dan berketurunan. Manusia mendapatkan kebaikan dari kedia burung ini. Berkat timangan burung ini manusia dapat berketurunan, segala ternak di rumah, Hewan disungai dan dihutan berkembang biak, dan tanaman padi dan pohon buah-buahan mengeluarkan buah yang lebat. Pada acara ritual kedua burung ini disapa dan di beri sesajian dalam bentuk Patek. Doanya sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(patek diambil dari dalam cangkir dan ditaruh dalam genggaman sambil berdoa) “Au’ unang nyian patek tampi paribaso si ane’ (sebut nama pemilik kurnan) mirikngi’ kito’am badamo Tingkakok burukng Jawo, Bungkikik, burukng matan. Kito’ an dingaso’an dingarap, ingampioh am batimang. Ame kito’ batimang jawi’, batimang jaji ka manosio, jaji ka piarootn,jaji padi ka umo ka tahutn, jaji ka banir buoh. Kurrra’ patek tampi (pada sat itu patek dilambungkan keatas dengan posisi di atas kurban)” (Terjemahan bebas: inilah sesajian patek, yang pertama datang sebagai adat dari si Anu (sebut nama si pemilik kurban) yang mengirimi kalian bernama Tingkakok burung jawa. Bungkikik burung matan. Kalian yang diharapkan untuk menimang segala mahluk hidup agar tumbuh subur, berbuah, berkembang biak dan berketurunan. Janganlah menimang tidak berhasil. Bertimanglah yang berhasil, manusia beranak pinak, hewan dihutan dan ternak dirumah berkembang biak, tanaman padi dan pohon buah-buahan lainnya berbuah lebat. Terima kasih atas itu bersama patek tampi ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Beberapa contoh pernyataan nyata manusia sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap alam terlihat dalam hal-hal yang berikut. Pertama, ketika alam mengalami musibah misalnya, tanoh rantak (tanah longsor), pembangunan berskala besar, perbuatan berjinah dan pembunuhan manusia-manusia membuat upacara ritual besar dan lengkap. Upacara ritual seperti ini disebut ngadati ai’ tanoh, paayo paansar, tumpuk tampat kediaman (mengadati air dan tanah, wilayah kerja untuk mendapatkan rejeki, tempat tinggal) ritual ini merupakan tanda komunikasi dari manusia agar hubungan antara manusia dan alam yang telah rusak itu dipulihkan kembali. Tanah yang longsor, tanah yang rusak, tanah yang kotor karena perbuatan manusia dipahami sebagai alam yang “sakit”. Kondisi alam seperti itu merupakan tanggungjawab manusia sebagai “tetangga alam” untuk memulihkannya. Ini semua dilakukan agar kekotoran dan kerusakan alam tidak berlarit-larut sehingga menyiksa dan menyengsarakan manusia. Sebagai sebuah sistem, ketika salah satu unsur mengalami kerusakan, maka unsur-unsur yang lain secara otomatis tidak dapat berfunfsi dengan baik.&lt;br /&gt;  Selanjutnya lahan yang digarap untuk bercocok tanam harus “diobati” karena lahan tersebut dianggapmenderita. Melalui persembahan yang disebut petak (kamoh di dalam cangkir manusia “mengobati alam”, yakni dengan menyampaikan penghargaan, sikap hormat dan bersahabat atas pengorbanan lahan yang telah digunakan mereka untuk mendapatkan rejeki kehidupan sehingga korelasi itu kembali normal, dan kelak kemudian hari manusia dengan mudah mendapatkan rezeki dari setiap lahan yang digarapnya.  Dalam upacara ritual itu lahan ladang dan sawah yang meliputi tanah, mahluk hidup yang ada di atasnya, dan semua jenis tumbuh-tumbuhan seperti rumput (rumput ratai), pohon besar dan kecil (kayu kayan), serta rotan dan tumbuhan merambat (ui bararotn) lainnya, yang ditebas, ditebang dan kemudian dibakar-disapa melalui doa dan diberi sesajian oleh manusia agar jangan sampai “mereka” marah berkepanjangan, dan dendam sehingga “mereka” menyiksa dan menyengsarakan manusia yang hidup dari berladang dan bercocok tanam. Petikan doanya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;(cara memberikan sesajian patek tengah (tangoh) ini sama dengan patek tampi). “Au’ anyian patek tangoh mirikngio’ tanoh, rumput ratai, kayu kayan, ui bararotn an dimangas, dinabokng, dinunu, dimumputn, ame sampe kito’ bero, ngaapat, ngaraju’, antas nyikso nyangsaro manusio am baumo batahutn, bacocok tanam. Au’ kito bujokng Pabaras, Manyang Pabawar, kito’ an dingarap, ingaso’,  ingampioh, urokng an jajokng pantas painyuokng, ngantato’ pirikng si Anu (sebut nama yang melaksanakan ritual) mirikngi’ kito’. Ampar bide, tutukng pulito’ pao’ canang babagi baongko’ ka paranak ucu’ kito’. (Lambungkan patek itu di atas kurban sambil berkata: Kurrra’ patek tangoh).” &lt;br /&gt; Adanya korelasi dalam sistem ini masyarakat Dayak Salako memahami bahwa alam selalu siap membantu kehidupan ”teman”-nya manusia disetiap saat. Bahkan alam akan memberikan bantuannya ketika manusia menghadapi kesulitan yang paling berbahaya, misalnya perang suku. Manusia Dayak selalu meminta alam melalui upacara ritualnya memberikan kebaikannya agar membantu dan melindunginya dalam menghadapi lawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik Religius&lt;br /&gt;  Praktik religius dalam upacara ritual suku ini merupakan bentuk usaha manusia dalam membangun relasi yang baik dengan unsur-unsur yang non-manusia agar keseimbangan dan keharmonisan dalam sistem kehidupan tetap berlangsung. Usaha itu dapat kita saksikan dalam bentuk doa dan kurban yang tidak hanya ditujukan kepada para Jubato (dewa), awo pama (arwah para leluhur) dan roh-roh lainnya (hantu, setan, iblis), namun juga terhadap segala bentuk organisme (hewan, tumbuhan) dan non-organisme (misalnya besi, karat besi/tagar, petir, dan sebagainya yang dianggap memiliki spirit) dalam kehidupannya. &lt;br /&gt;  Seperti agama mototheis – agama kristen katolik Roma – upacara ritual dalam religi tradisional ini (politheis) memiliki dua unsur yang nyata dalam prakteknya, yaitu doa (bhs. Dayak Salako: sampado, sampokng, bamang) dan kurban persembahan (buis bantotn). Doa merupakan bentuk komunikasi nyata dari manusia dengan unsur-unsur lain yang dianggap memiliki kekuatan seperti manusia, bahkan lebih, dalam sistem kehidupan ini. Kurban persembahan – dari hasil karya yang terbaik – merupakan bentuk paribaso (sikap hormat dan bersahabat) dari manusia terhadap unsur-unsur lain dalam sistem kehidupannya. Melalui kurban ini manusia tidak hanya menanamkan budi baiknya, tetapi juga untuk memenangkan unsur-unsur non-manusia yang marah atas perbuatan manusia yang salah sehingga hubungan yang rusak dapat dinarmalkan kembali.&lt;br /&gt;  Berkomunikasi (doa) dengan alam yang tidak disertai dengan paribaso dalam religi tradisional masyarakat Dayak Salako adalah sengko’ (timpang), dan ini amai’ (tabu) dilaksanakan. Mengapa alam sebagai sahabat harus ada paribaso, sebagai wujud nyata dari rasa hormat dan tali persahabatan yang dinginkan oleh manusia. Berkomunikasi tanpa adanya hormat dan tali persahabatan yang dinginkan oleh manusia. Berkomunikasi tanpa adanya sesuatu yang melengkapi komunikasi itu (sesuatu yang diberikan) dikatakan berkomunikasi dengan ai’ iur bari’ (air liur basi), artinya hanya omong kosong saja. Bentuk paribaso yang paling sederhana sebagai pelengkap komunikasi itu adalah antek (selembar sirih yang sudah diolesi kapur, irisan pinang dan gambir serta rokok daun dan tembakau). Perilaku ini terbawa dalam interaksi antar manusia Dayak dalam kehidupannya ketika mengunjungi kerabat atau temannya. Seseorang biasanya akan membawa oleh-oleh berupa kueh – walaupun sederhana namun bermakna – untuk anak-anak keluarga yang dikunjunginya dengan tujuan untuk menbina ikatan ekosional yang kuat antara kedua belah pihak.&lt;br /&gt;  Melalui upacara ritualnya (doa dan kurba) manusia mengundang semua unsur-unsur non-manusia itu untuk hadir, mendengarkan permohonan manusia, dan menikmati kurban persembahan yang telah disiapkan untuk mereka. ”Mereka” – menurut pemahaman masyarakat Dayak Selako menikmati persembahan kurban itu dari aroma (sau)-nya saja. Sebaliknya, manusia menerima berkat berupa rejeki, kesehatan dan keselamatan dari ”mereka” dengan menikmati kuran persembahan itu. Manusia meakan ”sisa” makanan yang mengandung berkat ”mereka”. Manusia mendahulukan ”mereka” menikmati kurban persembahan yang masih utuh dan sebalikny manusia memakan ”sisa” dari ”mereka” dalam upacara ritual itu menandakan bahwa manusia bersikap hormat dan bersahabat dengan alam. Hal itu dapat dilihat dari petikan doa penutup ritual (ngangkat buis) yang diucapkan oleh panyangohotn (imam):&lt;br /&gt;”Au’ nyian unang buke’nyo barapat, baraju’. Maabotn dan rinso, sampo’ dah masak, kito’pun dah ako makotn sau’e, makotn kukuse, makotn baue. Nyian unang si Ane’ (sebut nama keluarga pemilik kurban persembahan) dah makatnno’ siso’, makatnno’ labih, katepokng sampo’, kaimpapu kito’. Kade’nyo se makotn, jaji daging, jaji amak, jaji manse , jaji sajuk, jaji dingin, jaji sedo,jaji sanang, jaji baruntukng batuoh barajaki ka manusio, ka piarootn, ka padi baras ka lawokng karamigi, ka umo k pathunan. Io ngangkat buis bntatn ne nyian ampo ngangkat sumangat padi, sumangat uang, sumangat taro, sumangat amas perak. Angkat ka pucuk, angkat ka atas, angkat untuknge angkat tuhe.So, duo, tau, ampat, imo, anam, tujuh, Kurrra’ sumangat buis bantotn lowokng karamigi si Ane’ (sebut nama sipemilik kurban, dan upacara ritual selesai).” (terjemahan bebas: Ini bukanlah kami marah ataupun merajuk. Segala-galanya sudah sempurna dan kalian sudah selesai bersantap. Kini saatnya bagi si Anu (sebut nama pemilik kurban) akan menerima berkat kalian dari sisa-sisa santapan kalian. Semoga sisa santapan ini menjadi berkat rejeki, kesehatan dan kesehatan bagi keluarga yang menyamtapnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam ritual ini secara kohesi manusia alam diikat dan dipererat. Kohesi itu selalu diperbaharui dan dipertegas dalam setiap upacara ritual – misalnya, dalam, upacara ritual padi Nurutni’ dan Ngabayotn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan Religi dalam Pelestarian Lingkungan Hidup&lt;br /&gt; Adat merupakan produk budaya manusia yang berasal dari akumulasi pengalaman dari adaptive strategy manusia itu sendiri terhadap lingkungan hidupnya agar supaya tetap survive (bertahan hidup) dan diwariskan secara turun-temurun pada generasinya sehingga menjadi pedoman hidup mereka (human being), alam (nature) dan roh (supernature) dalam suatu bentuk sistem kehidupan ditengah masyarakat horticultural dan egaliter Dayak Salako. &lt;br /&gt;  Adat mempengaruhi dan membentuk sikap serta perilaku masyarakat Dayak itu sendiri dalam berinteraksi dengan sasama manusianya, dengan alam yang supernatural. Sikap dan perilaku masyarakat Dayak yang kehidupannya dipengaruhi dan dibentuk oleh adat itu berimplikasi pada pandangan mereka terhadap alam. Mereka memandang manusia sebagai bagian dari alam dimana mitos-mitos meeka berperan dalam memperjelas pandangan itu. Pandangan itu selanjutnya membuat masyarakat Dayak Selako itu bersikap menghargai, menghormati, dan bersahabat dengan alam. Dengan sikap dan perilaku masyarakat yang demikian konsep etika lingkungan hidup telah dibangun sehingga kehidupan berkelanjutan (sustainable life) terealisasi. Dengan kata lain, adat memainkan peranannya dalam usaha mencegah kemerosotan kualitas lingkungan hidup.&lt;br /&gt; Adat sebagai aturan yang berfungsi mengontrol sikap dan perilaku manusia dalam sistim kehidupannya memiliki kekuatan memaksa (coersive power) baik secara spritual maupun sosial. Ketika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik terhadap sesamanya – manusia dan alam dalam lingkungan hidupnya, manusia itu akan mendapatkan sanksi spritual dan sanksi sosial. Perbuatan manusia yang salah itu telah merusak hubungan yang harmonis dan seimbang dalam sistem kehidupan masyarakat itu. Sanksi spiritual adalah sanksi yang (akan) didapatkan oleh manusia baik dari ala sendiri maupun supernatural karena perbuatannya. Jika kehidupan manusia itu baik-hidup yang beradat – manusia akan mendapatkan rejeki yang mudah dan berlimpah serta kesehatan dan keselamatan di sepanjang hidupnya. Sebaliknya, manusia akan mendapatkan tuoh (tulah) dan papo (papa, sengsara)karena perbuatannya yang tidak baik  hidup yang tidak beradat. Ini biasanya disebut dengan hukum karma. Masyarakat percaya bahwa manusia yang hidupnya tulah dan papa sulit untuk mendapatkan rejeki kehidupan walaupun sudah bekerja keras. Pengalaman kehidupan masyarakat itu menunjukan bahwa walaupun seseorang dalam kehidupannya mendapat rejeki yang melimpah, namun salah satu anggota keluarga tidak mendapat kesehatan – sakit yang saling silih berganti  mengakibatkan rejeki yang diperoleh itu akan habis juga.&lt;br /&gt;  Sanksi sosial mengacu pada sanksi yang diatur oleh adat dan dikenakan oleh kelompok masyarakat yang memiliki adat tersebut – melaluipengurus adatnya – kepada anggota masyarakat yang perbuatannya melanggar adat. Sanksi sosial itu berupa pembebnan beaya untuk menyiapkan materialkurban persembahan dan beaya-beaya lain (kalau ada) kepada yang bersalah. Ukuran sanksi sosial yang dikenakan pada manusa yang bersalah itu disesuaitka dengan jenis kasus yang diperbuatnya. Selain itu, manusia yang bersalah itu mendapatkan cap kehidupan ”si pelanggar adat” di sepanjang kehidupan generasinya dalam komunitasnya. Dia menjadi buah bibir dan contoh perbuatan yang salah bagi generasi lain dalam komunitasnya.&lt;br /&gt; Kelompok masyarakat menjatuhkan sanksi adat pada anggotanya yang bersalah baik terhadap manusia maupun alam bertujuan untuk memulihkan kehidupan yang telah rusak karena perbuatannya agar menjadi normal kembali, dan merehabilitasi manusia yang bersalah itu agar hidup beradat lagi. Pelaksanaan sanksi adat itu selalu disertai dengan upacara ritual. Upacara ritual itu selain merupakan ujud nyata dari bentuk pelaksanan adat itu sendiri (sanksi sosial), juga merupakan wujud nyata untuk menghapus sanksi spiritual. Pelaksanaan sanksi adat – sanksi spritual dan saksi sosial – akan syah di depan masyarakat (manusia), alam dan supernatural ketika upacara ritual selesai dilaksanakan. Dengan demikian, melalui upacara ritualnya manusia memberikan sikap hormat dan bersahabat terhadap alam agar apa yang dilakukannya di waktu mendatang sawokng (tanpa halangan) dan manusia itu sendiri – baik individu maupun komunitas – sunio (selamat). Tanpa pelaksanaan upacara ritual komunitas akan terus merasa khawartir akan sanksi spritual itu. Mereka percaya bahwa sanksi pritual itu akan berjangkit pada kehidupan mereka. Sanksi sritual atas suatu kesalahan yang belum “ditebus” secara adat akan ba bangkawo’-ba bangkawar dan ba badi ba idab.  Keadaan ini akan berdampak pada kehidupan komunitas dalam hal rejeki, kesehatan, keselamatan. Apa pun yang mereka lakukan demi kehidupan mereka tidak akan sawokng (tanpa halangan) dan tidak akan Sunio (selamat).&lt;br /&gt;  Adanya pandangan kosmologi dan adat yang dimiliki oleh masyarakat. Dayak Salako dalam kehidupan membuat masyarakat ini tidak dapat mengeksploitasi alam dengan semau-maunya demi kepentingan ekonominya. Adat (etika) mengajarkan bahwa amai’ (tabu).  kalau manusia bersikap bongko’ karongo, oso dan piroro terhadap alam.   karena itu manusia harus menyadari bahwa dia merupakan bagian dari alam dan dapat survive (bertahan hidup) karena dia mendapat dukungan kehidupan dari alam itu sendiri. Alam lingkungan hidup Dayak Salako sesungguhnya telah dilindungi dan dilestarikan oleh etika lingkungan hidup yang mereka miliki yang terdapat dalam pandangan kosmologi dan adatnya. Adat religi, norma, etika mereka itu memiliki peranan yang signifikan dalam melestarikan lingkungan hidup mereka. Hal ini sudah teruji dalam ruang dan waktu dan dipraktekkan disepanjang sejarah kehidupan masyarakat ini yang hidup dari berladang (shifting cultivation) dan merambvah hasil alam. Etika lingkungan hidup yang termuat dari adat yang selanjutnya dipertegas oleh bentuk pandangan kosmologi dan mitos-mitos masyarakat ini telah menciptakan suatu bentuk kehidupan berkelanjutan (sustainable life) yang membuat hubungan manusia dan bumi harmonis dan seimbang. Alhasil, alam lingkungan hidup ini (dulunya) tetap terpelihara dan lestari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 5 pokok-pokok adat terpenting: (1) Penekng Unyit Mata Baras. Asalnya dari Nek Unte’ Pamuka’ Kalimantatn, Nek Bancina dari Tanyukng Bunga (Kawasan Pasir Panjang), Sali dari Sabakal, Onton dari Babao, Sarukng dari Sampuro. (2) Baras Banyu Banyang. Asalnya dari Nek Pangingu dan Nek Pangorok. (3) Baras Ijo. Asalnya dari Bujakng Nyangko dari bukit Samabue dan Kamang Muda’ (Bungsu) dari Santulangan serta Ngantapm Barangan Raja Jajawe di Capkala. (4) Baras Sasah. Asalnya dari Gira’ Giro Sisi Langit, Beta’ Beto Tampus Tanah dan Raja Naga Pusat Ai’.(5) Langir Binyak. Asalnya dari Bunga Putih Oncok Bawakng, Nek Nyala’ Raja Pajaji, Nek Lopo Panungkakng Bawakng, Sudu’ Nu’ Alang Ngalulu’ Balah, Dayakng Nu’ Dandang Bagago’ Jiba Sumangat, Bayu Rinsamang harta muda dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mitologinya, orang Dayak mengenal 4 tingkatan dewa-dewa sebagai kekuatan alam yang tinggi. Mereka adalah: (1) Nek Panitah. Nek Panitah adalah dewa tertinggi. Ia hidup bersama istrinya yang bernama Nek Duniang. Anak Nek Panitah dengan  Ne’ Duniang bernama Baruakng Kulub. Panitah = perintah.  (2) Jubata. Jubata adalah roh-roh yang baik. Jumlah mereka banyak. Tiap sungai, gunung, hutan, bukit mempunyai jubata. Yang terpenting adalah jubata dari bukit bawakng. Apa’ Manto Ari adalah raja dari bukit bawakng. (3) Kamang. Kamang adalah roh-roh leluhur dari orang dayak. Ia berpakaian cawat dan kain kepala warna merah dan putih diputar bersama ( tangkulas ). Ini juga pakaian dari pengayau kalau mereka pulang dengan membawa hasil. Kamang pandai melihat, mencium bau dan makanannya darah. Ini terlihat dari upacara-upacara adat. Darah untuk kamang dan beras kuning untuk jubata. Kamang tariu dan kamang 7 bersaudara. Kamang tariu adalah  adalah Kamang Nyado dan Kamang Lejak. Sedangkan kamang 7 bersaudara adalah Bujakng Nyangko ( yang tertua ) tinggal dibukit samabue, Bujakng Pabaras, Saikng Sampit, Sasak Barinas, Gagar Buluh, Buluh Layu’ dan Kamang Bungsu ( dari Santulangan ). Bujakng Nyangko adalah kamang yang baik. Sedangkan yang lain terkadang baik dan terkadang jahat. Saikng sampit, Sasak Barinas, Gagar Buluh dan Buluh Layu’ adalah kamang yang sering tidak senang dan menyebabkan pada waktu itu penyakit dan kematian. Kamang Tariu dengan 7 bersaudara itu adalah pelindung dari para pengayau. (4) Antu. Jumlah antu ( hantu ) banyak sekali. Dalam arti tertentu, mereka kurang lebih jiwa orang mati. Antu selalu menyebabkan penyakit pada manusia, binatang maupun tumbuhan. Antu cacar menyebabkan penyakit pada manusia. Antu apat menyebabkan penyakit padi dan antu serah menyebabkan banyak tikus makan padi diladang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan pada 4 tingkatan ilmu theogoni (ilmu dewa-dewa) inilah yang melahirkan asas-asas kehidupan mereka, yakni: (1) Pama. Pama artinya berkat, yaitu satu kekuatan yang membawa keuntungan. Pama hanya dimiliki oleh orang besar dan juga pengayau yang berhasil. Mereka mempunyai pama karena dianggap mereka mempunyai hubungan keatas, dengan jubata. Kalau orang yang mempunyai pama meninggal, pama pindah kepantak yang pada akhirnya ditempatkan dipadagi. Kata pama sendiri berasal dari bahasa sanskrit = umpama, berarti gambaran. Pantak adalah gambaran seseorang yang mempunyai pama pada waktu dia hidup. (2) Jiwa. Orang Dayak mengenal ada 7 jiwa. Yaitu : Nyawa. Hanya manusia dan binatang yang mempunyai nyawa. Nyawa hilang waktu meninggal. Sumangat. Bukan hanya manusia mempunyai sumangat, tetapi juga binatang, tanaman dan benda-benda. Ini dapat dilihat dari doa-doa persembahan yang selalu diakhir dengan memanggil kembali sumangat manusia, padi, babi, ayam, beras, emas, perak dan semua milik rumah. Sumangat dengan mudah keluar dari tempatnya. Kalau terkejut, sesudah suatu perbuatan yang berbahaya yang didampingi oleh ketakutan, sesudah memandikan anak kecil ( bahaya sumangat anak hilang bersama dengan air ). Sesudah melahirkan juga diadakan upacara nyaru’ sumangat. Cara sederhana untuk memanggil sumangat kembali : kurrr….a’ sumangat. Mimpi disebabkan oleh sumangat, karena itu sumangat berjalan. Kalau kita sebut nama seseorang, sumangatnya pasti datang dengan kita dan kita akan bertemu dengan semangat orang itu dalam mimpi. Tempat sumangat ada dalam badan. Sumangat dikembalikan dalam badan oleh dukun baliatn lewat telinga kiri. Sesudah manusia meninggal, sumangatnya tidak menjadi pidara, tetapi pergi ke subayatn. Sumangat dari orang yang dibuatkan pantak pergi ketempat pantak itu dan bergabung dengan kamang. Ayu. Tempat ayu ada dibelakang badan. Kalau ayu pergi, ayu dikembalikan dipermulaan punggung ( ka’ pungka’ balikakng ), dibawah leher. Ayu melindungi manusia dari belakang. Penyakit yang disebabkan oleh kehilangan/kepergian ayu jauh lebih parah daripada penyakit yang disebebkan oleh kepergian sumangat. Dikatakan “ lapas ayu “ atau rongko’ ( sakit ayu ). Sesudah orang meninggal, ayu menjadi pidara dan tetap tinggal bersama dengan badan. Ada hubungan erat antara ayu dengan hantu. Ayu juga disebut hantu. Sukat. Dalam doa selalu dikatakan “ sukat nang panyakng satingi diri’ “ artinya sukat yang panjang setinggi kami sendiri. Pertama sukat menunjuk kepada satu bagian dari badan manusia, mulai dari atas kepala lewat otak ke sumsum belakang. Penyakit bisa disebabkan oleh kekurangan sukat. Bohol. Bohol bersifat anatomis yakni garis perut dari tulang dada ke pusat atau lebih khusus tempat dibawah tulang dada yang berdenyut. Kurang bohol atau bohol yang tidak lurus adalah sala satu sebab penyakit. “ kakurangan sukat nang manyak, kakurangan bohol nang jarakng “ demikian dukun menyebutkan sebab penyakit pasiennya. Penyakit karena kekurangan  bohol terutama dialami oleh anak kecil. Dari wnaita yang sulit beranak dikatakan “ mereng bohol anak “ artinya bohol anak bayi miring. Dukun baliatn pandai mencari bohol yang hilang.Leo Bangkule. Leo Bangkule berarti jantung, hati, paru-paru atau semua organ dalam perut manusia. Dalam doa, leo bangkule sering diundang kembali. Bersama dengan leo bangkule selalu dikatakan : tali nyawa atau tali danatn atau tali dane. Untuk manusia, tali nyawa berarti saluran pencernaan. Nenet Sanjadi.  Nenet Sanjadi disebut juga saluran pernafasan ( tali sengat ), permulaan dari tali mulai dari karukok ( kerongkongan ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam legenda Ria Sinir dan Dara Itapm, kita mengenal 5 prinisip kehidupan yang ditetapkan berdasarkan adat, yaitu: Hidup harus tolong menolong, Harus hidup mempertahankan keamanan rakyat dan desa, Tidak boleh hidup tipu-menipu, Harus jujur dan adil, dan Harus hidup setali sedarah. Bagi pelanggar 5 sumpah adat ini, maka akan diberlakukan Hukuman adat bagi manusia yang terdiri dari 2 pokok: Hukum Adat Darah Putih (Perdata) dan Hukum Adat Pati Nyawa (Pidana). Orang Dayak mengenal 4 tingkatan Hukum Adat, yaitu: (1) Siam. Hukuman siam adalah satu hukuman yang harus membayar adat. Dengan membayar adat berarti telah membereskan segala urusan. Dengan demikian telah menghilangkan rasa dendam dan rasa rugi dari orang yang dirugikan. Bilaman telah membayar adat ini, telah pula memulihkan keadaan alam. Harga satu siam adalah 7 buah piring, 20 buah mangkuk dan seekor babi.  (2) Buat Tangah. Hukuman ini adalah hukuman atas perbuatan ringan ( tindak pidana ringan) dan yang ditimpakan kepada pelanggaran yang dapat berdamai dengan lawannya tanpa campur tangan orang ketiga. (3) Baras Banyu Banyang. Hukuman ini termasuk hukuman ringan. Suatu persoalan yang mudah diselesaikan tapi memerlukan 2 orang saksi. Untuk menyelesaikan persoalan, cukup dan harus menyediakan baras banyu ( beras putih dicampur dengan minyak tengkawang ). Beras banyu dicurahkan kesebuah piring dan diletakkan kehadapan saksi dan kepada si penuntut. Perbuatan ini menyatakan telah membayar adat dan segala persoalan dianggap selesai. Dan (4) Darah Ampa’. Hukuman jenis ini menyatakan bahwa seseorang yang tidak sanggup membayar adat karena sangat miskin walaupun sebenarnya ia mau dihukum. Suatu hukuman hina dan sangat terhina bagi pelaku. Biayanya kalau si pelaku tidak mampu, dapat dengan cicilan sampai turunan ke lima. Sipelaku dituntut menyediakan sirih pinang dan kelengkapannya makan sirih. Semua kelengkapan itu dikunyahnya( pelaku ) sampai air ludah menjadi merah seperti darah. Ludah merah ini dikumpul dalam satu piring dan diserahkan kehadapan Pasirah dan Pangaraga ( Hakim kampung ). Pelaku kemudian mengucapkan ; “ karena saya telah bersalah dan tak snaggup membayar adat, karena saya seorang miskin maka inilah darah penggantinya “. darah Ampa’ segera diambil oleh hakim dan dicontengkan ke dahi pelaku. Perbuatan ini disaksikan oleh seluruh rakyat. Karena itu hukuman jenis ini paling dihindari oleh warga. Mengakhiri acara peradilan, diiringi upal dengan upacara adat untuk berdoa agar Jubata tidak menghukum warga kampung secara umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PENTING DI TANAH KALIMANTAN&lt;br /&gt;Ada 3 tahap perkembangan penting di Kalimantan; (1) memberadabkan Dayak melalui misi agama (Hindu, Islam dan Kristen) dan politik identitas (Dayak dan Melayu), (2) Kapitalisasi Tanah. Ini terjadi sejak tahun 1960-an sampai sekarang ini. Serta (3) Demokratisasi. Memperkenalkan konsep universalitas-demokrasi-pluralisme, dll dikalangan Dayak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberadabkan Dayak&lt;br /&gt;Sejak awal abad 1, pedagang India membawa ajaran Hindu di tanah Kalimantan. Terjadi barter barang pedagang dengan penduduk. Peralatan Besi dan logam diperkenalkan. &lt;br /&gt;Awal abad 4, pedagang Cina dan Siam masuk. Terjadi barter barang lagi. Diperkenalkan keramik-keramik, guci, manik-manik, dll. &lt;br /&gt;Pada abad 14, pedagang Cina (dipimpin Laksamana Cheng Ho) masuk dengan membawa ajaran Islam di Sambas. Penduduk yang tidak mau masuk Islam menyingkir ke hulu sungai dan pedalaman. Beberapa Raja berhasil masuk Islam setelah pedagang Arab dan Bugis masuk dan melakukan perkawinan dengan gadis setempat. Pan Islam semakin masif di pedalaman. Orang yang tidak mau masuk islam di angkat jadi pegawai kerajaan, dan yang masuk islam diberi identitas baru;”Laut, Senganan, dll”.&lt;br /&gt;Pada masa ini, Pan Chinese masuk melalui Sultan-Sultan yang dikirim dari Brunei untuk menambang emas, khususnya di Monterado (Kabupaten Bengkayang, pen) dan Mandor (Kabupaten Landak, pen). Awalnya koloni ini sedikit, seiring perkembangan perdagangan emas yang semakin baik, Cina dari daratan didatangkan. Mereka mendirikan perusahaan yang dikenal dengan nama Kongsi. Ratusan kongsi bersekutu, sehingga membentuk semacam negara “republik” yakni Lan Fang di Mandor dan Hae Sun di Monterado. Republik ini beberapa kali berperang dengan Sultan dan Orang-Orang Dayak, untuk memperoleh akses sumber daya alam yang melimpah. &lt;br /&gt;Pada abad 16, Kristen masuk melalui pegawai-pegawai kolonial Belanda yang dikirim dari Batavia (Jakarta sekarang, pen). Belanda diundang Sultan yang terdesak dalam peperangan melawan “Republik” Lan Fang dan Hae Sun. Terjadi perjanjian antara keduanya. Hasilnya, Belanda berhasil membubarkan Kongsi-kongsi. Para penambang dan pedagang emas beralih profesi menjadi petani, pekebun dan peternak. Yang tidak mau tunduk pada Belandak, sebagian diantaranya melarikan diri ke Sarawak dan Singapura. Sebagian kecil pulang ke Cina daratan. Pemerintah Belanda memperbolehkan misionaris dan zending masuk pada awal abad 19, didorong oleh masifnya gerakan pan islamisme di perhuluan dan pusat-pusat perdagangan penting. Untuk mempermudah kontrol penduduk, Belanda memberlakukan politik identitas; muslim di sebut Melayu dan non Muslim disebutnya Dayak. Dalam prakteknya, Melayu dikenal sebagai pegawai pemerintah dan Dayak sebagai pembayar pajak setia. Untuk masuk menjadi pegawai, Dayak harus merubah dirinya menjadi Melayu. Dayak yang masuk Melayu dikenal sebagai Senganan, Urakng Laut, dll dan tidak mau mengaku diri sebagai Dayak. Menjelang akhir abad 19, Dayak berusaha melakukan kooptasi, dan berhasil melalui jalur politik; Partai Persatuan Daya. Dayak mulai percaya diri, dan dengan identitas baru; kami orang DAYAK. Tapi situasi ini tak berlangsung lama, kira-kira hanya dua puluh tahun (1941-1966). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisasi Tanah. Proses ini mulai terjadi awal tahun 1960-an, ditandai dengan masuknya perusahaan-perusahaan yang mengelola kayu dan membangun perkebunan skala besar. Sertifikasi masal tanah terjadi melalui Jakarta. Undang-Undang dibuat untuk “menaklukan” tanah adat menjadi tanah negara. Jadilah 2,8 juta hektar tanah terkapling oleh ratusan perusahaan negara dan swasta asing. Perubahan besar terjadi pada Orang Dayak. Penduduk dari berbagai pulau berdatangan dan hidup bersama Orang Dayak. Terjadi dinamika sosial yang hebat; asli vs pendatang, untung vs rugi. Ekonomi menjadi jargon utama dalam pembangunan Dayak. Sebuah peradaban baru yang sarat perubahan yang sulit mereka ikuti dengan menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokratisasi. Perubahan besar yang terjadi sejak 1960 menyebabkan Orang Dayak mulai diambang kebingungan. Terjadi krisis identitas, krisis kepercayaan diri, dan berbagai krisis lainnya. Tanah dan Hutan semakin menyempit, penduduk mulai heterogen dengan komposisi yang relatif seimbang dan arus gerakan global; demokrasi-universalitas-teknologi. Orang Dayak mengalami kekhawatiran, menjadi asing ditanah sendiri atau mengikat diri untuk ambil bagian dalam perubahan. &lt;br /&gt;Menurut pastor asal Belanda yang sudah menjadi warga Negara RI ini, sebelum Jepang masuk, propaganda mengenai Indonesia cukup kuat masuk didaerah Kalbar (pasti juga termasuk dikampungku). Aktivis Indonesia, katanya, juga keluar masuk kampong, membentuk pengurus dan mencari anggota.  Banyak diantara orang kampong yang menjadi pengurus dan anggota. Dari sekian banyak Indonesianis, yang cukup aktiv dan didukung orang sekampung adalah Parindra dan P.A.B (Persatuan Anak Borneo). Pada waktu itu, orang kampong berbicara mengenai agama Katolik, agama Parindra dan agama P.A.B. &lt;br /&gt;Dalam Majalah Battaki, edisi khusus Januari-Maret 1997, Pater yang sudah 49 tahun hidup ditengah orang dayak ini menulis, bahwa keadaan ini berubah drastic sesudah Jepang. Segala-galanya berubah. Orang Dayak, juga mengalami dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan caranya sendiri. Penjajahan Belanda dengan perantara Sultan dan Panembahan telah berakhir. &lt;br /&gt;Orang Dayak (saya “merasa” bagaimana orang dayak ketika itu, ketika membaca buku ini) merasa diri sungguh-sungguh dihargai. Gubernur pertama dan 4 Bupati orang Dayak. Mereka adalah pejabat P.D (partai politik peserta pemilihan umum pertama di Indonesia tahun 1955, yang dibentuk oleh intelektual dayak untuk memperjuangkan orang dayak secara politik). Pembesar-pembesar ini semua beragama Katolik, alumni persekolahan Nyarumkop. Beberapa penyelidikan yang sudah pernah dilsayakan, menyebutkan bahwa mereka dapat diangkat karena mereka memperoleh suatu pendidikan yang baik di seminari menengah, sebelum Jepang.&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah Indonesia, Orang dayak (dan juga di kampungku), tidak pernah menuntut republic sendiri. Mereka dengan senang bergabung dalam Republik Indonesia. Aspirasi politik mereka, disalurkan lewat P.D. (Partai Dayak). Pada waktu itu juga, mulai muncul penyadaran bahwa sangat diperlukan suatu penyesuaian dengan zaman modern. Mereka mulai ingin ke sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;Mereka juga mulai menganut agama, Katolik. Banyak hal yang mendorong mereka untuk memilih agama ini, mereka sudah kenal dengan pastor-pastor dan suster-suster, yang melayani mereka dengan sungguh, secara khusus di bidang pendidikan dan kesehatan. Rumah-rumah sakit (dan RS Bersalin, pen) yang ada semua dari Gereja Katolik. Sekolah-sekolah kebanyakan sekolah Katolik. Satu hal yang terpenting, Gereja Katolik, menghargai adat, lebih dari agama lain. &lt;br /&gt;Pendeknya, dunia orang dayak mulai terbuka. Dunia luar masuk dan mereka masuk dunia luar. Dan ini terjadi tanpa konflik yang berarti. Belum banyak jalan raya, perubahan terjadi tidak terlalu cepat. Identitas cultural tidak terancam. Dan…..sekitar tahun 1993, terjadi suatu perubahan besar….Ekonomi makro mulai berkembang, infrastruktur pedesaan membaik. Tetapi, keberadaan (kami) sebagai suku dengan identitas sendiri dan tanah sendiri mulai terancam.  &lt;br /&gt;Kampungku, yang sebelumnya dilihat sebagai suatu daerah yang kurang berguna, dengan tanah yang kurang subur, mulai dilihat sebagai suatu daerah yang potensial. Tanah ternyata cocok untuk banyak jenis tanaman, persediaan tambang banyak dan bermacam-macam. Sebuah perusahaan perkebunan swasta besar masuk, Rokan Group. Memiliki beberapa anak perusahaan, diantaranya PT Agrina (membuka lahan perkebunan kelapa hibrida seluas ±12.000 Ha di Desa Menjalin dan Desa Raba) serta PT Purna Kahuripan (membuka lahan perkebunan kelapa hibrida dan coklat seluas ±10.000 Ha di Desa Nangka dan Desa Rees). &lt;br /&gt;Sejak itu, kampungku mulai terbuka…..Tetapi, akibat dari cara yang dipakai untuk membuka daerah, mengeksploitasi dan memproduktifkan sumber daya alam, lambat laun, orang di kampungku mulai hilang dari pusat perkembangan itu. Mereka hilang dari tempat dimana diambil keputusan mengenai masa depan tanah leluhurnya. Mereka masuk dalam bahaya besar menjadi orang pinggiran. Dan ini, terjadi karena dorongan dari luar, tetapi juga kelemahan diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Secara umum, Orang dayak (dan juga dikampungku), hamper tidak ada lagi suara di pemerintahan, tidak ada orang dalam militer yang menempati jabatan strategis. Mereka juga tidak memiliki modal. Memang, mereka mempunyai tanah. Tetapi ini mulai diambil dari mereka (demi pembangunan) dengan bermacam-macam cara.  Ekonomi dan kepentingan orang tertentu dalam praktek pembangunan menjadi lebih penting daripada keberadaan dan masa depan mereka sendiri. Mereka sering disepelekan dan disisihkan.&lt;br /&gt;Di Borneo Barat, masih ada banyak guru orang dayak. Tetapi situasi inipun akan berubah drastic dalam 20 tahun mendatang. Dengan dihapusnya SGA tahun 1980-an, SPG tahun 1990-an, dan PGSD tahun 2000, kemungkinan untuk orang dayak menjadi guru sangat berkurang. Kalaupun sekarang ada FKIP di universitas negeri, orang dayak sulit masuk. Hanya ada peluang jika pemuda dayak mendaftar di STKIP swasta, tetapi berbiaya mahal. Sekolah-sekolah swasta yang dikelola Gereja Katolik diperkotaan, siswa dan mahasiswa umumnya bukan orang dayak. Sekali lagi, mereka kesulitan.&lt;br /&gt;Orang luar memang pintar. Dengan kekuasaan ditangan, mereka memusatkan dan memperhatikan fasilitas pendidikan, ekonomi, pemerintahan di kota-kota besar, kemungkinan bagi orang dayak, menikmati itu dalam praktek cukup berkurang. Mereka tidak bisa mempergunakan nepotisme, dan juga tidak ada koneksi, tak bias kolusi dan tak punya uang upeti. Dalam praktek, semua bidang, dipusatkan di kota dan diurus oleh orang bukan dayak.&lt;br /&gt;Sejak tahun 1981, berpuluh-puluh orang datang dari kota, keluar masuk kampong. Mereka ini utusan dari berbagai proyek besar pemerintah pusat di Jakarta. Ada proyek P2KP, P3DT, PPK, dll. Ada juga dari berbagai utusan LSM, yang kantornya di kota besar. Hamper setiap bulan, petugas-petugas khusus ini datang ke kampong dan menggurui orang kampong, memperlsayakan mereka sebagai anak yang masih bodoh, sampai orang kampong merasa diri lagi dalam keadaan zaman dulu: sultan atau panembahan dan mereka (dayak) sebagai bawahan. &lt;br /&gt;Selama ini, saya juga menyaksikan langsung pergumulan dikampungku dan kampong-kampung sekitarnya. Dalam pembagian subsidi untuk bidang agama, misalnya, pemerintah memegang “teguh” distribusi uang/proyek untuk bangun rumah Tuhan dengan prosentase 90% islam dan 10% non islam, walaupun di Kalbar menurut statistic pemerintah tahun 1990, 41% Dayak dan 13% Cina. Ini berarti bahwa pasti 54% non-islam. Kelompok-kelompok non dayak mampu dengan bantuan pemerintah membangun rumah ibadat yang bagus, tetapi orang dayak (dan juga dikampungku) sering tidak mampu. Dan ini, sangat mengganggu perasaan keadilan dan kejujuran yang dimiliki oleh orang dayak.&lt;br /&gt;Dan apa yang paling dirasakan oleh orang dayak adalah transmigrasi. Proyek ini telah berlangsung secara resmi sejak tahun 1960, 1970, 1980, 1990, 2000, dan sekarang. Yang tidak resmi (dengan bantuan pemerintah), saya rasakan justru paling besar. Untuk proyek transmigrasi itu, pemerintah menyiapkan tanah (dibebaskan) 2 hektar per keluarga, diberi sertifikat, rumah, jalan raya, puskesmas, rumah ibadat, biaya hidup selama dua tahun, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Para transmigran umumnya  beragama islam. Mereka ditempatkan disatu tempat dan diisolir mula-mula (cukup lama) dari orang setempat. Dilain pihak, orang dayak disekitar lokasi pemukiman proyek transmigrasi kurang diperhatikan. Tetap dalam kondisi yang sengaja diciptakan sebagai yang tersisih.&lt;br /&gt;Saya juga pernah merasakan sebagai anak transmigrasi. Selama 7 tahun (1982-1989), saya hidup dipemukiman transmigrasi ini. Namanya, proyek transmigrasi local. Tetapi dalam proyek-proyek itu, menurut cerita bapakku, korupsi pelaksana proyek sering begitu merajalela bahkan hamper tidak punya arti lagi bagi warga transmigrasi seperti bapakku. Warga transmigrasi local tidak diberi tanah 2 hektar, tidak ada sertifikat, tidak ada rumah ibadat, tidak ada puskesmas. Yang disediakan hanya rumah, dan biaya hidup selama dua tahun. Setelahnya, warga dituntut untuk mandiri. Akibatnya, mereka menjadi buruh tani (sewa lahan penduduk setempat  untuk membuka sawah dan lading), buruh pada perkebunan karet. Lagi-lagi, mimpi untuk keluar dari kemiskinan pupus diera ini. &lt;br /&gt;Saat ini, saya baru dapat mengerti bahwa ketidakpuasan orang dayak dengan situasi, bersama dengan suatu ketakutan besar bahwa terancam hilang dipulau sendiri, dan frustasi karena system dan kekuasaan, menyebabkan mereka terluka yang teramat dalam. Akibatnya, mereka keluar atau meledak dalam kemarahan besar terhadap suku lain, yang dianggap ancaman terdekat (fisik), dan terkadang terjadi berulang-ulang selama puluhan tahun lalu. Saya melihat dan mengalami sendiri ledakan amarah orang dayak ini ditahun 1984, 1987, 1996, 1997 dan 1999.&lt;br /&gt;Kalau dikaji lagi lebih jauh, dari berbagai kerusuhan itu, kenapa umumnya generasi muda (usia SD-perguruan tinggi) banyak terlibat ? menurutku, hal teramat penting adalah karena mereka kecewa dan frustasi dengan situasi yang ada. Sekolah dan tidak sekolah sama-sama sulit untuk mendapat pekerjaan, meskipun proyek-proyek besar ada dikampung mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt; Adat yang mencakup pengertian religi (world-view), norma, dan etika yang selanjutnya diperjelas oleh mitos merupakan pandangan hidup (way of life) bagi masyarakat holtikultural Dayak Salako dalam kehidupannya. Adat bersama mitosnya mempengaruhi dan membentuk sikap serta perilaku individu maupun komunitas terhadap alam dalam sistem kehidupan ini.&lt;br /&gt; Berdasarkan world-view (pandangan dunia)-nya, masyarakat dayak salako mamahami manusia itu sebagai bagian dari alam dalam suatu bentuk sistem kehidupan. Bentuk sistem kehidupan ini merupakan lingkungan hidup bersama dari unsur manusia dan unsur-unsur lain yang non-manusia (organisme dan non-organisme). Kesemua unsur dalam sistem itu memiliki nilai dan fungsinya masing-masing. Pandangan kosmologi tersebut telah berdampak pada pemahaman mereka terhadap hubungan manusia dengan alam yang bersifat antropocosmic, yang berarti manusia dan alam menyatu, tidak terpisahkan, hal ini berimplikasi terhadap korelasi dari unsur-unsur dalam sistem kehidupan itu dimana manusia sebagai salah satu unsurnya tidak pernah memanifestasikan diri mereka sebagai raja penguasa atas alam. Pandangan kosmologi yang demikian itu melahirkan suatu etika lingkungan hidup yang tercakup dalam adat sehingga membuat masyarakat Dayak Salako mempunyai sikap menghargai, menghormati dan bersahabat terhadap alam.&lt;br /&gt; Dengan demikian, manusia tidak dapat bertindak semau-maunya terhadap alam, mengeksploitasi alam sehabis-habisnya demi kepentingan ekonominya. Bagaimanapun juga kesejahteraan hidup manusia secara keseluruhan- termasuk kesejahteraan hidup generasi yang akan datang- tetap akan tergantung dari kesehatan dan kelestarian alam yang menjadi sumber penghidupan dan satu-satunya lingkungan hidupnya. Religi yang telah diwariskan para leluhur dan telah diuji dan dipraktekkan sepanjang sejarah kehidupan mereka sebagai peladang berpindah dan perambah hutan- telah berhasil melestarikan lingkungan hidupnya. Mereka melalui religinya telah berhasil membuat suatu bentuk kehidupan berkelanjutan (sustainable life) dalam kehidupan mereka.&lt;br /&gt; Adat sebagai produk akumulasi dari pengalaman manusia-produk  adaptive strategy dalam interaksinya dengan alam agar supaya mereka mampu bertahan hidup (survive)- telah berkembang menjadi budaya disepanjang kehidupan manusia tersebut. melestarikan budaya berarti melestarikan lingkungan hidup karena di dalamnya terdapat etika lingkungan hidup. Mencela budaya karena sifatnya lokal (ketinggalan jaman) berarti mencela para leluhur yang telah mewariskannya yang sekaligus menolak untuk melestarikan lingkungan hidup.&lt;br /&gt; Dengan melestarikan budaya maka berarti kita semua – kehidupan manusia dan bumi-akan tetap SUNIO (lestari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya ingin mengingatkan kita semua bahwa contoh-contoh di atas dipilih untuk memberi gambaran bahwa praktek keagamaan yang dilandasi kepercayaan agama asli di kalangan penganut agama-agama besar dunia dan disayai negara Indonesia masih marak. Sekalipun agama asli tidak memiliki hak legalitas tentang keberadaannya namun elemen-elemen tertentu dari agama asli ini masih dipelihara dan dipraktekkan oleh penganut agama dunia ini. Untuk mencari jawab sekitar daya tahan agama asli ini tidaklah terlalu gampang. Secara teori agama asli bisa meresap dan tetap dipelihara di balik agama dunia sebab sejak awal dalam para pewarta agama dunia itu memberi toleransi besar kepada praktek-praktek agama asli itu. Kasus inilah sinkretisme terang-terangan. Bahwa bagaimanapun, agama asli haruslah tetap dihargai sebagai bagian yang takterpisahkan dari peradaban dunia. Untuk mencari jawab sekitar daya tahan agama asli ini tidaklah terlalu gampang. &lt;br /&gt;Secara teori agama asli bisa meresap dan tetap dipelihara di balik agama dunia sebab sejak awal dalam para pewarta agama dunia itu memberi toleransi besar kepada praktek-praktek agama asli itu. Kasus inilah sinkretisme terang-terangan. Bahwa bagaimanapun, agama asli haruslah tetap dihargai sebagai bagian yang takterpisahkan dari peradaban dunia. Tulisan ini sekaligus juga menyanggah bahwa adat Orang Dayak adalah agama, yang dalam ilmu sosiologis dan antropologis digolongkan sebagai agama asli. Dengan demikian, saya boleh katakan bahwa praktek adat bukanlah praktek animisme, sebagaimana yang dikatakan orang luar seperti sekarang ini. Untuk itu, saya menyarankan kiranya diperlukan dialog-dialog antar peradaban, baik penganut agama asli, evangelis protestan maupun katolik pada level komunitas. &lt;br /&gt;Untuk menghindari konflik dikomunitas, saran saya bagi penginjil atau apapun namanya, yang mau menyebarkan agama dikampung ini ada baiknya terlebih dahulu mempelajari dan mendalami mitos-mitos dan upacara-upacara adat serta keagamaan mereka. Kemudian mereka (penginjil,dll) juga harus sanggup merumuskan ajaran-ajaran agamanya sesuai dengan sikap dan pandangan hidup mereka tanpa perlu mengorbankan nilai-nilai hakiki agama yang disebarkannya itu. Dengan demikian agama betul-betul bisa berakar dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan&lt;br /&gt; Bagaimanapun juga pengaruh mentalitas pencerahan yang mengglobal ini telah merasuki kehidupan kita, mengubah pandangan kita untuk menjadi tuan dalam segala hal. Masihkan adat, pandangan kosmologi dan mitos-mitos survive (bertahan hidup) ditengah kehidupan generasi muda suku Dayak Salako di era globalisasi sekarang ini? Pertanyaan ini merupakan bahan renungan untuk kita semua, khususnya generasi suku Dayak Salako, mengingat Indonesia tercatat sebagai “Rekot dunia” dalam hal penghancur hutan tercepat di dunia pada tahun 2000 – 2005 (Kompas, Jum’at 4 Mei 2007, silahkan baca lampiran di halaman sebelah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Child, Alice B., et.al. Religion ang Magic in the Life of Traditional People. New Yeysey: &lt;br /&gt; Prentice-Hall, 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darwin, Charles. The Origin of Spicies. Diterjemahkan oleh F. susiloharjo &amp; Basuki &lt;br /&gt; Harwono. Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunselman, Donatus, OFM Cap. Bijdrage Tot de Kennis van de Taal en Adat der &lt;br /&gt; Kanayatn Dayaks van West Borneo, 1950.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hofes, M. Lewis. Religion of the World. New york: Macmillan Publishing Co., Inc.: &lt;br /&gt; 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johnstones, R.L. relogion and Society in interaction. New Jersey: Prentice-Hall, Inc., &lt;br /&gt; 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kottak, Conrad Phillip. Anthopology. The Ekploration of Human Diversity. New York: &lt;br /&gt; Mcgraw-Hill, Inc. 1974.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nugroho, Alois A. Fungsi rasio Alfred North Whitehead. Yogyakarta: Kanisius, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otto, Rudolf. The Idea of the Holy. Translated by John W. Harvey. London: Pelican &lt;br /&gt; Books, 1959&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priyono, Herry. Nilai Budaya Barat dan Timur Menuju Tata Hubungan Baru. Dalam &lt;br /&gt; Jelajah hakikat Pemikiran Timur. Jakarta: PT. gramedia, 993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanderson, Stephen K. Macrosociology. An Introduction to Human Societies. New York: &lt;br /&gt; Harper Collins Purblishers, 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schleiermacher, Friedrich. On Religin. Translated by John Oman. New York: Frederick &lt;br /&gt; Ungar Publishing Co. 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skolimowski, Henryk. Eco-Philosophy: Designing New  Tactics for Living. London: &lt;br /&gt; Marion Noyars Publishers Ltd., 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-2948061970099389958?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/2948061970099389958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=2948061970099389958&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/2948061970099389958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/2948061970099389958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/03/kekayaan-tradisi-dan-religi-dayak.html' title='FILSAFAT DAYAK'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-8817257474630378088</id><published>2009-03-03T17:11:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T23:11:07.937-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik Identitas'/><title type='text'>DAYAK BANGKIT</title><content type='html'>Akhir tahun lalu diperingati secara besar-besaran 100 tahun Ordo Kapusin berkarya di Kalimantan Barat. Peringatan itu bagi penulis memiliki makna yang sangat penting, selain yang berkait persoalan agama, peringatan itu juga bermakna bahwa kira-kira seusia itulah sebagian kecil orang Dayak bisa mengenal budaya baca- tulis. Mengapa? Karena Ordo kapusinlah yang pertama kali mendirikan sekolah-sekolah bagi orang Dayak. Persekolahan Nyarumkop menjadi titik awal perkembangan orang Dayak itu. Pemimpin-pemimpin Dayak sejak masa ORLA dan sebagian dimasa kinipun adalah alumni persekolahan Nyarumkop.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Walaupun pada masa ORLA ada orang Dayak yang menjadi menjadi Gubernur dan Bupati, tetapi kehidupan sosiologis ketika itu belum membuat nyaman menjadi orang Dayak. Stereotif negatif seperti orang kuno, udik, boros, kotor, dlsb masih melekat kuat. Menjadi orang Dayak ketika itu sama dengan menjadi bahan olok-olokan. Kalau ada anak yang kotor,maka kata-kata yang keluar adalah ”seperti orang Dayak”&lt;br /&gt;Keadaan semakin parah ketika ORLA jatuh dan digantikan ORBA, tokoh Dayak banyak yang dituduh terlibat PKI (tetapi tidak dibuktikan di pengadilan), hanya karena alasan yang tidak jelas pemimpin-pemimpin itu dipangkas, para pegawai negeri orang Dayak juga dipangkas. Maka ketika ORBA berkuasa orang Dayak hanya menjadi penonton, mereka bisa dihitung dengan jari saja yang bisa menjadi PN dan yang menjabat sekedar Kabiro hanya 1 orang, Kadis apalagi kanwil tidak ada. Untuk menjadi PN adalah sesuatu yang jauh, orang Dayak merasa seperti bukan hidup di negeri sendiri. Di dunia pemerintahan dan politik orang Dayak praktis tidak bisa berbuat apa-apa selama ORBA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era ORBA itu sebenarnya sudah cukup banyak orang Dayak yang terdidik. Tetapi karena mereka sulit diterima menjadi PN, maka mereka memilih bekerja disektor non PN seperti Guru swasta, di RS swasta dan usaha-usaha swasta lainnya untuk bisa hidup dan eksis.Penyelenggaraan pemerintahan yang represif pada masa ORBA mendorong munculnya gerakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di tingkat Nasional. Sejumlah tokoh yang masih terkenal hingga kini, seperti ; Gusdur , Adnan Buyung Nasution, Gunawan Muhamad, dan masih banyak lagi adalah tokoh-tokoh LSM awal itu. Berkat berjaringan, maka di Kalbar LSM yang dikelola orang Dayak, bagai orang haus merindukan air. LSM seperti Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) yang berdiri tahun 1981 banyak mendapat dukungan dari LSM-LSM nasional tersebut, terutama untuk pengembangan kapasitas SDMnya. LSMlah satu-satunya wadah ketika ORBA yang masih tersisa bagi orang Dayak untuk eksis dan masih bisa diperhitungkan. YKSPK ini berkarya dimulai dengan membangun persekolahan. Penulis bekerja di lembaga ini menjadi guru dari tahun 1986- 1992, tahun 1992-1994 penulis dikirim mengikuti kursus Pemetaan Partisipatif dan GIS baik di dalam maupun di Luar Negeri dan kemudian mendirikan unit PPSDAK tahun 1994-2000. Tahun 2000 penulis mendirikan YPPN dan tidak bernaung lagi dibawah payung YKSPK. Salah satu karya yang penulis anggap fenomenal dari karya PK ini adalah berhasilnya menyeragamkan penulisan kata ”Dayak”. Jika sebelumnya di berbagai literatur penulisannya berbeda-beda (Dyak, Dajak, Daya, Daya’ dll) maka setelah Konggres kebudayaan Dayak tahun 1992, literatur-literatur telah seragam menggunakan kata Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas LSM, pada masa ORBA penuh tantangan, tetapi itulah yang justeru membuat orang Dayak menikmatinya (bukankah sesuatu yang menantang itu menarik? Bukankah sesuatu yang dilarang itu membuat orang penasaran untuk melakukannya?). Apalagi orang Dayak yang sulit diterima jadi PN, maka pelariannya adalah menjadi aktivis LSM. Orang Dayak yang bersinar di era ORBA adalah yang menjadi pemimpin LSM. Semakin kuat tekanan kepada LSM semakin bersinarlah LSM tersebut dan tentu saja pemimpinnya. Kehadiran aktivis LSM di kampung-kampung sangat dirindukan masyarakat. Mereka dijadikan pemimpin oleh orang-orang kampung (karena pejabat pemerintah dari orang Dayak dan pemimpin politik yang bisa disebut pemimpin tidak banyak dan umumnya keberpihakan kepada orang Dayak juga terkesan diragukan selain itu mereka juga jarang pulang kampung , sementara masyarakat Dayak di kampung membutuhkan pemimpin di kota).&lt;br /&gt;Karena yang dikembangkan oleh LSM adalah berpikir kritis (bukan asal beda) maka orang-orang kampungpun di fasilitasi berpikir kritis. Terjadilan pergumulan-pergumulan kehidupan di tengah-tengah orang Dayak. Wujud konkrit dari pergumulan itu adalah meningkatkan kapasitas SDM. Orang Dayak difasilitasi oleh LSM (baik itu YKSPK, maupun LSM dari Gereja) untuk bisa sekolah. Pancur kasih misalnya menyelenggarakan program beasiswa mandiri. Sampai sekarang lebih dari 200 orang yang menerima beasiswa tsb. Saat ini selain YKSPK sejumlah LSM lain yang didirikan oleh orang Dayak tetapi tidak ekslusif Dayak juga mulai terasa kehadirannya di Kalbar. YPPN,YPB, Y Pahar misalnya juga mengembangkan pendidikan alternatif bagi anak-anak pedalaman, dengan tahap awal mendirikan SD mini di Kec mempawah Hulu dan sekarang mendirikan SMK Pahar di Menjalin. Bedanya sejumlah LSM itu tidak lagi melihat Dayak dalam konteks etnosentrisme tetapi Dayak dalam konteks plularisme dan multikulturalisme.&lt;br /&gt;Sekarang mulai tampak bahwa di berbagai sektor telah ada orang Dayak yang ahli. Tetapi mereka tidak terakomodir dalam bidang pemerintahan (disinilah kemudian terjadi pergumulan antara politik- SDM- Identitas yang paling kongkrit). Saat ini misalnya ada orang Dayak dari Landak yang menjadi Rektor di Universitas Katolik di Nairobi Kenya, ada juga yang bekerja di Toronto Kanada, di Roma Italia (semua mereka tak terekspos) ada pula yang menjadi dokter di Amerika serikat. Ketika penulis Kursus di Kanada, penulis bertemu orang Dayak yang memiliki percetakan di Vancouver. Keberhasilan mereka telah menjadi pendorong orang Muda Dayak untuk terus meningkatkan kapasitas SDM. Walaupun jumlah orang Dayak yang terdidik masih sangat sedikit (kira-kira baru 1% dari total populasi Dayak), tetapi hal ini telah melahirkan sikap “mulai bangga menjadi orang Dayak”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pergumulan dalam kehidupan orang Dayak telah menjadi inspirasi pembelajaran yang penting bagi eksistensi mereka. Mereka melakukannya sebenarnya hanya ingin bisa hidup sejajar dengan suku bangsa lainnya di Kalbar. “Traumatic” masa lalu yang menempatkan orang Dayak pada posisi yang lemah telah menciptakan solidaritas yang tinggi diantara mereka. Predikat yang diberikan kepada orang Dayak “bodoh” telah menjadi pelecut bagi sebangian dari mereka untuk belajar gigih dan menunjukan bahwa mereka sebenarnya “cerdas”. Predikat yang diberikan kepada orang Dayak “boros” telah menjadi inspirator bagi berkembangnya Credit Union di Kalbar. Singkatnya berbagai predikat “buruk” masa lalu berupaya untuk dibalik, dan dibantah . Kata kuncinya adalah pengorganisasian masyarakat. Ketika masyarakat sudah terorganisir, maka berbuat baik untuk tujuan apasaja akan mudah didukung.&lt;br /&gt;Perubahan Format Politik Nasional telah menjadi pendorong yang signifikan pada keterlibatan kembali tokoh-tokoh orang Dayak dalam kancah perpolitikan local setelah pada rezim ORBA dimarginalkan. Kemampuan Orang Dayak berpolitik seperti yang pernah dilakukan JC Oevang Oeray, dkk menjadi referensi yang baik Banyaknya Partai Politik sekarang telah menjadi ladang tokoh-tokoh politik Dayak untuk menyalurkan kemampuan kepemimpinannya. Disatu sisi hal ini menguntungkan orang Dayak tetapi disisi lain telah menimbulkan gesekan yang sensitive konflik diantara mereka, tetapi justeru disitulah orang Dayak mendapat arena belajar baru yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Traumatik akibat termarginalkan pada masa ORBA telah menjadi tema-tema issue politik yang dikembangkan sebagian politisi orang Dayak dan masyarakat akar rumput sekarang ini. Pada tataran psikologis hal ini dapat dipahami tetapi dalam kerangka membangun kehidupan multikultur , keadaannya menjadi lain. Saya kira ini menjadi bahan refleksi kebangsaan secara holistik. Yang Celaka di sebagian propinsi di Indonesia (ACEH dan Papua) berlaku pula sistem khusus, perlakuan pemerintah pusat demikian telah semakin mempersulit dan menjadi tantangan upaya membangun sistem politik yang multikultural, karena daerah lain merasa memerlukan pula perlakuan khusus itu. Akibat nya perpolitikan lokal menjadi carut-marut yang bernuansa hegemoni etnisitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, munculnya era kebangkitan kembali orang Dayak adalah sebuah perjuangan kolektif dari orang-orang dari suku tersebut. Pergumulannya sangat keras dan rumit. Diperlukan pengorganisasian yang tidak kenal lelah, intensif dan berkesinambungan. Faktor pernah ditindas, dihina dan dimarginalkan adalah faktor pelecut untuk membalikan keadaan. Tetapi supaya tidak sombong dan besar kepala yang berakibat pada politik balas dendam berbasis kesukuan maka perlu dimasyarakatkan perspektif pluralisme dan mutikulturalisme yang terpadu.. Satu hal yang penting, adanya kebangkitan kembali orang Dayak tidak akan menjadi ancaman bagi suku-suku bangsa lain di kalbar. Prinsip hidup ” Adil ka Talino, Bacuramin ka Saruga dan Basengat ka Jubata” senantiasa akan mengiringi kehidupan orang Dayak sehingga Kalbar akan selalu nyaman bagi suku-suku bangsa lainnya. Mari Kita berjuang untuk membangun sistim politik lokal yang multikultural di Kalbar ini. Adanya semacam”kompetisi” antara Dayak dan Melayu di Kalbar adalah wajar dan itu akan menciptakan ”Chemistry” yang unik khas Kalbar ke depan. Yang paling penting mari kita meningkatkan kapasitas SDM kita, apalah artinya kita di pimpin oleh orang kita sendiri tetapi kapasitas SDM pemimpin itu tidak cukup mampu untuk membangun kesejahteraan seluruh warganya.Amin.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-8817257474630378088?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/8817257474630378088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=8817257474630378088&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/8817257474630378088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/8817257474630378088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/03/100-tahun-pergumulan-kebangkitan-orang.html' title='DAYAK BANGKIT'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-4361661420438700234</id><published>2009-03-03T17:09:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T17:10:02.850-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Magis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak Selako'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kepercayaan'/><title type='text'>Kepercayaan  Magis Pada Etnik Dayak Selako</title><content type='html'>Alam roh atau dunia roh merupakan kepercayaan yang melekat dengan orang Dayak Selako, Merujuk kepada pendapat mereka hal ini bersumber daripada asal-usul manusia semula jadi lagi. Alam roh dihuni oleh para roh iaitu sesuatu yang bukan manusia tetapi diyakini ada di sekitar kehidupan Dayak Selako. Roh ini biasa dikenali juga sebagai makhluk halus yang bertempat tinggal di langit, di bumi, di air, dan sebagainya yang mempunyai tugas masing-masing. Mereka hidup di alam yang tidak dapat dilihat, namun mereka mempunyai keperluan yang sama dengan manusia. Hubung kait kehidupan manusia dengan roh dalam konteks kepercayaan tradisional terjalin rapat. Jalinan yang rapat inilah yang oleh Etnik Dayak Selako diyakini sebagai dunia Ilmu Magis.(bandingkan, Madrah, 1997:2-4). Hal ini juga selaras dengan yang dikatakan oleh   Clark Chilson and Peter Knecht (2002:1)  bahawa...&lt;span class="fullpost"&gt; as repressive, ideologies and political sistems started to dissolve, many ethnic groups in Asia and elsewhere began to reflect on their distinctive cultural proparties in order to reconnect themselves with their tradition and their cultural roots. This led to a new appretiation  and revival of folklore in various fields such us oral traditions, music, and religion .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat etnik Dayak Selako percaya bahawa kepatuhan dan kesetiaan manusia terhadap roh akan mendatangkan berkah dan mendapatkan imbalan dalam berbagai bentuk daripada para roh. Sebaliknya akan terjadi kemurkaan roh yang dapat menimbulkan kemalangan atau mara bahaya. Oleh sebab itu, manusia berusaha untuk dapat berkomunikasi dengan roh-roh tersebut melalui suatu ilmu, yang sering kali tidak dapat diterima oleh akal manusia. Tetapi memang terjadi.&lt;br /&gt;Ilmu magis ini dapat diperolehii dengan beberapa cara seperti betapa (bertapa), mimpi, rajaki (keberuntungan), baguru (belajar) dan ilmu magis warisan sejak lahir. Ilmu Magis ini dapat dibahagi kedalam dua jenis iaitu : ilmu magis panas dan ilmu magis dingin. Ilmu magis panas bermakna bahawa ilmu ini dapat digunakan untuk mencelakakan orang lain (membunuh orang), Racun , dawak dan  polong termasuk dalam kumpulan ini. sedangkan ilmu magis dingin bermakna ilmu magis untuk antsisipasi, menangkal ataupun untuk mengubati akibat dari ilmu magis panas. Misalnya azimat dan mantra-mantra.&lt;br /&gt;Di Kecamatan Sajingan besar, kedua macam ilmu magis ini dapat dijumpai tetapi bilangan pemiliknya semakin berkurang kerana usia lanjut dan pengaruh agama Kristian. Di Kampung Batu Itapm misalnya masih ada beberapa orang yang memiliki racun. Keberadaan orang yang memiliki racun di kampung tersebut sangat dkenal di berbagai kampung di Kecamatan ini. Penulis selalu diingatkan bilamana akan berkunjung ke kampung tersebut supaya jangan sembarangan minum atau makan. Di kampung Sasak juga dijumpai 14 orang yang memiliki azimat  dan kemampuan membaca mantra serta ada pula dua orang  yang memiliki racun di kampung ini.&lt;br /&gt;Secara tradisional, orang Dayak Selako percaya kepada Tuhan yang mereka sebut sebagai Jubata , ada juga yang menyebutnya Dervata (Roth, 1968:7). Gould (1909:38) mengatakan , ‘ Dewata is the Land Dayak name of a God from Sanskrit word dewata divinity, deity, gods. Seterusnya Roth (1968:216) menulis, ‘ we may recall the fact that Land Dayaks have a kind of Hindu Trimurti, viz-Tapa or Yang, the Preserver (Vishnu or Dewa-dewa of Hindus), Jirong-Brama, the creator (Brahma of the Hindus), Triyuh-Kamang, the destroyer (Shiva of the Hindus)’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-4361661420438700234?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/4361661420438700234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=4361661420438700234&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/4361661420438700234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/4361661420438700234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/03/kepercayaan-magis-pada-etnik-dayak.html' title='Kepercayaan  Magis Pada Etnik Dayak Selako'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-5392319227574962449</id><published>2009-02-22T15:43:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T15:54:03.336-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Globalisasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalbar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekologi Kalimantan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><title type='text'>Awas, Globalisasi Mengancam DAYAK !!!</title><content type='html'>Akhir-akhir ini, kita banyak mendengar istilah Globalisasi !!. Bagi kelompok etnik Dayak, istilah ini sungguh dianggap remeh. paling tidak beberapa tokoh yang sempat saya temui di 6 kampung Dayak. bagi mereka, biarlah globalisasi terjadi, toh mereka sudah tua dan para pemimpin Dayak sendiri tidak pernah memberitahu tentang bahaya ini. "kami ini sudah tua, jadi biarlah globalisasi itu terjadi. toh, pejabat dan pemimpin Dayak juga tidak paham tenang globalisasi" ujar seorang tetua adat di Sei Ambawang. Sekedar mengingatkan kembali, Globalisasi berarti hilangnya sekat-sekat negara untuk perdagangan dan perpindahan modal, kebebasan berusaha melampaui batas-batas negara, dan juga kebebasan untuk merambah semua sektor perekonomian.&lt;br /&gt;Perpindahan modal ini bakal memindahkan penghisapan ke negara dunia ke-3. Buruh di negara dunia ke-3 akan dihisap habis-habisan, dan sementara itu buruh di negara maju akan kehilangan pekerjaan. Dan ini bakal diikuti perusakan alam yang lebih hebat di negara dunia ke-3, karena modal asing jauh lebih besar dari modal lokal, mereka butuh sumber daya yang jauh lebih besar, dan umumnya mereka nggak peduli sama alam.&lt;br /&gt;Globalisasi berarti peng-globalan kapitalisme ke segala penjuru dunia dan ke segala sektor ekonomi. Dengan begitu bakal ada banyak sektor yang tadinya lebih berorientasi ke sosial bakal bergeser ke PROFIT. Ini bisa terjadi lewat jalan privatisasi dan segala macem tetek bengeknya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika modal lokal akhirnya dikuasai sama modal asing, maka harga dan segalanya bisa dipermainkan sesuai dengan keinginan pemilik modal. Dan modal yang udah mengglobal juga berarti hasil produksi yang mengglobal. Apa yang diproduksi di Indonesia dengan harga murah bisa dijual di tempat lain dengan harga yang amat tinggi sesuai standar harga di tempat penjualan. Kemiskinan bakal semakin parah dan semakin ngga tersalurkan lagi.&lt;br /&gt;Kemudian yang paling celaka adalah kalo perusahaan-perusahaan negara, perusahaan-perusahaan publik, perusahaan-perusahaan yang menyediakan fasilitas publik - ikut di-privatisasi. Maka perusahaan itu, yang tadinya masih cukup ber-orientasi ke pemenuhan kebutuhan masyarakat (walaupun dikorup habis-habisan) akan berubah orientasi ke PROFIT. Dan sekali lagi, ini CELAKA.&lt;br /&gt;Bayangin kalo kalo terjadi privatisasi pada perusahaan-perusahaan air, listrik, gas, telepon, transportasi, pembangunan jalan, kesehatan, sekolah, dan lain-lain. Berarti swasta ngontrol perusahaan-perusahaan itu, sektor-sektor yang di UUD 45 disebut sebagai "yang menguasai hajat hidup orang banyak", berarti mereka bebas menentukan strategi perusahaan, nentuin harga, nentuin pasar, nentuin buruh, nentuin cara pemasaran, dan semuanya sesuai dengan apa yang mereka mau, dan yang mereka mau adalah mendapatkan PROFIT sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;Tingkat kemiskinan akan semakin parah dan yang udah miskin bakal semakin susah idup. Pendidikan akan semakin cuma untuk yang punya duit dan orang semakin tolol, buta huruf bakal meningkat, penyakitan juga meningkat, tingkat harapan hidup menurun, pengangguran melonjak, kejahatan bertambah, preman tambah banyak, orang stress bertambah, perumahan kumuh bertambah, penggusuran bertambah, kekerasan pada orang melarat bertambah. Dan ini udah terjadi di negara-negara dunia ke-3 yang nerima prinsip globalisasi.&lt;br /&gt;Kemudian, ketika sudah terjadi bahwa pihak asing menguasai modal lokal. Perjuangan ke arah sosialisme rasanya sih bakal semakin jauh dan susah aja. Bisa aja kita bilang modal asing itu lebih manusiawi dan bla bla bla bla... Tapi modal asing itu lebih besar, lebih mencengkeram, penguasa lokal akan dipaksa untuk jadi pengaman modal asing (seperti Batista di Kuba, seperti Suharto di Indonesia dulu, seperti di Nikaragua, dan seperti di negara-negara Amerika Latin, seperti di negara-negara Afrika.&lt;br /&gt;Apa hasilnya? Akan timbul sebuah pemerintahan reaksioner atau totaliter atau militeristik, ini khas sekali, di mana modal asing (ambil aja contoh modal US) berkuasa di satu negara yang masih melarat, maka akan ada centeng-centeng yang ngejagain modal itu: Pemerintah lokal. Contoh yang paling deket sama kita, ketika modal US bercokol di Arun Aceh, maka centengnya siapa? Jakarta! Kenapa Jakarta mau jadi centeng? Karena profitnya besar! Hasilnya apa? DOM! Penindasan dan penghisapan atas penduduk asli Aceh habis-habisan. Begitu juga dengan freeport dan segala jenis pengerukan hasil alam lainnya, Jakarta jadi centeng!&lt;br /&gt;Ini semua karena ada penggabungan menjadi satu tubuh (bersetubuh) antara komponen-komponen: MODAL, PENGUASA POLITIK, dan MILITER. Mereka bukan lagi 3 bagian berbeda, tapi mereka adalah 1, saling dukung, dan demi PROFIT, mereka akan melakukan apa aja. Kalau ternyata salah satu dari penguasa politik atau militer ada yang mandul, maka dengan mudah mereka tinggal diganti oleh sang pimpinan: MODAL.&lt;br /&gt;Udah berulang kali terjadi US dengan bangga menjatuhkan sebuah pemerintahan demokratik dari negara dunia ke-3 (Nikaragua, Kuba, Indonesia!, dan lain-lain), menggantikannya dengan pemerintahan boneka mereka, dan membuatnya jadi rezim totaliter reaksioner militeristik. Sementara kalau yang mandul militernya, tinggal cari grup-grup militan pinggiran yang mau diajak kerjasama, diberi modal, dan memberontak-lah mereka. Udah sering terjadi, perang saudara berkepanjangan antara penguasa militer resmi dan "pejuang" militan dengan backing US di baliknya.&lt;br /&gt;Ketika semakin parah dan semakin parah, ini akan ngulang lagi apa yang dulu pernah terjadi: KOLONIALISASI. Dulu kolonialisasi dilakukan dengan cara terang-terangan, si bule-bule itu secara langsung menduduki tanah pribumi, membuat peraturan, membuat pemerintahan, membentuk tentara, menguasai wilayah baru secara fisik. Dan sekarang bedanya apa? Cuma penguasaan tidak secara fisik doang, tetapi secara modal, secara politik (!), dan secara sosial.&lt;br /&gt;Kita orang-orang negara dunia ke-3 akan dijadiin budak (slave) untuk menghasilkan profit untuk mereka, kalo ngelawan, kita dihajar. Kalo dulu jaman kolonial kuno kita dihajar sama tentara bule secara langsung, jaman sekarang kita dihajar sama centeng yang sejenis sama kita sendiri. Apa bedanya? Sama-sama aja. Mereka yang jadi centeng cuma bahasa, tampang, dan kebangsaannya aja sama seperti kita, tapi mereka udah ngga beda dari tentara-tentara asing.&lt;br /&gt;Kalau kita memberontak ke centeng kita sendiri, seperti ketika GAM memberontak ke Jakarta, maka akan dijawab dengan pertanyaan dan permintaan tentang NASIONALISME. Dan ini mematikan. Centeng nggak tau malu menagih nasionalisme kepada saudara sendiri, dan kalau pertanyaan dan permintaan sang centeng nggak dijawab, akan terjadi apa yang namanya "menjaga kesatuan dan persatuan negara". Oalah... gak tau malu...&lt;br /&gt;Kemudian ketika modal asing udah mencengkeram erat di negara dunia ke-3, ketika centeng-centeng lokal mulai terbentuk, dan ketika neo-kolonialisasi udah terjadi, apakah dengan demikian kita akan semakin mudah untuk berjuang mewujudkan sosialisme/komunisme?&lt;br /&gt;Sekali lagi, modal asing itu lebih besar dan lebih berkuasa, dengan centengnya, dengan kolonialismenya. Apa yang terjadi kalau ada usaha untuk menasionalisasi modal (yang juga berarti profit dan asset jangka panjang) mereka?? PERANG. Ketika sebuah koloni berusaha untuk memberontak dari pemerintahan kolonial, maka akan terjadi perang antara pemerintah kolonial dengan penduduk pribumi.&lt;br /&gt;Dan begitu juga dengan neo-kolonialisme ini sendiri. Ketika rakyat melarat, budak-budak di negara dunia ke-3 bangkit ber-revolusi berusaha membunuh centengnya, maka yang jadi pertahanan pertama adalah sang centeng. Ini udah sering sekali terjadi dan tidak perlu disebut contohnya.&lt;br /&gt;Kalo sang centeng kalah, maka "dengan tiba-tiba" akan muncul grup-grup nasionalis yang ingin membela persatuan dan kesatuan negara, tentara-tentara militan yang anti-revolusi, melawan revolusi. Ini juga udah sering terjadi, tentara-tentara militan dengan backing US yang mpreteli kekuatan revolusi rakyat entah dengan alasan apa.&lt;br /&gt;Ketika yang ini masih bisa dikalahin sama revolusi rakyat, siapa yang akan turun??&lt;br /&gt;Sang modal! Tentara sebenernya milik sang modal akan turun tangan. Perang antar bangsa akan terjadi. Perang langsung antara MODAL dengan budak-budaknya, antara MODAL dengan REVOLUSI. Siapa yang akan menang? MODAL sama sekali belum tersentuh kulitnya, bahkan selama ini mereka santai-santai mengeruk profit dari tanah perbudakan negara dunia ke-3, mungkin pengorbanan mereka selama ini cuma bantuan dana dan bantuan senjata untuk centeng dan untuk tentara militan pro-modal.&lt;br /&gt;Sementara revolusi, telah mengalami setidaknya satu kali serangan dan kemungkinan besar 2 kali serangan (atau lebih!) dari saudara-saudaranya sendiri, walaupun (pasti) dengan semangat bergelora dan luar biasa murka, revolusi udah babak belur dan masih harus melawan sebuah negara-negara besar (BUKAN cuma 1) dengan segala kemampuan militernya, dengan modal "tak terbatas", dan dengan nafsu yang juga besar untuk tetep menguasai MODAL sumber profit dan uangnya selama ini.&lt;br /&gt;Yang mati di pertarungan ini bakal mati dengan cara amat mengenaskan. Kekerasan adalah mutlak, akan terjadi perang fisik yang amat berdarah. Itu pasti. Dan siapa yang akan mati?&lt;br /&gt;Sebaiknya kita engga perlu sampai ke taraf yang benar-benar mematikan dan berbahaya seperti ini. Karena akan ada banyak sekali korban nyawa yang hilang, waktu yang amat sangat panjang diperlukan, bantai-membantai antar saudara sendiri, dan darah yang tumpah di mana-mana. Dunia akan berantakan sekali lagi, dan berkali-kali lagi.&lt;br /&gt;Walaupun sebenernya ADA jalan keluarnya. Revolusi mungkin saja menang, asalkan terjadi revolusi juga di negara asal modal dan di negara-negara sekutunya sesama penguasa modal internasional. Revolusi harus saling mendukung dan berprinsip internasionalisme, maka ada kemungkinan untuk berhasil, apalagi kalau revolusi di negara pemodal dan di negara budak itu berhasil (terutama yang di negara pemodal), kemungkinan terciptanya sebuah dunia yang lebih baik justru akan jadi kenyataan!&lt;br /&gt;Sebuah pilihan yang amat sulit!          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6938791101910859433-5392319227574962449?l=www.akademidayak.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.akademidayak.com/feeds/5392319227574962449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6938791101910859433&amp;postID=5392319227574962449&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/5392319227574962449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6938791101910859433/posts/default/5392319227574962449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.akademidayak.com/2009/02/awas-globalisasi-mengancam-dayak.html' title='Awas, Globalisasi Mengancam DAYAK !!!'/><author><name>Yohanes Supriyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04476925578940634444</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_q_f98aDYvY4/SdV2NWatHaI/AAAAAAAAA5E/6tI3Abel5gE/S220/P3140253.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6938791101910859433.post-2709717650135331993</id><published>2009-02-02T04:00:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T04:04:30.548-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jepang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mandor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dayak'/><title type='text'>Ereveld Mandor Dari Republik Tertua Asia, Penyungkupan, dan Kebangkitan Dayak</title><content type='html'>Mandor hanyalah kota kecil, tepatnya pasar yang terdiri dari deretan ratusan ruko (rumah took) berbentuk segi empat.  Jaraknya hanya 88 Km dari Kota Pontianak. Jalannya  sangat lebar dan licin dengan status jalan internasional. Maklum, menuju Kuching-Sarawak, dari Pontianak, orang akan melewati Kota Mandor. Sebelumnya, Mandor  luput dari perhatian public. Awal Juni 2008, Mandor menjadi perhatian public kembali setelah kampanye media yang dilakukan Tanto Yacobus, dkk dari Tribune Institute Pontianak. Tanto menginisiasi pembuatan sebuah blogspot khusus peristiwa Mandor. Koran Borneo Tribune, juga menampilkan berita-berita seputar peristiwa Mandor. Hal ini, menurut Nur Iskandar, Pimred Borneo Tribune karena masoh ada sisi gelap peristiwa ini yang belum terungkap, adahal pemerintah propinsi Kalimantan Barat telah mengeluarkan Peraturan Daerah tahun 2007 lalu dengan menjadikan tanggal 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah (HBD). Bahkan Borneo Tribune menyelenggarakan diskusi topical di Pontianak, dengan mengundang ahli waris korban, saksi sejarah, tokoh-tokoh dan masyarakat lainnya, 21 Juni 2008 lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Doli Matnor (71 th), Temenggung Binua Mandor, Mandor berasal dari kata Manur, yakni sejenis nama buah asam hutan; asam manur yang dulunya banyak terdapat didaerah tanah berpasir ini. Bagi masyarakat Dayak, kampung memang seringkali diberi nama berdasarkan sesuatu yang unik, dan tentu saja memiliki nilai-nilai estetik berdasarkan kekhasan yang ada dilokasi awal saat itu. Bukti banyaknya asam manur didaerah ini masih terdapat disekitar Selutung, Kemenyan dan Bobor Buranti’, beberapa kampung Dayak yang tak jauh dari Kota Mandor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda cerita versi Dayak, versi lainnya menjelaskan bahwa Mandor didirikan oleh Lo Fong Pak, seorang Hakka yang bermigrasi dari Tiongkok. Awalnya, menurut versi ini, Lo Fong Pak sudah menetap selama 7 bulan di Pontianak, tepatnya di  Siantan (Parit Pekong skearang, pen) dan dengan perahu menyusuri sungai Dayak (anak sungai  Segedong di Peniti). Dialiran sungai Dayak, ia menemukan satu lokasi yang cocok untuk dibangun pemukiman bagi 100 angota rombongannya. Ia kemudian membangun kota Mem-Tau-Er (Mandor) sebagai markas besar dari group perusahaannya, yang bernama Lo Fong Pak Kongsi. Saat itu, Mandor , telah dihuni oleh suku Tio Ciu, terutama dari Tioyo dan Kityo. Di Mandor, sebelumnya telah ada pasar 220 pintu yang dimiliki oleh Mao Yien. Pasar 220 pintu ini terdiri dari 200 pintu pasar lama yang didiami masyarakat Tio Tjiu, Kti-Yo, Hai Fung dan Liuk Fung dengan Tai-Ko Ung Kui Peh dan 20 pintu pasar baru yang didiami masyarakat asal Kia Yin Tju dengan Tai-Ko Kong Mew Pak. Mao Yien juga mendirikan benteng Lan Fo (Anggrek Persatuan) dan mengangkat 4 pembantu dengan gelar Lo-Man.  Mengetahui potensi  besar untuk perkembangan Kongsinya didaerah kaya emas ini, Lo Fong kemudian mengutus Liu Thoi Ni untuk membawa surat rahasia kepada Ung Kui Peh dan Kong Mew Pak, sehingga mereka terpaksa menyerah dan menggabungkan diri di bawah kekuasaan Lo Fong Kongsi tanpa pertumpahan darah. Dengan takluknya Benteng Lan Fo, Lo Fong Pak berhasil menguasai seluruh wilayah Mandor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Kecamatan Mandor, berbatasan langsung dengan Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Pontianak. Secara administrative, Mandor merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Landak. Mandor dihuni oleh masyarakat multietnik, Dayak, Melayu, Jawa dan Cina. Warga dari berbagai daerah lainnya di Indonesia juga banyak yang menetap di kecamatan ini. Mereka umumnya pekerja tambang emas, pekerjaan yang sudah digeluti turun-temurun, bahkan sebelum Republic Indonesia lahir. Potensi emas inilah, yang kemudian membuat Mandor begitu terkenal  di dunia sejak abad ke-7 hingga hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecamatan ini terdiri dari 58 kampung, terbagi dalam…dusun dan …..desa.  sedangkan menurut pemerintahan adat, kecamatan ini terdiri dari……kampung dan…..binua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2007, penduduk kecamatan Mandor adalah………jiwa, mayoritas suku Dayak. &lt;br /&gt;Sejarah Mandor tidak lepas dari sebuah system pemerintahan berbentuk republic tertua di dunia. Dr.Irawan/Dr.Frits Hong, misalnya pernah meneliti tentang keberadaan republic ini. Baru-baru ini, Hasan Karman, peneliti Tonghoa Indonesia dan kini menjadi Walikota Singkawang juga pernah meneliti keberadaannya. Republik yang menggunakan nama Presiden pertamanya ini di bentuk oleh orang orang Hakka dari Kwangtung pada akhir abad ke-18, berlangsung selama 107 tahun dan pernah dipimpin oleh 10 orang Presiden ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Hakka adalah satu kelompok etnis yang unik di negeri tirai bambu, Republik Rakyat China (RRC). Orang Hakka disebut juga dengan sebutan orang Khek, orang Khe Cia, dan nama lain, tergantung pengucapan dengan dialek yang mana. Cara pengucapan Hakka sendiri untuk dirinya adalah orang Hakka (Hak = tamu/pendatang; Ka = keluarga). Dengan begitu, Hakka adalah kaum pendatang. Walaupun masih termasuk kelompok etnis Han, orang Hakka dianggap kaum perantau dalam China sendiri, karena itu dinamakan Hakka. Mereka yang dianggap 'pribumi' dalam satu tempat dinamakan kaum Punti (Pen-ti-ren = orang lokal). Karena dianggap kaum pendatang, di China sendiri mereka harus berhati-hati, dan sering kali ada friksi dengan kaum Punti. Dan banyak dari mereka ada pada posisi yang tidak menguntungkan. Kalau orang local berdomisili di daerah pusat-pusat perdagangan, di kota-kota pelabuhan utama, seperti orang Hokkian, Canton, atau Teochew, orang Hakka masuk ke pedalaman, di daerah berbukit, dimana mereka kurang lebih terisolasi. Rumah-rumah clan Hakka bentuknya seperti benteng pertahanan dibangun di daerah perbukitan. Bentuk rumah itu mencerminkan perasaan tidak aman pada clan tersebut. Secara ekonomis, orang Hakka juga kurang beruntung dibanding dengan kaum Punti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Hakka sangat terkenal keuletannya. Kalau orang tionghoa terkenal ulet, maka keuletan orang Hakka itu double-tionghoa. Ditempat-tempat perbukitan dimana daerah miring sukar untuk dikultivasi, orang Hakka bisa mengubah tempat yang tidak layak tanam menjadi tanah produktif. Mereka tahan banting, berusaha lebih keras dari penduduk local untuk mengimbangi posisi sosial mereka yang underdog. Kondisi demikian menjadikan orang Hakka lebih independent-minded (berpikiran bebas), lebih mudah melepaskan diri dari tradisi dan menangkap idea baru untuk hidup. Tidak heran, orang Hakka adalah termasuk orang tionghoa yang cepat mengadopsi ide-ide Barat dibanding dengan yang lain dan mengkombinasikannya dengan budaya Hakka. Dan tekanan kepahitan hidup yang mereka rasakan menjadikan mereka lebih mudah menjadi kaum revolusioner, lebih progresif, dan lebih berani maju untuk menuntut pembaharuan, dan banyak pelopor-pelopor pembaharuan yang berasal dari Hakka. Fleksibilitas orang Hakka dalam menyerap ide-ide baru, tidak bersikeras untuk mempertahankan tradisi lama yang menghambat, menjadikan Hakka sebagai etnis yang unik dalam sejarah China modern.&lt;br /&gt;Bukan kebetulan, kalau pemberontakan terbesar di China pada abad ke-19 yang melibatkan puluhan juta manusia, dan termasuk pemberontakan paling berdarah dalam sejarah kemanusiaan, dimotori oleh orang Hakka. Pemberontakan Taiping dengan pemimpinnya Hong Xiuquan hampir meruntuhkan Dinasti Qing. Sejarah Dunia terlalu kecil memberi perhatian pada Pemberontakan Taiping, yang sebenarnya jauh lebih besar daripada banyak pemberontakan-pemberontakan di Eropa. Dengan ditumpasnya pemberontakan Taiping dengan susah payah oleh pasukan Qing, menambah tekanan terhadap orang-orang Hakka tersebut. Dalam kurun waktu yang tak begitu berbeda, pada paruh kedua Abad-19, terjadi lagi Perang Etnis yang paling berdarah di China, terjadi di Canton. Friksi antara orang Hakka dengan orang-orang local di propinsi itu memuncak dengan kekerasan berdarah selama bertahun-tahun, yang menyebabkan banyak orang Hakka terusir keluar dari daerah gejolak, dan berimigrasi ke seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap revolusioner orang-orang Hakka ini sebagai suku pendatang, tidak mempunyai akar di suatu daerah sekuat kaum Punti, dan tradisi kaum Hakka tidak sekonservatif tradisi kaum Punti. Ketika wanita-wanita elite dan kaya di China dulu mengecilkan kaki, orang Hakka tidak melakukannya karena mereka harus bekerja. Karena itu wanita Hakka sering disebut "wanita berkaki besar", padahal sebenarnya kaum petani Punti juga banyak yang tidak membalut kaki dan berkaki besar juga. Mungkin streotype itu terjadi karena wanita Hakka banyak yang lebih berpikiran independen dan tidak terlalu tergantung dengan kaum lelaki, dibanding dengan wanita-wanita Punti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Hakka dari Indonesia, terutama di Kalimantan Barat, kedatangan Orang Hakka telah terjadi pada abad ketujuh. Saat itu, hubungan Tiongkok dengan Kalimantan sudah sering terjadi, walaupun belum menetap.  Hijrah bangsa Cina ke Kalimantan Barat menempuh dua rute yakni melalui Indocina - Malaya - Kalimantan Barat dan Borneo Utara - Kalimantan Barat. Imigran dari Cina ini masuk melalui Brunei dan menetap disana untuk menambang emas. Hubungan kekerabatan Brunei dan Sambas, menyebabkan perpindahan penduduk Cina ke Sambas. Pada tahun 1407, misalnya, di Sambas telah berdiri Muslim/Hanafi - Chinese Community. Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah percaya bahwa orang Cina adalah pekerja
